Kamis, 18 Maret 2010

HIJRAH DAN MENETAP DI MADINAH


     BEBERAPA PERISTIWA PENTING

                                                                                            Pertama
 
Tersebarnya berita masuk Islamnya sekelompok penduduk Yatsrib (Madinah), membuat orang-orang kafir Quraisy semakin meningkatkan tekanan kepada orang-orang Mukmin di Makkah. Lalu Nabi Saw. memerintahkan mereka agar hijrah ke kota Madinah. Sahabat segera berangkat menuju Madinah secara diam-diam, agar tidak dihadang oleh musuh. Namun Umar bin Khattab justru mengumumkan terlebih dahulu rencananya untuk berangkat ke pengungsian kepada orang-orang kafir Makkah, dikatakannya:
“Siapa di antara kalian yang bersedia benpisah den gan ibunya, silahkan hadang aku besuk di lembah anu, besuk pagi saya akan hijrah.” Tidak seorang pun berani menghadang Uman.

Kedua
mengetahui, kaum Muslimin yang hijrah ke Madinah itu ternyata disambut baik dan mendapat penghormatan yang memuaskan dari penduduk, bermusyawarahlah kaum kafir Quraisy di Darun Nadwah untuk merumuskan cara-cara yang akan diambil untuk membunuh Rasululah Saw. yang diketahui belum berangkat bersama rombongan sahabat. Rapat memutuskan untuk mengumpulkan seorang algojo dan setiap kabilah guna membunuh Nabi Saw. bersama-sama. Pertimbangannya ialah, keluarga besar Nabi (Bani Manaf) tidak akan berani berperang melawan semua suku yang telah mengu­tus algojonya masing-masing. Satu-satunya pilihan yang mungkin mereka ambil ialah rela menerima diat (denda pembunuhan) manakala ternyata jiwa Nabi dapat mereka renggut nantinya. Keputusan bersama ini segera dilaksanakan dan para algojo tadi berkumpul di sekeliling rumah Nabi Saw. Mere­ka mendapat instruksi: “Keluarkan Muhammad dari rumahnya dan langsung penggal tengkuknya dengan pedangmu.”

Ketiga
Pada malam pengepungan itu Nabi Saw. tidak tidur. Kapada keponakannya, Ali Ra. beliau meme­rintahkan agar tidur (berbaring) ditempat tidur Nabi dan menyerahkan kembali semua harta titipan penduduk Makkah yang ada di tangan Rasulullah Saw. kepada masing-masing pemiliknya.
Nabi keluar dan rumahnya tanpa diketahui oleh seorang pun di antara mereka, yang sejak senja sudah bersiap-siap untuk membunuhnya. Beliau pergi menuju rumah Abu Bakar yang sudah menyiapkan dua tunggangan (kendaraan) lalu segera berangkat Abu Bakar mencarter Abdullah bin Uraiqith Ad-Daily untuk menunjukkan jalan pintas menuju Madinah.

Keempat
Rasulullah dan Abu Bakar berangkat pada hari kamis tangal 1 Rabi’ul Awwal tahun kelima puluh tiga dan kelahiran Nabi Saw Hanya Ali dan keluarga Abu Bakar saja yang tahu keberangkatan beliau berdua malam itu. Sebelumnya Aisyah dan Asma binti Abu Bakar telah menyiapkan bekal secukupnya. Kemudian beliau berdua berangkat, bersama penunjuk jalan, menelusuri jalan Madinah - Yaman, hingga sampai di Gua Tsur. Nabi dan Abu Bakar berhenti di situ dan penunjuk jalan disuruh kembali secepatniya guna menyampaikan pesan rahasia Abu Bakar kepada Putranya, Abdullah.
Tiga malam lamanya Nabi dan Abu Bakar bersembunyi di gua itu, tetapi setiap malam mereka ditemani oleh Abdullah bin Abu Bakar yang ber­tindak sebagai pengamat situasi dan pembeni informasi.

Kelima
Lolosnya Nabi dan kepungan yang ketat itu membuat kalangan Quraisy hiruk pikuk mencarinya. Jalan Makkah - Madinah sudah dilacak, tetapi gagal menemukannya. Kemudian ditelusurmnya jalan
Yaman - Madinah, dengan dugaan Nabi pasti bersembunyi di Gua Tsur. Setibanya tiem pelacak itu di sana, alangkah bingungnya mereka ketika meithat mulut gua itu tertutup jaring laba-laba dan sanang bunung, hal mana menunjukkan tidak ada onang yang masuk ke dalam gua itu. Mereka tidak dapat melihat apa yang ada dalam gua itu, tetapi orang yang di dalamnya dapat melihat jelas rom­bongan yang berada di luar. Waktu itulah Abu Bakar merasa sangat khawatir akan keselamatan mereka bendua, tetapi Rasulullah mengatakan kepadanya:
 “Hai Abu Bakar, kita ini bendua dan Allah-lah yangketiganya.”

Keenam
Kalangan kafir Quraisy mengumumkan kepada seluruh kabilah : “Siapa saja yang dapat menyerah­kant Muhammad dan kawannya (Abu Bakar) kepada kami hidup atau mati, maka kepadanya akan diberikan hadiah yang bernilai jutaan.” Bangkitlah Suraqah bin Ja’syam mencari dan mengejar Nabi, dengan harapan akan menjadi hartawan dalam waktu singkat.
Sungguhpun jarak antara Gua Tsur dengan rombongan Nabi sudah begitu jauh, namun Suraqah ternyata dapat menyusulnya. Tatkala sudah begitu dekat, tiba-tiba tersungkurlah kuda yang ditungga­nginya, sementara pedang yang telah diayunkannya ke arah Nabi tetap terhunus di tanganunya. Tiga kali ia melibaskan pedangnya ke arah tubuh Nabi, tetapi pada detik-detik itu pula kudanya tiga kali tensung­kur sehingga tak terlaksanalah maksud jahatnya. Kemudian ia menyarungkan pedangnya dalam keadaan diliputi perasaan kagum dan yakin, dia benar-benar berhadapan dengan seorang Nabi yang menjadi Rasul Allah. Ia mohon kepada Nabi agar berkenan menolongnya yakni mengangkat kudanya yang tak dapat bangun karena kakinya terperosok ke dalam pasir. Setelah ditolong oleh Nabi, ia memin­ta agar Nabi berjanji akan membeninya hadiah berupa gelang kebesaran raja-raja. Nabi menjawab:
“Baiklah.”
Kemudian kembalilah ia ke Makkah dengan berpura-pura tak menemukan seseorang dan tak pernah mengalami kejadian apa pun.

Ketujuh
Rasulullah dan Abu Bakar tiba di Madinah pada tanggal 12 Rabi’ul awal. Kedatangan beliau telah dinanti-nantikan masyarakat Madinah. Pagi hari me­reka berkerumun di jalanan, setelah tengah hari barulah mereka bubar. Begitulah penantian mereka beherapa han sebelum kedatangan Nabi. Pada han kedatangan Nabi dan Abu Bakar, masyarakat Madi­nah sudah menunggu berjubel di jalan raya yang akan dilalui Nabi lengkap dengan regu genderang (drum bend). Mereka mengelu-elukan Nabi dan genderang pun gemuruh diselingi nyanyian yang Sengaja di gubah untuk keperluan penyambutan itu.

Bulan purnama telah muncul di ten gah-tengah kita, dan celah-celah bebukitan. Wajiblah kita bensyukun, atas ajakannya kepada Allah. Wahai onang yang dibangkitkan untuk kami, kau datang membawa sesuatu yang ditaati.”

Kedelapan
Di tengah perjalanan menuju Madinah, Rasu­hillah singgah di Quba’, sebuah desa yang terletak dua mil di selatan Madmnah. Dibangunnyalah sebuah Masjid, dan merupakan Masjid pertama dalam scjarah Islam. Beliau singgah di sana selama empat han untuk selanjutnya meneruskan perjalanan ke Madinah. Pada Jum’at pagi beliau berangkat dari Quba’ dan tiba di perkampungan Bani Salim bin Auf, persis pada waktu shalat Jum’at, lalu shalatlah beliau di sana. Inilah Jum’at pertama dalam Islam, dan karena itu khutbahnya pun merupakan khutbah yang pertama.
Kemudian Nabi berangkat meninggalkan Bani Salim. Program pertamanya sesampainya di Madi­nah ialah menentukan tempat, dimana akan dibangun Masjid. Tempat itu ialah tempat di mana ontanya berhenti setibanya di Madinah. Ternyata tanah dimaksud milik dua orang anak yatim. Untuk itu Nabi minta supaya keduanya sudi menjual tanah miliknya, namun mereka lebih suka menghadiah­kannya. Tetapi beliau tetap ingin membayar tanah di maksud seharga sepuluh dinar. Dengan senang hati Abu Bakar menyerahkan uang kepada mereka berdua.
Pembangunan Masjid segera dimulai dan seluruh kaum Muslimin ikut ambil bagman, sehingga berdiri sebuah Masjid berdinding bata, berkayu batang korma dan beratap daun korma.

Kesembilan
Kernudian Nabi mempersaudarakan antara orang-orang Muhajirin dengan Anshar. Setiap orang Anshar mengakui orang Muhajirin sebagai saudara­nya sendiri, mempersilahkannya tinggal di rumah­nya dan memanfaatkan segala fasilitasnya yang ada di rumah bersangkutan.

Kesepuluh
            Selanjutnya Nabi Saw. merumuskan piagam yang berlaku bagi seluruh kaum Muslirnin dan orang-orang Yahudi. Piagam inilah yang oleh Ibnu Hisyam disebut sebagai undang-undang dasar negara dan pemerintahan Islam yang pertama. Isinya mencakup tentang prikemanusiaan, keadilan sosial, toleransi beragama, masyarakat dan lain-lain. Saripatinya adalah sebagai
berikut:

1.      Kesatuan umat Islam, tanpa mengenal perbe­daan.
2.      Persamaan hak dan kewajiban
3.      Gotong royong dalam segala hal yang tidak ten­masuk kezaliman, dosa dan permusuhan.
4.      Kompak dalam menentukan hubungan dengan orang-orang yang memusuhi umat.
5.    Membangun suatu masyarakat dalam suatu sis­tem yang sebaik-baiknya, seluruhnya dan seko­koh-kokohnya.
6.    Melawan orang-orang yang memusuhi negara dan membangkang, tanpa boleh memberikan bantuan kepada mereka.
7.    Melindungi setiap orang yang ingin hidup ber­dampingan dengan kaum Muslimin dan tidak boleh berbuat zalim atau aniaya terhadapnya.
8.    Umat yang di luar Islam bebas melaksanakan agamanya. Mereka tidak boleh dipaksa masuk Islam dan tidak boleh diganggu harta bendanya.
9.    Umat yang di luar Islam harus ambil bagian dalam membiayai negara, sebagaimana umat Islam sendiri.
10.  Umat non Muslim harus membantu dan ikut memikul biaya negara dalam keadaan terancam.
11.  Umat yang di luar Islam, harus saling membantu dengan umat Islam dalam melindungi negara dan ancaman musuh.
12.  Negara melindungi semua warga negara, baik yang Muslim maupun bukan Muslim.
13.  Umat Islam dan bukan Islam tidak boleh melin­dungi musuh negara dan orang-orang yang membantu rnusuh negara itu.
14.  Apabila suatu perdamaian akan membawa keba­ikan bagi masyarakat, maka semua warga negara baik Muslim maupun bukan Muslim, harus rela menenima perdamaian.
15.  Seorang warga negara tidak dapat dihukum karena kesalahan orang lain. Hukuman yang mengenai seseorang yang dimaksud, hanya boleh dikenakan kepada din pelaku sendiri dan keluarganya.
16.  Warga negara bebas keluar masuk wilayah ne­gara sejauh tidak merugikan negara.
17.  Setiap warga negara tidak boleh melmndungi orang yang berbuat salah atau berbuat zalim.
18.  Ikatan sesama anggota masyarakat didasarkan atas prinsip tolong-menolong untuk kebaikan dan ketaqwaan tidak atas dosa dan permusuhan.
19.  Dasar-dasar tersebut ditunjang oleh dua kekuat­an. Kekuatan spiritual yang meliputi keimanan seluruh anggota masyarakat kepada Allah, kei­manan akan pengawasan dan penlindungan-Nya bagi onang yang baik dan konsekwen. Kekuatan material, yaitu kepemimpinan negara yang ter­cerminkan oleh Nabi Muhammad Saw.
20.  gotong royong untuk kebaikan

B.   BEBERAPA PELAJARAN

Pertama
Seorang yang Mukmin yang percaya akan kemampuannya tentu tidak akan sembunyi-sem­bunyi beramal. Sebaliknya ia berterus terang tanpa gentar sedikitpun terhadap musuh, sebagaimana yang dilakukan Umar bin Khattab sewaktu dia akan hijrah. Dalam kasus ini ada pelajaran, keberanian bisa membuat musuh merasa ngeri dan gentar. Seandainya orang-orang kafir Quraisy sepakat untuk membunuh Umar, tentulah mereka mampu melaku­kan itu. Akan tetapi sikap Umar yang berarui itulah yang membuat gentarnya kafir Quraisy, dan memang onang-orang jahat selalu merasa takut kehi­langan hidup (nyawa).

Kedua
Ketika ajakan ke arah kebenaran dan perbaikan sudah dapat dibendung, apa lagi pendukung-pendu­kungnya sudah dapat menyelamatkan din, tentulah orang-orang jahat berpikir untuk membunuh pemim­pin da’wah itu. Mereka memperkirakan dengan terbunuhnya sang pemimpin, tamatlah riwayat da’wah yang dilakukannya. Pemikiran semacam ini selalu ada dalam benak orang-orang yang memusuhi kebaikan, dan zaman dulu sampai sekarang.

Ketiga
Prajunit yang sungguh-sungguh ikhlas untuk menyerukan kebaikan tentulah bersedia menyela­matkaku pemimpinnya sekalipun dengan mengor­bankan jiwanya sendiri. Sebab selamatnya pemimpin berarti selamatnya da’wah. Apa yang telah dilakukar. oleh Au yang tidur di tempat Nabi merupakan pe­ngorbanan jiwa raga guna menyelamatkan din Rasulullah.
‘Pada malam itu sangat besar kemungkiflan terbunuhnya Au, karena algojo-algojo yang melaku­kan pengepungan itu tentu akan menduga, Mi itulah Nabi. Akan tetapi hal itu tidak merisaukannya sama sekali, karena yang lebih dipentingkaflflYa ialah keselamatafl Nabi Muhammad Saw.

Keempat
DititipkaflflYa harta benda milik orang-oraflg Musynik kepada Nabi Saw. sementara golongan mereka sendiri memusuhi dan berambisi untuk membunuh Nabi, adalah menunjukkan kepercayaafl mereka akan kelurusan dan Icesucian pribadi Nabi. Mereka juga mengerti benar, Nabi jauh lebih hebat dan lebih bersih hatinya dan pada mereka sendiri. Hanya kebodohan, ketidaktahUafl dan keterikatan mereka kepada tradisi-tradiSi dan kepercayaan kepercayaafl yang salah sajalah yang membuat mereka memusuhi, menghalangi dan mengusahakan membunuh Nabi.

Kelima
Berpikirnya seorang pemimpin da’wah atau kepala negara atau pemimpin suatu pergerakan untuk menyelamatkan din dan ancaman musuh, sehingga ia mengambil jalan lain, tidaklah dapat dianggap sebagai penakut atau tidak benkonban jiwa.

Keenam
Adanya partisipasi Abdullah bin Abu Bakar, dalam penencanaan dan pelaksanaan hijrah Nabi, menunjukkan adanya peranan genenasi muda dalam mensukseskan da’wah. Mereka merupakan penun­jang yang dapat diandalkan bagi mempercepat proses kesuksesan.
Pejuang-pejuang Islam yang pertama dahulu, seluruhnya tendiri dan pemuda. Rasulullah berumur empat puluh tahun, ketika dibangkitkan menjadi Nabi. Abu Bakar berumur tiga puluh tahun, semen­tara Ali paling muda di antara mereka. Demikian pula Usman, Abdullah bin Mas’ud, Abdurrahman bin Auf, Arqam bin Abu Arqam, Sa’id bin Zaid, Bilal bin Rabah, Amman bin Yasir dan lain-lain, seluruhnya adalah pemuda-pemuda. Mereka sanggup memikul tanggung jawab da’wah dengan segala pengorbanan dan berbagai macam denita, dan ternyata mereka mampu memenangkan Islam. Dengan kesungguhan­nya beserta kaum Muslimin lainnya berdirilah negara Islam, ditundukkanlah berbagai negeri, dan sampailah Islam ke tangan generasi benikutnya, hingga kini.

Ketujuh
Partisipasi Aisyah dan Asma binti Abu Bakar dalam pelaksanaan hijrah Nabi Saw. mengisyaratkan, kaum wanita bukannya tidak diperlukan dalam suatu perjuangan. Kaum hawa yang berperasaan halus itu mudah diberi kepercayaan. Mereka banyak sekali membantu sang suami mengurusi anak-anak dan keluarga.
Dalam pada itu perjuangan kaum wanita di zaman Rasulullah dahulu mengesankan kita sekarang, suatu gerakan Islamiyah akan berjalan seret dan kurang membekas di kalangan masyarakat, manakala di dalamnya kaum wanita belum ikut ambil peranan. Bila sudah, maka itu berarti terben­tuknya suatu genenasi wanita atas dasar keimanan, akhlak mulia, kesabaran dan kesucian. Mereka akan lebih mudah menyebarkan nilai-nilai luhur yang dibutuhkan oleh dunia dewasa ini ke dalam masya­nakatnya sesama kaum wanita, ketiinbang kaum pnia. Tetapi hal ini tidak berarti mereka boleh untuk tidak menjadi isteni dan ibu rumah tangga yang baik.
Dalam rangka mendidik generasi muda, pada zaman Nabi, kaum wanita ini telah memberikan sumbangafl yang tinggi nilainya. Merekalah yang banyak berbuat untuk menumbuhkan suatu generasi penerus yang berakhlak Islam, mencintal Islam dan Rasulnya serta berjuang untuk Islam. Untuk ini dapatlah dikatakan, kaum wanita itu lebih berhasil membentuk sebaik-baik generasi penerus perjuangan Islam. Kini kita harus belajar dan sejarah di atas, harus benusaha membawa kaum waiuta dan ibu-ibu, gunamencetak mereka menjadi perancang panji-panji Is­lam di tengah-tengah masyarakat, mengingat kuan­titasnya melebihi separoh penduduk dunia. Hal itu menuntut kita untuk mendidik putni-putni dan sau­dari-saudanj, lembaga-lembaga pendidikan Islam, guna mempelajani berbagai ajanannya. Banyaknya jumlah mereka yang paham akan agama Islam, hukum, sejarah dan lain-lain ilmu, dan banyak mere­ka yang berakhlak seperti akhlak Nabi Saw. dan isteni-istenmnya, tentulah kita akan dapat lebih cepat lagi memacu perbaikan yang berdasarkan ajanan Islam dan menciptakan masyarakat yang mentaati selunuh ketentuannya.

Kedelapan
Tidak terlihatnya Nabi Saw. oleh mata orang­orang yang mengejarnya di Gua Tsur, dan adanya sarang laba-laba serta sarang-sarang burung yang sedang bertelur seperti dalam cenita, kedua-duanya merupakan contoh adanya pentolongan Ilahi kepada Rasul-Nya dan bagi pembela-pembela agama-Nya. Allah Swt. tidak membiarkan cita-cita itu gagal di tangan onang-onang Musyrik. Ia selalu akan membeni jalan bagi hamba-hamba-Nya yang ikhlas karenanya.
Allah Swt. berfirman:
            
“Sesungguhnya Kami pasti menolong Rasul-nasul Kami dan onang-onang yang beniman, di dunia mi dan di akhinat nanti.” (Gha fir: 51).

Kesembilan
Kekhawatiran Abu Bakar Ra. kalau musuh meli­hat mereka yang bersembunyi di dalam gua adalah menunjukkan betapa sayangnya sang pengawal kepada pimpinannya yang sedang terancam bahaya, melebihi sayangnya terhadap dirinya sendiri. Sean­daiٌya ia mementingkan din sendini, tentulah dia tidak bersedia menemani Rasulullah dalam suatu perjalanan yang penuh bahaya itu. Ia bukannya tidak tahu, manakala Nabi Saw. tertangkap dan dibunuh, maka dia pun akan dibunuh.

Kesepuluh
Jawaban Rasulullah yang bermaksud menenang­kan Abu Bakan pada saat itu merupakan kata-kata yang menunjukan betapa yakin-Nya Nabi Kepada Allah yang pasti menolong hamba-Nya dan betapa tulusnya beliau bertawakkal kepada-Nya. Dan menu­pakan bukti nyata kebenaran da’wah kenabiannya. Betapapun beliau dalam keadaan sangat sulit dan terjepit, namun dia yakin, Allah Swt. tidak pernah melepaskannya sesaat pun, karena dirinya itu diutus­Nya untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.
Di sinilah beda Nabi dengan orang yang se­tengah-setengah dalam menyenu mÙ„nusia ke jalan Allah dan juga dengan orang yang benpura-pura.
Kesebelas
Apa yang telah terjadi atas din Suraqah yang gagal total membunuh Nabi Saw. juga merupakan bukti kenabian Nabi Saw. Setiap kali ia mengarahkan kudanya ke arah tubuh Nabi, terjerembablah kuda itu dan kakinya tenggelam ditelan pasin. Tapi jika diputar haluan, kembalilah kuda itu bangun dan berjalan seperti biasa. Bukankah ini pentolongan Allah Swt. kepada Rasul-Nya? Ambisi Suraqah untuk memperoleh hadiah yang melimpah sebagaimana yang dijanjikan pemimpin-pemimpin kafir Qunaisy, temyata tidak dapat mengalahkan kekuasaan Allah yang menghendaki keselamatan Rasul-Nya. Oleh karena usahanya mengejar Nabi itu demi harta benda, maka ia pun merasa puas dengan janji Nabi untuk menghadiahkan sesuatu kepadanya.

Keduabelas
Janji Rasulullah akan menghadiahkan kepadanya pakaian kebesaran kaisar, setelah kegagalan Suraqah itu adalah juga suatu mu’jizat yang dimiliki Nabi. Seonang manusia biasa yang sedang lan dan kepungan musuhnya tentulah tidak lagi sempat membayangkan, dia akan mampu menaklukkan dan menampas mahkota raja. Tetapi kanena beliau memang benar-benar seorang Nabi, masth segarlah dalam benaknya, pada akhinnya beliau akan dapat menaih mahkota naja-raja, dan apa yang dijanjikannya kepada Suraqah niscaya akan benan­benar tenlaksana.
Dalam suatu peperarigan yang dimenangkan oleh umat Islam benikut harta nampasan yang tertimbun, terlihatlah oleh Suraqah sepasang gelang raja. Lalu ia minta kepada Umar bin Khattab agar gelang itu diberikan kepadanya, sebagai realisasi janji Rasulullah kepadanya dulu. Umar pun meme­nuhi permintaan itu dengan disaksikan oleh sahabat­sahabat Nabi lainnya.

Ketigabelas
Kegembinaan peduduk Madinah dengan keda­tangan Rasulullah Saw. menupakan kegembinaan yang sesungguhnya bagi kaum Muhajinin dan Anshar, tetapi semu bagi kaum Yahudi. ‘Mereka turut bergembira di lahinnya, tapm dengki di dalam batin­nya, karena orang yang mereka sambut itulah yang akan mengambil alih kepemimpinan dan kewibawa­an yang selama irü ada di tangan mereka. Bagi orang­orang Yahudi Madinah, kedatangan Rasulullah itu akan membuat meneka tidak lagi bisa berbuat seenaknya terhadap jiwa dan hanta benda nakyat.
Sungguh pun kedengkian dan keengganan tunduk kepada hukum pada mulanya berhasil mere­ka tutup-tutupi, namun akhinnya terbuka juga. Isi piagam pensaudaraan yang telah mereka sepakati di hadapan Nabi dan kaum Muslimin dulu mulai diingkarmnya satu persatu. Ini berarti, mereka tidak rela dan tidak suka hidup damai. Memang meneka rupanya sejak dulu selalu ingin mengobarkan api peperangan. Akan tetapi api yang dikobarkannya itu akan selalu dapat dipadamkan, sebagaimana dijanjikan Allah Swt. dalam firman-Nya:
                             

“Setiap kali meneka mengobankan api pepenangan, maka setiap kali itu pula Allah memadamkannya.” (Al­Maidah: 64)

Keempatbelas
Dan penistiwa hijnah ke Madinah nyatalah yang pentama kali dilakukan oleh Rasulullah ialah mem­bangun Masjid. Selama empat han benmalam di Quba’, dibangunnya Masjid Quba’. Selanjutnya beliau membangun sebuah Masjid di perkampungan Barn Salim, yang terletak antana Quba, dan Madinah. Begitu pula di Madinah sendiri. Yang pertama kali dilakukannya ialah membangun Masjid Madinah. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya Masjid dalam Islam.
Semua ibadat yang terdapat dalam Islam bertujuan untuk mensucikan jiwa, meningkatkan akhlak, mempenkuat pensaudaraan dan kegotong­royongan antara sesama Muslim. Shalat berjamaah, shalat Jum’at dan shalat dua han raya adalah cen­minan persaudaraan sosial, persatuan kata dan tuju­an dengan demikian tidaklah teningkari lagi Masjid itu membawa misi sosial kemasyanakatan dan kerohaniaan yang sangat besan maknanya bagi masyarakat Islam.
sejarah menyatakan dan Masjidlah tentara Islam berangkat untuk menyebanluaskan hidayah Allah (agama Islam) ke seluruh penjuru dunia. Dan Masjidlah diolah dan dikembangkan kebudayaan Islam. Abu Bakar, Umar, Ali, Khalid, Said, Abu Ubadah dan lain-lain pembesar dalam sejarah Islam adalah tamatan madrasah Islamiyah yang berpusat di Masjid.
Hal lain yang perlu dicatat ialah Masjid menu­pakan sarana pendidikan Islam yang bensifat masal dan mingguan. Setiap minggu (yaitu pada han Jum’at) dicanangkan seruan untuk mengikis habis kemurtgkaran di samping perintah untuk menegak­kankebenaran dan keadilan. Dan dalam Masjid itu diberikan pula peningatart bagi orang yang lupa pada Islam, diserukan persatuan umat, diprotes segala bentuk kezaliman berikut pelaku-pelakunya. Bukan­kah dulu dan Masjidlah digalang persatuan dan semangat juang umat Islam untuk mengenyahkan penjajah, baik yang bernama impenialisme Perancis, Inggris, belanda dan konco-konconya, maupun yang bennama Zeonisme Yahudi? Jika dewasa ini Masjid tidak difungsikan sebagaimana mestinya lagi, maka itulah kesalahan khatib-khatib yang rela membelok­kan ajaran agama, hanya karena keselamatan pribadi dan kepentingan perut dan kedudukannya.
Sangat beruntung jika dalam keadaan tidak berfungsinya Masjid-masjid dewasa ini bangkit ulama, yang ikhlas demi Allah, menyerukan agar kembali menjadikan Masjid sebagai sentral da’wah Islamiyah. Dan sanalah kita bina masyarakat Islam, kita bina dan cetak kader-kaden, dan kita siapkan pahlawan-pahlawan agama. Dan sanalah kita pe­nangi kejahatan dan kemungkaran, guna memudah­kan terbentuknya masyarakat Islam yang diidam­idamkan. Kemudian pendinian seperti ini disadari dan dilanjutkan oleh generasi muda Islam yang su­dah benilmu dan berakhlak bagaikan akhlaknya Rasulullah Saw.

Kelimabelas
Pensaudaraan yang dibina Rasulullah antana kaum Muhajirin dan Anshar adalah juga merupakan kenyataan dan keadilan Islam yang berpnikemanu­siaan bermoral dan konstruktif. Kaum Muhajinin telah meninggalkan negeni kelahirannya dengan tidak membawa hanta benda, sedangkan kaum Anshan nata-rata merupakan orang-orang kaya dengan hasil pertanian dan industri.
Oleh karena itu pantaslah jika mereka turun tangan mengatasi kesulitan-kesulitan yang didenita oleh saudara-saudaranya yang Muhajinin, baik perbuatan yang berkeadilan sosial, yang melebihi keadilan sosial yang diajankan oleh Islam dan dipraktekkan oleh Nabi Saw ini?
Atas dasar di atas dapatlah dikatakan, onang­orang yang mengingkari adanya keadilan sosial dalam Islam, adalah onang yang memutarbalikkan fakta setidak-tidaknya, benmaksud agar ajaran ini ditinggalkan sedikit demi sedikit, atau agar orang
yang belum memeluknya sama sekali menjadi tidak senang kepadanya. Kalau orang yang mengingkan­nya itu adalah onang Islam sendini, maka pastilah mereka itu onang yang jumud (tidak mengerti) yang tidak suka akan kata “keadilan sosial” itu saja. Sejarah telah membuktikan hal ini, Nabi Saw. sendiri telah menegakkannya dan sekaligus menjadikannya landasan bagi berdininya masyarakat dan negara Islam yang dipimpinnya sendini.
Keenambelas
Dalam piagam persaudaraan antara kaum Muhajinin dan kaum Anshar, di satu pihak, dan piagam kenjasama antara kaum Muslimin dengan non Muslim di lain pihak, terdapat sejumlah bukti yang menunjukkan Daulah Islamiyah itu ditegakkan di atas pninsip keadilan, asas hubungan antara Muslimin dan non Muslimin adalah perdamaian. Dalam piagam tersebut ditegaskan pula kebenanan, keadilan, gotong royong dalam kebaikan dan dalam mengikis segala akibat yang ditimbulkan oleh ke­mungkaran, yang telah melanda masyanakat menu­pakan thema-thema yang selalu dibawa oleh agama Islam. Daulah Islamiyah itu, dimana dan kapan pun adanya, haruslah ditegakkan di atas pninsip-prinsip yang sebenar-benarnya dan seadil-adilnya. Pninsip­pninsip dimaksud tentulah yang terbaik di antana prinsip-pninsip kenegaraan yang ada dan dipnaktek­kan dewasa ini.  Usaha-usaha masyarakat Islam ada­lah sangat relevan dengan penkembangan pemikiran
manusia tentang kenegaraan, hal mana masyarakat Islam sendiri harus mencontoh ajaran Islam sendini.
Di negeri Islam, kaum Muslimin tetap dilarang mengganggu kawan-kawannya yang non Muslim, dilarang menganggu gugat keyakinan lain itu dan dilarang memperkosa hak-hak mereka. Mengapa orang-orang masih tidak setuju memberlakukan hukum Islam di negerinya masing-masing, padahal hukum Islam ii cukup adil, benar, kokoh, memen­tingkan keadilan sosial yang berasaskan persau­daraan, cinta mencintai dan tolong menolong?
Kepada selunuh umat Muslimin patutlah dipe­ningatkan, penjajahan, dalam segala bentuk dan manifestasinya, tidaklah akan terkikis habis, melain­kan dengan cara menerapkan Islam. Inilah inti perjuangan kita semua dewasa ini.
Perhatikan firman Allah berikut ini:
                                 

“Sekinanya penduduk negeri sudah beniman dan bentaqwa, pastilah akan Kami limpahkan kepadanya kebenka tan dan langit dan bumi.” (Al-A’raf: 96)
                         ~                                                    .
“Dan yang Kami penintahkan ini adalah jalan yang lurus, maka tunutilah, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain, kanena jalan-jalan yang lain itu mencerai-benaikan kamu dan membelokkan dan jalan­Nya.” (Al-An’am: 153)
     



“Dan siapa saja yang bentakwa kepada Allah, niscaya Dia dican membenikan jalan keluan. Dan membeninya rezki dan jalan yang tiada disangka-sangka, dan siapa saja yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Ia akan mencukupkan kepenluan nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan u rusa n yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah telah men gadakan ketentuan bagi segala sesuatu.” (At-Thalaq: 2-3)
                             4’                                              ~                    4-•.~ ~                          

“Dan siapa saja yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia, menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (At-Thalaq: 4)

Menikah, Bukan Sekedar Memadu Cinta

eramuslim - "Rumahku surgaku", ujar Rasulullah singkat saat salah seorang sahabat bertanya mengenai rumah tangga beliau. Sebuah ungkapan yang tiada terhingga nilainya, dan tidak dapat diukur dengan parameter apapun. Sebuah idealisme yang menjadi impian semua keluarga. Tapi untuk mewujudkannya pada sebuah rumah tangga (keluarga) ternyata tidaklah mudah. Tidak seperti yang dibayangkan ketika awal perkenalan atau sebelum pernikahan. Butuh proses, butuh kesabaran, butuh perjuangan, bahkan pengorbanan juga ilmu!

Saat ini, persoalan dalam keluarga membuat banyak pasangan suami istri dalam masyarakat kita menjadi gamang. Baik yang datang dari dalam maupun dari luar. Wajar, karena itulah hakikat hidup. Bukan hidup namanya jika tanpa masalah. Justru masalah yang membuat manusia bisa merasakan kesejatian hidup, menjadikan hidup lebih berwarna dan tidak polos seperti kertas putih yang membosankan. Namun jangan sampai masalah-masalah itu mengendalikan diri kita hingga kita kehilangan hakikat hidup.

Lihatlah sepanjang tahun lalu, tahun 2004, begitu banyak pasangan yang mengajukan perceraian ke pengadilan agama dengan berbagai macam alasan. Memang yang lebih banyak terangkat adalah kisah rumah tangga para selebritis yang tak henti menghiasi layar kaca tentang rusaknya hubungan rumah tangga mereka. Tapi sesungguhnya itu hanya puncak sebuah gunung es. Karena masyarakat awam pun tak sedikit yang rumah tangganya bermasalah, bahkan mereka yang mendapat sebutan aktivis dakwah.

***

Begitu banyak buku-buku pernikahan yang beredar di pasaran, bahkan sebagian menjadi best seller. Tak hanya buku-buku non fiksi, bahkan para fiksionis pun lebih senang mengangkat tema–tema merah jambu karena lebih disukai pasar. Isinya kebanyakan bersifat provokatif kepada orang-orang yang belum menikah agar segera menikah. Namun sayangnya hampir semua buku-buku itu isinya terlalu melangit.

Maksudnya lebih banyak menceritakan pernikahan (kehidupan rumah tangga) pada satu sisi yang indah dan menyenangkan. Sementara sisi "gelap" pernikahan jarang sekali yang mengangkat. Tentang kehidupan setelah pernikahan, tentang biaya-biaya berumah tangga, dan hal-hal lain yang tentu tidak sepele dalam rumah tangga.

Isitrahatlah sejenak dari bermimpi tentang pernikahan. Jika mimpi itu hanya berisi bagaimana mengatasi rasa gugup saat akad nikah. Atau tumpukan kado dan amplop warna-warni menghiasi 'bed of roses'. Atau kalau hanya mengharap salam indah dan atau jawaban salam dari kekasih. Apalagi membayangi bisa menatap, berbicara dan menghabiskan waktu bersama belahan hati tercinta.

Pernikahan tidak cuma sampai di situ, sobat. Ada banyak pekerjaan dan tugas yang menanti. Bukan sekedar merapihkan rumah kembali dari sampah-sampah pesta pernikahan, karena itu mungkin sudah dikerjakan oleh panitia. Bukan menata letak perabotan rumah tangga, bukan juga kembali ke kantor atau beraktifitas rutin karena masa cuti habis.

Tapi ada hal yang lebih penting, menyadari sepenuhnya hakikat dan makna pernikahan. Bahwa pernikahan bukan seperti 'rumah kost' atau 'hotel'. Di mana penghuninya datang dan pergi tanpa jelas kapan kembali. Tapi lebih dari itu, pernikahan merupakan tempat dua jiwa yang menyelaraskan warna-warni dalam diri dua insan untuk menciptakan warna yang satu: warna keluarga.

Di tengah masyarakat yang kian sakit memaknai pernikahan, semoga kita tetap memiliki sudut pandang terbaik tentangnya. Betapa banyak orang yang menikah secara lahir, tapi tidak secara batin dan pikiran. Tidak sedikit yang terjebak mempersepsikan pernikahan sebatas cerita roman picisan dan aktifitas fisik. Hingga wajar jika banyak remaja yang belum menikah saat mendengar kata menikah adalah kesenangan dan kenikmatan. Hal itu ditunjang oleh buku-buku pernikahan yang isinya ngomporin. Sementara sesungguhnya yang harus dilakoni adalah tanggung jawab dan pengorbanan.

Memang pernikahan berarti memperoleh pendamping hidup, pelengkap sayap kita yang hanya sebelah. Tempat untuk berbagi dan mencurahkan seluruh jiwa. Tapi jangan lupa bahwa siapapun pasangan hidup kita, ia adalah manusia biasa. Seseorang yang alur dan warna hidup sebelumnya berbeda dengan kita. Seberapa jauh sekalipun kita merasa mengenalnya, tetapakan banyak 'kejutan' yang tak pernah kita duga sebelumnya. Upaya adaptasi dan komunikasi bakal jadi ujian yang cuma bisa dihadapi dengan senjata kesabaran.

Pasangan kita, yang kita cintai adalah manusia biasa. Dan ciri khas makhluk bernama manusia adalah memiliki kekurangan dan kelemahan diri. Memahami diri sendiri sebagai manusia sama pentingnya dengan memahami orang lain sebagai manusia. Pemahaman ini penting untuk dijaga, karena cepat atau lambat kita akan menemukan kekurangan atau kebiasaan buruk pasangan kita.

Oleh karena itu, bagi yang belum menikah, jangan terlalu banyak menghabiskan waktu dengan memilih pasangan hidup saja. Apalagi parameternya tak jauh dari penampilan, fisik, encernya otak, anak orang kaya, pekerjaan mapan, penghasilan besar, berkepribadian (mobil pribadi, rumah pribidi), berwibawa (wi...bawa mobil, wi...bawa handphone, wi...bawa laptop), dan sebagainya.

Tapi, pernahkah kita berpikir untuk membantu seseorang yang ingin mengembangkan dirinya ke arah yang lebih baik hari demi hari bersama diri kita?

Lebih dari itu, pernikahan dalam konteks dakwah merupakan tangga selanjutnya dari perjalanan panjang dakwah membangun peradaban ideal dan tegaknya kalimat Allah. Namun tujuan mulia pernikahan akan menjadi sulit direalisasikan jika tidak memahami bahwa pernikahan dihuni oleh dua jiwa. Setiap jiwa punya warna tersendiri, dan pernikahan adalah penyelarasan warna-warna itu. Karenanya merupakan sebuah tugas untuk bersama-sama mengenali warna dan karakter pasangan kita. Belajar untuk memahami apa saja yang ada dalam dirinya. Menerima dan menikmati kelebihan yang dianugerahkan padanya. Pun membantu membuang karat-karat yang mengotori jiwa dan pikirannya.

Menikah berarti mengerjakan sebuah proyek besar dengan misi yang sangat agung: melahirkan generasi yang bakal meneruskan perjuangan. Pernahkan terpikir betapa tidak mudahnya misi itu? Berawal dari keribetan kehamilan, perjuangan hidup mati saat melahirkan, sampai kurang tidur menjaga si kecil? Ketika bertambah usia, kadang ia lucu menggemaskan tapi tak jarang membuat kesal. Dan seterusnya hingga ia beranjak dewasa, belajar berargumentasi atau mempertentangkan idealisme yang orangtuanya tanamkan. Sungguh, tantangan yang sulit dibayangkan jika belum mengalaminya sendiri...

Menikah berarti berubahnya status sebagai individu menjadi sosial(keluarga). Keluarga merupakan lingkungan awal membangun peradaban. Dan tentu sulit membangun peradaban jika kondisi 'dalam negeri' masih tidak beres. Maka butuh keterampilan untuk memanajemen rumah tangga, menjaga kesehatan rumah dan penghuninya, mengatur keuangan, memenuhi kebutuhan gizi, menata rumah, dan masih banyak lagi keterampilan yang mungkin tak pernah terpikirkan...

Ini bukan cerita tentang sisi "gelap" pernikahan (wong saya sendiri belum nikah!). Tapi seperti briefing singkat yang menyemangati para petualang yang bakal memasuki hutan belantara yang masih perawan. Yang berhasil, bukan mereka yang hanya bermodal semangat. Tapi mereka yang punya bekal ilmu, siap mental dan tawakkal kepadaNYA. Karena pernikahan bukanlah sebuah keriaan sesaat, namun ia adalah nafas panjang dan kekuatan yang terhimpun untuk menapaki sebuah jalan panjang dengan segala tribulasinya.

Pernikahan adalah penyatuan dua jiwa yang kokoh untuk menghapuskan pemisahan. Kesatuan agung yang menggabungkan kesatuan-kesatuan yang terpisah dalam dua ruh. Ia adalah permulaan lagu kehidupan dan tindakan pertama dalam drama manusia ideal. Di sinilah permulaan vibrasi magis itu yang membawa para pencinta dari dunia yang penuh beban dan ukuran menuju dunia mimpi dan ilham. Ia adalah penyatuan dari dua bunga yang harum semerbak, campuran dari keharuman itu menciptakan jiwa ketiga.

Wallahu'alam bisshowab.


***

Penuh Cinta Selalu untuk Selamanya, Fillah...
Syaheed AS

Minggu, 03 Januari 2010

REKAM JEJAK KEIMANAN



Menyusuri bentangan aliran sejarah para Sahabat Rasululloh saw, seakan membawa jasad ini turut hadir dalam setiap jejak langkah keemasan yang mereka torehkan. Tiba-tiba diri ini mengkerdil di hadapan mereka. Tak ada apa-apanya jika di sandingkan pada kejayaan yang mereka ciptakan. Apalah diri ini. Saat lelah mendera, diri ini menjadi lemah. Kala ikhlas mulai pudar, pengorbanan pun tak lagi bertahan.



Teringat tutur kata Imam Ibnul Jauzi rahimahullah, bahwa ada dua sebab yang menjadikan para sahabat Rasulullah saw lebih utama dan lebih unggul dibanding kaum Muslimin yang lainnya. Pertama, karena kebersihan hati mereka dari ragam keraguan, yang menunjukkan mereka memiliki kekuatan iman yang tinggi. Kedua, karena pengorbanan mereka dalam jihad dan kesungguhan dalam merealisasikan nilai-nilai kebenaran Illahi.

Dua keadaan ini memang pantas mereka sandang sebagai sahabat yang mulia. Sebagaimana sabda Rasululloh saw tentang mereka, “ Sebaik-baik zaman adalah zamanku, kemudian zaman setelahnya, kemudian zaman setelahnya, dan seterusnya.” Sebuah siklus yang sangat indah, yang jikalau saat ini ada generasi terbaik, belum tentu sebaik generasi pada zaman Rasululloh masih hidup. Saat ini, saat dunia mulai menjadi raja, hatipun tak berdaya. Keimanan tergadaikan, dan nilai-nilai kebenaran terkubur dalam.

Mereka, memang bukan manusia yang tidak mempunyai keinginan dunia. Bukan pula manusia yang tidak mempunyai hawa nafsu. Mereka juga manusia yang mempunyai hasrat, ambisi dan keinginan. Sama seperti kita. Seperti halnya Umar bin Abdul Aziz ra, Khalifah bani Umayyah yang terkenal sebagai kalifah kelima (setelah Ali ra).

” Jiwaku, memiliki sifat yang tidak pernah puas. Jika aku memperoleh sesuatu maka aku ingin sesuatu yang lebih baik darinya. Ketika jiwaku mendapat Khilafah, jiwaku menginginkan Akhirat.”

Hidup di dunia memang sarat dengan ambisi dan keinginan keduniaan. Ingin hidup lebih baik, ingin memperoleh harta banyak, ingin mendapat kedudukan tinggi, ingin di hormati karena pangkat jabatan, ingin ada jaminan hidup yang pasti, bahkan setelah kehidupan bukan milik kita lagi. Terasa biasa, namun aneh bila direnungkan. Apa yang sebenarnya kita cari.

Mau tidak mau, itulah kenyataan ambisi keduniaan yang ada dalam benak banyak orang, mungkin juga termasuk kita. Hanya keimanan yang mampu mengekang dan mengontrol ambisi keduniaan itu agar tidak berlebihan dan merusak. Memang tidak ada larangan untuk merengkuh kenikmatan dunia, namun tetap ada batas-batasnya. Karena bagaimanapun juga segala yang berlebihan, pasti akan membawa keburukan. Sebagaimana ungkapan seorang ahli hikmah, ” Barang siapa yang meninggalkan berlebihan dalam bicara, ia akan memperoleh hikmah dalam lisannya. Barangsiapa yang meninggalkan berlebihan dalam pandangan, ia akan memperoleh kekhusyu’an dalam ibadahnya. Barangsiapa yang meninggalkan berlebihan dalam makanan, maka ia akan di beri kelezatan dalam ibadahnya. Barangsiapa yang berlebihan dalam tertawa, ia akan memperoleh kewibawaan. Barangsiapa yang menempatkan hatinya jauh dari cinta dunia, maka ia akan memperoleh cinta akhirat. Dan barangsiapa yang meninggalkan kesibukan terhadap aib orang lain, maka ia akan memperoleh kesibukan memperbaiki aibnya sendiri.”

Di sini, kita bukan hanya mnghadapi badai lautan, tsunami, gempa bumi, gunung berapi, angin beliung. Namun, semakin kita melangkah dalam dunia yang kita diami sekarang ini, ancaman keimanan semakin terasa berat dan keras. Ancaman kemunafikkan yang bukan sekedar hidup atau mati sebagai taruhan, namun soal syurga dan neraka.

Kalaupun hari-hari kita telah banyak do’a-do’a yang terpanjatkan, renggangan tangan  yang terulur untuk menggapai hidayah Alloh, dan jejak-jejak pengorbanan dalam ibadah kepada-Nya. Mari kita perkuat kembali usaha kita. Syafiq bin Ibrahim pernah mengatakan, ”Pintu taufiq (bantuan Alloh) akan tertutup dari makhluk dalam enam keadaan. Kesibukan mereka dengan nikmat daripada mensyukurinya. Keinginan untuk menuntut ilmu dan meninggalkan mengamalkannya. Bersegera melakukan dosa dan menunda-nunda bertaubat. Bangga berteman dengan orang Sholeh tanpa mencontoh apa yang mereka lakukan. Dunia akan mereka tinggalkan, namun mereka tetap mengejar dunia. Akhirat akan mereka datangi, tapi mereka justru berpaling dari akhirat.”

Sekali lagi, seburuk-buruk penyesalan adalah penyesalan di hari kiamat...

Semoga kita bersegera merengkuh pintu-pintu taubat dan hidayah. Amiin ya Robb...

Wallahu’alam.. (dari berbagai sumber)



Rabu, 18 November 2009

SAAT NIKMAT ITU DATANG


Pagi ini, saat laron dengan riangnya mengepakkan sayap-sayap mungil mereka mencari rezeki Alloh, sementara tubuh lemah ini hanya bisa menatapnya dari balik jendela diatas pembaringan. Kuraih handphone, lalu ku buka dua pesan yang masuk. Dari seorang sahabat di ujung timur pulau ini.


“ Wahai jiwa yang terus mengayuhkan kaki,

tiadakah engkau lelah menempuh perjalanan ini ?

Mengapakah tiada waktu sejenak untuk berhenti, melunakkan hati yang semakin mengeras dalam menghadapi panas dinginnya tuntutan hidup

yang hanya mengajakmu terus memenuhi hasrat yang tiada pernah merasa cukup...


Wahai jiwa yang baik,

Tiadakah engkau memiliki waktu ?

Dimana engkau meminta sesuatu, pada Zat yag mampu memberi apa saja yang engkau minta ?

Pernahkah tangismu meruntuhkan kesombonganmu yang merasa kuat tanpa pertolongan Tuhan-mu ?


Wahai jiwa yang tengah merindukan kasih sayang,

Sesungguhnya kasih sayang yang engkau rindu telah lama menunggumu.

Menunggu kapan engkau memiliki waktu,

dalam keheningan yang menentramkan,

waktu dirimu meluluhlantakkan keegoanmu,

menumpahkan segala resah dengan airmatamu,

mengakui kelemahanmu,

bersujud dan menengadahkan kedua tanganmu,


jikalau telah engkau tepati waktu itu,

maka saat bahagia akan menghampirimu,

dengan seijin TuhanMu...”


Wahai sahabatku,

SMS antum memberiku segenggam energi. Dua hari sudah, rasa sakit itu bercokol dalam kepalaku, rasa ngilu itu menyelimuti di setiap persendian tulang-tulangku, rasa sesak itu menghimpit dadaku. Namun, dalam satu malam saja, semuanya itu seakan-akan hilang atas ijin Tuhan-ku. Setelah sebutir Ciprofloxacin, dexamethazon, dan sebutir asam mefenamat masuk di saluran pencernaanku. Hanya tersisa rasa lemah karena masih membutuhkan energi untuk bergerak.


Allah yang memberi nikmat sakit ini, agar aku bisa bersyukur telah diingatkan akan nikmat sehatku. Allah yang memberi waktu istirahatku ini agar aku bisa bersyukur atas nikmat waktu untuk menyibukkanku pada aktifitas-aktifitas kebaikan. Allah yang memberi lemahnya keadaan tubuh ini, agar aku bisa bersyukur akan saat-saat tubuh ini bugar. Allah Maha Adil.


Dan sebagai seorang manusia biasa, kita hanya mampu untuk berikhtiar saat Allah berikan nikmat sakit. Saat ini, kondisi cuaca begitu cepat berubah. Dari panas, mendung, dan hujan. Dan bisa jadi, kondisi cuaca inipun berpengaruh terhadap kondisi badan kita. Maka, mari sahabat, kita jaga kondisi badan kita agar tetap bugar dengan usaha kita, dan dengan mengharapkan Ridho dari-Nya agar kita senantiasa bisa melakukan aktivitas-aktivitas kebaikan sebagai tabungan di hari perhitungan kelak.

Minggu, 08 November 2009

Lagi-lagi : Jaga Hati...!!!

“ Sebenarnya, kriteria akhwat seperti apa sih yang antum dambakan sebagai calon istri ?”, sebuah pertanyaan ‘lancang’ yang ditujukan dari bibir seorang akhwat untuk seorang ikhwan berstatus lajang. Tapi harus aku maklumi, aku sedang di “sidang”…!!


Aku beristighfar dalam hati. Dengan perasaan yang tidak menentu dan harus menjawab apa. Sejenak aku menjawab dengan senyuman, dengan wajah yang masih tertunduk malu. Malu pada Allah, ketika harus memandang wajah yang tidak ada hak bagiku untuk memandangnya.


”Untuk apa anti bertanya demikian ?”, akhirnya pertanyaan yang aku jawab juga dengan sebuah pertanyaan. 1-1 pikirku. Sekarang, sepertinya gantian dari seberang yang salah tingkah harus menjawab apa.


” Bukan maksud apa-apa akhi, siapa tahu ane bisa mencarikan untuk antum. Atau jangan-jangan antum sudah punya pilihan di hati antum”, tendangan yang bagus, membobol segenap isi hati ini.


Beginilah pertanyaan dari seorang akhwat yang sudah menikah, tidak mungkin ia seberani ini mengalirkan pertanyaan ’lancang’ untuk seorang ikhwan lajang kalau saja sahabatku belum meminang dan menikahinya.


”Ukhti, asli. Jujur. Tidak sepantasnya bagi seorang aktivis dakwah seperti kita, penyeru kebajikan seperti kita, mendahului takdir dan keputusan Allah dalam masalah jodoh. Apalagi bagi ane yang sudah lama mempunyai prinsip, tidak akan pacaran sebelum menikah. Dalam hati ini, belum pernah ada satupun akhwat yang membuat diri ini tidak nyaman tidur, tidak enak makan, dan sebagainya. Karena apa, karena kita sadar, sepenuhnya hati ini milik Allah. Jadi, mana mungkin ane bisa memahat sebuah nama seorang wanita yang belum pasti akan menjadi sigaring nyowo bagi ane? sebuah prinsip yang sampai hari ini masih kuat ane pegang, bahwa hati ini akan bermuara pada akhirnya ketika memang waktu itu telah tiba. Waktu lisan ini mengucapkan Mitsaqon Gholidzo. Janji suci dalam ikatan pernikahan”. Suara diseberang terdiam sebentar, seakan-akan ingin melempar kembali umpan yang lebih empuk. Entah sebenarnya kemana sih arah pembicaraan kedua akhwat di seberang.


” Ane paham akhi, tapi afwan. Kalau boleh tahu, sejauh ini ane melihat antum dekat dengan beberapa orang akhwat. Apa tidak ada satupun di antara akhwat itu yang ada kecenderungan mengisi ruang hati antum ?, afwan” tuh khan, benar. Inilah konsekuensi seorang ikhwan lajang yang dapat amanah sebagai seorang pimpinan lembaga yang kebanyakan berisi akhwat. Hadzihil Fitnah...


Fiuh...harus ku jelaskan bagaimana ya. Orang melihat yang sebenarnya, secara fisik, aku memang dekat dengan beberapa orang akhwat dalam lembaga yang aku pimpin. Bukan apa-apa, ini karena sebuah tuntutan. Ya, tuntutanku sebagai seorang pimpinan dalam lembaga ini. Ketika ada permasalahan-permalasahan yang memang menyangkut lembaga, baik permasalahan tersendatnya program-program yang seharusnya segera bisa direalisasikan namun karena ada permasalahan internal di salah satu bidang, dan rupanya kordinator bidang tidak bisa dengan segera memberikan solusi itu, akhirnya aku yang harus turun tangan. Mencoba menyelesaikan permasalah itu dengan pendekatan personal. Dari hati ke hati. Namun tetap menjaga dalam koridor syariat. Baik via telepon, sms, email, chatting, atau bahkan saat bertemu langsung. Sekali lagi aku tegaskan, bahwa kedekataknu dengan beberapa orang akhwat di lembaga ini sebatas dalam koridor pimpinan dan bawahan. Tidak kurang tidak lebih. Semuanya aku tempatkan sama. Dengan niatan agar semua permasalahan yang memang menyangkut perasaan setiap personalia segera teratasi jika memang koordinator bidang tidak segera bisa menyelesaikannya. Tapi, beda orang, beda pula cara memandangnya. Ada yang melihat bahwa aku condong pada beberapa orang akhwat. Aku hanya bisa beristighfar. Bahkan ada yang lebih parah, melabeliku dengan julukan ”Don Perayu”. What everlah...


Ketika aku jelaskan hal ini, suara kedua diseberang ikut mengalir,


” Para akhwat melihat antum itu TPTP, akh. Tebar Pesona. Ane paham, antum mungkin secara tidak sadar melakukan itu, walaupun mungkin tidak ada satu kepingpun dalam hati antum itu niatan untuk tebar pesona”...Allohu Robbi, fitnah apa lagi ini...?


Mata ini berkaca, tapi mungkin pemilik dua suara diseberang sana tidak melihatnya karena aku tetap tertunduk. Suaraku tercekat, dalam hati aku istighfar berkali-kali. Aku teringat pesan Mbakku dulu, saat aku mulai datang ke Solo awal semester kuliah.


”Jaga Mata dan Hati...!!”, itulah pesan yang aku tanam dalam-dalam sampai sekarang.


” Ane bingung harus menjawab bagaimana, ukh. Dan ane juga sungguh tidak tahu kalau rupanya ane ini menjadi perbincangan di kalangan akhwat, sungguh ane benar-benar tidak menyadarinya. Bahkan untuk memikirkan hal itupun tidak pernah. Jadi, untuk urusan yang satu itu, ane serahkan kepada yang menggenggam jiwa ane. Namun yang jelas, ane sudah berusaha untuk benar-benar bersih dalam melakukan semua aktivitas ane, apalagi yang menyangkut dengan hubungan ikhwan-akhwat. Hati memang tidak bisa bicara ukh, namun matalah yang melihatnya. Ane mohon maaf apabila dalam pandangan teman-teman akhwat, ane di pandang sebagai ikhwan yang TPTP. Dan, ane pikir ini menjadi tugas masing-masing untuk kembali membersihkan hati, dan kembali mengalihkan hal-hal demikian pada proyek dakwah yang menggunung daripada hanya sekedar membicarakan yang memang belum waktunya bagi ane. Mungkin cukup ukh, untuk perbincangan kita kali ini, sudah hampir maghrib”.


” ya akhi, afwan jiddan jika pembicaraan ini menyakiti hati antum. Benar kata antum, kita memang harus menjaga hati dan membersihkannya bila ada kotoran yang melekat. Tapi akh, satu hal yang perlu antum ketahui, bahwa hati akhwat itu berbeda dengan hati seorang ikhwan, hati akhwat lebih sensitif. Sehingga ketika ada seorang ikhwan yang ’dekat’ dengannya, memberi perhatian yang sedikit lebih, hati akhwat bisa condong pada sang ikhwan walaupun si ikhwan tidak menyadarinya. Jadi, ane juga mohon kepada antum, untuk lebih belajar lagi memanajemen hubungan antara pimpinan dan bawahan. Demi kebaikan kita bersama. Begitu saja akhi, pertemuan kita sore ini, Assalamu’alaikum warohmatullohi...”, segera setelah aku menjawab salam mereka, kedua akhwat tadi pun melajukan sepeda motornya. Menembus jalanan dibawah naungan langit yang telah berubah warna senja.


Sepanjang perjalanan pulang ke kost, lintasan memori masa lalu kembali hadir. Kasus-kasus akhwat yang menempatkan aku sebagai obyek kesalahan, ikhwan yang ’bikin onar’ di setiap hati akhwat yang dekat denganku. Awal-awal kuliah dulu, saat aku di sidang Mbak Fatma, mbakku. Mbak Fatma mendapat laporan dari akhwat yang kebetulan satu kost dengan ukhti ’A’, satu program kuliah. Bahwa ukhti ’A’ sakit, dan sakitnya rupanya disebabkan olehku. Aku tidak sadar, rupanya setelah ukhti ’A’ di ’sidang’, beliau menceritakan semua isi hatinya, ia keluarkan semua catatan, isi diary, sobekan kertas yang berisi tulisan tanganku, semuanya tentang aku. Dan aku benar-benar tidak menyadarinya.


Kemudian, kembali aku disidang oleh Mbak Fatma, ketika aku mendapat amanah di sebuah departemen bidang pembinaan. Aku di ”gosip”kan dekat dengan kordinator akhwat. Katakanlah ukhti ’B’. Sering ke kost beliau, bahkan selepas isya (saat itu jam malam berkunjung ke kost akhwat adalah pukul 19.30 wib). Lalu aku jelaskan bahwa seringnya aku ke kost beliau karena semata-mata aku menyerahkan tugas-tugas amanah dakwah di departemen, bukan urusan pribadi. Dan kenapa malam hari ? karena memang sejak siang hingga maghrib aku di sibukkan dengan urusan praktikum, sehingga baru bisa menyelesaikan tugas-tugas dakwah saat maghrib, dan harus diserahkan segera. Tidak ada pembicaraan pribadi.


Kemudian, memori yang berhubungan dengan akhwat kembali hadir. Saat itu, seorang akhwat katakanlah ukhti ’C’, mencoba meminta bantuanku untuk bisa menjadi penyiar di sebuah radio swasta di kota solo. Saat itu amanahku sebagai Presiden BEM Fakultas, aku memanfaatkan penawaran itu sebagai kesempatan untuk menjadikannya sebagai program BEM, dan memang berhasil. Namun lagi-lagi orang melihatnya lain. Aku di ”gosip”kan dekat dengan ukhti ’C’.


Pernah aku kesal sama Mbakku,


” Kenapa sih akhwat suka banget nge-gosip???, bukankah mereka itu ngaji ? kok bisa-bisanya suka menggosip ?”, kesalku. Lalu Mbak Fatma mencoba membela para akhwat.


” Tidak semua akhwat, dan itupun bukan dalam rangka ghibbah, tapi untuk mencari kebenaran berita antum itu loh”, bela Mbakku.


” Kalau memang pingin dapat tabayyun, kenapa nggak langsung tanya ke aku, Mbak ? mereka gak berani ? ahh...pengecut tuh akhwat”, runtukku saat itu, benar-benar kesal.


” Khan mereka sudah benar, mereka melalui perantara orang yang dekat dengan antum. Mereka bertanya sama Mbak, makanya mbak tanya ke antum, baru Mbak jelaskan”.


Cerita-cerita semacam ini bukan sekali dua kali, tetapi sudah terlalu sering, hanya karena salah tangkap informasi, salah penafsiran, hanya melihat dari satu sudut pandang dan sebagainya, seseorang terjerat bisikkan syetan untuk ber su’udzon terhadap saudaranya lalu berlanjut pada berghibbah sesama ikhwah dan terjadilah fitnah.


Aku sadar, tidak ada manusia yang sempurna yang luput dari kesalahan. Sekalipun ia adalah seorang Da’i, yang menyerukan kebenaran. Tugas kita adalah tetap berusaha untuk berbuat sebaik mungkin, belomba-lomba dalam kebaikan.


Akhirnya, motor ini membawaku ke kost-kostan beriringan dengan panggilan Adzan Maghrib. Saatnya kembali mengadukan permasalahan hati ini kepada Zat Yang Menggenggam setiap Hati makhluk-Nya.

Perjuangan Belum Usai

“Apa yang sebenarnya kita perjuangkan selama ini, akhi?”, sebuah pertanyaan retoris meluncur begitu saja dari bibir seorang al akh ketika sedang termenung melihat kondisi generasi muda Indonesia saat ini.

Sejenak ku terdiam dalam kebisuan yang kami rasakan bersama. Di atas meja bundar tergeletak beberapa majalah, koran, buletin, jurnal dan lembar-lembar hasil searching internet yang berisi fakta tentang kondisi remaja kita yang kian membuat sempit rongga dada. Remaja yang menjadi korban pemerkosaan, penjualan anak perempuan, perbudakan manusia dibawah umur, bahkan yang dilakukan oleh remaja itu sendiri mulai dari narkoba, freesex yang kemudian disebarluaskan melalui HP dan internet, mabuk-mabukan, perkelahian antar pelajar, pelecehan seksual terhadap teman sebaya, pemerkosaan terhadap perempuan dibawah umur, dan lain sebagainya.


“ Bukah hal yang mudah, memang!?”, Pertanyaan retoris selanjutnya yang kujawab dengan diam dan tatapan yang lurus ke depan. Memandang kehijauan dedaunan yang sedang bertasbih menyapa kelam yang mulai membayang di ujung senja.

“ Untuk itu kita berusaha tampil kemuka, akhi. Bukan sekedar terenyuh dan menangisi kondisi ini begitu saja. Apa yang kita serukan adalah sebuah mimpi yang bernilai harapan untuk perbaikan moral generasi kita. Bukankah harapan itu masih ada ?”, sesungging senyum tulus yang lahir dari lubuk hati terpancar melalui segaris lukisan wajah yang cerah karena kebersihan jiwanya.

Aku membalas senyumnya.
“ Ya akh, yang berada didepan kita saat ini adalah sebuah tantangan. Bukan sebuah hambatan. Allah menurunkan kondisi ini agar nyata mana orang-orang yang masih bertahan dalam keimanan dan mana orang-orang yang masih teguh dalam menyampaikan Risalah-Nya. Dan sebuah harapan, kita termasuk dalam orang-orang yang tetap teguh untuk mempertahankan keimanan kita dan menyampaikan kabar iman ini kepada saudara-saudara kita diluar sana”. Jawabku dalam kebekuan kalimat yang menegaskan.

Senja mulai terusir oleh sang kelam. Namun rona-ronanya tetap saja menjadi raja bagi kerajaan langit yang tak lagi biru. Sebuah lukisan maha karya yang bahkan seorang Picaso ataupun Leonardo Da Vinci pun tak sanggup untuk menandinginya dalam balutan kuas yang menari diatas kanvas. Setiap garis-garis warnaya mempunyai makna yang dalam. Memberikan sebuah harapan, bahwa warna itu akan kembali berubah ketika kelam mulai terusir fajar. “Habis Gelap, Terbitlah Terang”.

Kami beranjak dari meja bundar ketika kelam benar-benar mulai meraja bertahtakan bebintang yang berkilauan ditemani sang ratu malam. Kami menuju mushola setelah membersihkan diri dengan wudhu. Dan saat takbir bergema, keagungan Sang Maha Kuasa mulai merajai hati-hati kami. Bibir-bibir kami lirih menyenandungkan sebuah irama kerinduan. Dengan nada pengharapan dan pengagungan. Mengalir rendah menuju muara hati yang bening karena hidayah.

Catatan Kost Seorang Ikhwan


Pagi itu, seperti halnya pagi-pagi di akhir musim kemarau. Cerah, tanpa awan. Mataharipun dengan leluasa menghamburkan cahayanya. Dan burung-burung yang hinggap di pohon sawo kecik belakang kost masih asyik bercengkerama. Namun, ada satu sosok yang justru terdiam khusyuk dalam dengkurannya.

“ Akhi, sudah jam delapan. Antum gak ngajar hari ini ?”, saat kubuka pintu kamarnya segera saja sinar matahari mendahuluiku untuk hinggap disetiap sudut ruang tertutup tiga kali dua setengah meter ini dan menyapa seonggok jasad yang mendengkur . Aku berdiri di depan pintu.
“ Argh…tutup pintunya, silau..!!” runtuknya kesal. Aku hanya memandangnya dengan sebongkah rasa kecewa. Untuk yang kesekian kali.

Bukan maksudku untuk mendzolimi dengan merebut mimpi indahnya selepas subuh. Hanya sekedar mengingatkan, bahwa ada banyak hal yang bisa dikerjakannya selepas subuh daripada sekedar berdiam diri didalam kamar dan berlanjut merajut mimpi yang terputus tadi malam (baik sengaja maupun tidak sengaja). Tilawatil Qur’an, Dzikir harian, membaca buku yang tergeletak begitu saja setelah ia beli di pameran 1 bulan yang lalu, berolah raga ringan, membereskan kamar yang berantakan, mencuci baju-baju kotor yang masih saja sering dipakainya, mencuci piring dan gelas yang semalam di pakai untuk makan, menyapu halaman kost yang penuh dengan daun-daun tua, menyiram tanaman yang kekeringan, menyemir sepatu untuk persiapan mengajar, menyeterika baju-baju lusuh yang entah pernah dicuci kapan, melap motornya yang di selimuti debu-debu musim kemarau, atau hal-hal lain yang bisa membuat hidup ini benar-benar menjadi hidup sampai ia berangkat beraktivitas rutin.

Ketika sebuah pertanyaan ku ajukan, ia jawab semaunya.
“ Kenapa sih Akh, antum tidur (atau mungkin tertidur) ba’da subuh ?”.
“ Ngantuk...capek...lemes...pusing...stress...” entah berapa lagi alasan yang di keluarkan.

Memang tak perlu aku jelaskan lagi apa manfaat sholat subuh berjamaah di masjid, beraktivitas selepas subuh, ia tak perlu itu,. Ia sudah paham betul bahwa rejeki Alloh di limpahkan di pagi hari. Bahkan mengerti betul pepatah jawa bahwa kalau tidak bersegera beraktivitas maka rejekinya akan di patok ayam.

Alasan logis coba ia sampaikan, semalam ia nglembur. Entah nglembur apa tadi malam. Yang jelas bukan nglembur mengerjakan tugas, belajar untuk persiapan mengajar, mengkoreksi ulangan, mempersiapkan soal-soal, atau yang sejenisnya. Yang aku tahu adalah ia berada serius di depan laptopnya, dengan memegang stick game dan sesekali berteriak “ Goool...!!!”

Dan parahnya, alasan itu tidak ia keluarkan hanya di pagi hari, hampir di setiap waktu ketika wajahnya kelihatan kusut masai. Bahkan selepas sholat. Capek...stress...pusing...mumet...

Ya sudahlah, ia juga manusia sebagaimana aku juga terkadang pernah mengalami yang namanya rasa malas. Aku juga pernah dan mungkin sering merasakan kondisi kurang bersemangat. Dan mungkin hampir semua diantara kita pernah merasakan hal ini. Sebuah hal yang tidak bisa disalahkan, bahwa yang namanya keimanan itu naik dan turun sesuai sabda Nabi saw bahwa keimanan naik ditandai dengan meningkatnya ibadah dan menurunnya iman dicirikan dengan kemaksiatan yang kita lakukan. Ya, kemaksiatan yang kadang menjadikan kita lemah, malas, suntuk, capek, de el el...

Tapi apa sebenarnya yang terjadi pada diri kita ketika setelah beribadahpun masih kering jiwa kita? Selepas sholatpun justru capek dan lelah yang kita dapatkan? Selepas tilawah justru rasa kantuk yang sangat amat menghinggap di pelupuk mata ?

Bisa jadi, kekeringan jiwa ini terjadi karena lunturnya kesadaran kita tentang hakikat hidup dan kehidupan itu sendiri. Bahkan Rasululloh saw pernah bersabda dalam salah satu hadistnya, tentang niat dan keikhlasan dalam beribadah. Ya, niat dan keikhlasan inilah yang seharusnya menjadi satu hal yang pokok dalam hidup dan kehidupan ini.

Bisa jadi, terkadang kita merasa aktivitas ibadah kita tidak lebih dari sekedar mengugurkan kewajiban saja. Sholat fardhu di masjid, shoum sunnah mingguan, Dzikir harian, tilawatil Quran, Qiyamul Lail dan amal yaumi yang lain, semua itu dilakukan hanya karena memenuhi tuntutan pemenuhan wajifah yaumiyah yang akan di mutabaah setiap pekan. (Astaghfirullah, jadi malu ^-^`)

Bisa juga, bukan karena beban harus melaporkan kegiatan ibadah kita dalam pengajian rutin atau liqoat. Bukan karena itu. Namun, tidak jarang diantara kita karena sudah menganggap aktivitas ibadah tersebut adalah rutinitas, sehingga membuat kita lalai dari hakikat ibadah kita yang (pernah) kita pahami, akhirnya semua menjadi kosong, sholat tidak membawa dampak positif dalam hidup, tilawah hanya sekedar membaca, puasa sekedar menahan lapar dan dahaga. Akhirnya semua aktivitas tidak lagi memberi dampak positif terhadap diri. Bahkan tidak jarang yang berakhir dengan kefuturan bahkan berhenti dari amal-amal ibadahnya.

Ada seorang teman yang pernah mengeluh, kadang merasa butuh yang namanya “refreshing”, penyegaran jiwa. Penyegaran jiwa ini adalah sesuatu yang penting untuk motivasi kita dalam ibadah, tapi menurutku istilah penyegaran adalah membuka kembali kitab kitab aqidah, tazkiyatun nafs dan fadhilah ibadah, mengkaji kembali alasan kita beribadah dan apa yang kita cari sesungguhnya.

Aku pernah dengar tentang seorang rekan kita yang aktifis dakwah yang dulu sangat heroik dalam perjuangan dakwahnya di kampus, namun ketika selepas kampus hampir sama sekali berubah. 180 derajat. Mengapa saudara kita bisa merasakan hal demikian? menurut beliau semua diakibatkan kurang ikhlasnya hati dalam mejalani dakwah dan ibadah walaupun dulu ia pernah paham hakikat ibadah dan dakwah. Sikap heroiknya semata-mata karena lingkungannya bersama dengan teman-teman ikhwah yang lain. Namun disaat ia sendirian, ibadah dan perjuangan dakwahnya mulai kehilangan ruh’nya, akhirnya jiwa menjadi kosong dan mudah di bisiki oleh syeitan. Hmm...domba yang sendirian akan lebih mudah di terkam serigala.

Sahabat sekalian, sekalian semoga Allah senantiasa menjaga hari kita, dan tentunya kita juga harus terus berupaya untuk menguatkan maknawiyah kita dengan menghadiri majelis dzikir dan ilmu. Dan jangan lupa mari kita lakukan muhasabah untuk memastikan kita senantiasa berada dalam jalur yang tepat (^-^).

Ketika tilawatil Qur’an, sempatkan juga kita membaca dan mentaddaburi terjemahannya, sehingga saat tilawah kita benar-benar merasa bahwa Alloh sedang berbicara dengan kita, entah tentang kabar gembira, syurga, cerita masa lalu, berita peringatan, neraka dan siksanya dan lain sebagainya. Ketika wudhu, kita rasakan benar-benar tengah membersihkan segala dosa dari kemaksiatan yang dilakukan oleh setiap jengkal tubuh kita. Saat sholat, yakinkan diri kita bahwa Alloh ada di hadapan kita, dan sedang memandangi ’persembahan’ ketaatan kita dan juga jangan malas membuka kitab-kitab sirah nabawi untuk memompa semangat dakwah dan perjuangan kita, mungkin cukuplah belajar dari perjuangan para nabi dan rosul ditambah keihlasan para sahabat, sebagai bekalan kita menjalani hidup. Untuk menghantarkan kita pada keridhoan Allah SWT. Amiin ya Robb. Wallahu alam...

NB : Untuk saudaraku di Kost, afwan jiddan jika merasa tersinggung.
Kewajibanku sebagai seorang sauadara selagi masih punya kesempatan dan semangat untuk saling mengingatkan.
Kapan ya bisa saling membangunkan untuk sholat malam ?
Kapan ya bisa saling mengingatkan untuk sahur setiap senin dan kamis ?
Kapan ya bisa kembali menghidupkan amal-amal islami dalam kost kita ?
hehehe... Piss...!!