Sabtu, 08 Mei 2010

Sekali Lagi, Tentang Amanah !!

Ashar telah lewat, beberapa jamaah telah berlalu. Sejenak ku rebahkan tubuh penat ini berharap asam laktatku bekerja cepat mengusir rasa letih yang menghinggapi setiap persendian antar tulang. Sesosok tubuh yang ku kenal terpekur dalam diamnya di pojok masjid. Beberapa kali pundaknya bergetar, dan lirih terdengar sesenggukkan. Dia menangis ? batinku bertanya tanpa jawab. Rasanya ingin menghampirinya, bertanya tentang beban berat yang di tanggung pundaknya. Namun kubiarkan sosok tadi terpekur dalam diamnya. Biarlah Allah sebagai sandaran, kalaupun ini takdirku untuk memberikan sedikit pundakku mengurangi beban yang ia tanggung, aku akan segera menjinjingnya.

Aku masih mencuri-curi pandang dalam rehatku. Sesenggukkannya berhenti, tangannya bergerak mengusap wajah. Nafas panjang ia hirup dalam, kulihat dari pundaknya yang mengembang. Ia selesai dalam diamnya, menoleh dan berdiri. Ia melihatku berbaring, lalu berjalan menghampiri dengan sebuah senyum yang kentara sekali dipaksakan. Ku balas senyumnya dengan lebih lebar lagi. Aku segera bangkit , membenarkan posisi dudukku.

Assalamu’alaikum Akhi, kaifa haluk ? makin subur aja nih antum”, sapaku ringan. Senyumnya lepas ketika menyawab salamku.

Alhamdulillah Mas Doni, baik. Dari mana nih Mas, tumben ...”, nada suaranya terdengar berat. Ah, apa aku yang sensitif ya.

Habis ngajar di SDIT, Dek. Antum Sehat ?”, sudut matanya menyisakan bening yang belum terhapus. Sinar matanya meredup mengikuti pandangnya yang menunduk. Senyumnya kembali kecut.

Ia merubah posisi duduknya, menghadapku. “ Mas, apa sih hukumnya menolak amanah?” matanya dalam, ada riak dalam muaranya. Aku masih meraba duduk permasalahannya. Rupanya, keterpekurannya tadi masih menyisakan suatu persoalan. Apakah sedemikian rumit benang kusut yang mengikat pikiran yang biasanya cemerlang ?

Tergantung, Dek”, diam. Alis matanya terangkat, tanda penasaran berputar di jidatnya.

Senyumku semakin lebar. Lega dia merespon kalimat pertamaku.

Kalau amanah yang akan di berikan pada seseorang tersebut merupakan hasil keputusan musyawarah, dan tidak ada orang lain yang di khuznudzoni lebih baik maka seseorang itu haram hukumnya menolak amanah tersebut.” aku terdiam, menunggu reaksinya. Alis yang menghiasi wajahnya semakin tertekuk penasaran.

Apa ini ada kaitannya dengan amanah antum di Kampsu, Dek ?” aku mencoba mengalihkan rasa penasaran dengan sebuah pertanyaan investigasi, lembut namun mampu menambah kekacauan benang ruwet yang mengikat isi kepalanya. Wajahnya berubah. Bimbang.

”Cerita saja, kalau memang ada masalah”, ucapku memberikan rasa kepercayaan dan kenyamanan. Wajahnya kembali terangkat, menatap dalam isi bulatan mataku.

Mas, misalnya ada seseorang yang tiba-tiba mendapatkan qoror untuk memegang sebuah amanah yang dia sendiri merasa tidak sanggup untuk menanggungnya dan tanpa ada konfirmasi terlebih dahulu, sehingga kesannya hanya one bottom line saja. Apakah boleh ketika kondisinya seperti itu, dia menolak amanah yang diberikan ?” akhirnya aku bisa menebak ujung-ujung benang yang sedari tadi mengikat isi pikirannya.

Sekali lagi tergantung, Dek...”, aku membuat jeda kalimat lagi. Wajahnya semakin serius. Kutarik nafas perlahan, tak kentara tanpa desah.

Kalau konteksnya amanah ini sebagai seorang mas’ul (penanggungjawab) suatu forum atau dalam lingkup kampus adalah pimpinan, dan keputusan ini merupakan hasil dari sebuah rumusan musyarawah panjang yang digagas oleh para mas’ul-mas’ul kita diatas, dan dengan pertimbangan tidak ada lagi orang yang bisa di khuznudzoni bisa, mampu dan sanggup untuk menjabatnya, maka tidak ada alasan lagi dia untuk menolak amanah tersebut. ”, kalimatku belum selesai. Wajahnya mulai tidak tenang, ada penolakan pada bait-bait kata yang kusampaikan, terlihat jelas dari sorot matanya.

” Tapi Mas, kan yang lebih tahu kekurangan dan kelebihan itu adalah dirinya sendiri. Bisa jadi dia memang tidak pantas untuk mendapatkan amanah yang di khuznudzonkan kepadanya. Bukankah ini justru akan memperburuk keadaan, Mas ?”

Ya, akhi...saya sepakat. Namun, pahamkah antum hakikat sebuah dakwah ? hakikat sebuah jama’ah..? dan hakikat seorang jundiyah dan qiyadah ? ”, lagi-lagi aku memberi jeda. Memandang dalam seberapa tajam penangkapan setiap bait kata yang kusampaikan. Pertanyaan-pertanyaan yang memang tidak kubutuhkan jawaban lisan.

Saya tidak bisa membayangkan saat Rasululloh benar-benar tidak mau membaca ’Iqro...’ saat Jibril memintanya untuk membaca. Rasululloh sadar, bahwa beliau seorang yang Ummi. Belum tahu apa yang akan di tanggungnya kelak. Sampai turun Surat Al Mudatsir, beliau semakin mengokohkan hati dan langkah kakinya untuk memperjuangkan Risalah yang ditakdirkan Alloh kepadanya. Dan juga para sahabat, andai saja mereka hanya berdiam diri saja di Jazirah Arab, maka mungkinkah sampai Risalah Islam di negeri tercinta kita ini. Jadi intinya kembali kepada Hakikat Dakwah, Jamaah dan Qiyadah”

Saya hanya takut ketika ditinggalkan sendirian, Mas !” sebuah kalimat tiba-tiba meletuskan segenap perasaanku, memuntahkan bongkahan-bongkahan memori masa lalu, saat aku juga merasa takut sendirian dalam memegang amanah di ranah Siyasi Fakultas. Saat para Mas’ul dengan entengnya menyerahkan amanah tanpa ada transfer segala informasi tentang dunia siyasi fakultas yang memang baru pertama kali aku jajahi. Kemudian aku menyendiri untuk beberapa saat, sampai muncul beberapa sahabat yang rupanya siap mengangkat beban amanah ini bersama-sama dalam sebuah kabinet BEM FKIP UNS.

Akhi, bukankah kita masih punya Alloh ?” kalimat ini sering kali kutanamkan kuat pada para binaanku saat mereka merasa lelah, menyerah dan hanya bisa mengeluh.

Hakikat dari dakwah itu sendiri, bukankah kita menyeru manusia kepada jalan Alloh, apalah artinya seruan kita ketika kita sendiri tidak memahami dan tidak menyelami sampai dalam untuk apa kita berdakwah, dan untuk siapa ? ”, wajahnya kembali menunduk, tepian-tepian matanya yang ditanami rambut-rambut halus berusaha kuat membendung air yang akan banjir.

teringat saya pada apa yang disampaikan Ustadz Al Banna. Apa yang harus kita lakukan saat kita bergabung dalam jama’ah dakwah ini, pertama dan yang paling utama adalah kita memahami Islam secara benar dan menyeluruh. Tanpanya, kita berjalan tanpa tahu tujuan untuk apa kita melangkah dan kemana arah kaki kita diayunkan. Dari sinilah diturunkan bai’at-bai’at yang lain, yaitu keihlasan. Tanpanya, langkah kita hanyalah kesia-siaan belaka di hadapan Alloh. Barisan yang kita susun akan segera terlibas tanpa bekas, dan energi kita akan segera ludas. Kemudian yang ketiga adalah janji kita untuk senantiasa beramal, beraktivitas di jalan dakwah, tanpa jeda, tanpa rehat kecuali untuk menyusun siasat. Sebelumnya telah jelas langkah awal kita memulai dan telah jelas pula tujuan akhir perjalanan. Semuanya bermula dari diri sendiri, dan berakhir pada membuminya Islam di tanah semesta.

Kemudian janji untuk senantiasa berjuang di jalan yang sudah di tetapkan-Nya, mendobrak segala macam dinding yang kokoh menghalangi rute perjalanan kita, bahwa inilah yang menjadi neraca untuk menimbang seberapa besar iman kita dalam menjalani hari-hari dalam jalan dakwah. Lalu yang selanjutnya adalah pengorbanan dengan segala yang dimiliki demi tercapainya tujuan perjalanan kita, yaitu meraih tujuan suci dan syurga-Nya Alloh. Kemudian sebisa mungkin untuk berjanji taat sesuai dengan tingkat kemampuannya dan berjanji tetap tegar menghadapi segala kondisi yang siap menghadang di tengah perjalanan kita. Dari itu semua akan muncul rasa untuk memberikan loyalitas secara total bagi dakwah ini dengan melepaskan diri dari keterikatan terhadap yang lainnya. Semua itu membutuhkan kebersamaan dalam bingkai ukhuwah dan kepercayaan kepada pemimpin dan barisannya “, aku terdiam beberapa saat. Menyesali apa yang kukatakan seakan-akan menggurui. Segera kutarik nafas panjang dan dalam, melepaskan bersama beban rasa yang menggantung. Kulihat tatap matanya. Menungu untuk melanjutkan. Menungu ada jawaban.

“ Tapi Mas, rasanya cuma ada yang mengganjal saja di hati ini. Merasa berat, Mas“

“ Dakwah memang akan terasa lebih berat saat kita hanya memandangnya saja, Dek. Bisa jadi selama ini kita selalu memberikan kritikan dan komentar kepada Mas’ul kita yang beramal kurang optimal dalam amanahnya. Dan bisa jadi kita yang berposisi sebagai Jundi hanya bisa menuntut. Sehingga ketika ada sebuah tawaran atau lebih ekstrimnya adalah penunjukkan kita menjadi seorang pemimpin, kita justru terbayang-bayangi dengan segala tuntutan dan kritikan yang pernah kita lontarkan.” Aku merubah posisi dudukku.

Kembali kulanjutkan perkataanku, “Bukankah semakin tinggi kita naik sebuah pohon, maka terpaan dan gangguan akan semakin berat juga, Dek ? “, kutatap kembali di dalam matanya, ia alihkan sekilas mencoba menghindari tatapanku.

Namun, cobalah pandang di sekeliling kita saat kita berada di atas puncak ? Pemandangan luas yang tidak pernah kita lihat sebelumnya ketika kita masih berada di atas tanah saja. Begitu pula hakikat sebuah jenjang kepemimpinan. Semakin kita naik, akan semakin luas pandangan kita dalam melihat dan memecahkan permasalahan yang ada. Insya Alloh, kita akan semakin di kuatkan Alloh saat kita berada dalam sebuah posisi pemimpin, jika kita bertakwa.” Kulihat masih ada keraguan yang membayangi wajahnya. Aku hanya bisa tersenyum.

“ Namun yang jelas, segala keputusan kembali kepada antum, apakah ketika ada sebuah tawaran amanah kampus, akan antum ambil atau tolak. Pertimbangkan dulu, minta petunjuk Alloh. Kalau memang ke depannya yang antum kawatirkankan adalah mengenai perkuliahan antum, itu khan permasalahan tekhnis di lapangan saja, tinggal bagaimana kita mengatur kembali jadwal harian kita ketika sebuah amanah berat di berikan kepada kita”

“ Ya Mas, Syukron Jazakalloh khoiron”,

“Afwan”

“ Ane tak pulang dulu, Mas. Persiapan Mabit nanti malam. Assalamu’alaikum..!!“

“ Wa’alaikumussalam warohmatullohi wabarokatuuh “, ku lepas kepergiannya dengan senyuman.

Allohu Robbi, semoga apa yang kukatakan tadi juga mengingatkanku agar semakin memantapkan hati di Jalan-Mu.. “Robbana Laa Tuzigh Qulubbana, Ba’da Idz Haddaitana, Wahabblana Miladunka Rohmah, Innaka Antal Wahhaab...”

Wallahu'alam



Jumat, 02 April 2010

Kekayaan yang Tiada Habis, Inginkah Engkau memilikinya?



Faktor pendukung untuk memiliki sikap qona’ah

“Ketika seorang mukmin memahami nilai dunia dan hakikat kehidupan di dunia; ketika hati seorang mukmin digenangi oleh keimanan dan makrifat tentang Allah Subhanahu wa Ta'ala, nama-nama, dan sifat-sifat-Nya; maka ketika itu; dari pemahaman dan keimanan itu, akan lahirlah karakter mental yang sungguh berharga, yaitu qona’ah. Itulah sebuah harta kekayaan yang tidak ada habisnya.” Demikian yang disampaikan oleh Syaikh Abdullah bin Abdul Hamid Al Atsari dalam bukunya “Qona’ah, Kekayaan Tiada Habisnya.”

Qona’ah - merasa cukup dengan apa yang ada- sebuah kata yang mudah untuk diucapkan, namun sulit untuk dipraktikkan. Terlebih di zaman ini, dimana kita melihat begitu banyak manusia mengalami “kegilaan” terhadap dunia beserta isinya. Di zaman sekarang ini, sulit rasanya untuk mewujudkan kekayaan yang tiada habisnya ini hanya dengan nasihat singkat, “Nak, bersikaplah qona’ah; kamu akan tenang hidupnya”; atau nasihat-nasihat sejenis. Keterangan singkat yang disisipkan pada pengajian-pengajian juga belum mencukupi untuk menumbuhkan harta yang tiada habisnya ini. Hadits-hadits tentang qona’ah yang kita baca pun, (terkadang) tidak cukup membantu untuk serta merta memunculkan sifat itu pada diri kita, kecuali orang-orang yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Fondasi Sifat Qona’ah
Fondasi yang utama dan pertama untuk menumbuhkan sifat ini adalah keyakinan yang benar. Keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, mengenal Allah dengan nama dan sifat-sifat-Nya berikut keagungan dan keindahan yang dikandungnya; keimanan yang mantap kepada hari akhir, keyakinan yang benar tentang takdir yang baik dan buruk; semua itu merupakan landasan utama untuk menumbuhkan sifat dan karakter mental yang sangat mahal harganya ini.

Keimanan dan pengetahuan seorang mukmin terhadap Allah beserta nama dan sifatnya; akan menjadikan dirinya merenungkan firman, perintah dan penjelasan-Nya; yang hasilnya ia akan memahami hakikat dunia, hakikat dirinya, dan hakikat qona’ah beserta manfaatnya di dunia dan di akhirat.

Keimanan kepada hari akhir akan mendorong seorang mukmin untuk memiliki sikap zuhud terhadap dunia. Pemikirannya selalu tertuju kepada hari akhir dan seluruh rangkaiannya, terutama ketika amal-amal kita dihisab. Dengan bekal ini ia paham, bahwa hidup dunia hanyalah sementara, sebagaimana yang ia pelajari dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, “Apa perluku dengan dunia? Perumpamaanku dengan dunia hanyalah ibarat pengendara ynag tidur siang sejenak di bawah naungan sebuah pohon, kemudian berangkat di sore hari dan meninggalkannya.”
(HR.Ahmad dan Tirmidzi). Hal ini akan menjadikannya bersikap menerima apapun yang terjadi dengan dirinya dengan senang hati.

Keimanan terhadap takdir yang baik maupun buruk akan memberikan sikap tenang dan ridho terhadap apa yang dialami, suka maupun duka. Hatinya senantiasa lapang, ia tidak mengenal kata gundah dengan sedikitnya rizki, lemahnya daya, maupun kemiskinan yang menimpanya.

Inginkah Engkau memiliki harta itu?
Sebagaimana akhlak-akhlak mulia lainnya, sebagai karakter mental, qona’ah dipengaruhi beberapa faktor, diantaranya pendidikan, lingkungan, bertambah dan berkurangnya iman, serta ketinggian dan kerendahan cita-cita

Syaikh Abdullah bin Abdul Hamid Al-Atsari menyebutkan beberapa faktor yang mendukung kita untuk memperoleh akhlak yang sangat berharga ini:

1. Ilmu agama
Ilmu agama merupakan faktor utama untuk memperoleh harta yang tidak terkira ini. Dengan ilmu, kita mengetahui hakikat, manfaat, dan bahaya jika melalaikan qona’ah. Ilmu agama menjelaskan kepada kita hakikat dunia, menyingkap rahasia-rahasianya, dan bahaya-bahaya terlalu berorientasi kepadanya. Ilmu agama akan mendorong kita untuk mencintai dan mengerahkan seluruh perhatian kita kepada kampung akhirat, kehidupan yang kekal dan abadi.
“Dan tiadalah kehidupan di dunia ini selain main-main dan sendau gurau. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu memahaminya? (Al-An’am:32)

Dengan ilmu pula kita memperoleh pengetahuan tentang Allah Azza wa ‘Ala dengan seluruh nama-Nya yang husna dan sifat-Nya yang tinggi. Kebenaran akidah: iman kepada hari akhir dan iman kepada takdir yang baik maupun buruk, yang hal itu merupakan pondasi dasar yang memiliki pengaruh sangat besar dalam mewujudkan sifat qona’ah, semuanya dapat diperoleh dengan ilmu agama.

2. Keimanan yang mantap
Ilmu yang kita miliki (insya Allah) berbuah menjadi keimanan yang mantap. Kuat lemahnya sifat qona’ah dalam menghadapi berbagai “fitnah” dunia ini, sesuai dengan tingkat kekuatan iman yang ada pada setiap kita.

3. Pemahaman yang benar tentang qodho dan qodar
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah membagi-bagi rizki dan keadaan hidup seluruh manusia sejak zaman azali.{embagian yang dilakukan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala merupakan ketetapan berdasarkan kebijaksanaan dan ilmu-Nya. Jika kita memahami bahwa ambisi, keluh kesah, dan perhatian kita terhadap dunia dan harta, tidak akan menambah rizki, (karena tidak mungkin kita bisa mengoreksi ketetapan dan qodar Allah); pemahaman seperti dapat menumbuhkan sifat qona’ah, tenang, rileks terhadap keadaan yang diterimanya, apakah kita kaya maupun miskin.
Sikap ridho seorang mukmin dalam menghadapi ketetapan qodha dan qodar Allah akan memberikan kepadanya mata yang jeli dalam melihat kondisi kehidupan dan hakikat pembagiannya. Yang menetapkan rizkinya adalah Allah, Allah juga yang telah membeda-bedakan tingkat rizki, melebihkan yang satu terhadap yang lainnya. Perbedaan ini merupakan ujian bagi kita; ujian bagi orang kaya engan kelebihannya, ujian bagi orang miskin dengan kekurangannya. Perbedaan antara orang kaya dengan orang miskin dalam rizki bukan merupakan bukti mengenai perbedaan kedudukan keduanya di dunia maupun di sisi Allah Azza wa Jalla.

“Apakah mereka yang membagi-bagi rahamt Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (Az Zukhruf:32)

“Bersikaplah ridho terhadap apa yang dibagikan oleh Allah, niscaya kamu menjadi manusia yang paling kaya.” (HR.Ahmad)

4. Perjuangan Mental dan Bersabar
Sesuai dengan kebijaksanan-Nya, Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memberi kita nafsu yang senantiasa menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat Tuhan.(Yusuf:53). Salah satu bentuk keliaran nafsu adalah permusuhannya terhadap sikap qona’ah. Selama kita tidak melawan nafsu beserta keliarannya, ketika itu kita telah membuka pintu-pintu ambisi, ketamakan, kerakusan, kekikiran, dan keluh kesah.

“Jauhilah sifat syuhh, karena sifat syuhh telah membinasakan orang-orang sebelummu, mendorong mereka untuk menumpahkan darah mereka dan melanggar hal-hal yang diharamkan bagi mereka.” (HR.Muslim)

Imam Ibnu Rojab al Hanbali rahimahullah menjelaskan bahwa syuhh adalah ambisi besar yang mendorong pemilikinya mengambil banyak hal yang tidak halal, tidak menunaikan kewajiban terhadapnya. Substansi sifat ini adalah kerinduan diri kepada apa yang diharamkan oelh Allah serta tidak puas dengan yang telah dihalalkan oelh Alloh, baik menyangkut harta, kemaluan, atau lainnya.

Mengendalikan nafsu dan memaksanya memiliki sikap qona’ah membutuhkan kesabaran dan ketabahan dari seorang mukmin. Kesabaran di sini berkaitan dengan hal-hal yang diharamkan dan hal-hal yang meragukan; karena sifat qona’ah menuntut sikap zuhud, ridho, dan waro’. Sabar dalam ketaatan dan tidak berbuat maksiat.

5. Berdoa dan Memohon kepada Allah
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, sikap menjaga martabat, dan kekayaan.” (HR.Muslim)

Syaikh Abdurrahman Nashir As-Sa’di rahimahullah, berkata:”Ini merupakan salah satu doa yang paling luas cakupan maknanya dan paling bermanfaat. Doa ini mengandung permohonan agar dikarunia kebaikan di dunia dan akhirat. ‘Afaf (sikap menjaga martabat) dan ghina (kekayaan) mengandung arti menjaga kehormatan di hadapan sesama manusia, tidak menggantungkan diri kepada mereka dan merasa kaya dengan Alloh, rizki-Nya, sikap menerima dengan senang hati terhadap apa yang ada pada dirinya, serta diperolehnya kecukupan yang bisa menenangkan hati. Dengan semua itu, sempuralah kebahagiaan hidup di dunia dan ketenangan batin, dan itulah hayah thoyyibah (kehidupan yang baik).

6. Menjauhi Orang-Orang yang Suka Berkeluh Kesah
Teman, kawan, orang-orang di sekitar kita, sangat besar pengaruhnya pada diri kita. Siapa yang lama berkawan dengan orang-orang yang suka berkeluh kesah dan ambisius, maka akan tertimpa penyakit mereka. Hawa nafsu dan akhlak mereka akan menular kepada dirinya. Sebaliknya, berkawan dengan orang-orang sholih, senantiasa berdzikir, zuhud (sekalipun mereka adalah orang-orang kaya dan lapang), akan mendorong kita mengikuti mereka: memiliki sifat qona’ah, zuhud, menerima dengan senang hati semua rizki yang telah dibagikan oleh Allah.

Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, “Seseorang mengikuti agama kawan dekatnya, maka hendaklah setiap orang dari kalian memperhatikan siapa yang menjadi kawan dekatnya.”

7. Melihat yang “di bawah”
“Andaikata anak Adam memiliki dua lembah emas, pasti ia ingin memiliki dua lembah, dan mulutnya tidak kunjung bisa dipenuhi, kecuali dengan tanah. Dan Allah menerima taubat siapa yang bertaubat.” (HR.Bukhari-Muslim)

Manusia, memiliki watak dasar yang mendorongnya utnuk mencintai harta dan dunia. (terkadang) hal ini menjadikan kita melupakan nikmat-nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Bagaimanapun keadaan yang ada pada diri kita, setiap kita pasti telah dikaruniai nikmat dari Allah yang saking banyaknya tidak mampu kita inventarisir dan hitung. Bukan hanya telah, tapi semua yang telah dan akan kita alami adalah nikmat dan karunia Allah yang terkira.

Namun, nikmat dan karunia yang telah Allah berikan secara gratis kepada kita, terkadang terabaikan. Kita merasa kurang dan kurang… kita tidak peduli dan tidak menyadari nilainya… Hal ini bisa jadi karena kita selalu melihat orang-orang yang mendapat nikmat lebih baik dari kita.

Seandainya kita melihat orang-orang yang tidak seberuntung kita, orang-orang yang ada “dibawah” kita… atau satu atau beberapa nikmat dari Allah dicabut (misal: nikmat sehat)… baru kita merasakan nikmat-nikmat itu… barulah kita merasa tenang; oleh karena itu; salah satu faktor yang mendorong tumbuhnya sifat qona'ah adalah melihat orang yang keadaannya “dibawah” kita.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, “Lihatlah kepada siapa yang lebih rendah dari kalian, jangan melihat kepada siapa yang lebih tinggi dari kalian; karena itu akan menjadikan kalian tidak menyepelekan nikmat Allah.” (HR.Bukhori)

Inilah beberapa cara untuk menumbuhkan sifat qona’ah dan menerima dengan senang hati rizki dan penghidupan yang telah dibagikan Allah kepada setiap kita.

Penutup
Pengetahuan tentang hal ini bukan semata-mata pengetahuan ilmiah naratif yang kering dari substansi pelaksanaan yang bisa membedakan antara orang yang bersikap qona’ah atau senantiasa gundah gulana dan berkeluh kesah. Terkadang kita temui, orang yang memiliki sifat qona’ah melimpah ruah tidak hafal dalil-dalil ilmiah dan prinsip-prinsip tersebut selain kandungan makna yang shohih. Dipihak lain, terkadang kita jumpai orang yang mengaku “berilmu” namun tidak memiliki sifat qona’ah sama sekali. Inilah kenyataan yang ada pada kita sekarang ini. Anda ingin menjadi yang mana, wahai Saudaraku? Semoga Allah senantiasa menghiasi diri, keluarga, dan keturunan kita; serta kaum muslimin dengan sifat qona’ah. Amiin.

--------------------------------------------------------------------------------
Referensi: Diringkas dari: “Qona’ah, Kekayaan Tiada Habisnya” :Syaikh Abdulloh bin Abdul Hamid Al Atsari dari buku: Zuhud Dunia Cinta Akhirat, Sikap Hidup Para Nabi dan Orang-Orang Sholih: Ibnu Rojab Al-Hanbali, dll. Penerbit: Al-Qowam, Solo. Halaman 87-




Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih."

Kamis, 18 Maret 2010

HIJRAH DAN MENETAP DI MADINAH


     BEBERAPA PERISTIWA PENTING

                                                                                            Pertama
 
Tersebarnya berita masuk Islamnya sekelompok penduduk Yatsrib (Madinah), membuat orang-orang kafir Quraisy semakin meningkatkan tekanan kepada orang-orang Mukmin di Makkah. Lalu Nabi Saw. memerintahkan mereka agar hijrah ke kota Madinah. Sahabat segera berangkat menuju Madinah secara diam-diam, agar tidak dihadang oleh musuh. Namun Umar bin Khattab justru mengumumkan terlebih dahulu rencananya untuk berangkat ke pengungsian kepada orang-orang kafir Makkah, dikatakannya:
“Siapa di antara kalian yang bersedia benpisah den gan ibunya, silahkan hadang aku besuk di lembah anu, besuk pagi saya akan hijrah.” Tidak seorang pun berani menghadang Uman.

Kedua
mengetahui, kaum Muslimin yang hijrah ke Madinah itu ternyata disambut baik dan mendapat penghormatan yang memuaskan dari penduduk, bermusyawarahlah kaum kafir Quraisy di Darun Nadwah untuk merumuskan cara-cara yang akan diambil untuk membunuh Rasululah Saw. yang diketahui belum berangkat bersama rombongan sahabat. Rapat memutuskan untuk mengumpulkan seorang algojo dan setiap kabilah guna membunuh Nabi Saw. bersama-sama. Pertimbangannya ialah, keluarga besar Nabi (Bani Manaf) tidak akan berani berperang melawan semua suku yang telah mengu­tus algojonya masing-masing. Satu-satunya pilihan yang mungkin mereka ambil ialah rela menerima diat (denda pembunuhan) manakala ternyata jiwa Nabi dapat mereka renggut nantinya. Keputusan bersama ini segera dilaksanakan dan para algojo tadi berkumpul di sekeliling rumah Nabi Saw. Mere­ka mendapat instruksi: “Keluarkan Muhammad dari rumahnya dan langsung penggal tengkuknya dengan pedangmu.”

Ketiga
Pada malam pengepungan itu Nabi Saw. tidak tidur. Kapada keponakannya, Ali Ra. beliau meme­rintahkan agar tidur (berbaring) ditempat tidur Nabi dan menyerahkan kembali semua harta titipan penduduk Makkah yang ada di tangan Rasulullah Saw. kepada masing-masing pemiliknya.
Nabi keluar dan rumahnya tanpa diketahui oleh seorang pun di antara mereka, yang sejak senja sudah bersiap-siap untuk membunuhnya. Beliau pergi menuju rumah Abu Bakar yang sudah menyiapkan dua tunggangan (kendaraan) lalu segera berangkat Abu Bakar mencarter Abdullah bin Uraiqith Ad-Daily untuk menunjukkan jalan pintas menuju Madinah.

Keempat
Rasulullah dan Abu Bakar berangkat pada hari kamis tangal 1 Rabi’ul Awwal tahun kelima puluh tiga dan kelahiran Nabi Saw Hanya Ali dan keluarga Abu Bakar saja yang tahu keberangkatan beliau berdua malam itu. Sebelumnya Aisyah dan Asma binti Abu Bakar telah menyiapkan bekal secukupnya. Kemudian beliau berdua berangkat, bersama penunjuk jalan, menelusuri jalan Madinah - Yaman, hingga sampai di Gua Tsur. Nabi dan Abu Bakar berhenti di situ dan penunjuk jalan disuruh kembali secepatniya guna menyampaikan pesan rahasia Abu Bakar kepada Putranya, Abdullah.
Tiga malam lamanya Nabi dan Abu Bakar bersembunyi di gua itu, tetapi setiap malam mereka ditemani oleh Abdullah bin Abu Bakar yang ber­tindak sebagai pengamat situasi dan pembeni informasi.

Kelima
Lolosnya Nabi dan kepungan yang ketat itu membuat kalangan Quraisy hiruk pikuk mencarinya. Jalan Makkah - Madinah sudah dilacak, tetapi gagal menemukannya. Kemudian ditelusurmnya jalan
Yaman - Madinah, dengan dugaan Nabi pasti bersembunyi di Gua Tsur. Setibanya tiem pelacak itu di sana, alangkah bingungnya mereka ketika meithat mulut gua itu tertutup jaring laba-laba dan sanang bunung, hal mana menunjukkan tidak ada onang yang masuk ke dalam gua itu. Mereka tidak dapat melihat apa yang ada dalam gua itu, tetapi orang yang di dalamnya dapat melihat jelas rom­bongan yang berada di luar. Waktu itulah Abu Bakar merasa sangat khawatir akan keselamatan mereka bendua, tetapi Rasulullah mengatakan kepadanya:
 “Hai Abu Bakar, kita ini bendua dan Allah-lah yangketiganya.”

Keenam
Kalangan kafir Quraisy mengumumkan kepada seluruh kabilah : “Siapa saja yang dapat menyerah­kant Muhammad dan kawannya (Abu Bakar) kepada kami hidup atau mati, maka kepadanya akan diberikan hadiah yang bernilai jutaan.” Bangkitlah Suraqah bin Ja’syam mencari dan mengejar Nabi, dengan harapan akan menjadi hartawan dalam waktu singkat.
Sungguhpun jarak antara Gua Tsur dengan rombongan Nabi sudah begitu jauh, namun Suraqah ternyata dapat menyusulnya. Tatkala sudah begitu dekat, tiba-tiba tersungkurlah kuda yang ditungga­nginya, sementara pedang yang telah diayunkannya ke arah Nabi tetap terhunus di tanganunya. Tiga kali ia melibaskan pedangnya ke arah tubuh Nabi, tetapi pada detik-detik itu pula kudanya tiga kali tensung­kur sehingga tak terlaksanalah maksud jahatnya. Kemudian ia menyarungkan pedangnya dalam keadaan diliputi perasaan kagum dan yakin, dia benar-benar berhadapan dengan seorang Nabi yang menjadi Rasul Allah. Ia mohon kepada Nabi agar berkenan menolongnya yakni mengangkat kudanya yang tak dapat bangun karena kakinya terperosok ke dalam pasir. Setelah ditolong oleh Nabi, ia memin­ta agar Nabi berjanji akan membeninya hadiah berupa gelang kebesaran raja-raja. Nabi menjawab:
“Baiklah.”
Kemudian kembalilah ia ke Makkah dengan berpura-pura tak menemukan seseorang dan tak pernah mengalami kejadian apa pun.

Ketujuh
Rasulullah dan Abu Bakar tiba di Madinah pada tanggal 12 Rabi’ul awal. Kedatangan beliau telah dinanti-nantikan masyarakat Madinah. Pagi hari me­reka berkerumun di jalanan, setelah tengah hari barulah mereka bubar. Begitulah penantian mereka beherapa han sebelum kedatangan Nabi. Pada han kedatangan Nabi dan Abu Bakar, masyarakat Madi­nah sudah menunggu berjubel di jalan raya yang akan dilalui Nabi lengkap dengan regu genderang (drum bend). Mereka mengelu-elukan Nabi dan genderang pun gemuruh diselingi nyanyian yang Sengaja di gubah untuk keperluan penyambutan itu.

Bulan purnama telah muncul di ten gah-tengah kita, dan celah-celah bebukitan. Wajiblah kita bensyukun, atas ajakannya kepada Allah. Wahai onang yang dibangkitkan untuk kami, kau datang membawa sesuatu yang ditaati.”

Kedelapan
Di tengah perjalanan menuju Madinah, Rasu­hillah singgah di Quba’, sebuah desa yang terletak dua mil di selatan Madmnah. Dibangunnyalah sebuah Masjid, dan merupakan Masjid pertama dalam scjarah Islam. Beliau singgah di sana selama empat han untuk selanjutnya meneruskan perjalanan ke Madinah. Pada Jum’at pagi beliau berangkat dari Quba’ dan tiba di perkampungan Bani Salim bin Auf, persis pada waktu shalat Jum’at, lalu shalatlah beliau di sana. Inilah Jum’at pertama dalam Islam, dan karena itu khutbahnya pun merupakan khutbah yang pertama.
Kemudian Nabi berangkat meninggalkan Bani Salim. Program pertamanya sesampainya di Madi­nah ialah menentukan tempat, dimana akan dibangun Masjid. Tempat itu ialah tempat di mana ontanya berhenti setibanya di Madinah. Ternyata tanah dimaksud milik dua orang anak yatim. Untuk itu Nabi minta supaya keduanya sudi menjual tanah miliknya, namun mereka lebih suka menghadiah­kannya. Tetapi beliau tetap ingin membayar tanah di maksud seharga sepuluh dinar. Dengan senang hati Abu Bakar menyerahkan uang kepada mereka berdua.
Pembangunan Masjid segera dimulai dan seluruh kaum Muslimin ikut ambil bagman, sehingga berdiri sebuah Masjid berdinding bata, berkayu batang korma dan beratap daun korma.

Kesembilan
Kernudian Nabi mempersaudarakan antara orang-orang Muhajirin dengan Anshar. Setiap orang Anshar mengakui orang Muhajirin sebagai saudara­nya sendiri, mempersilahkannya tinggal di rumah­nya dan memanfaatkan segala fasilitasnya yang ada di rumah bersangkutan.

Kesepuluh
            Selanjutnya Nabi Saw. merumuskan piagam yang berlaku bagi seluruh kaum Muslirnin dan orang-orang Yahudi. Piagam inilah yang oleh Ibnu Hisyam disebut sebagai undang-undang dasar negara dan pemerintahan Islam yang pertama. Isinya mencakup tentang prikemanusiaan, keadilan sosial, toleransi beragama, masyarakat dan lain-lain. Saripatinya adalah sebagai
berikut:

1.      Kesatuan umat Islam, tanpa mengenal perbe­daan.
2.      Persamaan hak dan kewajiban
3.      Gotong royong dalam segala hal yang tidak ten­masuk kezaliman, dosa dan permusuhan.
4.      Kompak dalam menentukan hubungan dengan orang-orang yang memusuhi umat.
5.    Membangun suatu masyarakat dalam suatu sis­tem yang sebaik-baiknya, seluruhnya dan seko­koh-kokohnya.
6.    Melawan orang-orang yang memusuhi negara dan membangkang, tanpa boleh memberikan bantuan kepada mereka.
7.    Melindungi setiap orang yang ingin hidup ber­dampingan dengan kaum Muslimin dan tidak boleh berbuat zalim atau aniaya terhadapnya.
8.    Umat yang di luar Islam bebas melaksanakan agamanya. Mereka tidak boleh dipaksa masuk Islam dan tidak boleh diganggu harta bendanya.
9.    Umat yang di luar Islam harus ambil bagian dalam membiayai negara, sebagaimana umat Islam sendiri.
10.  Umat non Muslim harus membantu dan ikut memikul biaya negara dalam keadaan terancam.
11.  Umat yang di luar Islam, harus saling membantu dengan umat Islam dalam melindungi negara dan ancaman musuh.
12.  Negara melindungi semua warga negara, baik yang Muslim maupun bukan Muslim.
13.  Umat Islam dan bukan Islam tidak boleh melin­dungi musuh negara dan orang-orang yang membantu rnusuh negara itu.
14.  Apabila suatu perdamaian akan membawa keba­ikan bagi masyarakat, maka semua warga negara baik Muslim maupun bukan Muslim, harus rela menenima perdamaian.
15.  Seorang warga negara tidak dapat dihukum karena kesalahan orang lain. Hukuman yang mengenai seseorang yang dimaksud, hanya boleh dikenakan kepada din pelaku sendiri dan keluarganya.
16.  Warga negara bebas keluar masuk wilayah ne­gara sejauh tidak merugikan negara.
17.  Setiap warga negara tidak boleh melmndungi orang yang berbuat salah atau berbuat zalim.
18.  Ikatan sesama anggota masyarakat didasarkan atas prinsip tolong-menolong untuk kebaikan dan ketaqwaan tidak atas dosa dan permusuhan.
19.  Dasar-dasar tersebut ditunjang oleh dua kekuat­an. Kekuatan spiritual yang meliputi keimanan seluruh anggota masyarakat kepada Allah, kei­manan akan pengawasan dan penlindungan-Nya bagi onang yang baik dan konsekwen. Kekuatan material, yaitu kepemimpinan negara yang ter­cerminkan oleh Nabi Muhammad Saw.
20.  gotong royong untuk kebaikan

B.   BEBERAPA PELAJARAN

Pertama
Seorang yang Mukmin yang percaya akan kemampuannya tentu tidak akan sembunyi-sem­bunyi beramal. Sebaliknya ia berterus terang tanpa gentar sedikitpun terhadap musuh, sebagaimana yang dilakukan Umar bin Khattab sewaktu dia akan hijrah. Dalam kasus ini ada pelajaran, keberanian bisa membuat musuh merasa ngeri dan gentar. Seandainya orang-orang kafir Quraisy sepakat untuk membunuh Umar, tentulah mereka mampu melaku­kan itu. Akan tetapi sikap Umar yang berarui itulah yang membuat gentarnya kafir Quraisy, dan memang onang-orang jahat selalu merasa takut kehi­langan hidup (nyawa).

Kedua
Ketika ajakan ke arah kebenaran dan perbaikan sudah dapat dibendung, apa lagi pendukung-pendu­kungnya sudah dapat menyelamatkan din, tentulah orang-orang jahat berpikir untuk membunuh pemim­pin da’wah itu. Mereka memperkirakan dengan terbunuhnya sang pemimpin, tamatlah riwayat da’wah yang dilakukannya. Pemikiran semacam ini selalu ada dalam benak orang-orang yang memusuhi kebaikan, dan zaman dulu sampai sekarang.

Ketiga
Prajunit yang sungguh-sungguh ikhlas untuk menyerukan kebaikan tentulah bersedia menyela­matkaku pemimpinnya sekalipun dengan mengor­bankan jiwanya sendiri. Sebab selamatnya pemimpin berarti selamatnya da’wah. Apa yang telah dilakukar. oleh Au yang tidur di tempat Nabi merupakan pe­ngorbanan jiwa raga guna menyelamatkan din Rasulullah.
‘Pada malam itu sangat besar kemungkiflan terbunuhnya Au, karena algojo-algojo yang melaku­kan pengepungan itu tentu akan menduga, Mi itulah Nabi. Akan tetapi hal itu tidak merisaukannya sama sekali, karena yang lebih dipentingkaflflYa ialah keselamatafl Nabi Muhammad Saw.

Keempat
DititipkaflflYa harta benda milik orang-oraflg Musynik kepada Nabi Saw. sementara golongan mereka sendiri memusuhi dan berambisi untuk membunuh Nabi, adalah menunjukkan kepercayaafl mereka akan kelurusan dan Icesucian pribadi Nabi. Mereka juga mengerti benar, Nabi jauh lebih hebat dan lebih bersih hatinya dan pada mereka sendiri. Hanya kebodohan, ketidaktahUafl dan keterikatan mereka kepada tradisi-tradiSi dan kepercayaan kepercayaafl yang salah sajalah yang membuat mereka memusuhi, menghalangi dan mengusahakan membunuh Nabi.

Kelima
Berpikirnya seorang pemimpin da’wah atau kepala negara atau pemimpin suatu pergerakan untuk menyelamatkan din dan ancaman musuh, sehingga ia mengambil jalan lain, tidaklah dapat dianggap sebagai penakut atau tidak benkonban jiwa.

Keenam
Adanya partisipasi Abdullah bin Abu Bakar, dalam penencanaan dan pelaksanaan hijrah Nabi, menunjukkan adanya peranan genenasi muda dalam mensukseskan da’wah. Mereka merupakan penun­jang yang dapat diandalkan bagi mempercepat proses kesuksesan.
Pejuang-pejuang Islam yang pertama dahulu, seluruhnya tendiri dan pemuda. Rasulullah berumur empat puluh tahun, ketika dibangkitkan menjadi Nabi. Abu Bakar berumur tiga puluh tahun, semen­tara Ali paling muda di antara mereka. Demikian pula Usman, Abdullah bin Mas’ud, Abdurrahman bin Auf, Arqam bin Abu Arqam, Sa’id bin Zaid, Bilal bin Rabah, Amman bin Yasir dan lain-lain, seluruhnya adalah pemuda-pemuda. Mereka sanggup memikul tanggung jawab da’wah dengan segala pengorbanan dan berbagai macam denita, dan ternyata mereka mampu memenangkan Islam. Dengan kesungguhan­nya beserta kaum Muslimin lainnya berdirilah negara Islam, ditundukkanlah berbagai negeri, dan sampailah Islam ke tangan generasi benikutnya, hingga kini.

Ketujuh
Partisipasi Aisyah dan Asma binti Abu Bakar dalam pelaksanaan hijrah Nabi Saw. mengisyaratkan, kaum wanita bukannya tidak diperlukan dalam suatu perjuangan. Kaum hawa yang berperasaan halus itu mudah diberi kepercayaan. Mereka banyak sekali membantu sang suami mengurusi anak-anak dan keluarga.
Dalam pada itu perjuangan kaum wanita di zaman Rasulullah dahulu mengesankan kita sekarang, suatu gerakan Islamiyah akan berjalan seret dan kurang membekas di kalangan masyarakat, manakala di dalamnya kaum wanita belum ikut ambil peranan. Bila sudah, maka itu berarti terben­tuknya suatu genenasi wanita atas dasar keimanan, akhlak mulia, kesabaran dan kesucian. Mereka akan lebih mudah menyebarkan nilai-nilai luhur yang dibutuhkan oleh dunia dewasa ini ke dalam masya­nakatnya sesama kaum wanita, ketiinbang kaum pnia. Tetapi hal ini tidak berarti mereka boleh untuk tidak menjadi isteni dan ibu rumah tangga yang baik.
Dalam rangka mendidik generasi muda, pada zaman Nabi, kaum wanita ini telah memberikan sumbangafl yang tinggi nilainya. Merekalah yang banyak berbuat untuk menumbuhkan suatu generasi penerus yang berakhlak Islam, mencintal Islam dan Rasulnya serta berjuang untuk Islam. Untuk ini dapatlah dikatakan, kaum wanita itu lebih berhasil membentuk sebaik-baik generasi penerus perjuangan Islam. Kini kita harus belajar dan sejarah di atas, harus benusaha membawa kaum waiuta dan ibu-ibu, gunamencetak mereka menjadi perancang panji-panji Is­lam di tengah-tengah masyarakat, mengingat kuan­titasnya melebihi separoh penduduk dunia. Hal itu menuntut kita untuk mendidik putni-putni dan sau­dari-saudanj, lembaga-lembaga pendidikan Islam, guna mempelajani berbagai ajanannya. Banyaknya jumlah mereka yang paham akan agama Islam, hukum, sejarah dan lain-lain ilmu, dan banyak mere­ka yang berakhlak seperti akhlak Nabi Saw. dan isteni-istenmnya, tentulah kita akan dapat lebih cepat lagi memacu perbaikan yang berdasarkan ajanan Islam dan menciptakan masyarakat yang mentaati selunuh ketentuannya.

Kedelapan
Tidak terlihatnya Nabi Saw. oleh mata orang­orang yang mengejarnya di Gua Tsur, dan adanya sarang laba-laba serta sarang-sarang burung yang sedang bertelur seperti dalam cenita, kedua-duanya merupakan contoh adanya pentolongan Ilahi kepada Rasul-Nya dan bagi pembela-pembela agama-Nya. Allah Swt. tidak membiarkan cita-cita itu gagal di tangan onang-onang Musyrik. Ia selalu akan membeni jalan bagi hamba-hamba-Nya yang ikhlas karenanya.
Allah Swt. berfirman:
            
“Sesungguhnya Kami pasti menolong Rasul-nasul Kami dan onang-onang yang beniman, di dunia mi dan di akhinat nanti.” (Gha fir: 51).

Kesembilan
Kekhawatiran Abu Bakar Ra. kalau musuh meli­hat mereka yang bersembunyi di dalam gua adalah menunjukkan betapa sayangnya sang pengawal kepada pimpinannya yang sedang terancam bahaya, melebihi sayangnya terhadap dirinya sendiri. Sean­daiٌya ia mementingkan din sendini, tentulah dia tidak bersedia menemani Rasulullah dalam suatu perjalanan yang penuh bahaya itu. Ia bukannya tidak tahu, manakala Nabi Saw. tertangkap dan dibunuh, maka dia pun akan dibunuh.

Kesepuluh
Jawaban Rasulullah yang bermaksud menenang­kan Abu Bakan pada saat itu merupakan kata-kata yang menunjukan betapa yakin-Nya Nabi Kepada Allah yang pasti menolong hamba-Nya dan betapa tulusnya beliau bertawakkal kepada-Nya. Dan menu­pakan bukti nyata kebenaran da’wah kenabiannya. Betapapun beliau dalam keadaan sangat sulit dan terjepit, namun dia yakin, Allah Swt. tidak pernah melepaskannya sesaat pun, karena dirinya itu diutus­Nya untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.
Di sinilah beda Nabi dengan orang yang se­tengah-setengah dalam menyenu mÙ„nusia ke jalan Allah dan juga dengan orang yang benpura-pura.
Kesebelas
Apa yang telah terjadi atas din Suraqah yang gagal total membunuh Nabi Saw. juga merupakan bukti kenabian Nabi Saw. Setiap kali ia mengarahkan kudanya ke arah tubuh Nabi, terjerembablah kuda itu dan kakinya tenggelam ditelan pasin. Tapi jika diputar haluan, kembalilah kuda itu bangun dan berjalan seperti biasa. Bukankah ini pentolongan Allah Swt. kepada Rasul-Nya? Ambisi Suraqah untuk memperoleh hadiah yang melimpah sebagaimana yang dijanjikan pemimpin-pemimpin kafir Qunaisy, temyata tidak dapat mengalahkan kekuasaan Allah yang menghendaki keselamatan Rasul-Nya. Oleh karena usahanya mengejar Nabi itu demi harta benda, maka ia pun merasa puas dengan janji Nabi untuk menghadiahkan sesuatu kepadanya.

Keduabelas
Janji Rasulullah akan menghadiahkan kepadanya pakaian kebesaran kaisar, setelah kegagalan Suraqah itu adalah juga suatu mu’jizat yang dimiliki Nabi. Seonang manusia biasa yang sedang lan dan kepungan musuhnya tentulah tidak lagi sempat membayangkan, dia akan mampu menaklukkan dan menampas mahkota raja. Tetapi kanena beliau memang benar-benar seorang Nabi, masth segarlah dalam benaknya, pada akhinnya beliau akan dapat menaih mahkota naja-raja, dan apa yang dijanjikannya kepada Suraqah niscaya akan benan­benar tenlaksana.
Dalam suatu peperarigan yang dimenangkan oleh umat Islam benikut harta nampasan yang tertimbun, terlihatlah oleh Suraqah sepasang gelang raja. Lalu ia minta kepada Umar bin Khattab agar gelang itu diberikan kepadanya, sebagai realisasi janji Rasulullah kepadanya dulu. Umar pun meme­nuhi permintaan itu dengan disaksikan oleh sahabat­sahabat Nabi lainnya.

Ketigabelas
Kegembinaan peduduk Madinah dengan keda­tangan Rasulullah Saw. menupakan kegembinaan yang sesungguhnya bagi kaum Muhajinin dan Anshar, tetapi semu bagi kaum Yahudi. ‘Mereka turut bergembira di lahinnya, tapm dengki di dalam batin­nya, karena orang yang mereka sambut itulah yang akan mengambil alih kepemimpinan dan kewibawa­an yang selama irü ada di tangan mereka. Bagi orang­orang Yahudi Madinah, kedatangan Rasulullah itu akan membuat meneka tidak lagi bisa berbuat seenaknya terhadap jiwa dan hanta benda nakyat.
Sungguh pun kedengkian dan keengganan tunduk kepada hukum pada mulanya berhasil mere­ka tutup-tutupi, namun akhinnya terbuka juga. Isi piagam pensaudaraan yang telah mereka sepakati di hadapan Nabi dan kaum Muslimin dulu mulai diingkarmnya satu persatu. Ini berarti, mereka tidak rela dan tidak suka hidup damai. Memang meneka rupanya sejak dulu selalu ingin mengobarkan api peperangan. Akan tetapi api yang dikobarkannya itu akan selalu dapat dipadamkan, sebagaimana dijanjikan Allah Swt. dalam firman-Nya:
                             

“Setiap kali meneka mengobankan api pepenangan, maka setiap kali itu pula Allah memadamkannya.” (Al­Maidah: 64)

Keempatbelas
Dan penistiwa hijnah ke Madinah nyatalah yang pentama kali dilakukan oleh Rasulullah ialah mem­bangun Masjid. Selama empat han benmalam di Quba’, dibangunnya Masjid Quba’. Selanjutnya beliau membangun sebuah Masjid di perkampungan Barn Salim, yang terletak antana Quba, dan Madinah. Begitu pula di Madinah sendiri. Yang pertama kali dilakukannya ialah membangun Masjid Madinah. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya Masjid dalam Islam.
Semua ibadat yang terdapat dalam Islam bertujuan untuk mensucikan jiwa, meningkatkan akhlak, mempenkuat pensaudaraan dan kegotong­royongan antara sesama Muslim. Shalat berjamaah, shalat Jum’at dan shalat dua han raya adalah cen­minan persaudaraan sosial, persatuan kata dan tuju­an dengan demikian tidaklah teningkari lagi Masjid itu membawa misi sosial kemasyanakatan dan kerohaniaan yang sangat besan maknanya bagi masyarakat Islam.
sejarah menyatakan dan Masjidlah tentara Islam berangkat untuk menyebanluaskan hidayah Allah (agama Islam) ke seluruh penjuru dunia. Dan Masjidlah diolah dan dikembangkan kebudayaan Islam. Abu Bakar, Umar, Ali, Khalid, Said, Abu Ubadah dan lain-lain pembesar dalam sejarah Islam adalah tamatan madrasah Islamiyah yang berpusat di Masjid.
Hal lain yang perlu dicatat ialah Masjid menu­pakan sarana pendidikan Islam yang bensifat masal dan mingguan. Setiap minggu (yaitu pada han Jum’at) dicanangkan seruan untuk mengikis habis kemurtgkaran di samping perintah untuk menegak­kankebenaran dan keadilan. Dan dalam Masjid itu diberikan pula peningatart bagi orang yang lupa pada Islam, diserukan persatuan umat, diprotes segala bentuk kezaliman berikut pelaku-pelakunya. Bukan­kah dulu dan Masjidlah digalang persatuan dan semangat juang umat Islam untuk mengenyahkan penjajah, baik yang bernama impenialisme Perancis, Inggris, belanda dan konco-konconya, maupun yang bennama Zeonisme Yahudi? Jika dewasa ini Masjid tidak difungsikan sebagaimana mestinya lagi, maka itulah kesalahan khatib-khatib yang rela membelok­kan ajaran agama, hanya karena keselamatan pribadi dan kepentingan perut dan kedudukannya.
Sangat beruntung jika dalam keadaan tidak berfungsinya Masjid-masjid dewasa ini bangkit ulama, yang ikhlas demi Allah, menyerukan agar kembali menjadikan Masjid sebagai sentral da’wah Islamiyah. Dan sanalah kita bina masyarakat Islam, kita bina dan cetak kader-kaden, dan kita siapkan pahlawan-pahlawan agama. Dan sanalah kita pe­nangi kejahatan dan kemungkaran, guna memudah­kan terbentuknya masyarakat Islam yang diidam­idamkan. Kemudian pendinian seperti ini disadari dan dilanjutkan oleh generasi muda Islam yang su­dah benilmu dan berakhlak bagaikan akhlaknya Rasulullah Saw.

Kelimabelas
Pensaudaraan yang dibina Rasulullah antana kaum Muhajirin dan Anshar adalah juga merupakan kenyataan dan keadilan Islam yang berpnikemanu­siaan bermoral dan konstruktif. Kaum Muhajinin telah meninggalkan negeni kelahirannya dengan tidak membawa hanta benda, sedangkan kaum Anshan nata-rata merupakan orang-orang kaya dengan hasil pertanian dan industri.
Oleh karena itu pantaslah jika mereka turun tangan mengatasi kesulitan-kesulitan yang didenita oleh saudara-saudaranya yang Muhajinin, baik perbuatan yang berkeadilan sosial, yang melebihi keadilan sosial yang diajankan oleh Islam dan dipraktekkan oleh Nabi Saw ini?
Atas dasar di atas dapatlah dikatakan, onang­orang yang mengingkari adanya keadilan sosial dalam Islam, adalah onang yang memutarbalikkan fakta setidak-tidaknya, benmaksud agar ajaran ini ditinggalkan sedikit demi sedikit, atau agar orang
yang belum memeluknya sama sekali menjadi tidak senang kepadanya. Kalau orang yang mengingkan­nya itu adalah onang Islam sendini, maka pastilah mereka itu onang yang jumud (tidak mengerti) yang tidak suka akan kata “keadilan sosial” itu saja. Sejarah telah membuktikan hal ini, Nabi Saw. sendiri telah menegakkannya dan sekaligus menjadikannya landasan bagi berdininya masyarakat dan negara Islam yang dipimpinnya sendini.
Keenambelas
Dalam piagam persaudaraan antara kaum Muhajinin dan kaum Anshar, di satu pihak, dan piagam kenjasama antara kaum Muslimin dengan non Muslim di lain pihak, terdapat sejumlah bukti yang menunjukkan Daulah Islamiyah itu ditegakkan di atas pninsip keadilan, asas hubungan antara Muslimin dan non Muslimin adalah perdamaian. Dalam piagam tersebut ditegaskan pula kebenanan, keadilan, gotong royong dalam kebaikan dan dalam mengikis segala akibat yang ditimbulkan oleh ke­mungkaran, yang telah melanda masyanakat menu­pakan thema-thema yang selalu dibawa oleh agama Islam. Daulah Islamiyah itu, dimana dan kapan pun adanya, haruslah ditegakkan di atas pninsip-prinsip yang sebenar-benarnya dan seadil-adilnya. Pninsip­pninsip dimaksud tentulah yang terbaik di antana prinsip-pninsip kenegaraan yang ada dan dipnaktek­kan dewasa ini.  Usaha-usaha masyarakat Islam ada­lah sangat relevan dengan penkembangan pemikiran
manusia tentang kenegaraan, hal mana masyarakat Islam sendiri harus mencontoh ajaran Islam sendini.
Di negeri Islam, kaum Muslimin tetap dilarang mengganggu kawan-kawannya yang non Muslim, dilarang menganggu gugat keyakinan lain itu dan dilarang memperkosa hak-hak mereka. Mengapa orang-orang masih tidak setuju memberlakukan hukum Islam di negerinya masing-masing, padahal hukum Islam ii cukup adil, benar, kokoh, memen­tingkan keadilan sosial yang berasaskan persau­daraan, cinta mencintai dan tolong menolong?
Kepada selunuh umat Muslimin patutlah dipe­ningatkan, penjajahan, dalam segala bentuk dan manifestasinya, tidaklah akan terkikis habis, melain­kan dengan cara menerapkan Islam. Inilah inti perjuangan kita semua dewasa ini.
Perhatikan firman Allah berikut ini:
                                 

“Sekinanya penduduk negeri sudah beniman dan bentaqwa, pastilah akan Kami limpahkan kepadanya kebenka tan dan langit dan bumi.” (Al-A’raf: 96)
                         ~                                                    .
“Dan yang Kami penintahkan ini adalah jalan yang lurus, maka tunutilah, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain, kanena jalan-jalan yang lain itu mencerai-benaikan kamu dan membelokkan dan jalan­Nya.” (Al-An’am: 153)
     



“Dan siapa saja yang bentakwa kepada Allah, niscaya Dia dican membenikan jalan keluan. Dan membeninya rezki dan jalan yang tiada disangka-sangka, dan siapa saja yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Ia akan mencukupkan kepenluan nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan u rusa n yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah telah men gadakan ketentuan bagi segala sesuatu.” (At-Thalaq: 2-3)
                             4’                                              ~                    4-•.~ ~                          

“Dan siapa saja yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia, menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (At-Thalaq: 4)

Menikah, Bukan Sekedar Memadu Cinta

eramuslim - "Rumahku surgaku", ujar Rasulullah singkat saat salah seorang sahabat bertanya mengenai rumah tangga beliau. Sebuah ungkapan yang tiada terhingga nilainya, dan tidak dapat diukur dengan parameter apapun. Sebuah idealisme yang menjadi impian semua keluarga. Tapi untuk mewujudkannya pada sebuah rumah tangga (keluarga) ternyata tidaklah mudah. Tidak seperti yang dibayangkan ketika awal perkenalan atau sebelum pernikahan. Butuh proses, butuh kesabaran, butuh perjuangan, bahkan pengorbanan juga ilmu!

Saat ini, persoalan dalam keluarga membuat banyak pasangan suami istri dalam masyarakat kita menjadi gamang. Baik yang datang dari dalam maupun dari luar. Wajar, karena itulah hakikat hidup. Bukan hidup namanya jika tanpa masalah. Justru masalah yang membuat manusia bisa merasakan kesejatian hidup, menjadikan hidup lebih berwarna dan tidak polos seperti kertas putih yang membosankan. Namun jangan sampai masalah-masalah itu mengendalikan diri kita hingga kita kehilangan hakikat hidup.

Lihatlah sepanjang tahun lalu, tahun 2004, begitu banyak pasangan yang mengajukan perceraian ke pengadilan agama dengan berbagai macam alasan. Memang yang lebih banyak terangkat adalah kisah rumah tangga para selebritis yang tak henti menghiasi layar kaca tentang rusaknya hubungan rumah tangga mereka. Tapi sesungguhnya itu hanya puncak sebuah gunung es. Karena masyarakat awam pun tak sedikit yang rumah tangganya bermasalah, bahkan mereka yang mendapat sebutan aktivis dakwah.

***

Begitu banyak buku-buku pernikahan yang beredar di pasaran, bahkan sebagian menjadi best seller. Tak hanya buku-buku non fiksi, bahkan para fiksionis pun lebih senang mengangkat tema–tema merah jambu karena lebih disukai pasar. Isinya kebanyakan bersifat provokatif kepada orang-orang yang belum menikah agar segera menikah. Namun sayangnya hampir semua buku-buku itu isinya terlalu melangit.

Maksudnya lebih banyak menceritakan pernikahan (kehidupan rumah tangga) pada satu sisi yang indah dan menyenangkan. Sementara sisi "gelap" pernikahan jarang sekali yang mengangkat. Tentang kehidupan setelah pernikahan, tentang biaya-biaya berumah tangga, dan hal-hal lain yang tentu tidak sepele dalam rumah tangga.

Isitrahatlah sejenak dari bermimpi tentang pernikahan. Jika mimpi itu hanya berisi bagaimana mengatasi rasa gugup saat akad nikah. Atau tumpukan kado dan amplop warna-warni menghiasi 'bed of roses'. Atau kalau hanya mengharap salam indah dan atau jawaban salam dari kekasih. Apalagi membayangi bisa menatap, berbicara dan menghabiskan waktu bersama belahan hati tercinta.

Pernikahan tidak cuma sampai di situ, sobat. Ada banyak pekerjaan dan tugas yang menanti. Bukan sekedar merapihkan rumah kembali dari sampah-sampah pesta pernikahan, karena itu mungkin sudah dikerjakan oleh panitia. Bukan menata letak perabotan rumah tangga, bukan juga kembali ke kantor atau beraktifitas rutin karena masa cuti habis.

Tapi ada hal yang lebih penting, menyadari sepenuhnya hakikat dan makna pernikahan. Bahwa pernikahan bukan seperti 'rumah kost' atau 'hotel'. Di mana penghuninya datang dan pergi tanpa jelas kapan kembali. Tapi lebih dari itu, pernikahan merupakan tempat dua jiwa yang menyelaraskan warna-warni dalam diri dua insan untuk menciptakan warna yang satu: warna keluarga.

Di tengah masyarakat yang kian sakit memaknai pernikahan, semoga kita tetap memiliki sudut pandang terbaik tentangnya. Betapa banyak orang yang menikah secara lahir, tapi tidak secara batin dan pikiran. Tidak sedikit yang terjebak mempersepsikan pernikahan sebatas cerita roman picisan dan aktifitas fisik. Hingga wajar jika banyak remaja yang belum menikah saat mendengar kata menikah adalah kesenangan dan kenikmatan. Hal itu ditunjang oleh buku-buku pernikahan yang isinya ngomporin. Sementara sesungguhnya yang harus dilakoni adalah tanggung jawab dan pengorbanan.

Memang pernikahan berarti memperoleh pendamping hidup, pelengkap sayap kita yang hanya sebelah. Tempat untuk berbagi dan mencurahkan seluruh jiwa. Tapi jangan lupa bahwa siapapun pasangan hidup kita, ia adalah manusia biasa. Seseorang yang alur dan warna hidup sebelumnya berbeda dengan kita. Seberapa jauh sekalipun kita merasa mengenalnya, tetapakan banyak 'kejutan' yang tak pernah kita duga sebelumnya. Upaya adaptasi dan komunikasi bakal jadi ujian yang cuma bisa dihadapi dengan senjata kesabaran.

Pasangan kita, yang kita cintai adalah manusia biasa. Dan ciri khas makhluk bernama manusia adalah memiliki kekurangan dan kelemahan diri. Memahami diri sendiri sebagai manusia sama pentingnya dengan memahami orang lain sebagai manusia. Pemahaman ini penting untuk dijaga, karena cepat atau lambat kita akan menemukan kekurangan atau kebiasaan buruk pasangan kita.

Oleh karena itu, bagi yang belum menikah, jangan terlalu banyak menghabiskan waktu dengan memilih pasangan hidup saja. Apalagi parameternya tak jauh dari penampilan, fisik, encernya otak, anak orang kaya, pekerjaan mapan, penghasilan besar, berkepribadian (mobil pribadi, rumah pribidi), berwibawa (wi...bawa mobil, wi...bawa handphone, wi...bawa laptop), dan sebagainya.

Tapi, pernahkah kita berpikir untuk membantu seseorang yang ingin mengembangkan dirinya ke arah yang lebih baik hari demi hari bersama diri kita?

Lebih dari itu, pernikahan dalam konteks dakwah merupakan tangga selanjutnya dari perjalanan panjang dakwah membangun peradaban ideal dan tegaknya kalimat Allah. Namun tujuan mulia pernikahan akan menjadi sulit direalisasikan jika tidak memahami bahwa pernikahan dihuni oleh dua jiwa. Setiap jiwa punya warna tersendiri, dan pernikahan adalah penyelarasan warna-warna itu. Karenanya merupakan sebuah tugas untuk bersama-sama mengenali warna dan karakter pasangan kita. Belajar untuk memahami apa saja yang ada dalam dirinya. Menerima dan menikmati kelebihan yang dianugerahkan padanya. Pun membantu membuang karat-karat yang mengotori jiwa dan pikirannya.

Menikah berarti mengerjakan sebuah proyek besar dengan misi yang sangat agung: melahirkan generasi yang bakal meneruskan perjuangan. Pernahkan terpikir betapa tidak mudahnya misi itu? Berawal dari keribetan kehamilan, perjuangan hidup mati saat melahirkan, sampai kurang tidur menjaga si kecil? Ketika bertambah usia, kadang ia lucu menggemaskan tapi tak jarang membuat kesal. Dan seterusnya hingga ia beranjak dewasa, belajar berargumentasi atau mempertentangkan idealisme yang orangtuanya tanamkan. Sungguh, tantangan yang sulit dibayangkan jika belum mengalaminya sendiri...

Menikah berarti berubahnya status sebagai individu menjadi sosial(keluarga). Keluarga merupakan lingkungan awal membangun peradaban. Dan tentu sulit membangun peradaban jika kondisi 'dalam negeri' masih tidak beres. Maka butuh keterampilan untuk memanajemen rumah tangga, menjaga kesehatan rumah dan penghuninya, mengatur keuangan, memenuhi kebutuhan gizi, menata rumah, dan masih banyak lagi keterampilan yang mungkin tak pernah terpikirkan...

Ini bukan cerita tentang sisi "gelap" pernikahan (wong saya sendiri belum nikah!). Tapi seperti briefing singkat yang menyemangati para petualang yang bakal memasuki hutan belantara yang masih perawan. Yang berhasil, bukan mereka yang hanya bermodal semangat. Tapi mereka yang punya bekal ilmu, siap mental dan tawakkal kepadaNYA. Karena pernikahan bukanlah sebuah keriaan sesaat, namun ia adalah nafas panjang dan kekuatan yang terhimpun untuk menapaki sebuah jalan panjang dengan segala tribulasinya.

Pernikahan adalah penyatuan dua jiwa yang kokoh untuk menghapuskan pemisahan. Kesatuan agung yang menggabungkan kesatuan-kesatuan yang terpisah dalam dua ruh. Ia adalah permulaan lagu kehidupan dan tindakan pertama dalam drama manusia ideal. Di sinilah permulaan vibrasi magis itu yang membawa para pencinta dari dunia yang penuh beban dan ukuran menuju dunia mimpi dan ilham. Ia adalah penyatuan dari dua bunga yang harum semerbak, campuran dari keharuman itu menciptakan jiwa ketiga.

Wallahu'alam bisshowab.


***

Penuh Cinta Selalu untuk Selamanya, Fillah...
Syaheed AS

Minggu, 03 Januari 2010

REKAM JEJAK KEIMANAN



Menyusuri bentangan aliran sejarah para Sahabat Rasululloh saw, seakan membawa jasad ini turut hadir dalam setiap jejak langkah keemasan yang mereka torehkan. Tiba-tiba diri ini mengkerdil di hadapan mereka. Tak ada apa-apanya jika di sandingkan pada kejayaan yang mereka ciptakan. Apalah diri ini. Saat lelah mendera, diri ini menjadi lemah. Kala ikhlas mulai pudar, pengorbanan pun tak lagi bertahan.



Teringat tutur kata Imam Ibnul Jauzi rahimahullah, bahwa ada dua sebab yang menjadikan para sahabat Rasulullah saw lebih utama dan lebih unggul dibanding kaum Muslimin yang lainnya. Pertama, karena kebersihan hati mereka dari ragam keraguan, yang menunjukkan mereka memiliki kekuatan iman yang tinggi. Kedua, karena pengorbanan mereka dalam jihad dan kesungguhan dalam merealisasikan nilai-nilai kebenaran Illahi.

Dua keadaan ini memang pantas mereka sandang sebagai sahabat yang mulia. Sebagaimana sabda Rasululloh saw tentang mereka, “ Sebaik-baik zaman adalah zamanku, kemudian zaman setelahnya, kemudian zaman setelahnya, dan seterusnya.” Sebuah siklus yang sangat indah, yang jikalau saat ini ada generasi terbaik, belum tentu sebaik generasi pada zaman Rasululloh masih hidup. Saat ini, saat dunia mulai menjadi raja, hatipun tak berdaya. Keimanan tergadaikan, dan nilai-nilai kebenaran terkubur dalam.

Mereka, memang bukan manusia yang tidak mempunyai keinginan dunia. Bukan pula manusia yang tidak mempunyai hawa nafsu. Mereka juga manusia yang mempunyai hasrat, ambisi dan keinginan. Sama seperti kita. Seperti halnya Umar bin Abdul Aziz ra, Khalifah bani Umayyah yang terkenal sebagai kalifah kelima (setelah Ali ra).

” Jiwaku, memiliki sifat yang tidak pernah puas. Jika aku memperoleh sesuatu maka aku ingin sesuatu yang lebih baik darinya. Ketika jiwaku mendapat Khilafah, jiwaku menginginkan Akhirat.”

Hidup di dunia memang sarat dengan ambisi dan keinginan keduniaan. Ingin hidup lebih baik, ingin memperoleh harta banyak, ingin mendapat kedudukan tinggi, ingin di hormati karena pangkat jabatan, ingin ada jaminan hidup yang pasti, bahkan setelah kehidupan bukan milik kita lagi. Terasa biasa, namun aneh bila direnungkan. Apa yang sebenarnya kita cari.

Mau tidak mau, itulah kenyataan ambisi keduniaan yang ada dalam benak banyak orang, mungkin juga termasuk kita. Hanya keimanan yang mampu mengekang dan mengontrol ambisi keduniaan itu agar tidak berlebihan dan merusak. Memang tidak ada larangan untuk merengkuh kenikmatan dunia, namun tetap ada batas-batasnya. Karena bagaimanapun juga segala yang berlebihan, pasti akan membawa keburukan. Sebagaimana ungkapan seorang ahli hikmah, ” Barang siapa yang meninggalkan berlebihan dalam bicara, ia akan memperoleh hikmah dalam lisannya. Barangsiapa yang meninggalkan berlebihan dalam pandangan, ia akan memperoleh kekhusyu’an dalam ibadahnya. Barangsiapa yang meninggalkan berlebihan dalam makanan, maka ia akan di beri kelezatan dalam ibadahnya. Barangsiapa yang berlebihan dalam tertawa, ia akan memperoleh kewibawaan. Barangsiapa yang menempatkan hatinya jauh dari cinta dunia, maka ia akan memperoleh cinta akhirat. Dan barangsiapa yang meninggalkan kesibukan terhadap aib orang lain, maka ia akan memperoleh kesibukan memperbaiki aibnya sendiri.”

Di sini, kita bukan hanya mnghadapi badai lautan, tsunami, gempa bumi, gunung berapi, angin beliung. Namun, semakin kita melangkah dalam dunia yang kita diami sekarang ini, ancaman keimanan semakin terasa berat dan keras. Ancaman kemunafikkan yang bukan sekedar hidup atau mati sebagai taruhan, namun soal syurga dan neraka.

Kalaupun hari-hari kita telah banyak do’a-do’a yang terpanjatkan, renggangan tangan  yang terulur untuk menggapai hidayah Alloh, dan jejak-jejak pengorbanan dalam ibadah kepada-Nya. Mari kita perkuat kembali usaha kita. Syafiq bin Ibrahim pernah mengatakan, ”Pintu taufiq (bantuan Alloh) akan tertutup dari makhluk dalam enam keadaan. Kesibukan mereka dengan nikmat daripada mensyukurinya. Keinginan untuk menuntut ilmu dan meninggalkan mengamalkannya. Bersegera melakukan dosa dan menunda-nunda bertaubat. Bangga berteman dengan orang Sholeh tanpa mencontoh apa yang mereka lakukan. Dunia akan mereka tinggalkan, namun mereka tetap mengejar dunia. Akhirat akan mereka datangi, tapi mereka justru berpaling dari akhirat.”

Sekali lagi, seburuk-buruk penyesalan adalah penyesalan di hari kiamat...

Semoga kita bersegera merengkuh pintu-pintu taubat dan hidayah. Amiin ya Robb...

Wallahu’alam.. (dari berbagai sumber)