Kamis, 25 November 2010

: Kupu-kupu dari Timur

Pagi menjelang, 
tak seperti biasanya. 
setelah semalam ada satu kepastian, 
saatnya pembersihan hati, 
dari segala kesemuan mimpi,
yang selalu menghantui hari,
menodai kesucian hati,


Dia yang telah Allah pilih, 
menemani hari-hari yang selama ini hanyalah sebuah ilusi. 
Memang tak secantik kupu-kupu dengan sayap pelangi,
yang mampu menyeruakkan pesona pada setiap hati.
Memang tak seindah kupu-kupu yang pandai menari.
yang menyapa setiap bunga namun tak punya arti.

Dialah kupu-kupu dengan sayap kusam karena selalu bergelut melawan hari,
Dialah kupu-kupu dengan sayap kuat karena sering melewati badai,
Dialah kupu-kupu yang menebar peduli pada tiap bunga yang tak pernah tersentuh selama ini.
Dialah kupu-kupu yang dengan senyumnya membuat iri bidadari,


Dia yang telah Allah beri,
Mengisi kekurangan diri,
Saling menggenapi,
Saling melengkapi.

Dia yang telah Allah datangkan,
Dengan sebuah tawaran yang menawan,
Taman Syurga di hadapan.

Kupu-kupu dari timur,
Bersamamu kan kuhabiskan umur,
Menebar kepedulian agar Iman tak kendur,
Mewarnai taman hati dengan penuh syukur.
Bersamamu semoga cinta ini pada-Nya takkan luntur.

Rabu, 24 November 2010

Kupu Bersayap Kusam


Kupu-kupu itu terbang rendah, mungkin karena tubuhnya tak seramping yang lain. Mengitari beberapa bunga yang tumbuh subur di bawah tanaman-tanaman perdu, tersembunyi dari penglihatan. Lalu menggapai setiap helai daun-daun mahkota bunga yang tak punya warna dan rupa sempurna. Hinggap pada satu helai, terdiam memandangi putik-sari bunga itu. Kupu-kupu itu tersenyum, kemudian mempertemukan putik dan sari yang walaupun berdekatan namun terasa begitu jauh. Ia bahagia, bisa membantu keduanya melanjutkan siklus takdir yang telah Tuhan gariskan.

Kembali sayap-sayapnya mengembang, melirik bunga-bunga bermahkota warna coklat tua yang lain. Para pasangan putik dan sari yang bersemayam di dalam naungan helai-helai mahkota bunga tersenyum gembira melihat kedatangannya, girang berteriak. Sang Kupu tetap tersenyum dalam ketundukkannya. Hinggap pada satu helai daun mahkota berwarna coklat tua.
"Kalau bukan karena engkau, kami tidak tahu siapa yang akan membantu kami melanjutkan goresan takdir yang telah Dia tuliskan",

"Aku hanya membantu semampuku, sudah menjadi tugasku untuk membersamai kalian, menjadi perantara jalan Tuhan"

"Tapi aku sedih, mereka di luar sana tak pernah mengenalmu. Bahkan melihat dirimu saja tak mau. Apalagi memuji dirimu. Kenapa Tuhan tidak adil padamu, menciptakanmu tak seperti jenis kupu-kupu yang lain, dengan tubuh ramping sehingga dapat leluasa terbang dengan ringan ke atas bunga-bunga dan membantu penyerbukannya, atau dengan sayap penuh warna bagai pelangi sehingga dapat dengan bangga menegakkan kepala agar tidak selalu di hina oleh bunga-bunga yang mempesona di atas sana", Kupu-kupu itu tersenyum.

"Tuhan Maha Adil, Dia menciptakanku dengan segala kelebihan dan kekuranganku. Aku bersyukur di ciptakan seperti ini", Kupu dengan sayap warna coklat kusam tersenyum. Manis. Bunga-bunga dengan daun-daun mahkota berwarna coklat tua ikut tersenyum.

"Ya, Engkaulah pahlawan bagi kami. Kalau saja Tuhan tidak menciptakanmu, mungkin kami juga tidak akan pernah ada. Keberadaanmu membuat kami ada. Tuhan memang Maha Adil, memberimu usia yang lebih lama dari kupu-kupu biasanya, sehingga engkau dapat membantu bunga-bunga yang lain melanjutkan siklus keturunannya. Tuhan memang Maha Adil",

Kupu-kupu itu tersenyum kemudian pamit. Masih banyak tugas yang harus di selesaikannya sebelum tiba ajal yang siap menjemputnya. Sayap-sayap berwarna coklat kusam mengembang, kemudian mengepak mengangkat tubuhnya yang tak bisa di bilang ramping.

"Tuhan menciptakan Makhluk-Nya tanpa sia-sia. Tuhan Maha Adil"




Minggu, 21 November 2010

What is that?



Cerita antara seorang ayah dan anak laki-lakinya yang sangat menyentuh......

Ayah : apa itu ?
Anak : burung gereja (sambil baca koran)
Ayah : apa itu?
Anak : burung gereja (masih sambil baca koran)
Ayah : apa itu?
Anak : burung gereja...b-u-r-u-n-g-g-e-r-e-j-a (mulai agak marah)
Ayah : apa itu?
Anak : mengapa kamu lakukan ini?aku sudah katakan berkali-kali, itu burung gereja (dengan nada marah)

Sang ayah berdiri dan mulai beranjak pergi, sang anak memanggil dan bertanya mau kemana sang ayah?
Tak berapa lama sang ayah kembali dengan membawa sebuah buku yang agak lusuh karena telah tersimpan lama...

Sang ayah membuka buku tersebut, mencari-cari sebuah halaman dan setelah menemukannya dia berikan buku itu kepada anaknya dan menyuruhnya untuk membacanya...

Sang anak mulai membaca buku itu dan sang ayah menyuruhnya untuk membaca lebih keras.
Anak : Hari ini anak laki-laki ku yang paling muda yang 3 hari yang lalu berusia 3 tahun duduk denganku di taman saat seekor burung gereja hinggap di depan kami. Anakku bertanya padaku sebanyak 21 kali "apa itu?", dan aku menjawabnya sebanyak 21 kali. "burung gereja". Aku memeluknya tiap kali dia bertanya pertanyaan yang sama. Lagi dan lagi... Tanpa perasaan marah, karena merasa sayang kepada anak laki-laki kecilku yang innocent.

Lalu sang anak menutup buku dan memeluk sang ayah.

Kamis, 28 Oktober 2010

Hujan Hapus Bayangmu

Dhuhur telah lengser dari singgasana langit, sementara di langit barat Ashar segera menggantikan kekuasaannya. Di satu sudut kamar, selembar kertas warna biru masih tersimpan rapi dalam sarung plastik bening. Kertas dengan dua buah nama yang tercetak timbul di sampul depannya. Dengan gambar dua ekor merpati yang membawa pita memadu membentuk hati. Sementara di ujung sudut mata seorang gadis, ada bening mengalir bak anak sungai, membasahi bantal merah jambu berbentuk hati yang ia dekap. Seakan pada istana jiwanya terdapat sumber gempa sebesar 8 skala richter. Meluluh-lantakkan bangunan hati dengan segala puing-puing yang menyangga jiwa.

“ Dek, undangan tadi aku titipkan Dek Sari. Afwan, ndak sempat mampir ke rumah, masih harus ngurus persiapan gedung dan sound system”, sebuah pesan singkat yang muncul pada layar hpnya seakan menjadi pemicu gempa susulan yang semakin memperparah keadaan. Menimbulkan gelombang tsunamu dalam samudera jiwanya. Bergejolak, memecah tebing-tebing keimanan.

Dia, lelaki yang tiga tahun silam mengantarkannya mengenal jalan tuhan. Yang bersabar meladeni segala pertanyaan-pertanyaan mendalam tentang Islam. Sampai pada satu batas waktu akhirnya ia memantapkan hati untuk mengenakan selembar kain untuk menutupi rambut dan sebagian tubuh. Waktu tiga tahun kebersamaan yang berbalut kata seindah ukhuwah. Dan sentuhan-sentuhan hangat persaudaraan. Bagai kakak dan adik. Bahkan ia berharap lebih, menempatkannya pada posisi tertinggi di singgasana hati.

“Ada apa denganku...?”, gadis berkerudung biru itu meruntuki dirinya sendiri. Meremas kuat bantal merah jambu.

“Jelas-jelas aku bukan siapa-siapa. Ia tak pernah memintaku untuk menunggu. Tak pernah memaksaku menyimpan harap. Tak pernah sekalipun...!! Tak pernah..!! “

“ Lalu ada apa denganku ? Ya Robb...“, Lirih batin membongkar bendungan pada genangan mata. Semakin deras alirannya. Wanita, dengan segala kelemahan hatinya. Semakin tenggelam dalam banjir yang semakin dalam

“ Ini semua salahnya...!! ia telah menebar harapan. Senyumannya, sapaannya, perhatiannya.Ini semua salahnya...!! ”, bantal merah jambu berbentuk hati menjadi korban, bulu lembut yang melapisinya kini basah oleh air mata.

Kepala mungil berbalut kain biru itu tersungkur, kembali gempa dasyat menerpa.

**

“Hai, Mas Andri kan..?”, satu suara memanggil seorang pemuda dengan jas mahasiswa warna biru tua yang sejurus menggeser posisi berdirinya. Menghadap penuh pada gadis berwajah mungil yang berbaur di antara ratusan wajah-wajah baru yang bertebaran, Wajah-wajah yang kini menyandang gelar mahasiswa. Kedua alisnya tertaut naik, seakan dalam benaknya mencoba berusaha keras membongkar seluruh laci lemari memori.

“Mas Andri jangan pura-pura lupa deh...Aku Arni, Mas. Adik kelas Mas Andri, dulu ikut PMR, kelas 1-B”. Gadis itu segera membantu mengambilkan satu berkas dalam memori tersebut. Pemuda yang di panggil Andri itu tersenyum lebar.

“Owh iya, Mas sempat pangling. Keterima di fakultas apa ?”, sapanya ramah. Senyumnya merekah. Wajahnya cerah.

“Wah, mas Andri bener-bener sudah jadi orang sibuk nih, sampe lupa sama adik kelas sendiri. Aku keterima di Fakultas SOSPOL, Mas. Jurusan Sosiologi”,

“Alhamdulillah, Selamat ya”, Andri menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Arni mengngguk dengan senyum yang semakin mengembang.

“Oh iya. Arni sudah dapat Kost-kostan..? kalau belum, saya punya temen yang bisa membantu mencarikan kost-kostan”, masih dengan senyum itu. Senyum yang dulu menjadikannya sebagai idola bagi para remaja putri penghuni sekolahnya. Bukan hanya senyum, namun keramahannya yang tak juga berubah.

“Belum, Mas. Sementara ini aku ikut Pakdhe.Tapi ternyata lumayan jauh juga dari kampus. Pengin nyari kost aja, biar dekat kampus.”

“Oke, bentar ya, saya panggilkan teman.”, pemuda itu berlalu, angin mencuri-curi tempat diantara belahan rambut. Memainkan setiap helai rambut hitamnya. Kemudian Andri kembali bersama seorang mahasiswi dengan kerudung lebar.

“Assalamu’alaikum...Dewi”, mahasiswi berwajah ramah itu mengulurkan tangannya, disambut erat oleh Arni.

“Arni”, senyumnya kembali mengembang.

“Dek Arni belum dapat kost-kostan ya...?”

“Belum, Mbak”,

“Kebetulan nih, Mbak bersama teman-teman punya kontrakan, dan masih ada kamar kosong. Insya Allah kondusif buat belajar. Aman, fasilitas memadai walaupun sederhana. Dan dekat dengan kampus. Apalagi kampusnya Dek Arni, paling 10 menit jalan santai bisa nyampai.”

“Wah boleh tuh, Mbak. Nggak keberatan lihat-lihat dulu khan Mbak..?”

“Dengan senang hati, Dek Arni. Nanti setelah semua urusan registrasi selesai, Dek Arni langsung ke Stand UKKI saja ya, itu di sana”, Dewi melayangkan telunjuknya ke arah gerombolan mahasiswi-mahasiswi yang berpenampilan tidak jauh berbeda dengan Dewi.“

“Maaf, Dek Arni, saya harus mengurus yang lain dulu. Dek Arni sama Mbak Dewi dulu ya.”, pemuda itu menyela obrolan mereka.

“Ya, Mas. Terima kasih banyak.oh iya,minta No HPnya Mas Andri siapa tahu nanti Arni butuh bantuan Mas Andri.”

“Sebentar”, Andri mengeluarkan dompetnya, mengambil secarik kartu nama. kemudian segera berpindah di tangan Arni.

“Assalamu’alaikum...”, Andri menangkupan dua tangan di dada, kemudian berlalu dari dua wanita yang kembali akrab dalam perkenalannya.

**

“Iya, Mbak. Dulu Mas Andri itu jadi idola di sekolah. Coba deh bayangkan, Mbak. Siapa yang gak bakal jatuh hati sama Mas Andri. Udah cakep, baik hati, ramah, aktif organisasi, OSIS, Pramuka, PMR, Karawitan, Taekwondo, Club Sains, pokoknya di sekolah tuh dulu cuma satu makhluk itu yang jadi inceran cewek-cewek. Belum lagi nih Mbak, Senyumnya itu loh... kagak nahaaann...”, Arni heboh di lingkungan barunya saat berkumpul mempersiapkan perlengkapan Ospek untuk besok.

“Ssst.. Ihh Dek Arni ini, jangan buka masa lalu orang lain ahh.. Itu namanya Ghibbah.”, Dewi mencubit kecil lengan Arni .

“ Yee... kalau ngomongin kebaikan khan bukan Ghibbah, Mbak. Apalagi Mas Andri itu, dari dulu dia sekolah memang gak suka macem-macem, Mbak. Pokoknya beda jauh deh sama cowok-cowok jaman itu.”

“Iya..iya... sudah ah... pembahasannya kok jadi sampai ke Andri githu. Sudah ah, nih di kerjain tugas Ospeknya. Mbak mau nyiapin materi presentasi besok pagi.”, Dewi kembali ke depan layar komputernya.

“Oce deh mbaakk...”, Arni mencubit pipi “bakpao”nya, Dewi membalas gbalik. Mencubit kecil pinggang Arni. Arni mencoba mengelak, kemudian tertawa lebar. Arni serasa sudah pernah mengenal lama. Akrab. Bagaikan kakak dengan adiknya. Ia merasa nyaman. Merasa di terima di lingkungan yang “asing” bagi dirinya.

**

“ Begini, Ustadz. Saya ingin menanyakan, apa yang di maksud seseorang mencintai karena Allah?”, Sebuah suara dari mahasiswa yang duduk dekat dinding sebelah kiri membuka session pertanyaan pada kajian kelas jurusan Sosiologi. Arni yang duduk di depan begitu antusias mengikuti kajian yang selama ini jarang ia ikuti. Karena ia berpandangan yang namanya pengajian adalah hal yang membosankan. Sekedar duduk, dan mendengarkan pak kyai yang berceramah monoton dan bahasa urakan. Namun entah kenapa, di kajian kelas yang di adakan oleh Program studinya ini, Arni begitu bersemangat. Tentunya bukan hanya karena konsep kajian yang menarik, tapi juga mungkin karena ustadz yang mengisi kajiannya. Mas Andri.

“Terima kasih. Sebuah pertanyaan yang sangat bagus. Tapi jangan panggil saya Ustadz, ilmu saya kurang mumpuni untuk layak di panggil ustadz. Panggil Mas saja. Bismillah. Menjawab pertanyaan dari saudaraku. Pengertian cinta karena Allah adalah mencintai seseorang lantaran ketaatannya kepada Allah Azza wa Jalla, atau cinta di jalan Allah. Memang harus dibedakan mana yang mencintai pasangan jenisnya karena Allah Azza wa Jalla dan mana yang sekedar cinta karena ketertarikan kepada pasangan jenis saja, dan keduanya jelas berbeda. Hal itu dapat dilihat dari motif dasar dia mencintainya. Apakah dasarnya adalah agama dan keshalihannya ataukah tidak ?”, Mas Andri memberi jeda waktu kepada peserta untuk menyerap kata-katanya. Mengedarkan pandangan ke setiap ruangan. Tidak lama, hanya sekian detik. kemudian dia melanjutkan.

“ Biasanya seseorang mencintai kepada pasangan jenis, karena memang orang itu suka atau tertarik pada pasangan jenisnya saja, karena kecantikan dan ketampanan, atau hal lain yang menarik baginya. Dan tidak didasarkan cinta karena Allah Tabaraka wa Ta’ala.
Oleh karena itu sebaiknya kita semua kembali melihat diri kita masing-masing, apakah sifat cinta karena Allah Azza wa Jalla telah ada dalam diri kita ataukah belum? Kalau sudah bersyukurlah dan mintalah kepada Allah agar tetap istiqomah, dan kalau belum marilah kita perbaiki iman dan Islam kita sehingga bisa tumbuh sifat tersebut dalam diri kita.

“Dan perlu kita ketahui, kalau seandainya seseorang itu benar-benar cintanya karena Allah, maka pasti ia akan berusaha berjalan sesuai dengan syari’at agama Allah, dan tidak akan melanggar ketentuan-ketentuan dan larangan-larangan dari Allah Tabaraka wa Ta’ala. Sebagaimana Abu Dzar pernah berkata: “Wahai Rasulullah, bagaimana jika ada seseorang yang mencintai suatu kaum tapi tidak mampu beramal seperti mereka? Rasulullah saw. bersabda, “Engkau wahai Abu Dzar, akan bersama siapa saja yang engkau cintai.” Abu Dzar berkata; maka aku berkata, “Sungguh, aku mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Abu Dzar mengulanginya satu atau dua kali”. Di riwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Hibban. Jadi, barang siapa diantara kita apabila mencintai seseorang karena Allah, karena kebaikan-kebaikan yang ada pada seseorang yang di cintainya, maka ia pun akan berusaha menjadi seperti yang di cintainya. Berusa menjadi sholeh, berusaha menjadi baik. Semuanya di niatkan karena Allah. Wallahu a’lam.”, Kalimat itu menyisakan kebingungan di benak beberapa peserta kajian. Suatu konsep yang baru menurut mereka. Karena selama ini mereka memahami yang namanya mencintai adalah selayaknya dua pasang sejoli, lelaki dan perempuan. Hanya sebatas itu.

“Maaf, Ustadz, eh Mas. Mau tanya, ketika ada rasa yang timbul kepada lawan jenis, kita tertarik karena merasa cocok, kemudian kita jatuh cinta, apakah di perbolehkan dalam Islam, Mas ?”, Arni memberanikan diri untuk bertanya. Karena jujur saja, ia masih bingung dengan konsep baru yang ia terima mengenai cinta. Tidak seperti yang ia pahami selama ini.

“Baik, terima kasih. Bismillah. Rasa cinta adalah sebuah fitrah yang di anugerahkan Allah kepada kita. Rasa cinta itu hadir tanpa di duga, mengalir begitu saja. Sebagaimana jerawat, tumbuh tanpa kita minta. Sekecil apapun jerawat itu muncul, ia akan menjadi begitu meresahkan. Begitu juga cinta. Sekecil apapun perasaan itu tumbuh, akan menghabiskan segala potensi diri kita. Baik itu perasaannya dan waktunya. Sesungguhnya cinta hadir karena sebuah sebab, namun ketika sebab itu menghilang maka cintapun akan perlahan memudar.” Kembali Mas Andri memberi waktu jeda, memberi kesempatan untuk di cerna.

“Salah satu contoh, seorang lelaki mencintai seorang wanita karena kecantikannya. Cantik merupakan sebab, maka ketika kecantikan itu memudar karena suatu sebab, tua, kecelkaan dan sebaginya, bisa jadi rasa cinta pun akan menghilang. Namun ketika seorang lelaki mencintai seorang wanita karena kesolehannya, ketaatannya menjalankan perintah-perintah Allah maka itu yang lebih layak. Tapi dengan catatan, tidak hanya sampai di situ saja. Masih ada aturan-aturan dalam hal ini adalah mengenai Hak. Ya, hak kita untuk mencintai seorang hamba jangan sampai mengalahkan hak Allah untuk lebih di cintai. Dalam sebuah hadits Muadz bin Anas Al-Jahni bahwa Rasulullah saw. bersabda: Siapa saja yang memberi karena Allah, menolak karena Allah, mencintai karena Allah, membenci karena Allah, dan menikah karena Allah, maka berarti ia telah sempurna imannya. Diriwayatkan oleh AL Hakim.Wallahu ‘alam”,

Kembali Mas Andri mengakhiri jawabannya. Mengambang. Bisa jadi agar orang-orang yang sudah berstatus mahasiswa ini dapat mencernanya sendiri. Arni terlihat mengangguk-anguk, tanda memahami. Namun dalam hati ia masih bingung dengan penjelasan tersebut. Ia pun berjanji akan mencoba menghubungi Mas Andri untuk lebih banyak bertanya mengenai masalah-masalah agama. Sejak ia tinggal di Wisma Mawar bersama Mbak Dewi, ia berjanji ingin memperbaiki hidupnya. Ia butuh proses. Ia butuh bantuan.

............ Bersambung

Selasa, 05 Oktober 2010

MENIKAH, KENAPA TAKUT

Oleh: DR. Amir Faishol Fath

Hidup, bagaimanapun adalah sebuah resiko. Mati pun resiko. Yang tidak ada resikonya adalah bahwa kita tidak dilahirkan ke dunia. Tetapi kalau kita berpikir bagaimana lari dari resiko, itu pemecahan yang mustahil. Allah tidak pernah mengajarkan kita agar mencari pemecahan yang mustahil. Bila ternyata segala sesuatu ada resikonya, maksiat maupun taat, mengapa kita tidak segera melangkah kepada sikap yang resikonya lebih baik? Sudah barang tentu bahwa resiko pernikahan lebih baik daripada resiko pergaulan bebas (baca: zina). Karenanya Allah mengajarkan pernikahan dan menolak perzinaan.

Pernikahan dan Penghasilan

Seringkali saya mendapatkan seorang jejaka yang sudah tiba waktu menikah, jika ditanya mengapa tidak menikah, ia menjawab belum mempunyai penghasilan yang cukup. Padahal waktu itu ia sudah bekerja. Bahkan ia mampu membeli motor dan HP. Tidak sedikit dari mereka yang mempunyai mobil. Setiap hari ia harus memengeluarkan biaya yang cukup besar dari penggunakan HP, motor, dan mobil tersebut. Bila setiap orang berpikir demikian apa yang akan terjadi pada kehidupan manusia?

Saya belum pernah menemukan sebuah riwayat yang menyebutkan bahwa Rasulullah saw. melarang seorang sahabatnya yang ingin menikah karena tidak punya penghasilan. Bahkan dalam beberapa riwayat yang pernah saya baca, Rasulullah saw. bila didatangi seorang sahabatnya yang ingin menikah, ia tidak menanyakan berapa penghasilan yang diperoleh perbulan, melainkan apa yang ia punya untuk dijadikan mahar. Mungkin ia mempunyai cincin besi? Jika tidak, mungkin ada pakaiannya yang lebih? Jika tidak, malah ada yang hanya diajarkan agar membayar maharnya dengan menghafal sebagian surat Alquran.



Apa yang tergambar dari kenyatan tersebut adalah bahwa Rasulullah saw. tidak ingin menjadikan pernikahan sebagai masalah, melainkan sebagai pemecah persoalan. Bahwa pernikahan bukan sebuah beban, melainkan tuntutan fitrah yang harus dipenuhi. Seperti kebutuhan Anda terhadap makan, manusia juga butuh untuk menikah. Memang ada sebagian ulama yang tidak menikah sampai akhir hayatnya seperti yang terkumpul dalam buku Al-ulamaul uzzab alladziina aatsarul ilma ‘alaz zawaj. Tetapi, itu bukan untuk diikuti semua orang. Itu adalah perkecualian. Sebab, Rasulullah saw. pernah melarang seorang sahabatanya yang ingin hanya beribadah tanpa menikah, lalu menegaskan bahwa ia juga beribadah tetapi ia juga menikah. Di sini jelas sekali bagaimana Rasulullah saw. selalu menuntun kita agar berjalan dengan fitrah yang telah Allah bekalkan tanpa merasakan beban sedikit pun.

Memang masalah penghasilan hampir selalu menghantui setiap para jejaka muda maupun tua dalam memasuki wilayah pernikahan. Sebab yang terbayang bagi mereka ketika menikah adalah keharusan membangun rumah, memiliki kendaraan, mendidik anak, dan seterusnya di mana itu semua menuntut biaya yang tidak sedikit. Tetapi kenyataannya telah terbukti dalam sejarah hidup manusia sejak ratusan tahun yang lalu bahwa banyak dari mereka yang menikah sambil mencari nafkah. Artinya, tidak dengan memapankan diri secara ekonomi terlebih dahulu. Dan ternyata mereka bisa hidup dan beranak-pinak. Dengan demikian kemapanan ekonomi bukan persyaratan utama bagi sesorang untuk memasuki dunia pernikahan.

Mengapa? Sebab, ada pintu-pintu rezeki yang Allah sediakan setelah pernikahan. Artinya, untuk meraih jatah rezki tersebut pintu masuknya menikah dulu. Jika tidak, rezki itu tidak akan cair. Inilah pengertian ayat iyyakunu fuqara yughnihimullahu min fadhlihi wallahu waasi’un aliim, jika mereka miskin Allah akan mampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas lagi Maha mengetahui (An-Nur: 32). Ini adalah jaminan langsung dari Allah, agar masalah penghasilan tidak dikaitkan dengan pernikahan. Artinya, masalah rezki satu hal dan pernikahan hal yang lain lagi.

Abu Bakar Ash-Shidiq ketika menafsirkan ayat itu berkata, “Taatilah Allah dengan menikah. Allah akan memenuhi janjinya dengan memberimu kekayaan yang cukup.” Al-Qurthubi berkata, “Ini adalah janji Allah untuk memberikan kekayaan bagi mereka yang menikah untuk mencapai ridha Allah, dan menjaga diri dari kemaksiatan.” (lihat Tafsirul Quthubi, Al Jami’ liahkamil Qur’an juz 12 hal. 160, Darul Kutubil Ilmiah, Beirut).

Rasulullah saw. pernah mendorong seorang sahabatnya dengan berkata, “Menikahlah dengan penuh keyakinan kepada Allah dan harapan akan ridhaNya, Allah pasti akan membantu dan memberkahi.” (HR. Thabarni). Dalam hadits lain disebutkan: Tiga hal yang pasti Allah bantu, di antaranya: “Orang menikah untuk menjaga diri dari kemaksiatan.” (HR. Turmudzi dan Nasa’i)

Imam Thawus pernah berkata kepada Ibrahim bin Maysarah, “Menikahlah segera, atau saya akan mengulang perkataan Umar Bin Khattab kepada Abu Zawaid: Tidak ada yang menghalangimu dari pernikahaan kecuali kelemahanmu atau perbuatan maksiat.” (lihat Siyar A’lamun Nubala’ oleh Imam Adz Dzahaby). Ini semua secara makna menguatkan pengertian ayat di atas. Di mana Allah tidak akan pernah membiarkan hamba-Nya yang bertakwa kepada Allah dengan membangun pernikahan.

Persoalannya sekarangan, mengapa banyak orang berkeluarga yang hidup melarat? Kenyataan ini mungkin membuat banyak jejaka berpikir dua kali untuk menikah. Dalam masalah nasib kita tidak bisa mengeneralisir apa yang terjadi pada sebagian orang. Sebab, masing-masing ada garis nasibnya. Kalau itu pertanyaanya, kita juga bisa bertanya: mengapa Anda bertanya demikian? Bagaimana kalau Anda melihat fakta yang lain lagi bahwa banyak orang yang tadinya melarat dan ternyata setelah menikah hidupnya lebih makmur? Dari sini bahwa pernikahan bukan hambatan, dan kemapanan penghasilan bukan sebuah persyaratan utama.

Yang paling penting adalah kesiapan mental dan kesungguhan untuk memikul tanggung jawab tersebut secara maksimal. Saya yakin bahwa setiap perbuatan ada tanggung jawabnya. Berzina pun bukan berarti setelah itu selesai dan bebas tanggungjawab. Melainkan setelah itu ia harus memikul beban berat akibat kemaksiatan dan perzinaan. Kalau tidak harus mengasuh anak zina, ia harus menanggung dosa zina. Keduanya tanggung jawab yang kalau ditimbang-timbang, tidak kalah beratnya dengan tanggung jawab pernikahan.

Bahkan tanggung jawab menikah jauh lebih ringan, karena masing-masing dari suami istri saling melengkapi dan saling menopang. Ditambah lagi bahwa masing-masing ada jatah rezekinya yang Allah sediakan. Tidak jarang seorang suami yang bisa keluar dari kesulitan ekonomi karena jatah rezeki seorang istri. Bahkan ada sebuah rumah tangga yang jatah rezekinya ditopang oleh anaknya. Perhatikan bagaimana keberkahan pernikahan yang tidak hanya saling menopang dalam mentaati Allah, melainkan juga dalam sisi ekonomi.

Pernikahan dan Menuntut Ilmu

Seorang kawan pernah mengatakan, ia ingin mencari ilmu terlebih dahulu, baru setelah itu menikah. Anehnya, ia tidak habis-habis mencari ilmu. Hampir semua universitas ia cicipi. Usianya sudah begitu lanjut. Bila ditanya kapan menikah, ia menjawab: saya belum selesai mencari ilmu.

Ada sebuah pepatah diucapkan para ulama dalam hal mencari ilmu: lau anffaqta kullaha lan tashila illa ilaa ba’dhiha, seandainya kau infakkan semua usiamu –untuk mencari ilmu–, kau tidak akan mendapatkannya kecuali hanya sebagiannya. Dunia ilmu sangat luas. Seumur hidup kita tidak akan pernah mampu menelusuri semua ilmu. Sementara menikah adalah tuntutan fitrah. Karenanya, tidak ada aturan dalam Islam agar kita mencari ilmu dulu baru setelah itu menikah.

Banyak para ulama yang menikah juga mencari ilmu. Benar, hubungan mencari ilmu di sini sangat berkait erat dengan penghasilan. Tetapi banyak sarjana yang telah menyelesaikan program studinya bahkan ada yang sudah doktor atau profesor, tetapi masih juga pengangguran dan belum mendapatkan pekerjaan. Artinya, menyelesaikan periode studi juga bukan jaminan untuk mendapatkan penghasilan. Sementara pernikahan selalu mendesak tanpa semuanya itu. Di dalam Alquran maupun Sunnah, tidak ada tuntunan keharusan menunda pernikahan demi mencari ilmu atau mencari harta. Bahkan, banyak ayat dan hadits berupa panggilan untuk segera menikah, terlepas apakah kita sedang mencari ilmu atau belum mempunyai penghasilan.

Berbagai pengalaman membuktikan bahwa menikah tidak menghalangi seorang dalam mencari ilmu. Banyak sarjana yang berhasil dalam mencari ilmu sambil menikah. Begitu juga banyak yang gagal. Artinya, semua itu tergantung kemauan orangnya. Bila ia menikah dan tetap berkemauan tinggi untuk mencari ilmu, ia akan berhasil. Sebaliknya, jika setelah menikah kemauannya mencari ilmu melemah, ia gagal. Pada intinya, pernikahan adalah bagian dari kehidupan yang harus juga mendapatkan porsinya. Perjuangan seseorang akan lebih bermakna ketika ia berjuang juga menegakkan rumah tungga yang Islami.

Rasulullah saw. telah memberikan contoh yang sangat mengagumkan dalam masalah pernikahan. Beliau menikah dengan sembilan istri. Padahal beliau secara ekonmi bukan seorang raja atau konglomerat. Tetapi semua itu Rasulullah jalani dengan tenang dan tidak membuat tugas-tugas kerasulannya terbengkalai. Suatu indikasi bahwa pernikahan bukan hal yang harus dipermasalahkan, melainkan harus dipenuhi. Artinya, seorang yang cerdas sebenarnya tidak perlu didorong untuk menikah, sebab Allah telah menciptakan gelora fitrah yang luar biasa dalam dirinya. Dan itu tidak bisa dipungkiri. Masing-masing orang lebih tahu dari orang lain mengenai gelora ini. Dan ia sendiri yang menanggung perih dan kegelisahan gelora ini jika ia terus ditahan-tahan.

Untuk memenuhi tuntutan gelora itu, tidak mesti harus selesai study dulu. Itu bisa ia lakukan sambil berjalan. Kalaupun Anda ingin mengambil langkah seperti para ulama yang tidak menikah (uzzab) demi ilmu, silahkan saja. Tetapi apakah kualitas ilmu Anda benar-benar seperti para ulama itu? Jika tidak, Anda telah rugi dua kali: ilmu tidak maksimal, menikah juga tidak. Bila para ulama uzzab karena saking sibuknya dengan ilmu sampai tidak sempat menikah, apakah Anda telah mencapai kesibukan para ulama itu sehingga Anda tidak ada waktu untuk menikah? Dari sini jika benar-benar ingin ikut jejak ulama uzzab, yang diikuti jangan hanya tidak menikahnya, melainkan tingkat pencapaian ilmunya juga. Agar seimbang.

Kesimpulan

Sebenarnya pernikahan bukan masalah. Menikah adalah jenjang yang harus dilalui dalam kondisi apapun dan bagaimanapun. Ia adalah sunnatullah yang tidak mungkin diganti dengan cara apapun. Bila Rasulullah menganjurkan agar berpuasa, itu hanyalah solusi sementara, ketika kondisi memang benar-benar tidak memungkinkan. Tetapi dalam kondisi normal, sebenarnya tidak ada alasan yang bisa dijadikan pijakan untuk menunda pernikahan.

Agar pernikahan menjadi solusi alternatif, mari kita pindah dari pengertian “pernikahan sebagai beban” ke “pernikahan sebagai ibadah”. Seperti kita merasa senang menegakkan shalat saat tiba waktunya dan menjalankan puasa saat tiba Ramadhan, kita juga seharusnya merasa senang memasuki dunia pernikahan saat tiba waktunya dengan tanpa beban. Apapun kondisi ekonomi kita, bila keharusan menikah telah tiba “jalani saja dengan jiwa tawakkal kepada Allah”. Sudah terbukti, orang-orang bisa menikah sambil mencari nafkah. Allah tidak akan pernah membiarkan hambaNya yang berjuang di jalanNya untuk membangun rumah tangga sejati.

Perhatikan mereka yang suka berbuat maksiat atau berzina. Mereka begitu berani mengerjakan itu semua padahal perbuatan itu tidak hanya dibenci banyak manusia, melainkan lebih dari itu dibenci Allah. Bahkan Allah mengancam mereka dengan siksaan yang pedih. Melihat kenyataan ini, seharusnya kita lebih berani berlomba menegakkan pernikahan, untuk mengimbangi mereka. Terlebih Allah menjanjikan kekayaan suatu jaminan yang luar biasa bagi mereka yang bertakwa kepada-Nya dengan membangun pernikahan. Wallahu a’lam bishshawab.

Merawat Cinta

Cinta tak ubahnya seperti pohon yang tak selamanya terlihat segar. Daun-daun yang dulu hijau cerah mulai menguning, akhirnya coklat kaku. Bunga-bunganya yang pernah indah merekah kini layu. Beberapa ujung tangkai pun mulai tampak mengering.

Begitulah hidup. Tak ada yang tetap dalam hidup. Semuanya dinamis: bergerak dan berubah, tumbuh dan menyusut, berkembang dan tumbang. Apa pun dan siapa pun. Termasuk, cinta suami isteri.

Setidaknya, itulah yang kini dialami Bu Tati. Ibu lima anak ini merasakan ada yang berkurang dari suaminya. Tidak seperti dulu ketika anak masih satu, dua, hingga tiga. Apalagi ketika belum ada anak. Wah, terlalu jauh perbandingannya.

Saat dulu, suami Bu Tati tak pernah ketinggalan telepon ke rumah sebelum pulang kantor. Bahkan, sehari bisa tiga kali telepon. Kini, seminggu dua kali sudah teramat bagus. Itu pun karena ada yang mau ditanyakan.

Dulu, kemana pun Bu Tati pergi, suami selalu antar jemput. Paling tidak, mewanti-wanti agar ia berhati-hati. “Hati-hati, ya Dik. Bisnya sering kebut-kebutan,” ucap suami dengan penuh perhatian. Kini, menanyakan tujuan pergi pun sudah sangat bagus.



Dulu juga, suami kerap ngasih hadiah di hari-hari bersejarah. Di antaranya, hari kelahiran, dan tanggal pernikahan. Walau hadiah cuma pulpen, buku harian, atau Alquran saku. Tapi, kesan yang timbul begitu dalam. Kini, jangankan hadiah, ingat dengan momen itu saja sudah bagus.

Mengingat-ingat masa lalu, bikin Bu Tati mengoreksi diri. Apa yang salah. Kalau cinta dihubung-hubungkan dengan rupa, kenyataan itu mungkin bisa diterima. Ia memang bukan Tati dua belas tahun lalu. Banyak perubahan, memang. Tapi, mestikah cinta dan perhatian harus menyusut sebagaimana berkerutnya wajah dan tidak langsingnya tubuh. Apa layak itu jadi alasan.

Bukankah cinta terlihat dari pandangan mata hati. Bukan dari simbol-simbol fisik yang terlihat dari pandangan mata, yang bisa menyilaukan ketika ada cahaya dan buram di saat gelap. Bukankah cinta perpaduan dari senang, kagum, cocok, sayang. Bahkan, kasihan.

Tidak jarang, cinta tumbuh pesat dari akar kasihan. Bukan hal aneh jika seorang pemuda langsung melamar muslimah yang terusir dari rumahnya lantaran mengenakan busana muslimah. Ada juga muslimah yang dilamar lantaran statusnya sebagai anak yatim miskin.

Lalu, kenapa cinta suami Bu Tati bisa menyusut. Padahal kasih sayang Bu Tati tak pernah berkurang. Dengan lima anak, Bu Tati pun mesti giat menggali kasih sayang agar bisa merata ke anak-anaknya. Bukankah ini sebuah bukti bahwa adakalanya cinta tersangkut pada rupa.

Menjamin lestarinya kasih sayang memang bukan perkara mudah. Dan, lebih tidak mudah lagi menjamin bahwa kecantikan rupa tidak akan bergeser. Karena sudah kepastian Allah bahwa muda akan menapaki anak tangga usia menuju tua. Semakin banyak anak tangga yang ditapaki, makin berkurang nilai rupa.

Seorang teman Bu Tati pernah ngasih anjuran soal menjaga nilai rupa. Sang teman menganjurkan agar Bu Tati diet, senam, minum herba. Tiga hal itu mesti dilakukan teratur dan terus-menerus. “Repot memang. Tapi, itu penting. Supaya cinta suami tetap lestari,” ungkap sang teman beriring canda.

Ucapan teman itu menguatkan dugaan Bu Tati: cinta juga berbanding lurus dengan rupa. Boleh-boleh saja Bu Tati berdalih bahwa cinta melulu persoalan hati. Tapi, bukankah manusia tidak semata-mata terdiri dari hati dan rasa. Bukankah fisik juga bagian dari unsur manusia. Dan itu berarti keindahan rupa.

Jadi, bisa dibilang wajar kalau perhatian dan cinta suami menurun lantaran nilai rupa Bu Tati berkurang. Benarkah? Ah, rasanya tidak. Di simpangan ini, Bu Tati ragu mau menempuh jalan mana. Kok, sepertinya tidak adil. Kalau dulu, Bu Tati masih sempat ngurus kecantikan, kesegaran, dan kebugaran tubuh. Tapi, sekarang? Duduk istirahat saja sudah sangat sulit. Selalu saja ada kesibukan: anak sakit, anak mau berangkat sekolah, anak punya PR sekolah, anak mau makan, memasak menu kesukaan suami, mencuci, ngurus rumah. Dan masih segudang persoalan rumah lainnya. Itu pun belum termasuk tugas-tugas sosial masyarakat.

Nah, gimana mau diet, kapan mau fitnes, gimana bisa minum herba. Bukankah diet butuh pilihan dan keteraturan makanan yang sehat dan baik. Dan itu berhubungan erat dengan waktu dan uang. Begitu juga dengan fitnes dan herba. Sulit kan kalau waktu dan uangnya belum memadai. Jadi?

Harus ada langkah bersama supaya cinta tetap terawat. Tidak semua sangkutan-sangkutan yang bikin redupnya cahaya cinta bersumber dari Bu Tati. Bisa jadi, ada ketidakcocokan antara standar nilai rupa suami dengan kenyataan yang semestinya. Kalau nilai rilnya memang hanya lima puluh, standarnya jangan dipatok sembilan puluh. Susah ngejarnya. Paling tidak, selisi antara standar dengan kenyataan tidak lebih dari sepuluh. Dan nilai sepuluh ini bisa dikejar dengan diet dan senam sederhana. Kalau ada uang belanja lebih, bisa ditopang dengan herba.

Memang, kehangatan cinta bisa lahir dari stabilnya nilai rupa. Tapi, unsur emosi pun punya andil yang lumayan besar. Kalau cinta cuma berpatok pada langgengnya rupa, mungkin rumah tangga kakek nenek akan bubar massal.

Di sinilah seninya bagaimana suami isteri bisa memainkan emosi sehingga cinta menjadi indah untuk dinikmati. Kepiawaian mengelola emosi juga mampu menjadikan cinta lestari. Bayangkan, betapa jauhnya jarak usia antara Rasulullah saw dengan Aisyah: kira-kira empat puluh tiga tahun. Belum lagi kesenjangan intelektual dan rupa. Tapi, semua itu tidak jadi masalah lantaran irama emosinya begitu rapi dan indah. Rasulullah tidak perlu ragu berlomba lari bersama isterinya, mengecup kening isteri saat pergi ke masjid, bersenda gurau layaknya teman, berdiskusi layaknya guru dan murid, dan sebagainya.

Justru, unsur emosilah yang kadang dominan dari nilai rupa. Bu Tati punya kesadaran baru. Bahwa, merawat cinta merupakan upaya bersama mengelola nilai rupa agar tidak jatuh drastis. Dan, memainkan irama emosi dengan saling percaya dan saling membutuhkan.

Cinta memang tak ubahnya seperti pohon yang tidak selamanya segar. Karena pohon memang tidak akan pernah kokoh kalau hanya dinikmati kesejukan, keindahan, dan buahnya. Ia juga butuh siraman air, kesuburan tanah, dan pagar perlindungan. (muhammadnuh@eramuslim.com)

Antara Saya, Cinta, dan Pria (Semua Atas Nama Cinta)

ini adalah kisah yang sudah sangat melegenda:
- Tentang Julius Caesar, kaisar Romawi yang rela kehilangan kehormatan, kesetiaan dan bahkan negaranya demi si Ratu Penggoda:Cleopatra. Semua dia lakukan (kata ahli sejarah)...atas nama cinta
- Ini kisah tentang pemuda bernama Romeo, demi seorang wanita, rela kehilangan keluarga, dan tentu saja nyawa... tetap saja:atas nama cinta -

Satu lagi, seorang janda bernama Khadijah, yang rela mengorbankan segalanya demi membela pemuda bernama Muhammad, yang dia yakini membawa risalah Tuhannya.

Ini juga :atas nama cinta kata Jalaluddin Rumi: cinta akan membuat yang pahit menjadi manis dan dengan cinta tembaga menjadi emas dengan cinta yang keruh menjadi jernih. Dengan cinta sakit menjadi obat, dengan cinta yang mati akan menjadi hidup, dan cintalah yang menjadikan seorang raja menjadi hamba sahaya dari pengetahuanlah cinta seperti tumbuh.

Afwan, aku bukan pujangga yang hendak membahas tentang cinta. Aku juga tidak sedang mencampuri urusan orang lain (Aku hanya ingin memposisikan diri sebagai seorang saudara.. yang wajib hukumnya untuk mengingatkan saudaranya yang mungkin...salah langkah.

Bila aku salah, atau artikel ini tak berkenan, mohon maaf. Itu saatnya aku untuk dikritisi. Aku ingin bicara atas nama wanita, terlebih akhwat (kalau boleh sih) tolong untuk para ikhwan (atau yang merasa sebagai muslim).



Wanita adalah makhluk yang sempit akal dan mudah terbawa emosi. Terlepas bahwa aku tidak suka pernyataan tersebut, tetapi itulah fakta. Sangat mudah membuat wanita bermimpi.

Tolong, berhentilah memberi angan-angan kepada kami. Mungkin kami akan melengos kalau disapa. Atau membuang muka kalau dipuji. Namun, jujur saja, ada perasaan bangga. Bukan suka pada antum (mungkin) namun suka karena diperhatikan "lebih".

Diantara kami, ada golongan Maryam yang pandai menjaga diri. Tetapi tidak semua kami mempunyai hati suci. Jangan antum tawarkan sebuah ikatan bernama ta'aruf bila antum benar-benar belum siap akan konsekuensinya. Sebuah ikatan ilegal yang bisa jadi berumur tak cuma dalam hitungan bulan tetapi menginjak usia tahun, tanpa kepastian kapan akan dilegalkan.

Tolong, pahami arti cinta seperti pemahaman Umar Al Faruq: seperti induk kuda yang melangkah hati-hati karena takut menginjak anaknya (afwan, bener ini ya riwayatnya?). Bukan mengajak kami ke bibir neraka. Dengan SMS-SMS mesra, telepon sayang, hadiah-hadiah ungkapan cinta dan kunjungan pemantapan yang dibungkus sebuah label: ta'aruf.

Tolong, kami hanya ingin menjaga diri. Menjaga amal kami tetap tertuju padaNYA.Karena janji Allah itu pasti. Wanita baik hanya diperuntukkan laki-laki baik. Jangan ajak mata kami berzina dengan memandangmu! Jangan ajak telinga kami berzina dengan mendengar pujianmu! Jangan ajak tangan kami berzina dengan menerima hadiah kasih sayangmu! Jangan ajak kaki kami berzina dengan mendatangimu! Jangan ajak hati kami berzina dengan ber-dua-an denganmu! Ada beda persahabatan sebagai saudara, dengan hati yang sudah terjangkiti virus. Beda itu bernama "rasa" dan "pemaknaan"

Bukan, bukan seperti itu yang dicontohkan Rasulullah! Antum memang bukan Mush'ab. Antum juga tak sekualitas Yusuf as. Tetapi antum bukan Arjuna dan tak perlu berlagak seperti Casanova karena Islam sudah punya jalan keluar yang indah. Segeralah menikah atau jauhi wanita dengan puasa!

Kisah Cinta Yang Paling Mengagumkan

Sahabatku sekalian, taukah kita arti cinta sejati ? Apakah kita pernah mendengar atau mengetahui kisah cinta Qais dan Laila atau kisah cinta Romeo dan Juliet ?

Apakah kisah cinta seperti itu yang dikatakan sebagai kisah cinta sejati ? Seperti yang kita ketahui bahwa kisah cinta mereka tidaklah berakhir di pelaminan bahkan rela mati demi cintanya.

Lalu, cinta seperti apakah yang dikatakan sebagai cinta sejati.
Cinta sejati antara dua insan adalah cinta yang terus abadi dalam setelah pernikahan yang berlandaskan atas kecintaan mereka kepada Sang Pemilik Cinta yaitu Allah. Walaupun salah satu meninggal, namun cinta sejati ini terus saja abadi. Kisah cinta siapakah yang begitu indah ini ?

Kisah cinta yang paling indah ini siapa lagi yang memilikinya kalau bukan kisah cinta Junjungan kita,Nabi Muhammad Saw kepada Khadijah ra.



Sungguh sebuah cinta yang mengaggumkan, cinta yang tetap abadi walaupun Khadijah telah meninggal. Setahun setelah Khadijah meninggal, ada seorang wanita shahabiyah yang menemui Rasulullah Saw. Wanita ini bertanya, “Ya Rasulullah, mengapa engkau tidak menikah ? Engkau memiliki 9 keluarga dan harus menjalankan seruan besar.”

Sambil menangis Rasulullah Saw menjawab, “Masih adakah orang lain setelah Khadijah?”

Kalau saja Allah tidak memerintahkan Muhammad Saw untuk menikah, maka pastilah Beliau tidak akan menikah untuk selama-lamanya. Nabi Muhammad Saw menikah dengan Khadijah layaknya para lelaki. Sedangkan pernikahan-pernikahan setelah itu hanya karena tuntutan risalah Nabi Saw, Beliau tidak pernah dapat melupakan istri Beliau ini walaupun setelah 14 tahun Khadijah meninggal.

Pada masa penaklukan kota Makkah, orang-orang berkumpul di sekeliling Beliau, sementara orang-orang Quraisy mendatangi Beliau dengan harapan Beliau mau memaafkan mereka, tiba-tiba Beliau melihat seorang wanita tua yang datang dari jauh. Beliau langsung meninggalkan kerumunan orang ini. Berdiri dan bercakap-cakap dengan wanita itu. Beliau kemudian melepaskan jubah Beliau dan menghamparkannya ke tanah. Beliau duduk dengan wanita tua itu.

Bunda Aisyah bertanya, “Siapa wanita yang diberi kesempatan, waktu, berbicara, dan mendapat perhatian penuh Nabi Saw ini?”"

Nabi menjawab, “Wanita ini adalah teman Khadijah.”"

“Kalian sedang membicarakan apa, ya Rasulullah?” tanya Aisyah

“Kami baru saja membicarakan hari-hari bersama Khadijah.”"

Mendengar jawaban Beliau ini, Aisyah pun merasa cemburu. “Apakah engkau masih mengingat wanita tua ini (Khadijah), padahal ia telah tertimbun tanah dan Allah telah memberikan ganti untukmu yang lebih baik darinya?”

“Demi Allah, Allah tidak pernah menggantikan wanita yang lebih baik darinya. Ia mau menolongku di saat orang-orang mengusirku. Ia mau mempercayaiku di saat orang-orang mendustakanku.”"

Aisyah merasa bahwa Rasulullah Saw marah. “Maafkan aku, ya Rasulullah.”"

“Mintalah maaf kepada Khadijah, baru aku akan memaafkanmu.” “
(Hadits ini diriwayatkan Bukhari dari Ummul Mukminin Aisyah)

Apakah mungkin ada cinta seperti itu, yang dapat terus abadi setelah orang yang dicintai meninggal bertahun-tahun? ya ! karena cinta ini tidak pernah didahului hubungan haram dan karena ketaatan kepada Allah menjadi dasar dalam rumah tangga ini. Rumah tangga yang selalu dihiasi dengan dzikir kepada Allah, bukan rumah yang digunakan untuk mengingat setan.

Apakah kita tidak ingin menjadikan rumah tangga kita seperti ini ?Suami membaca Al-Qur’an bersama istrinya. Betapa agungnya ketika anak-anak mereka turut serta membaca Al-Qur’an.Menjelang waktu Shubuh tiba, si istri membangunkan suaminya untuk melaksanakan solat Subuh. Suami melaksanakan solat tahajjud 2 rakaat bersama istrinya. Seperti apa rumah ini ? Indah nian bukan ? betapa manisnya, betapa indah cinta di dalam rumah tangga ini.

Cobalah, pasti kita dapat menemukan segalanya berubah, cinta pun bertambah, dan Allah melimpahkan berkah-Nya kepada kita.Subhanallah

Argumentasi, Lelaki Shalih, dan Cinta

dakwatuna.com –

“Bila seorang laki-laki yang kamu ridhai agama dan akhlaqnya meminang,” kata Rasulullah mengandaikan sebuah kejadian sebagaimana dinukil Imam At Tirmidzi, “Maka, nikahkanlah dia.” Rasulullah memaksudkan perkataannya tentang lelaki shalih yang datang meminang putri seseorang.

“Apabila engkau tidak menikahkannya,” lanjut beliau tentang pinangan lelaki shalih itu, “Niscaya akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang meluas.” Di sini Rasulullah mengabarkan sebuah ancaman atau konsekuensi jika pinangan lelaki shalih itu ditolak oleh pihak yang dipinang. Ancamannya disebutkan secara umum berupa fitnah di muka bumi dan meluasnya kerusakan.

Bisa jadi perkataan Rasulullah ini menjadi hal yang sangat berat bagi para orangtua dan putri-putri mereka, terlebih lagi jika ancaman jika tidak menurutinya adalah fitnah dan kerusakan yang meluas di muka bumi. Kita bisa mengira-ngira jenis kerusakan apa yang akan muncul jika seseorang yang berniat melamar seseorang karena mempertahankan kesucian dirinya dan dihalang-halangi serta dipersulit urusan pernikahannya. Inilah salah satu jenis kerusakan yang banyak terjadi di dunia modern ini, meskipun banyak di antara mereka tidak meminang siapapun.


Mari kita belajar tentang pinangan lelaki shalih dari kisah cinta sahabat Rasulullah dari Persia, Salman Al Farisi. Dalam Jalan Cinta, Salim A Fillah mengisahkan romansa cintanya. Salman Al Farisi, lelaki Persia yang baru bebas dari perbudakan fisik dan perbudakan konsepsi hidup itu ternyata mencintai salah seorang muslimah shalihah dari Madinah. Ditemuinya saudara seimannya dari Madinah, Abud Darda’, untuk melamarkan sang perempuan untuknya.

“Saya,” katanya dengan aksen Madinah memperkenalkan diri pada pihak perempuan, “Adalah Abud Darda’.”

“Dan ini,” ujarnya seraya memperkenalkan si pelamar, “Adalah saudara saya, Salman Al Farisi.” Yang diperkenalkan tetap membisu. Jantungnya berdebar.

“Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah, sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya. Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya,” tutur Abud Darda’ dengan fasih dan terang.

“Adalah kehormatan bagi kami,” jawab tuan rumah atas pinangan Salman, ”Menerima Anda berdua, sahabat Rasulullah yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang sahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada putri kami.” Yang dipinang pun ternyata berada di sebalik tabir ruang itu. Sang putri shalihah menanti dengan debaran hati yang tak pasti.

”Maafkan kami atas keterusterangan ini”, kata suara lembut itu. Ternyata sang ibu yang bicara mewakili putrinya.
”Tapi, karena Anda berdua yang datang, maka dengan mengharap ridha Allah, saya menjawab bahwa putri kami menolak pinangan Salman.”

Ah, romansa cinta Salman memang jadi indah di titik ini. Sebuah penolakan pinangan oleh orang yang dicintainya, tapi tidak mencintainya. Salman harus membenturkan dirinya dengan sebuah hukum cinta yang lain, keserasaan. Inilah yang tidak dimiliki antara Salman dan perempuan itu. Rasa itu hanya satu arah saja, bukan sepasang.
Salman ditolak. Padahal dia adalah lelaki shalih. Lelaki yang menurut Ali bin Abi Thalib adalah sosok perbendaharaan ilmu lama dan baru, serta lautan yang tak pernah kering. Ia memang dari Persia, tapi Rasulullah berkata tentangnya,

“Salman Al Farisi dari keluarga kami, ahlul bait.” Lelaki yang bertekad kuat untuk membebaskan dirinya dari perbudakan dengan menebus diri seharga 300 tunas pohon kurma dan 40 uqiyah emas. Lelaki yang dengan kecerdasan pikirnya mengusulkan strategi perang parit dalam Perang Ahzab dan berhasil dimenangkan Islam dengan gemilang. Lelaki yang di kemudian hari dengan penuh amanah melaksanakan tugas dinasnya di Mada’in dengan mengendarai seekor keledai, sendirian. Lelaki yang pernah menolak pembangunan rumah dinas baginya, kecuali sekadar saja. Lelaki yang saking sederhana dalam jabatannya pernah dikira kuli panggul di wilayahnya sendiri. Lelaki yang di ujung sekaratnya merasa terlalu kaya, padahal di rumahnya tidak ada seberapa pun perkakas yang berharga. Lelaki shalih ini, Salman Al Farisi, ditolak pinangannya oleh perempuan yang dicintanya.

Salman ditolak. Alasannya ternyata sederhana saja. Dengarlah.

“Namun, jika Abud Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka putri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan,” kata si ibu perempuan itu melanjutkan perkataannya. Anda mengerti? Si perempuan shalihah itu menolak lelaki shalih peminangnya karena ia mencintai lelaki yang lain. Ia mencintai si pengantar, Abud Darda’. Cinta adalah argumentasi yang shahih untuk menolak.

Ada juga kisah cinta yang lain. Abu Bakar Ash Shiddiq meminang Fathimah binti Muhammad kepada Rasulullah. Ia ingin mempererat kekerabatannya dengan Sang Rasul dengan pinangan itu. Saat itu usia Fathimah menjelang delapan belas tahun. Ia menjadi perempuan yang tumbuh sempurna dan menjadi idaman para lelaki yang ingin menikah. Keluhuran budi, kemuliaan akhlaq, kehormatan keturunan, dan keshalihahan jiwa menjadi penarik yang sangat kuat.

“Saya mohon kepadamu,” kata Abu Bakar kepada Rasulullah sebagaimana dikisahkan Anas dalam Fatimah Az Zahra, “Sudilah kiranya engkau menikahkan Fathimah denganku.” Dalam riwayat lain, Abu Bakar melamar melalui putrinya sekaligus Ummul Mukminin Aisyah.

Mendapat pinangan dari lelaki shalih itu, Rasulullah hanya terdiam dan berpaling. “Sesungguhnya, Fathimah masih kecil,” kata beliau dalam riwayat lain. “Hai Abu Bakar, tunggulah sampai ada keputusan,” kata Rasulullah. Yang terakhir ini diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d dalam Ath Thabaqat. Maksud Rasulullah dengan menunggu keputusan adalah keputusan dari Allah atas kondisi dan keadaan itu, apakah menerima pinangan itu atau tidak.

Ketika Umar bin Khathab mendengar cerita ini dari Abu Bakar langsung, ia mengatakan, “Hai Abu Bakar, beliau menolak pinanganmu.”

Kemudian Umar mengambil kesempatan itu. Ia mendatangi Rasulullah dan menyampaikan pinangannya untuk menikahi Fathimah binti Muhammad. Tujuannya tidak terlalu berbeda dengan Abu Bakar. Bahkan jawaban yang diberikan Rasulullah kepada Umar pun sama dengan jawaban yang diberikan kepada Abu Bakar.

“Sesungguhnya, Fathimah masih kecil,” ujar beliau. “Tunggulah sampai ada keputusan,” kata Rasulullah.

Ketika Abu Bakar mendengar cerita ini dari Umar bin Khathab langsung, ia mengatakan, “Hai Umar, beliau menolak pinanganmu.”

Kita bisa membayangkan itu? Dua orang lelaki paling shalih di masa hidup Rasulullah pun ditolak pinangannya. Abu Bakar adalah sahabat paling utama di antara seluruh sahabat yang ada. Kepercayaannya kepada Islam dan kerasulan begitu murni, tanpa reverse ataupun setitis keraguan. Karena itulah ia mendapat julukan Ash Shiddiq. Ia adalah lelaki yang disebutkan Al Qur’an sebagai pengiring jalan hijrah Rasulullah di dalam gua. Ia adalah dai yang banyak memasukkan para pembesar Mekah dalam pelukan Islam. Ia adalah pembebas budak-budak muslim yang senantiasa tertindas. Ia adalah lelaki yang menginfakkan seluruh hartanya untuk jihad, dan hanya menyisakan Allah dan Rasul-Nya bagi seluruh keluarganya. Ia adalah orang yang ingin diangkat sebagai kekasih oleh Rasulullah. Ia adalah salah satu lelaki yang telah dijamin menginjakkan tumitnya di kesejukan taman jannah. Namun, lelaki shalih ini ditolak pinangannya secara halus oleh Rasulullah.

Sementara, siapa tidak mengenal lelaki shalih lain bernama Umar bin Khathab. Ia adalah pembeda antara kebenaran dan kebathilan. Ia dan Hamzah lah yang telah mengangkat kemuliaan kaum muslimin di masa-masa awal perkembangannya di Mekah. Ia lelaki yang seringkali firasatnya mendahului turunnya wahyu dan ayat-ayat ilahi kepada Rasulullah. Ia adalah lelaki yang dengan keberaniannya menantang kaum musyrikin saat ia akan berangkat hijrah, ia melambungkan nama Islam. Ia lelaki yang sangat mencintai keadilan dan menegakkannya tatkala ia menggantikan posisi Rasulullah dan Abu Bakar di kemudian hari. Ia pula yang di kemudian hari membuka kunci-kunci dunia dan membebaskan negeri-negeri untuk menerima cahaya Islam. Namun, lelaki shalih ini ditolak pinangannya secara halus oleh Rasulullah.

Mari kita simak kenapa pinangan dua lelaki shalih ini ditolak Rasulullah. Ketika itu, Ali bin Abi Thalib datang menemui Rasulullah. Shahabat-shahabatnya dari Anshar, keluarga, bahkan dalam sebuah riwayat termasuk pula dua lelaki shalih terdahulu mendorongnya untuk datang meminang Fathimah binti Muhammad kepada Rasulullah. Ia menemui Rasulullah dan memberi salam.

“Hai anak Abu Thalib,” sapa Rasulullah pada Ali dengan nama kunyahnya, ”Ada perlu apa?”

Simaklah jawaban lugu yang disampaikan Ali kepada Rasulullah sebagaimana dinukil Ibnu Sa’d dalam Ath Thabaqat.

“Aku terkenang pada Fathimah binti Rasulullah,” katanya lirih hampir tak terdengar. Dengar dan rasakan kepolosan dan kepasrahan dari setiap diksi yang terucap dari Ali bin Abi Thalib itu. Kepolosan dan kepasrahan seorang pecinta akan cintanya yang demikian lama. Ia menggunakan pilihan kata yang sangat lembut di dalam jiwa, “Terkenang.” Kata ini mewakili keterlamaan rasa dan gelora yang terpendam, bertunas menembus langit-langit realita, transliterasi rasa.

“Ahlan wa sahlan!” kata Rasulullah menyambut perkataan Ali. Senyum mengiringi rangkaian kata itu meluncur dari bibir mulia Rasulullah. Kita tidak usah sebingung Ali memahami jawaban Rasulullah. Jawaban itu bermakna bahwa pinangan Ali diterima oleh Rasulullah seperti yang dipahami rekan-rekan Ali.

Mari kita biarkan Ali dengan kebahagiaan diterima pinangannya oleh Rasulullah. Mari kita melihat dari perspektif yang lebih fokus untuk memahami penolakan pinangan dua lelaki shalih sebelumnya dan penerimaan lelaki shalih yang ini. Kita boleh punya pendapat tersendiri tentang masalah ini.

Ketika Rasulullah menjelaskan alasan kepada Abu Bakar dan Umar berupa penolakan halus, kita tidak bisa menerimanya secara letter lijk. Sebab bisa jadi itu adalah bahasa kias yang digunakan Rasulullah. Misalnya ketika Rasulullah mengatakan bahwa Fathimah masih kecil, tentu saja ini tidak bisa diterjemahkan sebagai kecil secara harfiah, sebab saat itu usia Fathimah sudah hampir delapan belas tahun. Sebuah usia yang cukup matang untuk ukuran masa itu dan bangsa Arab. Sementara Rasulullah sendiri berumah tangga dengan Aisyah pada usia setengah usia Fathimah saat itu. Maka, kita harus memahami kalimat penolakan itu sebagai bahasa kias.

Saat Rasulullah meminta Abu Bakar dan Umar bin Khathab untuk menunggu keputusan, ini juga diterjemahkan sebagai penolakan sebagaimana dipahami dua lelaki shalih itu. Jadi, pernyataan Rasulullah itu bukan pernyataan untuk menggantung pinangan, sebab jika pinangan itu digantung, tentu saja Umar dan Ali tidak boleh meminang Fathimah. Pernyataan itu adalah sebuah penolakan halus.

Atau bisa jadi, saat itu Rasulullah punya harapan lain bahwa Ali bin Abi Thalib akan melamar Fathimah. Beliau tahu sebab sejak kecil Ali telah bersamanya dan banyak bergaul dengan Fathimah. Interaksi yang lama dua muda mudi sangat potensial menumbuhkan tunas cinta dan memekarkan kuncup jiwanya. Ini dibuktikan dari pernyataan Rasulullah untuk meminta dua lelaki shalih itu menunggu keputusan Allah tentang pinangannya. Jadi, dalam hal ini kemungkinan Rasulullah mengetahui bahwa putrinya dan Ali telah saling mencintai. Sehingga Rasulullah pun punya harapan pada keduanya untuk menikah. Rasulullah hanya sedang menunggu pinangan Ali. Di masa mendatang sejarah membuktikan ketika Ali dan Fathimah sudah menikah, ia berkata kepada Ali, suaminya,

“Aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta pada seorang pemuda.” Saya yakin kita tahu siapa yang dimaksud oleh Fathimah. Ini perspektif saya.

Hal ini diperkuat oleh pernyataan singkat Ali, “Aku terkenang pada Fathimah binti Rasulullah.” Satu kalimat itu sudah mewakili apa yang diinginkan Ali. Rasulullah sangat memahami ini. Beliau adalah seseorang yang sangat peka akan apa-apa yang diinginkan orang lain dari dirinya. Beliau memiliki empati terhadap orang lain dengan demikian kuat. Beliau memahami bentuk sempurna keinginan seseorang seperti Ali dengan beberapa kata saja.

Dan jawaban Rasulullah pun menunjukkan hal yang serupa, “Ahlan wa sahlan!” Ungkapan sambutan selamat datang atas sebuah penantian.

Jadi, dengan perspektif ini, kita akan memahami bahwa lelaki shalih yang datang untuk meminang bisa ditolak pinangannya, tanpa akan menimbulkan fitnah di muka bumi ataupun kerusakan yang meluas. Wanita shalihah yang dipinang Salman Al Farisi telah menunjukkan kepada kita, bahwa ia mencintai Abud Darda’ dan menolak pinangan lelaki shalih dari Persia itu. Rasulullah pun telah menunjukkan pada kita bahwa ia menolak pinangan dua lelaki tershalih di masanya karena Fathimah mencintai lelaki shalih yang lain, Ali Bin Abu Thalib. Di sini, kita belajar bahwa cinta adalah argumentasi yang shahih untuk menolak, dan cinta adalah argumentasi yang shahih untuk mempermudah jalan bagi kedua pecinta berada dalam singgasana pernikahan.

Mari kita dengarkan sebuah kisah yang dikisahkan Ibnu Abbas dan diabadikan oleh Imam Ibnu Majah. Seorang laki-laki datang menemui Rasulullah. “Wahai Rasulullah,” kata lelaki itu,

“Seorang anak yatim perempuan yang dalam tanggunganku telah dipinang dua orang lelaki, ada yang kaya dan ada yang miskin.”

“Kami lebih memilih lelaki kaya,” lanjutnya berkisah, “Tapi dia lebih memilih lelaki yang miskin.” Ia meminta pertimbangan kepada Rasulullah atas sikap yang sebaiknya dilakukannya.

“Kami,” jawab Rasulullah,

“Tidak melihat sesuatu yang lebih baik dari pernikahan bagi dua orang yang saling mencintai, lam nara lil mutahabbaini mitslan nikahi.”

Cinta adalah argumentasi yang shahih untuk menolak. Di telinga dan jiwa lelaki ini, perkataan Rasulullah itu laksana setitis embun di kegersangan hati. Menumbuhkan tunas yang hampir mati diterpa badai kemarau dan panasnya bara api. Seakan-akan Rasulullah mengatakannya khusus hanya untuk dirinya. Seakan-akan Rasulullah mengingatkannya akan ikhtiar dan agar tiada sesal di kemudian hari.

“Cinta itu,” kata Prof. Dr. Abdul Halim Abu Syuqqah dalam Tahrirul Ma’rah fi ‘Ashrir Risalah, “Adalah perasaan yang baik dengan kebaikan tujuan jika tujuannya adalah menikah.” Artinya yang satu menjadikan yang lainnya sebagai teman hidup dalam bingkai pernikahan.

Dengan maksud yang serupa, Imam Al Hakim mencatat bahwa Rasulullah bersabda tentang dua manusia yang saling mencintai. “Tidak ada yang bisa dilihat (lebih indah) oleh orang-orang yang saling mencintai,” kata Rasulullah, “Seperti halnya pernikahan.” Ya, tidak ada yang lebih indah. Ini adalah perkataan Rasulullah. Dan lelaki ini meyakini bahwa perkataan beliau adalah kebenaran. Karena bagi dua orang yang saling mencintai, memang tidak ada yang lebih indah selain pernikahan. Karena cintalah yang menghapus fitnah di muka bumi dan memperbaiki kerusakan yang meluas, insya Allah.

Cinta adalah argumentasi yang shahih untuk menolak, dan cinta adalah argumentasi yang shahih untuk mempermudah jalan bagi kedua pecinta berada dalam singgasana pernikahan

DI BALIK SENYUM SANG BIDADARI

Sumber Forum : JANGAN TAKUT NIKAH

Ketika kondisi Nabi saw sngat kritis,harapan untk sembuh dari sakitnya sudah bgtu tipis.beberapa sahabat beliau ingin melihat lbh dkat.namun krn kondisinya yg parah,siapapun tdk diijinkan masuk di ruang pembaringannya kecuali anggota keluarganya.

Fatimah az-zahra,satu2nya putri beliau yg msh hidup,duduk disisi ranjangnya.ditatapnya wajah suci ayahnya itu dng hati yg iba.sesekali Fatimah menyeka keringat yg mengalir di wajah dan dahi nabi.kecintaan nabi pada putri bungsunya ini sangatlah beralasan dan manusiawi.dia adalah satu2nya buah hati yg mash tersisa dari istri tercintanya,-Khadijah.Fatimah lah yg menggantikan kepiluannya sejak putra putrinya yg lain meninggal dalam usia muda.dalam kehidupan nabi,Fatimah laksana bidadari.beliau tdk pernah melakukan perjalanan sebelum mengucpkan kata2 perpisahan kpd putrinya.sekembalinyapun,Fatimah pulalah yg pertama2 di temuinya.kedudukan Fatimah disisi nabi demikian terhormat.ketulusan cinta nabi kpd bidadarinya ini bisa disimak dari ucapan beliau;-Fatimah adalah bagian dari diriku,kesenangannya adalah kesenanganku,dan kemarahannya adalah kemarahanku.

Selama nabi sakit,Fatimah selalu berada disisi ranjang beliau.tiba2 nabi memberi isyarat padanya bhwa beliau hendk mengatakn sesuatu.Fatimah pun menunduk dan menempelkan telinganya ke bibir nabi.lalu nabi membisikkan sesuatu,hingga orang lain tdk bisa mendngar apa yg dibicarakan.seusai nabi bicara,Fatimahpun menangis dan bersedih.melihat itu,nabipun membisikkan lagi,Fatimahpun nampak bahagia dan tersenyum dngn riangnya.

Dua suasana hati Fatimah yg brlawanan itu tentu saja membauat yg lain penasaran.istri2 nabi lalu meminta kpd bidadari kekasih Alloh itu untk memberi tahu apa yg dibisikkan nabi.namun dng tegas Fatimah berkata-Aku tidak akan membuka rahasia Nabi Alloh.

Setelah nabi wafat,rupanya Aisyah penasaran dng sesuatu yg dibisikkan nabi itu.maka ia pun mendesak Fatimah agar bersedia mengatakannya. -ya Fatimah,engkau telah diistimewakan oleh rosululloh di antara istri2nya.apa yg membuatmu menangis dan tersenyum saat rosululloh membisikkan sesuatu padamu?- pinta Aisyah.
pertama,ayah memberitahukan bhwa dahulu malaikat jibril datang kpd beliau untk membacakan al-qur'an setahun sekali.tpi tahun itu jibril dtang dan membacakn al-qur'an dua kali.itu artinya ajal ayah telah dekat.karenanya aku menangis dan bersedih.tatkala melhat kesedihanku,ayah membisiki lg bhwa akulah orng prtama diantara ahlul baitnya yg akan menyertai beliau,

Hal itulah yg membuat aku tersenyum dan merasa bahagia,sebab aku sadar bhwa tak lama lagi akan segera bergabung dngn ayahanda tercinta. jwb Fatimah tak dpt mengelak.
sepeninggalnya rosululloh,Fatimah hampir tak pernah tertawa.kesedihan dan duka slalu menghiasi wajahnya.ia sering menziarahi makam ayahnya,sgla perasaannya ia tuangkan dlm sebuah syair-ufuk langit telah pergi,matahari tak brsinar lagi,dunia telah gelap gulita.stlah kpergian nabi,bumi brsedih.smua negeri timur dan barat menangis.bgtu pula bani mudhaar dan penduduk yaman.wahai rosul terakhr yg penuh berkah,al-qur'an tlh brsholawt kpdmu.

Bisikn nbi yg membuat bidadarinya itu tersenyum menjdi kenyataan.sekitar 6 bulan sejak wafatnya nabi,Fatimah menderita sakit keras.merasa ajalnya sudah dekat,wanita sholehah ini brwasiat kpd suaminya,Ali bin abi thalib -wahai suamiku,sepeninggalku nanti aku brharap agar yg memandikn jenazahku adalah engkau sendiri bersama Asma' binti umais.mandikanlh aku dlm ruangan tertutup hingga tdk ada siapapun yg melihatnya.lalu,sholatkn,dan kuburknlah aku olehmu. pesan Fatimah pd suaminya.

Ketika ia merasakan ajalnya benar2 sudh dekat,putri rosululloh itu mandi sendirian dng meminta bantuan Ummu rafi' untk menyiramkan air ke tubuhnya.bgtu ia rasa sudah bersih,Fatimah segera memakai pakaian terbarunya.ia lalu menyuruh ummu rafi' menyiapkn tempat pembaringan di tengah2 rumahnya.Fatimahpun berbaring ke kanan dan menghadap kiblat seraya brpesan kpd ummu rafi' -wahai ibu,sekarang aku akan menghadap kpd Tuhanku,ajalku telah tiba.karena aku sudah mandi,maka tubuhku tdk usah disingkap2 lg oleh siapapun.

Setlah ajal menjemptnya,Ali dan Asma' melaksanakan wasiat Fatimah.mrk memandìkn jenazah suci itu tanpa menyingkap auratnya dan tdk dihadiri olh siapapun.saat itu dtanglah Aisyah hendk ikt memandikannya,namun Asma' melarangnya.Aisyah lalu mengadukn hal tsb kpd ayahnya,Abu Bakar yg saat itu menjadi amirul mu'minin.khalifahpun dtng k rumh Fatimah dan brkata,-wahai Asma',knp kau larang istri2 rosululloh untk memandikan jenazah putrinya.bgt pula knpa kau siapkan usungan laksana tmpat membawa pengantin,tertutup sedemikian rupa?-
ketahuilah ya amirulmu'minin,demikianlah wasiat Fatimah sebelum wafatnya.tdk bolh dimasuki oleh siapapun dan tertutup pada tmpat yg tlh saya persiapkan tadi.jawb Asma'

Usai Fatimah dimandikan,Ali mengimami sholt jenazah istrinya dng diikutì pamannya Abbas,Fadhl bin Abbas.Asma' dan beberapa kaum muslimin.malam itu juga Ali mempersiapkan sendiri sgala keperluan untk pemakaman istrinya.pada saat itu Ali berkata,-dua kekasih yg berkumpul pasti akan berpisah.dan semua,selain kematian,adalah sedikit.kehilangan thdap seorang demi seorang,suatu bukti bhwa kekasih itu tiada abadi.

Fatimah laksana bidadari bagi suaminya.kashsayang keduanya demikian bersejarah.dalam kesendiriannya mengenang istrinya,Ali sering berkata,-kami berdua bagaikan sepasang burung merpati yg tiada kenal kata berpisah.tapi nasib telah memisahkan kami.

kerap kali Ali bin abi thalib menziarahi makam istrinya pada malam hari.pada saat itulah dia terkenang kembali kata2 istrinya menjelang ajalnya; -Ali sayangku,ketika engkau nanti telah selesai menguburkan jasadku, dan menutupi makamku dngan tanah,janganlah tergesa2 untk pergi.tinggallah barang sejenak,karena pada saat itu aku amat membutuhkanmu.


Subhanalloh,dari cerita di atas,saya mencoba memberi sdikit makna dari ratusan atau bhkn ribuan kebaikan yg bisa kita ambil sbg ibroh dan teladan.Fatimah,sosok wanita agung,bidadari bagi ayah dan suaminya adalah pribadi wanita sholehah.Ia bnyak menghabiskn wktunya dngn cinta dan kashsayang brsama ayah,suami,anak2 dan wanita2 sholehah lainnya.rumahtangganya jauh dari fitnah.kashsayang Fatimah dan Ali dlm hubungn suami istri hanya dipisahkan oleh maut.karena itu,mari smua kita jaga keutuhan rumahtngga kita,hingga maut yg memisahkn.tak ada yg abadi di dunia ini,maka apa yg kita mìliki,suatu saat akn pergi meninggalkan kita.tanamkanlah kashsayang dan cinta itu pada pondasi yg kokoh,yakni kecintaan kpd Alloh dan Rosul-Nya.

semoga kita mampu menjadi suami yg sholeh buat istri kita,tdk hanya mereka mau menjadi sholehah sedang kita terpaku diam dan berlari di tempat mengejar angan2.
semoga pula istri2 kita mampu menjaga kehormatannya,menjdi istri yg sholehah,bukan sekedar mau,tapi bagaimana berusaha sekuat tenaga memaksimalkan sgala potensi yg ada pada dirinya,untk menjadi ìstri sholehah.
amiiin