Jumat, 25 Mei 2012

Rasulullah Menangis


Cinta-kasih Muhammad kepada Ibrahim putranya yang meninggal waktu bayi (16-18 bulan) sebenarnya bukan karena suatu maksud pribadi yang ada hubungannya dengan Risalah yang dibawanya, atau dengan yang akan menjadi penggantinya. Muhammad SAW, dengan imannya kepada Tuhan dan kepada Risalah Tuhan tidak akan memikirkan anak atau siapa yang akan mewarisinya. Bahkan dikatakannya:

“Kami para Nabi, tidak dapat diwarisi. Apa yang kami tinggalkan untuk sedekah.”

Akan tetapi, rasa kasih insani dalam artinya yang luhur, rasa kasih insani yang begitu dalam tertanam dalam hati Muhammad - yang kiranya tidak akan dicapai oleh siapa pun, rasa insani yang akan membuat manusia Arab memandang anak laki-laki yang akan mewarisinya sebagai sebuah lukisan abadi – rasa kasih inilah yang telah membuat Muhammad mencurahkan semua cintanya kepada Ibrahim, kasih-sayang yang tiada
taranya. Dan rasa kasih ini lebih parah merasuk ke dalam hati, karena sebelum itu ia telah kehilangan kedua puteranya Qasim dan Tahir, dan keduanya masih bayi dalam pangkuan Khadijah ibunya. Setelah Khadijah wafat ia kehilangan puteri-puterinya pula, satu demi satu, setelah mereka bersuami dan menjadi ibu. 

Sekarang tak ada lagi yang masih hidup, selain Fatimah. Putera-putera dan puteri-puteri itu, yang satu demi satu berguguran di tangannya dan dengan tangannya sendiri pula ia menguburkan mereka ke dalam pusara, yang telah meninggalkan luka yang begitu pedih dalam hatinya, kini terasa terobat juga dengan lahirnya Ibrahim, tempat buah hati meletakkan segala harapan. Dan sudah sepantasnya pula bila dengan harapan itu ia merasa gembira, merasa bahagia.

Tetapi harapan ini tidak berlangsung lama; hanya selama beberapa bulan saja seperti yang sudah kita sebutkan. Sesudah itu Ibrahim jatuh sakit, sakit yang sangat menguatirkan. Ia dipindahkan ke sebuah tempat dengan kebun kurma di samping Masyraba Umm Ibrahim. Maria dan Sirin adiknya selalu menjaga dan merawatnya. Bayi ini tidak lama sakitnya Tatkala ajal sudah dekat dan Nabi diberi tahu, karena rasa sedih yang sangat mendalam, ia berjalan dengan memegang tangan Abdur-Rahman b. ‘Auf sambil bertumpu kepadanya. Bila ia sudah sampai ke tempat itu di samping ‘Alia - tempat Masyraba yang sekarang – dijumpainya Ibrahim dalam pangkuan ibunya, sedang menarik napas terakhir. Diambilnya anak itu, lalu diletakkannya di pangkuannya dengan hati yang remuk-redam rasanya. Tangannya menggigil. Kalbu yang duka dan pilu rasa mencekam seluruh sanubari. Lukisan hati yang sedih mulai membayang dalam raut wajahnya. Sambil meletakkan anak itu di pangkuan ia berkata:

“Ibrahim, kami tak dapat menolongmu dari kehendak Tuhan.”

Dalam keadaan hening yang menekan itu kemudian airmatanya berderai bercucuran, sementara anak itu sedang menarik napas terakhir. Sang ibu dan Sirin menangis menjerit-jerit; oleh Rasulullah dibiarkan mereka begitu.

Setelah tubuh Ibrahim tiada bergerak lagi, sudah tiada bernyawa, dan dengan kematiannya itu padam pula semua harapan yang selama ini membuka hati Nabi, makin deras pula airmata Muhammad mengucur, sambil ia berkata:

“Oh Ibrahim, kalau bukan karena soal kenyataan, dan janji yang tak dapat dibantah lagi, dan bahwa kami yang kemudian akan menyusul orang yang sudah lebih dahulu daripada kami, tentu akan lebih lagi kesedihan kami dari ini.” Dan setelah diam sejenak, katanya lagi: “Mata boleh bercucuran, hati dapat merasa duka, tapi kami hanya berkata apa yang menjadi perkenan Tuhan, dan bahwa kami, O Ibrahim, sungguh sedih terhadap mu.”

Muslimin yang melihat Muhammad begitu duka, beberapa orang terkemuka hendak mengurangi hal itu dengan mengingatkannya akan larangannya berbuat demikian. 

Tapi ia menjawab: “Aku tidak melarang orang berduka cita, tapi yang kularang menangis dengan suara keras. Apa yang kamu lihat dalam diriku sekarang, ialah pengaruh cinta dan kasih didalam hati. Orang yang tiada menunjukkan kasih sayangnya, orang lain pun tiada akan menunjukkan kasih sayang kepadanya.” 

Atau seperti dikatakan juga: Kemudian ia berusaha menahan duka hatinya. Ia memandang Maria dan Sirin dengan pandangan penuh kasih. Kepada mereka dimintanya supaya lebih tenang sambil katanya: “Ia akan mendapat inang pengasuh di surga.”

Kemudian setelah ia dimandikan oleh Umm Burda, – sumber lain menyebutkan oleh Fadzl bin’l-’Abbas – dibawa dari rumah itu di atas sebuah ranjang kecil. Nabi dan Abbas pamannya, begitu juga sejumlah kaum Muslimin ikut mengantarkan sampai ke Baqi’. Di tempat itu ia dimakamkan setelah disembahyangkan oleh Nabi. Selesai pemakaman Muhammad minta supaya makam itu ditutup kemudian diratakannya dengan tangannya sendiri. Ia memercikkan air dan memberi tanda di atas kubur itu. Lalu katanya:

“Sebenarnya ini tidak membawa kerugian, juga tidak mendatangkan keuntungan. Tetapi hanya akan menyenangkan hati orang yang masih hidup. Apabila orang mengerjakan sesuatu, Tuhan lebih suka bila dikerjakan secara sempurna.”

Bersamaan dengan kematian Ibrahim itu kebetulan terjadi pula matahari gerhana. Kaum Muslimin menganggap peristiwa itu suatu mujizat. Kata mereka matahari gerhana karena Ibrahim meninggal. Hal ini terdengar oleh Nabi.

Karena cintanya yang begitu besar kepada Ibrahim, dan rasa duka yang begitu dalam karena kematiannya, adakah ia lalu merasa terhibur mendengar kata-kata itu, atau setidak-tidaknya akan didiamkan saja, menutup mata melihat orang sudah begitu terpesona karena telah menganggap itu suatu mujizat? Tidak. 

Dalam keadaan serupa itu, kalau pun ini layak dilakukan oleh mereka yang suka mengambil kesempatan karena kebodohan orang, atau layak dilakukan oleh mereka yang sudah tak sadar karena terlampau sedih, buat orang yang berpikir sehat tentu hal ini tidak layak, apalagi buat Nabi Besar! Muhammad melihat mereka yang mengatakan bahwa matahari telah jadi gerhana karena kematian Ibrahim, dalam khotbahnya kepada mereka ia berkata:

“Matahari dan bulan ialah tanda kebesaran Tuhan, yang tidak akan jadi gerhana karena kematian atau hidupnya seseorang. Kalau kamu melihat hal itu, berlindunglah dalam zikir kepada Tuhan dengan berdoa.”

Sungguh suatu kebesaran yang tiada taranya. Rasul tidak melupakan risalahnya itu dalam suatu situasi yang begitu gawat, situasi jiwa yang sedang dalam keharuan dan kesedihan yang amat dalam! Kalangan Orientalis dalam menanggapi peristiwa yang terjadi terhadap diri Muhammad ini, tidak bisa lain mereka bersikap hormat dan kagum sekali! Mereka tidak dapat menyembunyikan rasa kekaguman dan rasa hormatnya
itu kepadanya. Mereka menyatakan pengakuan mereka tentang kejujuran orang itu, yang dalam situasi yang sangat gawat ia tetap mempertahankan hak dan kejujurannya yang sungguh-sungguh !

Gerangan bagaimana pula perasaan isteri-isteri Nabi melihat kesedihan dan dukacita yang menimpanya begitu mendalam karena kematian Ibrahim itu? Dia sendiri sudah merasa terhibur dengan karunia Tuhan itu dan dapat pula meneruskan tugas menunaikan risalah serta dengan bertambahnya Islam tersebar pada perutusan yang terus-menerus datang kepadanya dari segenap penjuru, sehingga tahun kesepuluh Hijrah ini diberi nama ‘Am’lWufud – Tahun Perutusan.’ Pada tahun itulah Abu Bakr memimpin orang menunaikan ibadat haji.

Sumber : http://cepiar.wordpress.com/2009/01/22/gerhana-ibrahim-bin-muhammad-saw/

Kelahiran Ibrahim Bin Muhammad saw dan Kecemburuan Isteri-Isteri Rasul

MUHAMMAD kembali ke Medinah selesai ia membebaskan Mekah dan setelah  mendapat  kemenangan di Hunain dan mengepung Ta’if. Dalam hati orang Arab semua sudah nyata dan yakin, bahwa tak ada  yang  akan dapat menandinginya di seluruh jazirah, juga sudah  tak  ada  lagi  lidah  yang   mau   mengganggu   atau mencelanya.  Pihak Anshar dan Muhajirin semua merasa gembira sekali karena Tuhan  telah  membukakan  jalan  kepada  Nabi, membebaskan negeri tempat Mesjid Suci. Mereka gembira karena penduduk Mekah telah beroleh hidayah dengan menganut  Islam, dan orang-orang Arab – dengan kabilahnya yang beraneka ragam itu – telah tunduk dan taat kepada agama ini.
Untuk sekadar  menikmati  adanya  ketenangan  hidup,  mereka semua kembali ke Medinah setelah Muhammad menunjuk ‘Attab b. Asid untuk Mekah di samping Mu’adh b.  Jabal  guna  mengajar orang  memperdalam  agama dan mengajarkan Qur’an. Kemenangan yang  belum  ada  taranya  dalam  sejarah  Arab  ini   telah menimbulkan   kesan   yang   dalam   sekali  di  dalam  hati orang-orang   Arab    itu    semua,    juga    dalam    hati pembesar-pembesar  dan  bangsawan-bangsawan  yang samasekali tidak membayangkan, bahwa pada suatu hari mereka akan tunduk kepada  Muhammad  atau  akan menerima agamanya sebagai agama mereka; dalam hati penyair-penyair, yang  bicara  atas  nama bangsawan-bangsawan  dengan  sekedar mendapatkan simpati dan dukungan sebagai imbalan, atau sekadar  mendapatkan  bantuan dan dukungan kabilah-kabilah; dalam hati kabilah-kabilah di pedalaman, yang biasanya tidak mau  menukarkan  kebebasannya dengan  apa pun, atau akan terbayang dalam pikirannya, bahwa mereka akan tergabung dalam satu panji di luar panji  mereka sendiri  yang khusus atau akan bersedia mati untuk semua itu dalam suatu peperangan sampai habis samasekali. Para penyair dengan sajak-sajaknya, kaum bangsawan    dengan kebangsawanannya dan kabilah-kabilah yang mau mempertahankan kepribadiannya, apa  artinya  semua  itu  dalam  berhadapan dengan kekuatan yang berada di luar kodrat alam  itu,  tiada dapat  dibendung  oleh suatu kekuatan, tiada suatu kekuasaan dapat mengalanginya.
Begitu besarnya pengaruh itu dalam  hati  orang-orang  Arab, sehingga  Bujair  ibn Zuhair menulis surat kepada saudaranya Ka’b, setelah Nabi meninggalkan Ta’if. Ia mengatakan,  bahwa Muhammad  di  Mekah  telah  menjatuhkan  hukuman mati kepada orang-orang yang dulu pernah mengejek dan mengganggunya, dan penyair-penyair  yang  masih  ada, mereka melarikan diri tak tentu arahnya. Dinasehatinya saudaranya itu,  supaya  segera datang  kepada  Nabi  di  Medinah. Ia tidak pernah menghukum orang yang datang kepadanya menyatakan  penyesalannya;  atau orang menyelamatkan diri dengan ke mana saja ia mau pergi.
Apa yang diceritakan Bujair itu memang benar. Tak ada  orang yang  terbunuh di Mekah atas perintah Muhammad kecuali empat orang  saja,  di  antaranya  seorang  penyair  yang   sangat mengganggu  Nabi  dengan  ejekan-ejekannya,  dua  orang yang
telah  menyakiti  Zainab  puterinya,  ketika   dengan   ijin suaminya ia pergi hijrah dari Mekah hendak menyusul ayahnya. Ka’b yakin bahwa apa yang dikatakan  saudaranya  itu  benar, dan kalau dia tidak mau menemui Muhammad ia akan hidup dalam petualangan.  Oleh  karena  itu  cepat-cepat  ia  datang  ke Medinah dan menumpang di rumah seorang kawan lama. Keesokan harinya pagi-pagi ia datang  ke  mesjid,  ia  meminta  suaka kepada Nabi kemudian ia membacakan sajak ini.1
Berpisah dengan Su’ad
Hatiku kini merana karena cinta
Tergila-gila mengikutinya, terpukau
Tiada lagi ada belenggu.
Nabi kemudian memaafkannya dan setelah itu dia menjadi orang Islam yang baik. Karena  pengaruh  itu  jugalah,  maka  kabilah-kabilah mulai berdatangan kepada Nabi dan  menyatakan  kesetiaannya.  Dari kabilah  Tayy  datang  pula  utusan  dipimpin  oleh ketuanya sendiri, Zaid al-Khail. Setelah mereka ini  tiba,  Nabi  pun menyambut   mereka   dengan   baik  sekali.  Ketika  terjadi pembicaraan dengan Zaid, Nabi berkata:
Setiap ada orang dari kalangan Arab yang digambarkan begitu baik, kemudian orang itu datang kepadaku, ternyata ia kurang daripada apa yang digambarkan orang, kecuali  Zaid  al-Khail ini. Ia melebihi daripada apa yang digambarkan orang.”
Lalu  ia  dinamainya ‘Zaid al-Khair,’ (Zaid yang baik) bukan lagi, Zaid al-Khail, (‘Zaid si kuda’).2 Kabilah Tayy kemudian masuk Islam termasuk Zaid sendiri sebagai pemimpinnya.
Kemudian  ‘Adi  b.  Hatim  at-Ta’iy. Ia seorang Nasrani, dan sangat  benci  kepada  Muhammad.  Setelah  melihat   keadaan Muhammad  dan  Muslimin  di  jazirah  Arab,  ia pergi dengan untanya,  membawa  keluarga  dan  anaknya  hendak  bergabung dengan  orang-orang  seagama  dari kalangan Nasrani di Syam. Larinya ‘Adi ini ialah ketika Nabi mengutus Ali b. Abi Talib supaya  menghancurkan berhala Tayy. Setelah berhala itu oleh Ali dihancurkan, ia membawa rampasan dan tawanan perang,  di antaranya  puteri  Hatim  -saudara ‘Adi – yang telah ditahan dalam sebuah tempat berpagar di pintu masuk  mesjid,  tempat tawanan-tawanan  perang  dikurung.  Tatkala  Nabi  lewat  di tempat itu, ia menghampirinya dan berkata:
“Rasulullah, ayah saya sudah meninggal, sedang penopang saya sudah  menghilang.  Bermurah hatilah kepadaku, mudah-mudahan Tuhan akan memberi kurnia kepadamu.”
Setelah diketahui bahwa penopangnya itu ‘Adi b. Hatim,  yang telah  melarikan diri dari Tuhan dan Rasul, Nabi memalingkan muka dari dia.Tetapi  perempuan  itu  memintanya  meninjau kembali.  Lalu  teringat  oleh  Nabi, betapa pemurahnya ayah mereka dulu pada zaman jahiliah  sehingga  dapat  mengangkat nama  jazirah  itu.  Kemudian diperintahkannya supaya wanita itu dibebaskan.  Ia  diberi  pakaian  yang  bagus-bagus  dan diberinya pula belanja, lalu diberangkatkan dengan rombongan pertama yang berangkat ke Syam.  Bila  kemudian  ia  bertemu dengan  saudaranya (‘Adi) dan diceritakannya betapa Muhammad menghormatinya dan bermurah hati kepadanya, ia  pun  kembali dan menerjunkan diri ke dalam barisan Muslimin.
Demikian  juga  pemuka-pemuka  kabilah yang lain berdatangan kepada Muhammad -setelah pembebasan Mekah dan kemenangan di Hunain  serta  pengepungan  Ta’if  – mereka hendak mengakui risalahnya dan  menerima  Islam,  sementara  ketika  itu  ia
tinggal  di  Medinah,  mereka lega dengan adanya pertolongan Tuhan dan kehidupan yang agak tenteram itu
Akan tetapi ketenteraman  hidup  masa  itu  tampaknya  tidak begitu  cerah.  Pada  waktu  itu  Zainab,  puterinya  sedang menderita sakit yang sangat menguatirkan  sekali.  Sejak  ia mendapat  gangguan Huwairith dan Habbar tatkala ia berangkat dari Mekah yang sangat mencemaskan hatinya  dan  menyebabkan ia  keguguran,  sejak  itu  kesehatannya mundur sekali, yang sampai berakhir membawa kematiannya. Dengan kematiannya  itu tak ada lagi dari keturunan Muhammad yang masih hidup selain Fatimah, setelah Umm Kulthum dan Ruqayya  wafat  pula  lebih dulu   sebelum   Zainab.  Dengan  kehilangan  puterinya  ini Muhammad merasa  gundah  sekali.  Teringat  olehnya,  betapa lembutnya  perasaan  Zainab,  betapa  indahnya  kesetiaannya kepada suaminya  -  Abu’l-’Ash  bin’r-Rabi’  ketika  sebagai orang  tawanan  di  Badr,  ditebusnya  ia  dari  ayahnya. Ia menebusnya, padahal ia dalam  Islam  sedang suaminya  masih syirik,  di  samping begitu gigih ia memerangi ayahnya, yang kalau  kemenangan  itu  berada  di  tangan  Quraisy,   pasti Muhammad tidak akan dibiarkan hidup.
Semua   itu   teringat   oleh   Muhammad   betapa  lembutnya perasaannya, betapa  indahnya  kesetiaannya.  Teringat  pula olehnya  betapa  ia  menderita  sakit, sejak ia kembali dari Mekah sampai ia wafat. Muhammad, yang dalam  kemalangan,  ia pergi  ke pelosok-pelosok dan ke ujung kota, menengoki orang yang sedang sakit, ia menghibur orang yang dalam  menderita, dalam  kesakitan.  Maka  bilamana sampai pula takdir menimpa puterinya ini, setelah lebih dulu menimpa  kedua  saudaranya yang  laki-laki  tidak  salah  apabila ia akan sangat merasa duka, akan sangat bertambah luka di  hati,  meskipun  dengan adanya  rahmat  dan  kasih  sayang  Tuhan  kepadanya ia akan merasa sudah terhibur.
Akan tetapi tidak lama ia mengalami  kesedihan  itu,  dengan melalui  Maria  orang  Kopti  Tuhan  telah  memberi  karunia seorang anak laki-laki yang diberi nama Ibrahim,  nama  yang diambil  dari  Ibrahim  leluhur  para  nabi, para hunif yang patuh kepada Tuhan.  Sejak  Maria  diberikan  oleh  Muqauqis kepada  Nabi  sampai  pada  waktu  itu masih berstatus hamba sahaja. Oleh karena itu tempatnya tidak  di  samping  mesjid seperti  isteri-isteri  Nabi  Umm’l-Mukminin yang lain. Oleh Muhammad ia  ditempatkan  di  ‘Alia,  di  bagian  luar  kota Medinah,  di  tempat  yang sekarang diberi nama Masyraba Umm Ibrahim, dalam sebuah rumah di tengah-tengah  kebun  anggur. Ia   sering   berkunjung  ke  sana  seperti  biasanya  orang mengunjungi hak-miliknya.  Ia  mengambilnya  sebagai  hadiah dari Muqauqis bersama-sama saudaranya yang perempuan, Sirin, dan Sirin ini diberikannya kepada Hassan b. Thabit.  Sesudah Khadijah  wafat, dari semua isterinya, baik yang muda remaja atau yang sudah setengah umur, yang dulu  pernah  memberikan keturunan,  Muhammad  tidak  pernah  menantikan mereka masih akan memberikan keturunan lagi, yang  selama  sepuluh  tahun berturut-turut belum ada tanda-tanda kesuburan pada mereka.
Setelah ternyata Maria mengandung dan kemudian lahir Ibrahim – ketika itu usianya sudah lampau enampuluh tahun  -  sangat gembira sekali ia. Rasa sukacita telah memenuhi hati manusia besar ini. Dengan kelahirannya  itu  kedudukan  Maria  dalam
pandangannya  tampak  lebih tinggi, dari tingkat bekas-bekas budak ke derajat isteri. Ini menambah ia lebih disenangi dan lebih dekat lagi.
Wajar sekali hal ini akan menambah rasa iri hati di kalangan isteri-isterinya yang lain,  lebih-lebih  karena  Maria  ibu Ibrahim,  sedang  mereka  semua  tidak  beroleh putera. Juga pandangan Nabi  kepada  bayi  ini  sehari  ke  sehari  makin memperbesar kecemburuan mereka. Ia sangat menghormati Salma, isteri Abu Rafi’, yang bertindak sebagai bidan Maria. Ketika lahirnya  itu  ia memberikan sedekah uang dengan ukuran tiap seutas  rambut  kepada  setiap  fakir  miskin,   dan   untuk menyusukannya telah diserahkan pula kepada Umm Saif disertai tujuh ekor kambing untuk dimanfaatkan air  susunya  buat  si bayi.  Setiap  hari  ia singgah ke rumah Maria sekadar ingin melihat Ibrahim, dan ia pun tambah  gembira  setiap  melihat senyuman  bayi  yang masih suci dan bersih itu; makin senang hatinya setiap melihat pertumbuhan bayi bertambah indah. Apa lagikah   yang   akan  lebih  besar  dari  semua  ini,  akan menimbulkan rasa iri  hati  dalam  diri  isteri-isteri  yang tidak  mempunyai  anak itu? Dan sampai di mana pula pengaruh iri hati itu pada mereka?
Dengan penuh perasaan gembira pada suatu  hari  Nabi  datang dengan  memondong Ibrahim kepada Aisyah. Dipanggilnya Aisyah supaya melihat  betapa  besarnya  persamaan  Ibrahim  dengan dirinya  itu.  Aisyah  melihat  kepada  bayi  itu,  kemudian
katanya, bahwa  dia  tidak  melihat  adanya  persamaan  itu. Setelah  dilihatnya  Nabi  begitu gembira karena pertumbuhan bayi itu, ia tampak marah; semua  bayi  yang  mendapat  susu seperti  Ibrahim,  akan  sama pertumbuhannya atau akan lebih baik. Isteri-isteri Nabi telah marah  dan  tidak  suka  hati karena  kelahiran Ibrahim itu, yang akibatnya tidak terbatas hanya pada jawaban-jawaban yang kasar,  bahkan  sudah  lebih dari  itu,  sampai-sampai  dalam  sejarah Muhammad dan dalam sejarah  Islam   telah   meninggalkan   pengaruh,   sehingga karenanya datang pula wahyu dan disebutkan dalam Kitabullah
Dan wajar sekali pengaruh demikian ini akan timbul, Muhammad telah memberi tempat dan kedudukan  kepada  isteri-isterinya demikian  rupa,  suatu  hal  yang  tidak  pernah  dikenal di kalangan Arab. Dalam  suatu  keterangan  Umar  bin’l-Khattab berkata,  “Sungguh,”  kata  Umar,  “kalau  kami  dalam zaman jahiliah, wanita-wanita tidak lagi kami hargai. Baru setelah Tuhan  memberikan  ketentuan  tentang  mereka dan memberikan pula hak kepada mereka.”

Sumber: S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D
oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah
Penerbit PUSTAKA JAYA Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat Cetakan Kelima, 1980

Panduan Kelahiran

Jujur, sebagai orang tua baru dari Dek Ifel Ganteng (yang sekarang sudah berada di tempat yang sangat menyenangkan), ada banyak rasa yang berkecamuk ketika merawat bayi di awal-awal kelahirannya. Bukan sekedar kekhawatiran akan berani atau tidaknya menggendong, bisa atau tidaknya memandikan, baik buruknya posisi memberi ASI, bersih tidaknya saat si kecil pipi atau pupu (istilah... BAK dan BAB), dan benar atau tidaknya ketika mengganti popok. Bahkan kekhawatiran akan MITOS yang berkembang di Masyarakat. Terutama masalah ASI ! Ternyata ASI tak mungkin bisa di gantikan perannya oleh SUSU FORMULA sebagus dan semahal apapun. Pada ada ada Cinta, Kasih sayang, Pengorbanan, Keikhlasan, dan Pahala yang sangat Besar. Anak adalah Amanah, dan ASI adalah Kewajiban.

Alhamdulillah Buku ini sangat membantu. mengupas secara lengkap persiapan dan masa-masa perawatan bayi baru lahir. Selain itu juga mengupas tentang :
1. Perawatan bayi baru lahir,
2. ASI dan pernak-pernik kebutuhannya,
3. Tumbuh kembang anak usia 0-12 bulan,
4. Menu Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang dibuat sendiri secara higienis dan bergizi,
5. Kumpulan anak-anak Islami terbaik dan terindah disertai keterangannya,
6. Tips menurunkan berat badan pasca melahirkan,
7. Tips menghilangkan stretch mark,
8. Tips cara memberikan obat pada bayi, dan lain sebagainya.

Terima kasih buat Bu Nurul Chomaria, S.Psi dan Penerbit Ziyad yang sudah menerbitkan buku ini. Buku setebal 468 halaman yang sangat cocok bagi Orang Tua Baru, Orang Tua Lama, dan di anjurkan untuk di baca bagi yang mau punya momongan.

Bagi yang mau Pesan, bisa lewat saya. Harga Rp 65.000,-
Termasuk sangat murah dibandingkan majalah bulanan yang hanya mengupas sedikit keterangan dan kebanyakan gambar. Belum lagi harus menunggu majalahnya satu bulan sekali.

Berminat, silahkan hubungi nomor ini, 0856 4745 0434 (Abi Ifel).

Hehe.. Bukan Promosi lho !
Semoga Bermanfaat. Sukron jazakumullah..

Kecantikan Bidadari Surga



كَذَلِكَ وَزَوَّجْنَاهُمْ بِحُورٍ عِينٍ (٥٤)
"Demikianlah, dan Kami berikan kepada mereka bidadari." (QS. Ad-Dhukhan: 54)
مُتَّكِئِينَ عَلَى سُرُرٍ مَصْفُوفَةٍ وَزَوَّجْنَاهُمْ بِحُورٍ عِينٍ (٢٠)
"Mereka bertelekan di atas dipan-dipan berderetan dan kami kawinkan mereka dengan bidadari-bidadari yang cantik bermata jeli." (QS. At-Thur: 20)

حُورٌ مَقْصُورَاتٌ فِي الْخِيَامِ (٧٢)
"(Bidadari-bidadari) yang jelita, putih bersih, dipingit dalam rumah." (QS. Ar-Rahman: 72)
فِيهِنَّ خَيْرَاتٌ حِسَانٌ (٧٠)
"Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik." (QS. Ar-Rahman: 70)


إِنَّا أَنْشَأْنَاهُنَّ إِنْشَاءً (٣٥)فَجَعَلْنَاهُنَّ أَبْكَارًا (٣٦)عُرُبًا أَتْرَابًا (٣٧)
"Sesungguhnya kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung.[1] Dan kami jadikan mereka gadis-gadis perawan. Penuh cinta lagi sebaya umurnya." (QS. Al-Waqi'ah: 35-37)
Ibnu Abid Dunya meriwayatkan dari Abul Hawari, dia berkata: Bidadari itu diciptakan langsung (kun fayakun). Apabila telah sempurna peciptaan mereka maka dipasanglah kemah-kemah atas mereka. Oleh karena itu Ibnul Qayyim berkata bahwa kemah-kemah ini bukanlah ghuraf (kamar-kamar) atau qushur (istana-istana), melainkan ia adalah tenda di taman-taman dan di atas sungai-sungai.

Nabi Sholallohu 'alaihi wa sallam bersabda:

1. Hadits Abu Sa’id al-Khudri Rodiallohu 'anhu :

« إِنَّ أَدْنَى أَهْلِ الْجَنَّةِ مَنْزِلَةً رَجُلٌ صَرَفَ اللّهُ وَجْهَهُ عَنِ النَّارِ قِبَلَ الْجَنَّةِ وَمَثَّلَ لَهُ شَجَرَةً ذَاتَ ظِلٍّ فَقَالَ: أَيْ رَبِّ قَرِّبْنِي مِنْ هذِهِ الشَّجَرَةِ أَكُونُ فِي ظِلِّهَا ». فَذَكَرَ الْحَدِيْثَ فِيْ دُخُوْلِهِ الْجَنَّةَ وَتًمًنٍّيْهِ إِلىَ أَنْ قَالَ فِيْ آخِرِهِ.
“Sesungguhnya ahli surga yang paling rendah tingkatannya adalah seseorang yang Allah palingkan wajahnya dari neraka kearah surga, dan ditampakkan padanya satu pohon surga yang rindang. Lalu orang itu berkata: Ya Allah dekatkanlah aku ke pohon itu agar aku bisa berteduh di bawahnya.” Lalu Nabi Sholallohu 'alaihi wa sallam terus menyebutkan angan-angan orang itu hingga akhirnya beliau bersabda:
« إِذَا انْقَطَعَتْ بِهِ الأَمَانِيُّ قَالَ اللّهُ: هُوَ لَكَ وَعَشْرَةُ أَمْثَالِهِ. قالَ: ثُمَّ يَدْخُلُ بَيْتَهُ فَتَدْخُلُ عَلَيْهِ زَوْجَتَاهُ مِنَ الحُورِ الْعِينِ فَيَقُولاَنِ : الْحَمْدُ للّهِ الَّذِي أَحْيَاكَ لَنَا وَأَحْيَانَا لَكَ. قَالَ: فَيَقُولُ: مَا أُعْطِيَ أَحَدٌ مِثْلَ مَا أُعْطِيتُ ».
“Apabila telah habis angan-angannya maka Allah berfirman kepadanya: “Dia itu milikmu dan ditambah lagi sepuluh kali lipatnya.” Nabi bersabda: “Kemudian ia masuk rumahnya dan masuklah menemuinya dua biadadari surga, lalu keduanya berkata: Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkanmu untuk kami dan yang menghidupkan kami untukmu. Lalu laki-laki itu berkata: “Tidak ada seorangpun yang dianugerahi seperti yang dianugerahkan kepadaku.” (HR. Muslim: 417)

2. Hadits Anas Rodiallohu 'anhu :
« إِنَّ الْحُورَ الْعِينَ لَتُغَنينَ فِي الْجَنَّةِ يَقُلْنَ: نَحْنُ الْحُورُ الْحِسَانِ خُبئْنَا لأَزْوَاجٍ كِرَامٍ »
“Sesungguhnya bidadari nanti akan bernyanyi di surga: Kami para bidadari cantik disembuyikan khusus untuk suami-suami yang mulia.” (Shahih al-Jami’: 1602)

3. Hadits Abu Hurairah Rodiallohu 'anhu :
« إِنَّ أَوَّلَ زُمْرَةٍ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ عَلَى صُورَةِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ. وَالَّذِينَ يَلُونَهُمْ عَلَى أَشَدِّ كَوْكَبٍ دُرِّيَ، فِي السَّمَاءِ، إِضَاءةً. لاَ يَبُولُونَ، وَلاَ يَتَغَوَّطُونَ وَلاَ يَمْتَخِطُونَ وَلاَ يَتْفِلُونَ. أَمْشَاطُهُمُ الذَّهَبُ. وَرَشْحُهُمُ الْمِسْكُ. وَمَجَامِرُهُمُ الألُوَّةُ. وَأَزْوَاجُهُمُ الْحُورُ الْعِينُ. أَخْلاَقُهُمْ عَلَى خُلُقِ رَجُلٍ وَاحِدٍ. عَلَى صُورَةِ أَبِيهِمْ آدَمَ. سِتُّونَ ذِرَاعاً، فِي السَّمَاءِ ».
“Sesungguhnya kelompok pertama yang masuk surga adalah seperti rupa bulan di malam purnama. Berikutnya adalah seperti binang yang paling terang sinarnya di langit. Mereka tidak buang air kecil, tidak buang air besar, dan tidak meludah. Sisir mereka dari emas, minyak mereka adalah misik, asapannya adalah kayu gaharu, pasangan mereka adalah bidadari, akhlak mereka seperti akhlak satu orang. Bentuk (postur tubuh) mereka seperti Nabi Adam as; 60 lengan di langit.” (Bukhari, Muslim dll. Al-Jami’ al-Shaghir: 3778, Shahih al-Jami’: 2015)

4. Hadits Abdullah ibnu Mas’ud Rodiallohu 'anhu :
« أَوَّلُ زُمْرَةٍ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ كَأَنَّ وُجُوهَهُمْ ضَوْءُ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ، وَالْزُّمْرَةُ الثَّانِيَةُ عَلَى لَوْنِ أَحْسَنِ كَوْكَبٍ دُريَ فِي السَّمَاءِ، لِكُل رَجُلٍ مِنْهُمْ زَوْجَتَانِ مِنَ الْحُورِ الْعِينِ، عَلَى كُل زَوْجَةٍ سَبْعُونَ حُلَّةً، يُرَىٰ مُخُّ سُوقِهِمَا مِنْ وَرَاءِ لُحُومِهِمَا وَحُلَلِهِمَا، كَمَا يُرَىٰ الشَّرَابُ الأَحْمَرُ فِي الزُّجَاجَةِ الْبَيْضَاءِ »

“Kelompok pertama kali yang masuk surga, seolah wajah mereka cahaya rembulan di malam purnama. Kelompok kedua seperti bintang kejora yang terbaik di langit. Bagi setiap orang dari ahli surga itu dua bidadari surga. Pada setiap bidadari ada 70 perhiasan. Sumsum kakinya dapat terlihat dari balik daging dan perhiasannya, sebagaimana minuman merah dapat dilihat di gelas putih.” (HR. Thabrani dengan sanad shahih, dan Baihaqi dengan sanad hasan. Hadits hasan, shahih lighairi: Shahih al-Targhib: 3745)
Dalam lafazh Tirmidzi:
« وَلِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ زَوْجَتَانِ يُرَى مُخُّ سُوْقِهِمَا منْ وَرَاءِ الَّلحْمِ مِنَ الْحُسْنِ، لاَ اخْتِلاَفَ بَيْنَهُمْ وَلاَ تَبَاغُضَ قُلُوبُهُمْ قَلْبُ رَجُلٍ وَاحِدٍ يُسَبِّحونَ الله بُكْرَةً وَعَشِيَّا » .
“Masing-masing mendapat dua bidadari, sumsum kakinya dapat dilihat dari balik daging karena begitu cantiknya, tidak ada perselisihan di antara mereka, dan tidak ada saling benci di hati mereka. Hati mereka seperti hati satu orang, mereka semua bertasbih kepada Allah pagi dan sore.”

5. Hadits al-Miqdam Ibn Ma’di Karib Rodiallohu 'anhu :
« لِلشَّهِيدِ عِنْدَ اللَّهِ سَبْعُ خِصَالٍ: يُغْفَرُ لَهُ فِي أَوَّلِ دَفْعَةٍ مِنْ دَمِهِ، وَيَرَىٰ مَقْعَدَهُ مِنَ الْجَنَّةِ، وَيُحَلَّىٰ حُلَّةَ الإِيمَانِ، وَيُزَوجُ اثْنَيْنِ وَسَبْعِينَ زَوْجَةً مِنَ الْحُورِ الْعِينِ، وَيُجَارُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَيَأْمَنُ مِنَ الْفَزَعِ الأَكْبَرِ، وَيُوضَعُ عَلَى رَأْسِهِ تَاجُ الْوَقَارِ، الْيَاقُوتَةُ مِنْهُ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا، وَيَشْفَعُ فِي سَبْعِينَ إِنْسَاناً مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ »

“Orang yang mati syahid memiliki 7 [yang benar 8] keistimewaan di sisi Allah: (1) diampuni dosanya di awal kucuran darahnya, (2) melihat tempat duduknya dari surga, (3) dihiasi dengan perhiasan iman, (4) dinikahkan dengan 72 bidadari surga, (5) diamankan dari adzab kubur, (6) aman dari goncangan dahsyat di hari qiamat, (7) diletakkan di atas kepalanya mahkota kewibawaan; satu permata dari padanya lebih baik dari pada dunia seisinya, (8) memberi syafaat kepada 70 orang dari kerabatnya.” (Ahmad, Tirmidzi dan Baihaqi. Silsilah al-Shahihah: 3213, Shahih al-Jami’: 5182)

6. Hadits Mu’adz ibn Anas Rodiallohu 'anhu ;
« مَنْ كَظَمَ غَيْظاً وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ دَعَاهُ اللَّه سُبْحَانَهُ عَلَى رُؤُوسِ الْخَلائِقِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ مِنَ الْحُورِ الْعينِ مَا شَاءَ ».
“Barangsiapa mampu menahan amarah padahal ia mampu untuk melampiaskannya, maka Allah memanggilnya di hadapan para makhluk hingga Dia memberikan hak untuk memilih yang ia suka dari bidadari.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah, hadits hasan. Lihat Shahih al-Jami’: 6518)
7.     Hadits Mu’adz t;
« لاَ تُؤْذِي امْرَأةٌ زَوْجَهَا فِي الدُّنْيَا. إِلاَّ قَالَتْ زَوْجَتُهُ مِنَ الْحُورِ الْعِينِ: لاَ تُؤْذِيهِ، قَاتَلَكِ الله، فَإِنَّمَا هُوَ عِنْدَك دَخِيلٌ يُوشِكَ أَنْ يُفَارِقَكِ إِلَيْنَا »
“Tidak ada seorang isteri yang menyakiti suaminya di dunia melainkan bidadari yang menjadi pasangannya berkata: "Jangan engkau sakiti dia -semoga Allah melaknatmu- sesungguhnya ia hanyalah bertamu (di rumahmu), hampir saja ia berpisah meninggalkanmu menuju kami.” (Shahih al-Jami’: 7192)

Imam Ibnul Qoyyim berkata:

"Jika anda bertanya tentang mempelai wanita dan istri-istri penduduk surga, maka mereka adalah gadis-gadis remaja yang montok dan sebaya. Pada diri mereka mengalir darah muda, pipi mereka halus dan segar bagaikan bunga dan apel, dada mereka kencang dan bundar bagai delima, gigi mereka bagaikan intan mutu manikam, keindahan dan kelembutan mereka selalu menjadi kerubutan.
Elok wajahnya bagaikan terangnya matahari, kilauan cahaya terpancar dari gigi-giginya dikala tersenyum. Jika anda dapatkan cintanya, maka katakan semau anda tentang dua cinta yang bertaut. Jika anda mengajaknya berbincang (tentu anda begitu berbunga), bagaimana pula rasanya jika pembicaraan itu antara dua kekasih (yang penuh rayu, canda dan pujian). Keindahan wajahnya terlihat sepenuh pipi, seakan-akan anda melihat ke cermin yang bersih mengkilat (maksudnya, menggambarkan persamaan antara keindahan paras bidadari dengan cermin yang bersih berkilau setelah dicuci dan dibersihkan, sehingga tampak jelas keindahan dan kecantikan). Bagian dalam betisnya bisa terlihat dari luar, seakan tidak terhalangi oleh kulit, tulang maupun perhiasannya.
Andaikan ia tampil (muncul) di dunia, niscaya seisi bumi dari barat hingga timur akan mencium wanginya, dan setiap lisan makhluk hidup akan mengucapkan tahlil, tasbih, dan takbir karena terperangah dan terpesona. Dan niscaya antara dua ufuk akan menjadi indah berseri berhias dengannya. Setiap mata akan menjadi buta, sinar mentari akan pudar sebagaimana matahari mengalahkan sinar bintang. Pasti semua yang melihatnya di seluruh muka bumi akan beriman kepada Allah Yang Maha hidup lagi Maha Qayyum (Tegak lagi Menegakkan). Kerudung di kepalanya lebih baik daripada dunia seisinya. Hasratnya terhadap suami melebihi semua keinginan dan cita-citanya. Tiada hari berlalu melainkan akan semakin menambah keindahan dan kecantikan dirinya. Tiada jarak yang ditempuh melainkan semakin menambah rasa cinta dan hasratnya. Bidadari adalah gadis yang dibebaskan dari kehamilan, melahirkan, haidh dan nifas, disucikan dari ingus, ludah, air seni, dan air tinja, serta semua kotoran.
Masa remajanya tidak akan sirna, keindahan pakaiannya tidak akan usang, kecantikannya tidak akan memudar, hasrat dan nafsunya tidak akan melemah, pandangan matanya hanya tertuju kepada suami, sekali-kali tidak menginginkan yang lain. Begitu pula suami akan selalu tertuju padanya. Bidadarinya adalah puncak dari angan-angan dan nafsunya. Jika ia melihat kepadanya, maka bidadarinya akan membahagiakan dirinya. Jika ia minta kepadanya pasti akan dituruti. Apabila ia tidak di tempat, maka ia akan menjaganya. Suaminya senantiasa dalam dirinya, di manapun berada. Suaminya adalah puncak dari angan-angan dan rasa damainya.
Di samping itu, bidadari ini tidak pernah dijamah sebelumnya, baik oleh bangsa manusia maupun bangsa jin. Setiap kali suami memandangnya maka rasa senang dan suka cita akan memenuhi rongga dadanya. Setiap kali ia ajak bicara maka keindahan intan mutu manikam akan memenuhi pendengarannya. Jika ia muncul maka seisi istana dan tiap kamar di dalamnya akan dipenuhi cahaya.
Jika anda bertanya tentang usianya, maka mereka adalah gadis-gadis remaja yang sebaya dan sedang ranum-ranumnya.
Jika anda bertanya tentang keelokan wajahnya, maka apakah anda telah melihat eloknya matahari dan bulan?!
Jika anda bertanya tentang hitam matanya, maka ia adalah sebaik-baik yang anda saksikan, mata yang putih bersih dengan bulatan hitam bola mata yang begitu pekat menawan.
Jika anda bertanya tentang bentuk fisiknya, maka apakah anda pernah melihat ranting pohon yang paling indah yang pernah anda temukan?
Jika anda bertanya tentang warna kulitnya, maka cerahnya bagaikan batu rubi dan marjan.
Jika anda bertanya tentang elok budinya, maka mereka adalah gadis-gadis yang sangat baik penuh kebajikan, yang menggabungkan antara keindahan wajah dan kesopanan. Maka merekapun dianugerahi kecantikan luar dan dalam. Mereka adalah kebahagiaan jiwa dan penghias mata.
Jika anda bertanya tentang baiknya pergaulan dan pelayanan mereka, maka tidak ada lagi kelezatan selainnya. Mereka adalah gadis-gadis yang sangat dicintai suami karena kebaktian dan pelayanannya yang paripurna, yang hidup seirama dengan suami penuh pesona harmoni dan asmara .
Apa yang anda katakan apabila seorang gadis tertawa di depan suaminya maka sorga yang indah itu menjadi bersinar? Apabila ia berpindah dari satu istana ke istana lainnya, anda akan mengatakan: "Ini matahari yang berpindah-pindah di antara garis edarnya." Apabila ia bercanda, kejar mengejar dengan suami, duhai… alangkah indahnya…!! (dari kitab Hadil Arwah Ila Biladil Afrah (h.359-360) (Faiz)*


oleh: Abu Hamzah & Abu Salma

[1] Maksudnya: tanpa melalui kelahiran dan langsung menjadi gadis

Golongan yang di jamin Surga


Keinginan menjadi penghuni surga tidak cukup hanya berdo’a, tapi kita harus berusaha memiliki sifat dan amal calon penghuninya dan usaha itu sekarang dalam kehidupan kita di dunia ini.

1.  Memberi Makan.

Makan dan minum merupakan kebutuhan manusia yang harus dipenuhi oleh masing-masing orang, namun karena berbagai persoalan dalam kehidupan manusia, maka banyak orang yang tidak bisa memenuhinya atau bisa memenuhi tapi tidak sesuai dengan standar kesehatan, karena itu, bila kita ingin mendapat jaminan masuk surga, salah satu yang harus kita lakukan dalam hidup ini adalah memberi makan kepada orang yang membutuhkannya.
Rasulullah saw bersabda: “Sembahlah Allah Yang Maha Rahman, berikanlah makan, tebarkanlah salam, niscaya kamu masuk surga dengan selamat ” (HR. Tirmidzi)
Di dalam hadits lain, Rasulullah saw juga bersabda: “Sesungguhnya di surga terdapat kamar-kamar yang luamya dapat dilihat dari dalamnya dan dalamnya dapat dilihat dari luarnya, Allah menyediakannya bagi orang yang memberi makan, menebarkan salam dan shalat malam sementara orang-orang tidur ” (HR. Ibnu Hibban).
Terdapat pula hadits senada soal ini yang perlu kita perhatikan: “Di surga terdapat kamar-kamar yang luarnya dapat dilihat dari dalamnya dan dalamnya dapat dilihat dari luarnya”. Abu Malik Al Asy’ari berkata: “buat siapa wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab: “Bagi orang yang berucap baik, memberi makan, dan di melalui malam dengan shalat sementara orang-orang tidur” (HR. Thabrani, Hakim, Bukhari dan Muslim).
Bahkan sahabat Abdullah bin Salam mendengar pesan Nabi kepada para sahabat yang berbunyi: “Wahai manusia, tebarkanlah salam, berikanlah makan, sambunglah hubungan silaturrahim, shalatlah diwaktu malam sementara orang-orang tidur, niscaya kalian masuk surga dengan selamat ” (HR. Tirmidzi, ibnu Majah dan Hakim).

2.  Menyambung Silaturrahim.

Hubungan antar sesama manusia harus dijalin dengan sebaik-baiknya, antara sesama saudara dalam iman, terutama yang berasal dari rahim ibu yang sama yang kemudian disebut dengan saudara dalam nasab.
Bila ini selalu kita perkokoh, maka di dalam hadits di atas, kita mendapatkan jaminan surga dari Rasulullah saw, sedangkan bila kita memutuskannya, maka kitapun terancam tidak masuk surga.
Rasulullah saw bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang suka memutuskan, Sufyan berkata dalam riwayatnya: yakni memutuskan tali persaudaraan ” (HR. Bukhari dan Muslim).
Ketika Rasulullah saw bertanya kepada pada sahabat tentang maukah aku beritahukan kepada kalian tentang orang yang akan menjadi penghuni surga? diantaranya beliau menjawab: Seorang laki-laki yang mengunjungi saudaranya di penjuru kota dengan ikhlas karena Allah ” (HR. Ibnu Asakir, Abu Na’im dan Nasa’i).

3.  Shalat Malam

Tempat terpuji di sisi Allah swt adalah surga yang penuh dengan kenikmatan yang tiada terkira, karenanya salah satu cara yang bisa kita lakukan untuk bisa diberi tempat yang terpuji itu adalah dengan melaksanakan shalat tahajjud saat banyak manusia yang tertidur lelap, Allah swt berfirman: “Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang Terpuji ” (QS Al Isra [17]:79).
Manakala seseorang sudah rajin melaksanakan shalat tahajjud, ia merasa menjadi seorang yang begitu dekat dengan Allah swt dan bukti kedekatannya itu adalah dengan tidak melakukan penyimpangan dari ketentuan Allah swt meskipun peluang untuk menyimpang sangat besar dan bisa jadi ia mendapatkan keuntungan duniawi yang banyak.

4. Memudahkan Orang Lain.

Dalam hidupnya, ada saat manusia mengalami kesenangan hidup dengan segala kemudahannya, namun pada saat lain bisa jadi ia mengalami kesulitan dan kesengsaraan.
Karena itu, sesama manusia idealnya bisa saling memudahkan, termasuk dalam jual beli. Manakala kita sudah bisa memudahkan orang lain, maka salah satu faktor yang membuat manusia mendapat jaminan surga telah diraihnya.
Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya seorang lelaki masuk  surga. Dia ditanya: “Apa yang dulu kamu kerjakan?”. Dia menjawab, dia ingat atau diingatkan, dia menjawab: “Aku berjual beli dengan manusia lalu aku memberi tempo kepada orang yang dalam kesulitan dan mempermudah urusan dengan pembayaran dengan dinar atau dirham”. Maka dia diampuni (HR. Muslim dan Ibnu Majah)
Apabila dalam hidup ini kita suka memudahkan kesulitan yang dialami orang lain, maka kitapun akan mendapatkan kemudahan dalam kehidupan di dunia ini maupun di akhirat kelak.
Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa memudahkan orang yang kesulitan, Allah memudahkannya di dunia dan akhirat ” (HR. Ibnu Majah dari Abu Hurairah).

5. Berjihad.

Islam merupakan agama yang harus disebarkan dan ditegakkan dalam kehidupan di dunia ini, bahkan ketika dengan sebab disebarkan dan ditegakkan itu ada pihak-pihak yang tidak menyukainya, lalu mereka memerangi kaum muslimin, maka setiap umat Islam harus memiliki semangat dan tanggungjawab untuk berjihad dengan pengorbanan harta dan jiwa sekalipun.
Manakala kaum muslimin mau berjihad, maka Allah swt menyediakan surga untuk siapa saja yang berjihad di jalan-Nya, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya: “Tetapi Rasul dan orang-orang yang beriman bersama Dia, mereka berjihad dengan harta dan diri mereka. dan mereka Itulah orang-orang yang memperoleh kebaikan, dan mereka Itulah orang-orang yang beruntung. Allah telah menyediakan bagimereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar” (QS At Taubah [9]:88-89).
Di dalam hadits, Rasulullah saw juga bersabda tentang jaminan Allah swt kepada orang yang berjihad dengan surga: Ada tiga orang yang semuanya dijamin Allah azza wajalla, yaitu: seorang lelaki yang pergi untuk berperang dijalan Allah, maka ia dijamin oleh Allah hingga Allah mewafatkannya, lalu memasukkannya ke surga dengan segala pahala atau harta rampasan perang yang diperolehnya. Dan seseorang yang pergi ke masjid, maka dia dijamin oleh Allah hingga Allah mewafatkannya lalu memasukkannya ke surga atau mengembalikannya dengan pahala atau harta yang diperolehnya; dan seseorang yang masuk ke rumahnya dengan mengucapkan salam, maka dia dijamin olehAllah azza wajalla (HR. Abu Daud).
Bahkan orang yang berjihad dan mati syahid meskipun dahulunya ia kafir dan pernah membunuh kaum muslimin dijamin masuk surga, Rasulullah saw bersabda: Allah tertawa kepada dua orang yang saling membunuh yang keduanya masuk surga. Para sahabat bertanya: “Bagaimana yang Rasulullah?”. Beliau menjawab: “Yang satu (muslim) terbunuh (dalam peperangan) lalu masuk surga. Kemudian yang satunya lagi (kafir) taubatnya diterima oleh Allah ke dalam Islam, kemudian dia berjihad dijalan Allah lalu mati syahid (HR. Muslim dah Abu Hurairah ra).

6. Tidak Sombong.

Takabbur atau sombong adalah menganggap dirinya lebih dengan meremehkan orang lain, karenanya orang yang takabbur itu seringkali menolak kebenaran, apalagi bila kebenaran itu datang dari orang yang kedudukannya lebih rendah dari dirinya.
Oleh karena itu, bila kita mati dalam keadaan terbebas dari kesombongan amat mendapatkan jaminan masuk surga, Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang mati dan ia terbebas dari tiga hal, yakni sombong, fanatisme dan utang, maka ia akan masuk surga ” (HR. Tirmidzi).
Takabbur merupakan salah sifat yang diwariskan oleh iblis laknatullah, dengan sebab itulah ia divonis berdosa dan akan dimasukkan ke neraka, Allah swt berfirman: Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat: “bersujudlah kamu kepada Adam”, maka merekapun bersujud kecuali iblis. Dia tidak termasuk mereka yang sujud. Allah berfirman: Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) diwaktu Aku menyuruhmu?. Iblis menjawab: aku lebih baik daripadanya, Engkau ciptakan aku dari api, sedang dia Engkau ciptakan dari tanah. Allah berfirman: turunlah kamu dari syurga itu, karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina (QS Al A’raf[7]: 11-13, lihat pula QS Mukmin [40]: 60).
Manakala seseorang berlaku sombong, sangat kecil peluang baginya untuk bisa masuk ke dalam surga, di dalam hadits, Rasulullah saw bersabda:”Tidak masuk syurga orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari sifat kesombongan ” (HR. Muslim).

7. Tidak Memiliki Fanatisme Yang Berlebihan.

Tidak bisa dipungkiri bahwa manusia termasuk kaum muslimin hidup dengan latar belakang yang berbeda-beda, termasuk latar belakang kelompok, baik karena kesukuan, kebangsaan maupun golongan-golongan ber-dasarkan organisasi maupun paham keagamaan dan partai politik, hal ini disebut dengan ashabiyah.
Para saha-bat seringkali dikelompokkan menjadi dua golongan, yakni Muhajirin (orang yang berhijrah dari Makkah ke Madinah) dan Anshar (orang Madinah yang memberi pertolongan kepada orang Makkah yang berhijrah). Pada dasarnya golongan-golongan itu tidak masalah selama tidak sampai pada fanatisme yang berlebihan sehingga tidak mengukur kemuliaan seseorang berdasarkan golongan.
Manakala seseorang memiliki fanatisme yang berlebihan terhadap golongan sehingga segala pertimbangan dan penilaian terhadap sesuatu berdasarkan golongannya, bukan berdasarkan nilai-nilai kebenaran, maka hal ini sudah tidak bisa dibenarkan, inilah yang disebut dengan ashabiyah yang sangat dilarang di dalam Islam.
Bila kita mati terbebas dari hal ini, dijamin masuk surga oleh Rasulullah saw dalam hadits di atas, namun tidak masuk surga seseorang yang mati dalam keadaan demikian, karena Rasulullah saw tidak mau mengakui orang yang demikian itu sebagai umatnya.
Hal ini terdapat dalam hadits Nabi saw: “Bukan golongan kamu orang yang menyeru kepada ashabiyah, bukan golongan kami orang yang berperang atas ashabiyah dan bukan golongan kami orang yang mati atas ashabiyah ” (HR. Abu Daud)

8. Terbebas Dari Utang.

Dalam hidup ini, manusia seringkali melakukan hubungan muamalah dengan sesamanya, salah satunya adalah transaksi jual beli. Namun dalam proses jual beli tidak selalu hal itu dilakukan secara tunai atau seseorang tidak punya uang padahal ia sangat membutuhkannya, maka iapun meminjam uang untuk bisa memenuhi kebutuhannya, inilah yang kemudian disebut dengan utang.
Sebagai manusia, apalagi sebagai muslim yang memiliki harga diri, sedapat mungkin utang itu tidak dilakukan, apalagi kalau tidak mampu membayarnya, kecuali memang sangat darurat, karena itu seorang muslim harus hati-hati dalam masalah utang.
Rasulullah saw bersabda: “Berhati-hatilah dalam berutang, sesungguhnya berutang itu suatu kesedihan pada malam hari dan kerendahan diri (kehinaan) pada siang hari ” (HR. Baihaki)
Namun apabila manusia yang berutang tidak mau memperhatikan atau tidak mau membayarnya, maka hal itu akan membawa keburukan bagi dirinya, apalagi dalam kehidupan di akhirat nanti.
Hal ini karena utang yang tidak dibayar akan menggerogoti nilai kebaikan seseorang yang dikakukannya di dunia, kecuali bila ia memang tidak mempunyai kemampuan untuk membayarnya.
Rasulullah saw bersabda: “Utang itu ada dua macam, barangsiapa yang mati meninggalkan utang, sedangkan ia berniat akan membayarnya, maka saya yang akan mengurusnya, dan barangsiapa yang mati, sedangkan ia tidak berniat akan membayarnya, maka pembayarannya akan diambil dari kebaikannya, karena di waktu itu tidak ada emas dan perak ” (HR. Thabrani).

9. Peka Terhadap Peringatan.

Peka terhadap peringatan membuat seseorang mudah menerima segala peringatan dan nasihat dari siapapun agar waspada terhadap segala bahaya dalam kehidupan di dunia dan akhirat, sikap ini merupakan sesuatu yang amat penting karena setiap manusia amat membutuhkan peringatan dari orang lain, karenanya orang seperti itu akan mudah menempuh jalan hidup yang benar sehingga mendapat jaminan akan masuk ke dalam surga.
Orang seperti ini digambarkan oleh Rasulullah saw sebagai orang yang berhati seperti burung sebagaimana disebutkan dalam sabdanya: “Akan masuk surga kelak kaum-kaum yang hati mereka seperti hati burung ” (HR. Ahmad dan Muslim).

10. Menahan Amarah

Al ghadhab atau marah merupakan salah satu sifat yang sangat berbahaya sehingga ia telah menghancurkan manusia, baik secara pribadi maupun kelompok. Ada beberapa bahaya dari sifat marah yang harus diwaspadai.
Pertama, merusak iman, karena semestinya bila seseorang sudah beriman dia akan memiliki akhlak yang mulia yang salah satunya adalah mampu mengendalikan dirinya sehingga tidak mudah marah kepada orang lain.
Rasulullah saw bersabda: “Marah itu dapat merusak iman seperti pahitnya jadam merusak manisnya madu ” (HR. Baihaki).
Kedua, mudah mendapatkan murka dari Allah swt terutama pada hari kiamat, karena itu pada saat kita hendak marah kepada orang lain mestinya kita segera mengingat Allah sehingga tidak melampiaskan kemarahan dengan hal-hal yang tidak benar.
Allah swt berfirman sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Qudsi:
Wahai anak Adam, ingatlah kepada-Ku ketika kamu marah. Maka Aku akan mengingatmu jika Aku sedang marah (pada hari akhir) “.
Ketiga, mudah marah juga akan mudah menyulut kemarahan orang lain sehingga hubungan kita kepada orang lain bisa menjadi renggang bahkan terputus sama sekali. Oleh karena itu, seseorang baru disebut sebagai orang yang kuat ketika ia mampu mengendalikan dirinya pada saat marah sehingga kemarahan itu dalam rangka kebenaran bukan dalam rangka kebathilan.
Rasulullah saw bersabda: “Orang kuat bukanlah yang dapat mengalahkan musuh, namun orang yang kuat adalah orang yang dapat mengontrol dirinya ketika marah ” (HR. Bukhari dan Muslim).
Apabila seseorang mampu menahan amarahnya, maka dia akan mendapatkan nilai keutamaan yang sangat besar dari Allah swt, dalam hal ini Rasulullah saw menyebutkan jaminan surga untuknya: “Janganlah engkau marah dan surga bagimu ” (HR. Ibnu Abid Dunya dan Thabrani).

11. Ikhlas Menerima Kematian Anak dan OrangYangDicintai.

Setiap orang yang berumah tangga pasti mendambakan punya anak, karena anak itu menjadi harapan masa depan dan kesinambungan keluarga. Karenanya bahagia sekali seseorang bila dikaruniai anak, baik laki maupun perempuan.
Karena itu saat anak lagi disayang dan amat diharapkan untuk mencapai masa depan yang baik tapi tiba-tiba meninggal dunia, maka banyak orang tua yang tidak ikhlas menerima kenyataan itu. Bila sebagai orang tua kita ikhlas menerima kematian anak, maka hal ini bisa memberi jaminan kepada kita untuk bisa masuk surga.
Rasulullah saw bersabda: “Tidaklah mati tiga anak seseorang, lalu dia merelakannya (karena Allah) kecuali dia rnasuk surga”. Seorang wanita bertanya: “atau dua orang anak juga, wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab: “atau dua anak” (HR. Muslim).
Meskipun demikian, sedih atas kematian anak tetap boleh dirasakan karena tidak mungkin rasanya kematian anggota keluarga tanpa kesedihan, Rasulullah saw sendiri amat sedih atas kematian anaknya, namun kesedihan yang tidak boleh berlebihan seperti meratap.
Dalam suatu hadits dijelaskan: Anas ra berkata: Ketika Rasulullah saw masuk melihat Ibrahim (puteranya) yang sedang menghembuskan nafasnya yang terakhir, maka kedua mata Rasulullah saw bertinang-linang ketika ia wafat, sehingga tampak air mata mengalir di muka beliau. Abdurrahman bin Auf berkata: “Engkau demikianjuga ya Rasulullah?”. Jawab Nabi: “Sesungguhnya ini sebagai tanda rahmat dan belas kasihan”, Lalu beliaubersabda: “Mata berlinang dan hati merasa sedih, tapi kami tidak berkata kecuali yang diridhai Tuhan dan kami sungguh berduka cita karena berpisah denganmu hai Ibrahim (HR. Ahmad dan Tirmidzi).
Di dalam hadits lain, jaminan surga juga diberikan Allah swt kepada orang yang ridha menerima kematian orang yang dicintainya dalam kehidupan di dunia ini.
Abu Hurairah ra berkata bahwa Rasulullah saw bersabda dalam hadits qudsi: “Tidak ada pembalasan dari bagi seorang hamba-Ku yang percaya, jika Aku mengambil kekasihnya di dunia, kemudian ia ridha dan berserah kepada-Ku, melainkan surga ” (HR. Bukhari).

12. Bersaksi Atas Kebenaran Al-Qur’an.

Al-Qur’an merupakan kitab suci yang tidak perlu diragukan lagi kebenarannya oleh setiap muslim, namun kenyataan menunjukkan tidak semua muslim mau bersaksi dalam arti menjadi pembela kebenaran Al-Qur’an dari orang yang menentang dan meragukannya, bahkan tidak sedikit muslim yang akhimya larut dengan upaya kalangan non muslim yang berusaha meragukan kebenaran mutlak Al-Qur’an.
Bersaksi atas kebenaran Al-Qur’an juga harus ditunjukkan dengan penyebaran nilai-nilainya dalam kehidupan masyarakat dan yang lebih penting lagi adalah kebenaran Al-Qur’an itu ditunjukkan dalam sikap dan prilakunya sehari-hari.
Orang seperti inilah yang mendapat jaminan masuk surga oleh Allah swt sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya: Dan apabila mereka mende-ngarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Quran) yang telah mereka ketahui (dari Kitab-Kitab mereka sendiri); seraya berkata: “Ya Tuhan Kami, Kami telah beriman, Maka catatlah Kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Ouran dan kenabian Muhammad saw). Mengapa Kami tidak akan beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada Kami, Padahal Kami sangat ingin agar Tuhan Kami memasukkan Kami ke dalam golongan orang-orang yang saleh ?”. Maka Allah memberi mereka pahala terhadap Perkataan yang mereka ucapkan, (yaitu) surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sedang mereka kekal di dalamnya, dan itulah balasan (bagi) orang-orang yang berbuat kebaikan (yang ikhlas keimanannya). (QS. Al-Maidah: 5]: 83-85).

13. Berbagi Kepada Orang Lain.

Banyak kebaikan yang harus kita lakukan dalam hidup ini sehingga kebaikan-kebaikan yang kita laksanakan itu membuat kita menjadi manusia yang dirasakan manfaat keberadaan kita bagi orang lain sehingga apapun yang kita miliki memberi manfaat yang besar bagi orang lain apalagi bila hal itu memang amat dibutuhkan oleh manusia.
Salah satunya adalah bila seseorang memberikan binatang ternak yang dimiliki seperti kambing untuk kemudian dinikmati susu-nya oleh banyak orang. Bila ini dilakukan, jaminan surga dijanjikan oleh Allah swt
Sebagaimana disebutkan dalam hadits Rasulullah saw: “Empat puluh kebaikan yang paling tinggi adalah pemberian seekor kambing yang diperah susunya. Tidak seorangpun yang melakukan salah satu darinya dengan mengharapkan pahala dan membenarkan apa yang dijanjikan karenanya, kecuali Allah memasukkannya ke dalam surga ” (HR. Bukhari).

14. Hakim Yang Benar.

Dalam hidup ini banyak sekali perkara antar manusia yang harus diselesaikan secara hukum sehingga diperlukan pengadilan yang mampu memutuskan perkara secara adil, untuk itu diperlukan hakim yang adil dan bijaksana sehingga ia bisa memutuskan perkara dengan sebaik-baiknya. Bila ada hakim yang baik, maka ia akan mendapat jaminan bisa masuk ke dalam surga.
Rasulullah saw bersabda: Hakim-hakim itu ada tiga golongan, dua golongan di neraka dan satu golongan di surga: Orang yang mengetahui yang benar lalu memutus dengannya, maka dia di surga. Orang yang memberikan keputusan kepada orang-orang di atas kebodohan, maka dia itu di neraka dan orang yang mengetahui yang benar lalu dia menyeleweng dalam memberikan keputusan, maka dia di neraka (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’l, Ibnu Majah dan Hakim).
Oleh karena itu, ketika seorang muslim menjadi hakim, maka ia harus menjadi hakim yang benar, yakni hakim yang tahu tentang kebenaran dan ia memutuskan perkara secara benar.
Allah swt berfirman: Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, danjanganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat (QS An Nisa [4]:105).
Mudahan-mudahan kita termasuk orang yang mau berusaha untuk bisa masuk ke dalam surga.
Sumber : Khairu Ummah, Edisi 9, 12, dan 14 Tahun XVIII – Februari 2009

Hadirmu Bawa Senyuman

Jika engkau bertanya tentang JIHAD,
Jangan hanya engkau tanya mereka yang mengacungkan parang apalagi menghunus tajamnya pedang.

Tapi tanya juga mereka, para IBU yang merintih kesakitan melahirkan satu amanah Allah untuk menjadi bagian dari Khalifatul fil Ardh di dunia ini !

... Adzan Dzhuhur menandai siapnya kepala keluar dari mulut rahim, dan Iqomah menandai selesainya proses persalinan putra pertama kami. Alhamdulillah, Senin, 7 Mei 2012. Pukul 12.06 WIB lahir dengan sehat dan selamat. Ibu dan Bayi.

Semoga menjadi lahan ibadah kami untuk mendidiknya menjadi anak berbhakti yang menyejukkan hati keluarga kami, mengajarkannya arti keberadaan diri di dunia ini agar bisa memberikan manfaat bagi sesama, dan membinanya menjadi jalan pengantar kami untuk berkumpul di Syurga nanti. Amiin ya Rabb...

Bayi (Janin) Tersenyum dan Menangis



Dalam surat Al-Najm Allah berfirman tentang diri-Nya sendiri, “Dan bahwasanya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis.” (QS An-Najm [53]: 43)

Ayat ini berisi indikasi ilmiah yang sangat bagus tentang fakta ditemukan akhir-akhir ini bahwa janin memiliki ekspresi wajah ketika dia berada di dalam rahim ibunya, tanpa diajari untuk melakukannya.
Keajaiban penciptaan manusia terungkap melalui tahap-tahap perkembangan janin yang digambarkan oleh Al-Quran. Ia dimulai dengan pembentukan sel-sel germinal pada orang tuanya. Ketika sperma bertemu dengan ovum, maka keduanya membentuk zigot (nutfah amsyaj) yang kemudian menjadi gumpalan seperti lintah (‘alaqah) kemudian menjadi segumpal daging sekunyahan (mudghah), lalu berubah menjadi tulang yang tertutup dengan daging. Dalam jangka waktu yang telah ditentukan, sel-sel tumbuh menjadi makhluk lain yang dinamis dan bergerak dalam rahim ibunya, dengan ekspresi wajah terlihat jelas. Setelah revolusi teknologi terjadi akhir-akhir ini hingga diciptakan sebuah alat scan embrio, maka kita sekarang dapat melihat embrio tersenyum dan menangis dalam perut ibu sebelum mereka melihat cahaya di bumi.

Ada beberapa model pemindaian medis dan kebidanan pada USG. Standar diagnostik umum kebidanan adalah pemindaian model 2D. Dalam pemindaian janin 3D bukan gelombang suara yang dikirim langsung ke bawah dan dipantulkan kembali, tetapi dikirim pada sudut yang berbeda. Gema yang kembali diproses oleh program komputer yang canggih sehingga menghasilkan volume gambar tiga dimensi dari permukaan janin atau organ internal, cara yang sama yang digunakan alat CT scan untuk membangun sebuah gambar dari beberapa x-ray. 3D ultrasound memungkinkan kita untuk melihat lebar, tinggi dan kedalaman gambar dalam banyak cara yang sama seperti film 3D tapi tidak ada gerakan ditampilkan. Sedangkan model 4D ultrasound menambahan gerakan dengan merangkai 3D ultrasound secara berturut-turut.
3D USG pertama kali dikembangkan oleh Olaf von Ramm dan Stephen Smith di Duke University di tahun 1987.

Teknologi ini digunakan di bidang kegiatan penelitian intensif, terutama scan terhadap anomali janin. Tetapi ada juga masyarakat umum menggunakan, dan terbukti scan ini dapat memperbaiki ikatan janin-ibu. Scan 4D bayi mirip dengan scan 3D, hanya scan 4D menunjukkan gerakan janin seperti dalam bentuk video.

Ekspresi wajah bayi tidak meniru ibunya

Teknik pemindaian termodern telah menghasilkan gambar yang menakjubkan dari dalam rahim yang menunjukkan bahwa bayi rupanya tersenyum dan menangis. Hingga kini, para dokter tidak berpikir bahwa bayi tidak berekspresi sampai setelah kelahiran. Mereka meyakini bahwa bayi belajar untuk tersenyum dengan meniru ibunya. Bayi biasanya tidak tersenyum setelah lahir sampai mereka berusia sekitar enam minggu.

Gambar: Janin tersenyum lebar hingga mirip tertawa
8Ilmuwan bukan satu-satunya yang terkejut oleh gambar ini, tetapi orang-orang biasa lebih terkejut. Foto-foto ini benar-benar membangkitkan dalam jiwa manusia rasa kagum yang luas biasa terhadap ciptaan Allah. Gambar-gambar tersebut dapat memicu emosi belas kasih orang tua dan gembira ketika melihat janin tersenyum, dan emosi belas kasih ketika anda melihat janin menangis.


Gambar: Janin menangis

Pada emosi ini, sebuah pertanyaan penting harus diajukan: jika janin masih dalam rahim ibunya dan ia tidak melihat cahaya lagi, tidak melihat ibunya menangis atau tersenyum, lalu siapa yang mengajarkan janin ini menangis dan tersenyum? Pertanyaan ini bahkan dilontarkan oleh para ilmuwan. Profesor Stuart Campbell mengatakan, “Ada apa di balik senyum itu? Tentu saja, saya tidak bisa menjawabnya. Tapi, muncul sudut dan tonjolan pipi ... aku pikir itu pasti ada indikasi kepuasan dalam sebuah lingkungan yang bebas stres. “
Tapi, pertanyaan itu dijawab oleh Al-Qur’an. Allah berfirman, “Dan bahwasanya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis.” (QS An-Najm [53]: 43) Allah adalah Dzat yang membuat embrio tersenyum dan menangis. Kemajuan ilmu pengetahuan tidak hanya sejalan dengan Quran, tetapi Al-Qur’an juga menjawab pertanyaan-pertanyaan yang membingungkan para ilmuwan.

Menangis dan Kehidupan

Ayat ini merupakan indikasi yang kuat kepada semua orang bahwa yang memberikan kita kemampuan untuk tertawa dan menangis adalah Allah (SWT). Tetapi, kalau kita bisa berpersepsi bahwa kemampuan tertawa merupakan nikmat dari Allah kepada kita, lalu bagaimana mungkin kemampuan menangis juga merupakan anugerah dari Tuhan?

Jika kita berpikir tentang satu momen dalam kehidupan kita, kita akan menemukan bahwa karunia terbesar Allah kepada kita menangis. Momen tersebut adalah adalah saat pertama dalam hidup kita, saat di mana kita tiba ke dunia ini. kalau kita tidak menangis pada saat ini, maka hidup kita berakhir.

Tersenyum, lega, selamat dan tepuk tangan tidak mulai ketika seorang anak dilahirkan - mereka mulai saat itu menangis. Tanpa menangis, ruangan menjadi semakin diam dan semakin cemas suasana hati, dan untuk alasan yang baik - menangis adalah tanda yang sangat positif yang baru, hidup sehat. Banyak faktor dan interaksi yang kompleks masuk ke produksi suara yang mengumumkan gembira, sehat melahirkan. [4]

Mengapa bayi harus menangis?

Pertukaran oksigen di paru-paru terjadi pada membran seperti balon kecil yang disebut alveoli. Ia melekat pada cabang-cabang bagian bronkial. Alveoli ini akan mengembang dan mengempis bersamaan dengan bayi menghisap dan membuang napasnya.


Gambar: Sebuah paru-paru pada dasarnya terdiri dari alveolus

Semua orang tahu bahwa meniup sebuah balon untuk pertama kalinya itu sangat sulit. Kenapa? Untuk satu hal, tekanan yang diberikan tidak menciptakan banyak ketegangan di dinding balon kecil untuk memulai proses peregangan yang diperlukan untuk inflasi.

Menurut hukum Laplace, tekanan distensi pada obyek berongga yang diregangkan adalah sama dengan tegangan dalam dinding dibagi oleh 2 jaringan kelengkungan utama dari obyek. Jika untuk mengatasi elastisitas balon besar dan memperluasnya itu dibutuhkan tekanan tertentu, maka untuk memperluas balon yang lebih kecil dibutuhkan lebih banyak tekanan. Semua ini menyulitkan bayi untuk mengambil napas pertama pada paru-paru yang terdiri dari balon-balon kecil! Alveoli paru-paru yang kempes pada janin harus dipompa dalam proses pernapasan. Jadi, cara tradisional dengan memukul bagian bawah bayi yang baru lahir itu bertujuan untuk membuat dirinya mampu menghasilkan napas pertama. Kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh bayi prematur dapat diatasi dengan memberi cairan surfaktan untuk melapisi alveoli sehingga memberi dindingnya memiliki ketegangan yang tepat.

Itulah karunia yang besar dari Allah (SWT) sehingga kita mampu tertawa dan menangis. “Dan bahwasanya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis.” (QS An-Najm [53]: 43)

Bayi Meninggal


STABILISASI NEONATUS PASCA TINDAKAN RESUSITASI LAHIR

PENDAHULUAN
Pada masa transisi dari janin ke neonatus beberapa bayi membutuhkan intervensi dan resusitasi. Kira-kira 10% bayi baru lahir memerlukan bantuan untuk memulai pernafasan saat lahir dan kurang lebih 1% memerlukan resusitasi yang ekstensif (lengkap) untuk kelangsungan hidupnya. Sebaliknya sekitar 90% bayi baru lahir mengalami transisi dari kehidupan intrauterin ke ekstrauterin tanpa masalah.1-6 Wall, dkk.,7 menyatakan bahwa dari sekitar 130–136 juta kelahiran di dunia, diperkirakan sekitar 5–10% kelahiran memerlukan intervensi saat lahir berupa stimulasi taktil atau pembersihan jalan nafas, sekitar 3–6% memerlukan langkah awal dan bantuan ventilasi, dan sekitar 1% membutuhkan resusitasi lanjut berupa intubasi, kompresi dada, dan obat-obatan.
Menurut World Health Organization (WHO) asfiksia perinatal merupakan masalah yang menyebabkan tingginya tingkat morbiditas dan mortalitas pada neonatus, diperkirakan insidensinya sekitar 4–9 juta kasus dari 130 juta kelahiran. Angka kematian bayi di Indonesia saat ini adalah sebesar 34 per 1000 kelahiran hidup, dengan sepertiga dari kematian bayi terjadi pada bulan pertama setelah kelahiran, dan 80% diantaranya terjadi pada minggu pertama dengan penyebab utama kematian diantaranya adalah gangguan pernafasan akut dan komplikasi perinatal. Dengan dilakukannya resusitasi neonatus dan perawatan pasca resusitasi oleh dokter dan tenaga kesehatan profesional diharapkan dapat membantu usaha pencapaian tujuan keempat dari Millenium Development Goals 2015, yaitu menurunkan angka kematian anak.8-11
Dari suatu studi di Swedia yang meneliti proses kelahiran selama periode 16 tahun, terdapat sebanyak 177 kasus neonatus yang mengalami asfiksia perinatal berat. Semua neonatus tersebut (100%) ditransfer ke NICU, sebanyak 48 (38%) neonatus yang lahir di rumah sakit tanpa fasilitas ventilator, ditransfer ke RS yang terdapat ventilator segera setelah lahir. Sejumlah 32 (18%) kasus  meninggal, dan sebanyak 16 (9%) kasus meninggal pada saat perawatan.12 Menurut Portman, dkk., dari 98 neonatus yang ditransfer ke unit spesialis setelah resusitasi, 61% membutuhkan bantuan ventilasi, 45% mengalami disfungsi renal, 27% mengalami fungsi hati yang abnormal, dan 53% mengalami tekanan darah yang rendah.7
Bayi yang membutuhkan resusitasi saat lahir memiliki risiko untuk mengalami perburukan kembali walaupun telah tercapai tanda vital yang normal. Ketika ventilasi dan sirkulasi yang adekuat telah tercapai, bayi harus dipantau atau ditransfer ke tempat yang dapat dilakukan monitoring penuh dan dapat dilakukan tindakan antisipasi, untuk mendapatkan pencegahan hipotermia, monitoring yang ketat dan pemeliharaan fungsi sistemik dan serebral.6,13 Selama transportasi, neonatus yang sakit kritis tersebut sangat rentan terkena rangsang yang berbahaya, seperti suara, goncangan, dan ketidakstabilan temperatur, dimana semua hal tersebut dapat menambah ketidakstabilan neonatus yang sedang berusaha mempertahankan homeostasis tubuhnya.14
Penelitian telah menunjukkan bahwa transportasi ekstra uterin berhubungan dengan meningkatnya morbiditas dan mortalitas.14-16 Faktor-faktor yang menentukan morbiditas dan mortalitas diantaranya asidosis, karbondioksida, tekanan darah, glukosa, dan suhu. Selama proses tranportasi neonatus, seluruh faktor tersebut sedapatnya harus dijaga dalam batas normal agar dapat meminimalisasi efek samping. Hingga saat ini, mengingat keterbatasan sumber daya manusia dan peralatan, maka proses transportasi neonatus masih merupakan tantangan.14 Pada referat ini akan dibahas mengenai batasan, patofisiologi, dan langkah stabilisasi neonatus pasca resusitasi lahir. 

BATASAN
Resusitasi secara harfiah adalah pengembalian kembali ke kehidupan. Resusitasi neonatus adalah usaha untuk mengakhiri asfiksia dengan memberikan oksigenasi yang adekuat.17 Sedangkan menurut Lee, dkk., resusitasi neonatus adalah serangkaian intervensi saat kelahiran untuk mengadakan usaha nafas dan sirkulasi yang adekuat.18
Menurut ILCOR dan AAP, untuk menentukan perlu atau tidaknya dilakukan resusitasi pada bayi baru lahir diantaranya adalah dengan menjawab empat pertanyaan berikut: Apakah bayi bernafas? Apakah bayi cukup bulan? Apakah air ketuban jernih? Apakah tonus otot baik? Apabila terdapat jawaban tidak pada salah satu pertanyaan di atas, maka dipertimbangkan dilakukan resusitasi.2,3,8
Stabilisasi adalah mengidentifikasi faktor-faktor, yang apabila tidak dikoreksi akan memperburuk keadaan dari neonatus pasca resusitasi. Faktor-faktor yang mempengaruhi stabilisasi tersebut diantaranya:19
-          Pemeliharaan ventilasi dan oksigenasi
-          Koreksi gangguan asam basa
-          Menangani kebocoran udara di paru
-          Pemantauan kardiovaskuler
-          Pemantauan suhu
-          Pemantauan metabolik
Pemeriksaan dan koreksi yang tepat dari faktor-faktor yang mempengaruhi stabilisasi tersebut akan mengurangi masalah yang lebih serius selama proses  transportasi.19

PATOFISIOLOGI
Interupsi dari aliran darah plasenta saat persalinan, dapat mempengaruhi fungsi serebral dan sistemik, khususnya apabila terjadi dalam jangka waktu yang lama. Hipoksia akut tersebut menyebabkan terjadinya ensefalopati neonatal, biasanya tidak hanya melibatkan kerusakan otak tapi juga organ lain, seperti gagal ginjal, jantung, hepar, komplikasi saluran respiratorik, acute bowel injury, dan kelainan hematologis. Oleh karena itu, penanganan pasca resusitasi harus terpusat pada penanganan disfungsi organ sistemik dan pencegahan kerusakan otak berkelanjutan.20-21
Asfiksia terjadi apabila terdapat kegagalan pertukaran gas di organ. Terdapat lima hal yang menyebabkan terjadinya asfiksia pada saat persalinan:22
1.      Interupsi aliran darah umbilikus
2.      Kegagalan pertukaran darah melalui plasenta (misalnya solutio plasenta)
3.      Perfusi plasenta sisi maternal yang inadekuat (misalnya hipotensi maternal yang berat)
4.      Kondisi janin yang tidak dapat mentoleransi hipoksia intermiten dan transien yang terjadi pada persalinan normal (misalnya pada janin yang anemia atau IUGR).
5.      Gagal mengembangkan paru dan memulai ventilasi dan perfusi paru yang seharusnya terjadi saat proses kelahiran.
Respon adaptif terhadap interupsi aliran darah plasenta adalah pemeliharaan perfusi darah ke otak, jantung dan adrenal. Ketika interupsi aliran darah plasenta berlangsung lama, mekanisme kompensasi tersebut tidak terjadi sehingga terjadi penurunan curah jantung dan tekanan darah, yang menyebabkan penurunan aliran darah ke otak dan organ sistemik, sehingga terjadi cedera iskemik.20,21,23
Pada tingkat seluler, konsekuensi dari terjadinya penurunan aliran oksigen adalah terjadinya glikolisis anaerob, penurunan senyawa fosfat yang berenergi tinggi (misalnya ATP dan fosfokreatin), asidosis intraseluler, dan akumulasi natrium dan kalsium di intraseluler. Konsekuensi yang kedua adalah terbentuknya radikal bebas, peningkatan glutamat ekstraseluler, akumulasi kalsium intraseluler, dan diproduksinya nitrit oksida, yang menyebabkan kematian mitokondria sel (Gambar 1). 20,21,23
Gambar 1. Mekanisme seluler pada cedera otak akibat hipoksia-iskemik
Sumber: Haider, 200620

LANGKAH-LANGKAH STABILISASI PASCA RESUSITASI
Penanganan pasca resusitasi pada neonatus yang mengalami asfiksia perinatal sangat kompleks dan membutuhkan monitoring yang ketat dan tindakan antisipasi yang cepat, karena bayi berisiko mengalami disfungsi multiorgan dan perubahan dalam kemampuan mempertahankan homeostasis fisiologis. Deteksi dan intervensi dini terhadap gangguan fungsi organ sangat mempengaruhi keluaran dan harus dilakukan di ruang perawatan intensif untuk mendapatkan perawatan dukungan, monitoring, dan evaluasi diagnostik yang lebih lanjut.5,12,24
Prinsip umum dari penanganan pasca resusitasi neonatus diantaranya melanjutkan dukungan kardiorespiratorik, koreksi hipoglikemia, asidosis metabolik, abnormalitas elektrolit, serta penanganan hipotensi.12,25 Dalam melaksanakan stabilisasi pasca resusitasi neonatus terdapat acuan dalam melakukan pemeriksaan dan stabilisasi, yaitu S.T.A.B.L.E, yang terdiri dari:
 S-SUGAR
Adalah langkah untuk menstabilkan kadar gula darah neonatus. Hipoglikemia adalah keadaan dimana kadar glukosa darah tidak dapat mencukupi kebutuhan tubuh. Hipoglikemia berhubungan dengan keluaran neurologis yang buruk. Percobaan pada hewan menunjukkan bahwa kejadian hipoglikemik yang bersamaan dengan hipoksik-iskemik menunjukkan daerah infark yang lebih besar dan menunjukkan angka keselamatan yang lebih rendah. Pada neonatus kadar glukosa darah harus dipertahankan pada kadar 50-110 mg/dl.26,27
Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk stabilisasi gula darah neonatus adalah:5,27,28
1.    Tidak memberikan makanan perenteral.
Kebanyakan neonatus yang perlu ditransportasi terlalu sakit untuk mentoleransi makanan peroral. Pada bayi sakit, sebaiknya menunda pemberian makanan peroral karena bayi yang sakit seringkali mengalami distres pernafasan, sehingga meningkatkan risiko terjadinya aspirasi isi lambung ke paru. Selain itu ketika bayi mengalami distres pernafasan mereka memiliki koordinasi menghisap, menelan dan bernafas yang buruk. Pada keadaan tertentu, misalnya infeksi dapat memperlambat pengosongan isi lambung karena ileus intestinal. Isi gaster dapat mengalami refluks ke esofagus dan teraspirasi ke paru. Pada bayi yang mengalami asfiksia, kadar oksigen dan tekanan darah yang rendah, sehingga aliran darah ke usus menurun sehingga meningkatkan risiko terjadinya jejas iskemik.
2.    Memberikan glukosa melalui jalur intravena.
Memberikan kebutuhan energi bagi bayi yang sakit melalui cairan intravena yang mengandung glukosa merupakan komponen penting dalam stabilisasi bayi, karena otak bayi memerlukan suplai glukosa yang cukup untuk berfungsi dengan normal. Cairan yang mengandung glukosa harus segera diberikan melalui jalur intravena kepada bayi sakit. Jalur intravena dapat diberikan di tangan, kaki atau kulit kepala. Apabila jalur perifer sulit didapatkan maka dapat digunakan jalur vena umbilikal untuk pemberian cairan dan obat-obatan.
3.    Beberapa neonatus berisiko tinggi mengalami hipoglikemia.
Bayi yang berisiko tinggi mengalami hipoglikemia diantaranya adalah:
-          Bayi prematur (usia kehamilan <37 minggu)
-          Bayi kecil untuk masa kehamilan, berat badan lahir rendah, dan IUGR
-          Bayi besar untuk masa kehamilan
-          Bayi dari ibu dengan diabetes mellitus
-          Bayi yang sakit
-          Bayi dari ibu yang mendapat obat hipoglikemik atau diinfus glukosa saat persalinan.
Pemeriksaan gula darah diindikasikan dilakukan saat usia 30 menit pada bayi dengan distres pernafasan, sepsis atau tidak dapat minum. Kemudian pemeriksaan gula darah dilanjutkan tiap satu jam. Pada bayi dengan faktor risiko yang asimtomatik dan dapat minum, pemeriksaan gula darah dilakukan pada usia 2 jam.5
Tanda bayi mengalami hipoglikemia diantaranya jitteriness, tremor, hipotermia, letargis, lemas, hipotonia, apnea atau takipnea, sianosis, malas menetek, muntah, menangis lemah atau high pitched, kejang bahkan henti jantung.5,27

T- TEMPERATURE
Hipotermia merupakan kondisi yang dapat dicegah dan sangat mempengaruhi morbiditas dan mortalitas, khususnya pada bayi prematur. Maka, usaha untuk mempertahankan suhu normal bayi dan pencegahan hipotermia selama stabilisasi sangatlah penting.27,29
Bayi yang berisiko tinggi mengalami hipotermia adalah:27
1.    Bayi prematur, berat badan rendah (khususnya berat badan kurang dari 1500 gram).
2.    Bayi kecil untuk masa kehamilan
3.    Bayi yang mengalami resusitasi yang lama
4.    Bayi yang sakit berat dengan masalah infeksi, jantung, neurologis, endokrin dan bedah.
5.    Bayi yang hipotonik akibat sedatif, analgesik, atau anestesi.  
Konsep utama dalam pencegahan hipotermi pada bayi pasca resusitasi adalah sebagai berikut: 27
1.    Pemeliharaan suhu badan normal harus diprioritaskan baik pada bayi sakit maupun sehat.
Untuk bayi sehat dapat dilakukan dengan menggunakan selimut hangat, menjauhkan kain basah, meletakkan anak di dada ibu (skin to skin contact), menggunakan topi dan pakaian. Pada bayi sakit biasanya bayi tidak menggunakan pakaian dan diletakkan di atas radiant warmer untuk memudahkan observasi dan tindakan. Selama resusitasi dan stabilisasi, risiko terjadinya stres dingin dan hipotermia sangat meningkat, sehingga usaha pencegahan hipotermia harus ditingkatkan.  
2.    Bayi prematur dan berat badan rendah sangat rentan mengalami hipotermia.
Bayi masih memiliki kesulitan dalam mengatur keseimbangan antara produksi dan kehilangan panas, terutama pada bayi prematur dan bayi kecil masa kehamilan. Hal ini disebabkan karena perbandingan antara luas permukaan dan massa tubuh yang lebih besar, kulit imatur yang lebih tipis, dan lemak coklat yang lebih sedikit. Masalah ini lebih berisiko pada bayi dengan berat <1500 gram. Apabila kehilangan panas tidak dicegah, maka suhu tubuh akan menurun dengan sangat cepat.
3.    Bayi yang dilakukan resusitasi lama berisiko tinggi mengalami hipotermia.

Pada neonatus proses kehilangan panas dapat melalui beberapa mekanisme, antara lain:5,27,29,31
1.    Konduksi
Konduksi adalah proses kehilangan panas melalui kontak benda padat. Misalnya kontak antara tubuh bayi dengan alas atau timbangan. Untuk mengurangi risiko kehilangan panas secara konduksi dapat dilakukan dengan cara menghangatkan alat-alat yang akan bersentuhan dengan bayi, misalnya alas, stetoskop, handuk, tangan pemeriksa.
2.    Konveksi
Konveksi adalah proses kehilangan panas melalui kontak dengan aliran udara, misalnya aliran udara dari jendela, pintu, kipas angin, AC. Untuk mengurangi kehilangan panas secara konveksi dapat dilakukan dengan cara menaikkan suhu ruangan menjadi 25-280C (rekomendasi WHO), melapisi tubuh bayi prematur (berat <1500 gram) dengan plastik polietilen dari dagu hingga kaki, serta mentransfer bayi dengan menggunakan inkubator tertutup yang telah dihangatkan terlebih dahulu.
3.    Evaporasi
Evaporasi adalah proses kehilangan panas melalui penguapan. Standar internasional merekomendasikan untuk segera mengeringkan bayi dengan handuk hangat setelah lahir untuk mengurangi kehilangan panas secara evaporasi, lapisi permukaan tubuh bayi prematur dengan plastik polietilen untuk mencegah kehilangan panas secara evaporasi dan konveksi, hangatkan suhu ruangan dan kurangi adanya turbulensi udara yang melewati bayi.
4.    Radiasi
Radiasi adalah proses kehilangan panas antara dua benda padat yang tidak bersentuhan. Proses kehilangan panas melalui radiasi dapat dikurangi dengan cara mempertahankan kehangatan suhu ruangan dan menjauhkan bayi dari jendela terbuka, atau dengan meletakkan bayi di dalam inkubator.
Stres dingin yang berkepanjangan menyebabkan meningkatnya konsumsi oksigen dan penggunaan glukosa yang abnormal, sehingga dapat menyebabkan terjadinya hipoglikemia, hipoksemia dan asidosis. 28,32,33
Pada bayi yang mengalami hipotermia, bayi harus dihangatkan sambil memonitor ketat tanda vital, kesadaran, dan status asam basa. Kecepatan dalam menghangatkan suhu tubuh harus diatur sesuai dengan stabilitas dan toleransi bayi.27

A-AIRWAY
Sebagian besar masalah neonatus yang ditransfer dari NICU adalah distres pernafasan. Pada keadaan tertentu, gagal nafas dapat dicegah dengan memberikan dukungan respiratorik sesuai dengan kebutuhan bayi, misalnya pemberian oksigen melalui nasal kanul, ventilasi tekanan positif, intubasi endotrakeal, sampai bantuan ventilator.27
Evaluasi kondisi bayi sesering mungkin dan catat hasil observasi. Pada beberapa keadaan membutuhkan penilaian ulang tiap beberapa menit, sedangkan pada keadaan yang lebih ringan dapat dinilai ulang tiap 1–3 jam. Hal yang harus dievaluasi dan dicatat:5,27
1.    Laju nafas
Nilai normal laju nafas neonatus adalah 40–60 kali/menit. Laju nafas >60 kali/menit (takipnea) dapat disebabkan karena berbagai hal, dapat berhubungan dengan kelainan di saluran respiratorik atau dari tempat lain. Laju nafas <40 kali/menit dapat menandakan bahwa bayi mulai kelelahan, atau sekunder karena cedera otak (hipoksik iskemik-ensefalopati, edema otak atau perdarahan intrakranial), obat-obatan (opioid), atau syok.
2.    Usaha nafas
Selain takipnea, tanda distres pernafasan lain diantaranya:
a.    Retraksi, dapat dilihat didaerah suprasternal, substernal, interkostal, subkostal.
b.    Grunting, pernafasan cuping hidung
c.    Apnea, nafas megap-megap, atau periodic breathing.
3.    Kebutuhan oksigen
Apabila bayi mengalami sianosis di udara ruangan dan distres pernafasan ringan atau sedang, maka oksigen diberikan melalui hidung. Pada keadaan bayi mengalami distres pernafasan berat, dapat diberikan tindakan yang lebih agresif seperti Continous Positive Airway Pressure (CPAP), atau intubasi endotrakeal.
4.    Saturasi oksigen
Saturasi oksigen harus dipertahankan agar di atas 90 %.
5.    Analisis gas darah
Evaluasi dan interpretasi gas darah penting untuk menilai derajat distres pernafasan yang dialami oleh bayi.

Dalam menentukan derajat distres pernafasan, penting untuk menilai laju pernafasan, usaha nafas, kebutuhan oksigen, saturasi oksigen, rontgen dada dan analisis gas darah. Berikut merupakan penilaian derajat distres pernafasan pada neonatus: 27
a.    Ringan: nafas cepat tanpa membutuhkan oksigen tambahan, tanpa atau terdapat tanda distres minimal.
b.     Sedang: sianotik pada suhu kamar, terdapat tanda distres pernafasan dan analisis gas darah yang abnormal.
c.    Berat: sianosis sentral, berusaha kuat untuk bernafas, dan analisis gas darah yang abnormal.
Progresivitas distres pernafasan dari ringan, sedang menjadi berat dapat terjadi dengan cepat, oleh karena itu pemantauan yang kontinyu dibutuhkan sehingga penyediaan bantuan nafas dapat segera diberikan.27

B- Blood pressure
Curah jantung yang mencukupi diperlukan untuk mempertahankan sirkulasi. Cara yang terbaik untuk mempertahankan sirkulasi adalah dengan memberikan cairan dan elektrolit yang adekuat.5,27 Pada bayi sakit berat harus dipantau tanda-tanda syok. Syok adalah keadaan dimana terjadi perfusi dan pengiriman oksigen ke organ vital yang inadekuat atau suatu keadaan yang kompleks dari disfungsi sirkulasi yang berakibat terganggunya suplai oksigen dan nutrien untuk memenuhi kebutuhan jaringan. Kegagalan dalam mengenali dan menangani syok dapat berakibat gagal organ multipel dan kematian pada bayi, oleh karena itu penanganan syok harus dilakukan secara agresif.27
Bayi yang mengalami syok dapat memiliki tanda-tanda berikut ini: 5,27,28
1.        Usaha nafas
Takipnea, retraksi, pernafasan cuping hidung, grunting, apnea, gasping.
2.        Nadi
Pada keadaan syok denyut nadi dapat melemah atau tidak teraba.
3.        Perfusi perifer
Perfusi yang buruk akibat vasokonstriksi dan menurunnya curah jantung memanjangnya waktu pengisian kapiler (>3 detik), mottling dan kulit teraba dingin. Tanda perfusi yang adekuat diantaranya adalah waktu pengisian kapiler yang cepat, warna tidak sianosis atau pucat, denyut nadi yang kuat, output urin yang adekuat dan kesadaran yang baik.


4.        Warna
Kulit bayi tampak sianosis atau pucat. Oksigenasi dan saturasi harus dievaluasi secara berkala. Pemeriksaan gas darah juga dapat dilakukan untuk mengetahui adanya asidosis respiratorik atau metabolik.
5.        Frekuensi jantung
Frekuensi jantung normal adalah 120–160 kali/menit, namun dapat bervariasi sekitar 80–200 kali/menit tergantung dari aktivitas bayi. Pada keadaan syok, denyut jantung dapat berupa bradikardia (<100 kali/menit) yang disertai dengan adanya tanda perfusi yang buruk, atau takikardia (>180 kali/menit).
6.        Jantung
Evaluasi adanya murmur dan pembesaran jantung pada rontgen dada.
7.        Tekanan darah
Tekanan darah saat syok dapat normal atau hipotensi. Hipotensi merupakan tanda terakhir dari dekompensasi jantung. Hal lain yang harus dievaluasi adalah tekanan nadi. Nilai normal tekanan nadi  pada bayi cukup bulan adalah 25–30 mmHg, sedangkan pada bayi kurang bulan nilai normalnya adalah 15–25 mmHg. Tekanan nadi yang sempit menunjukkan vasokonstriksi, gagal jantung atau curah jantung yang rendah. Sedangkan tekanan nadi yang lebar dapat terjadi pada duktus arteriosus persisten atau malformasi arterivena.27

L-Laboratory studies
Pemantauan elektrolit direkomendasikan pada neonatus yang mengalami kejang atau usia >24 jam dan dalam keadaan tidak bugar. Elektrolit yang harus diperiksa adalah kadar natrium, kalium dan kalsium. Selain itu perlu dilakukan juga pemeriksaan tanda infeksi, karena sistem imun neonatus masih imatur dan berisiko tinggi untuk mengalami infeksi. Tanda klinis sepsis diantaranya distres pernafasan, perfusi kulit yang abnormal, suhu yang tidak stabil, denyut jantung dan tekanan darah yang abnormal, serta intolerasi terhadap minum. Apabila dicurigai adanya sepsis berdasarkan klinis dan riwayat maternal, harus dilakukan pemeriksaan kultur darah dan darah lengkap bila memungkinkan. Pemberian antibiotik intravena tidak boleh ditunda apabila pemeriksaan kultur darah tidak dapat dilakukan. Pada bayi yang sakit berat atau pada saat sebelum transportasi, antibiotik harus diberikan sampai kemungkinan infeksi sudah tersingkirkan.10,27,28,34

Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan: 27
1.    Sebelum transportasi
Pemeriksaan berikut (4-B) harus dilakukan sebelum dilakukan transportasi:
-            Blood count (pemeriksaan darah rutin)
-            Blood culture (kultur darah)
-            Blood glucose (kadar glukosa darah)
-            Blood gas (analisis gas darah)
2.    Setelah transportasi
Pemeriksaan laboratorium setelah transportasi tergantung dari riwayat, faktor risiko, dan gejala klinis dari bayi. Pemeriksaan yang dapat dilakukan diantaranya pemeriksaan C-reactive protein (CRP), elektrolit (natrium, kalium, kalsium), fungsi ginjal (ureum, kreatinin), fungsi hati (SGOT, SGPT, bilirubin, pT, aPTT, fibrinogen, D-dimer).27,28

E- Emotional support
Keluarga dari bayi yang mengalami krisis biasanya akan mengalami rasa bersalah, marah, tidak percaya, merasa gagal, tidak berdaya, takut dan depresi.27,35 Orang tua dari bayi akan mengalami beberapa tahapan emosional dalam menghadapi keadaan bayinya, yaitu:35
1.    Terkejut. Pada masa ini pikiran orang tua dipenuhi dengan berbagai pertanyaan, seperti bagaimana nasib bayi selanjutnya? Bagaimana kehidupan mereka selanjutnya? Sehingga orang tua akan sulit berpikir dengan jernih, dan perlu mendapatkan penjelasan mengenai kondisi bayinya berulang kali.
2.    Menyangkal. Pada masa ini orang tua tidak mempercayai kenyataan yang terjadi. Orang tua cenderung mencari bukti-bukti lain yang dapat membuktikan bahwa keadaan tersebut tidak benar.
3.    Berkabung, sedih dan takut. Pada masa ini orang tua sudah mulai menerima bahwa keadaan anaknya tidak seperti yang diharapkan, mulai merasa sedih dengan beban yang harus mereka pikul, dan takut bahwa bayi mereka akan meninggal atau menjadi tidak normal.
4.    Marah dan merasa bersalah. Pada tahap selanjutnya orang tua akan merasa marah karena bayi mereka sakit, marah mengapa hal tersebut terjadi pada mereka. Jadi pada tahap ini, karena mereka tidak bisa marah kepada bayinya, mereka cenderung akan marah kepada orang-orang yang ada di sekitarnya.
5.    Tahap ekuilibrium dan terorganisir
Pada masa ini orang tua mulai mengerti mengenai kondisi bayinya dan mulai berinteraksi dengannya.
Tahapan-tahapan tersebut penting untuk diketahui agar dapat lebih mengerti mengenai kondisi mereka dan dapat memberikan dukungan emosi, serta menawarkan bantuan untuk membantu keluarga melewati masa kritisnya. Keluarga sedapat mungkin memperoleh informasi secara kontinyu mengenai perkembangan keadaan anaknya. Kontak sedini mungkin antara orang tua dengan anaknya sangatlah penting.27,34
Dukungan emosi yang diberikan kepada keluarga dapat diberikan sebelum, pada saat bahkan sesudah bayi ditransfer ke tempat yang lebih intensif. Setelah bayi dilakukan resusitasi dan akan ditransfer ke tempat yang lebih intensif, orang tua bayi harus diperbolehkan untuk melihat dan menyentuh bayi mereka dahulu. Apabila tidak memungkinkan, maka sebelum dipindahkan, bayi disinggahkan terlebih dahulu ke kamar ibu untuk mempertemukan mereka secara singkat. Sebaiknya keluarga diperbolehkan untuk memotret atau merekam bayi. Hal ini dapat membantu menenangkan ibu yang akan berpisah dengan bayinya.27
 Pada saat akan ditransfer, orang tua harus mendapatkan penjelasan kembali mengenai kondisi anak mereka. Penjelasan harus singkat dan mudah dimengerti agar orang tua dapat  mengerti. Orang tua juga harus diberikan kesempatan untuk bertanya apabila terdapat hal yang tidak dimengerti. Penjelasan mengenai kondisi anak pertama kali harus diberikan kepada orang tua bayi, tidak diperkenankan untuk memberitahukan mengenai kondisi anak kepada orang lain, tanpa seijin orang tua. Setelah bayi ditransfer ke ruang intensif, orang tua tetap harus mendapatkan dukungan. Salah satunya adalah dengan cara membiarkan orang tua menengok bayinya serta membiarkan mereka mengetahui dan memantau terus kondisi bayinya.27

RANGKUMAN
Penanganan pasca resusitasi lahir yang adekuat sangat penting untuk dilakukan karena deteksi dan intervensi dini terhadap gangguan fungsi organ yang diakibatkan oleh proses asfiksia akan sangat mempengaruhi keluaran dan harus dilakukan di ruang perawatan intensif agar dapat dilakukan monitoring yang ketat dan evaluasi diagnostik lebih lanjut.
Prinsip umum dari penanganan pasca resusitasi neonatus diantaranya adalah pemantauan gula darah (sugar), suhu (temperature), jalan nafas (airway), tekanan darah (blood pressure), pemeriksaan laboratorium (laboratories) dan dukungan emosional kepada keluarga (emotional support).