Kamis, 06 Agustus 2009

Cinta Yang Membelenggu


Setiap detik, jengkal dan langkah selalu menghadirkan romantisme di hati sosok berbalut kain biru. Seringkali romantisme itu berubah dalam bentuknya yang beragam. Bertransformasi sehingga tak bisa terbendung oleh semua sekat yang dia buat. Romantisme itu seringkali datang di waktu-waktu luangnya. Menempel di setiap sudut dinding yang menambah sempit kamar kost-kostannya. Lalu gejolak romantisme itu diredakannya lewat sms-sms yang dikirimkan kepadaku.


Mungkin umurnya yang sudah berkepala dua juga ikut mempengaruhinya. Sebuah fitrah yang memang tidak bisa di adili sebagai sebuah kesalahan tingkat tinggi. Tertawan pada sosok bidadari yang turun ke bumi ( meminjam bahasa SMSnya). Menyukai lawan jenis. Awalnya dia mengira dengan mencintai seorang wanita yang baik dan sholehah itu bisa menjadi batu loncatan untuk bisa mengantarkannya kepada cinta-Nya yang hakiki. Kepada sang Pemilik Cinta, Allah swt. Namun, sepertinya sekarang menjadi bumerang yang seringkali malah menggelisahkan dan melukai. Hari-harinya serasa di belenggu. Sujud-sujudnya tak lagi khusyu, Lantunan tilawahnya tak ”semerdu” dulu, dan tubuhnya semakin kuru...


Untunglah jarak berpihak kepadanya sehingga romantisme itu tak meledak di tempat yang salah. Menghancurkan jati diri yang dibangunnya bertahun-tahun. Maka segala akses komunikasi dengan bidadari itu pun sengaja diputusnya demi menjaga diri dan juga kesucian hati wanita itu. Membiarkan wanita itu menemukan jati dirinya sendiri tanpa campur tangannya. Begitulah dia memaknai cinta yang tak ingin mengekang dan membelenggu orang yang dicintainya. Katanya, wanita itu tak perlu tahu untuk saat ini, bahwa ada lelaki yang begitu mencintainya karena belum tentu dia adalah jodohnya. Kerahasiaan menjaga perasaannya selama ini membuatku kagum dan mengacungkan jempol untuknya. Salut. Meski mungkin cara menjaga perasaannya tak sebaik Ali bin Abi Thalib ketika mencintai Fatimah putri Rasululloh saw. Keterjagaan dari pengetahuan orang lain, yah…kecuali hanya Allah yang tahu.


Pelan dan pasti, kekhawatiran itu tetap akan datang menyapanya. Aku tahu itu. Ketika ada lelaki lain yang mungkin dekat dengan wanita yang dicintainya. Atau ketika umur kian bertambah tapi hati tak juga siap untuk menjemputnya. Apalagi kebanyakan wanita menikah di usia 22 sampai 25 tahun. Ditambah lagi dengan keadaan keluarganya yang membuatnya sulit untuk segera menggenapkan separuh agamanya itu. Meski sudah ku dorong dengan pesan dari ustad tentang hadist yang menyebutkan bahwa Allah akan menolong pemuda yang menikah karena ingin menjaga kehormatan dirinya, membukakan pintu-pintu rejeki yang tak diduga-duga. Seperti yang kudengar dari sahabat-sahabatku yang lain yang sudah menikah. Namun, tetap saja dia bimbang. Dan akupun bisa paham (soalnya aku juga belum menikah sih he he he).


Kini… aku hanya bisa memberinya saran untuk terus mempersiapkan diri. Menambah hafalan, membaguskan bacaan Al Qur’an, dan memperdalam ilmu agama lainnya selain mencari rejeki untuk menopang kehidupan rumah tangganya nanti (ngutip dari ustad juga). Karena dia akan menjadi imam untuk keluarganya, menjadi suami bagi istrinya dan menjadi ayah bagi anak-anakanya. Untuk saat ini cukuplah dia mengendalikan perasaannya kepada wanita itu agar menjadi wajar. Tak berlebihan sehingga tak ada kerinduan-kerinduan yang salah alamat. Tak ada SMS bertabur romantisme bermodus tausiyah ataupun penyemangat, apalagi sampai apel malam. Perasaannya terahasiakan dari wanita itu untuk menjaga kesucian hati dan perasaan masing-masing. Tidak mudah memang. Namun, itulah jalan yang dipilihnya (aku pun mencoba mengikuti jalannya).


Lalu pada saatnya nanti jika waktu masih berpihak padanya, dia bisa menjadikan wanita itu menjadi rembulan yang menghiasi langit hatinya. Dihalalkan untuknya. Menyambut dia di depan pintu dengan senyuman ketika pulang kerja dan menjaga harta dan kehormatannya ketika dia pergi. Mengingatkannya ketika salah dan mendidik anak-anaknya nanti dengan bimbingan Al Qur’an dan hadist. Ahh…siapa lelaki yang tak mau mendapat wanita sebaik itu? Mau ??? (kayak iklan GSM aja). Jadi, mari baik dulu yuuks...


Pesan sponsor : Ayo yang belum nikah rame-rame memperbaiki diri.
Kalau yang sudah nikah. Mmm…(berpikir keras) tetap istiqomah jaga bahtera rumah tangganya ya...!! Awas ya kalau selingkuh ! mencoba melirik Bidadari yang bukan haknya..!!! (lho kok marah to Don?, hah…ada-ada saja kamu).


*Terinspirasi dari kisah seorang sahabat dan lagu rembulan di langit hatiku yang dinyanyikan Dani Setiawan


Bila kau sedang menunggu seseorang untuk menjalani kehidupan menuju Ridho-Nya,
fashbirii bishobron jamiil (maka bersabarlah dengan keindahan),
Demi Allah.….dia tidak akan datang karena kecantikan ataupun rupa,kepintaran ataupun kekayaanmu,
Tapi Allah -lah yang menggerakkan kakinya untuk datang kepadamu,
Janganlah tergesa untuk mengekspresikan cinta padanya sebelum Allah swt. mengizinkan,
Belum tentu yang kau cintai adalah yang terbaik untukmu,
Siapakah yang lebih mengetahui melainkan Allah swt. ???
Innallaha ‘alimul hakim (sesungguhnya Allah swt. Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana)
Simpanlah segala bentuk ungkapan cinta dalam hati rapat-rapat,
Allah swt. akan menjawabnya dengan lebih indah disaat yang tepat”

Reaksi:

1 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Di Tanggapi