Selasa, 20 Oktober 2009

APA YANG KITA TANAM, APA YANG KITA TUAI


Alhamdulillah, akhirnya bisa jumpa kembali sengan sahabat-sahabat Facebooker. Saya akan berbagi sedikit kisah perjalanan kemarin, setelah seharian saya bersama dua sahabat dari tanah seberang menyusuri setiap sudut Kota Solo dibawah hamparan langit biru yang terik.

Perjalanan di mulai dari Laweyan, saat kami sholat dhuhur di masjid tertua Solo, Masjid Laweyan Solo. Inilah masjid yang meninggalkan banyak jejak perjuangan Syiar Islam dan sebagai tempat penempaan para tokoh pergerakan di awal-awal perjuangan dulu. Selepas sholat, kami melintasi museum Batik Solo untuk berkunjung melihat proses pembuatan Batik di salah satu rumah pengrajin batik. Dari sana, rupanya perut kami berteriak meminta haknya. Lalu kami lajukan kendaraan menuju tempat Bakso yang terkenal enak di Solo. Selepas itu, barulah kami berburu Batik. Setelah di rasa cukup, kami mampir sebentar untuk sholat Ashar di Masjid Agung Solo. Dan sore harinya, kami habiskan untuk bertemu dengan sahabat-sahabat yang lain di Taman Balai Kambang Solo untuk berdiskusi dan berbagi pengalaman.

Mungkin bagi sebagian besar sahabat yang tinggal di Kota Solo, tempat-tempat tersebut adalah tempat yang biasa. Namun bagi kami yang bukan asli Solo, tentunya jalan-jalan menyusuri setiap sudut Kota Solo adalah sebuah pengalaman dan pelajaran berharga. Seperti halnya bagiku, setiap perjalanan ada pelajaran.



Dalam perjalanan kali ini, kami menjumpai Bapak Polisi yang mungkin selama sepanjang hari ini beliau habiskan di perempatan jalan untuk mengatur arus lalu lintas. Seorang Ibu berpakaian Guru yang akan menyeberang dengan sepedanya. Di Masjid Laweyan kami berjumpa dengan Bapak penjaga masjid yang sudah hampir 28 tahun mengabdi di sana sambil membersihkan debu yang dibawa angin kering musim kemarau. Di rumah Batik, kami mengobrol dengan Bapak pengrajin batik yang menjelaskan tentang batik dan beliau bisa menyelesaikan 3 lembar kain batik dalam satu hari. Di warung bakso, kami mendapatkan senyum ramah pelayan yang bergantian waktu istirahatnya, dan hanya makan semangkok bakso. Di depan warung bakso, kami jumpai Bapak tukang Parkir yang dengan wajah tanpa mimik merapikan kendaraan kami di tengah panas matahari yang membakar kulit. Lalu di sepanjang jalan masuk ke Masjid Agung, kami jumpai Bapak pedagang mainan anak, Ibu penjual minuman, Bapak Tukang Becak yang terlelap tidur di antara panggilan Adzan, Ibu yang menengadahkan tangannya di salah satu sisi gerbang masjid, Bapak berpakaian rapi yang baru saja keluar dari mobil mewah di parkiran pelataran masjid, Bapak penjual buku keliling, dan masih banyak lagi orang-orang yang kami temui.

Hhmmm...saya tidak akan menceritakan profesi ataupun pekerjaan setiap orang yang saya jumpai. Saya hanya teringat dengan sabda Rasululloh saw ketika berjumpa dengan mereka selama perjalanan ini

” Seorang Muslim yang menanam atau menabur benih, lalu ada sebagian yang dimakan oleh burung atau manusia ataupun oleh binatang, niscaya semua itu akan menjadi sedekah baginya.” ( HR Bukhari, Muslim dan Ahmad )

Apapun profesi atau pekerjaan kita, entah nasib kita lebih baik dari mereka yang tidak memiliki pekerjaan ataupun lebih baik dari orang yang bekerja namun tidak berpenghasilan cukup.

Sebuah pertanyaan untuk di renungkan, sebenarnya untuk apa kita bekerja?
Untuk apa kita menjadi guru ?
Untuk apa kita menjadi kaya ?
Untuk apa kita menjadi pintar ?

Mungkin kita berpikir kalau kita bekerja adalah untuk diri kita dan keluarga kita, untuk mencukupi kebutuhan hidup kita dan keluarga kita. Kita akan merasa puas apabila kita mendapatkan hasil yang sepadan dengan apa yang kita kerjakan, termasuk materi. Memang terkadang materi menjadi tolok ukur kita dikatakan berhasil atau sukses dalam bekerja. Tercukupinya semua kebutuhan diri dan keluarga adalah kesuksesan.

Namun apakah kita pernah berfikir apakah pekerjaan kita bermanfaat bagi orang lain?apakah materi yang kita dapatkan juga bermanfaat bagi orang lain?atau bahkan bermanfaat bagi makhluk lain?

Kutipan hadist diatas mengingatkanku tentang interaksi sosial dan manfaat sosial. Dalam bekerja kita bukan semata-mata berorientasi pada kesuksesan pribadi tetapi bagaimana kita juga bisa membawa kesuksesan lingkungan sekitar kita. Itulah yang seharusnya kita lakukan.

Terkadang terpikirkan, percuma saja kalau harta kita banyak namun tetangga di samping rumah kita kelaparan. Rumah kita mewah namun tetangga kita kesulitan dalam menyekolahkan anak-anaknya. Mobil kita mewah namun tidak mau membawa tetangga kita yang sakit dan tidak mampu berobat ke rumah sakit karena terkendala biaya. Lalu apa arti kesuksesan kita?

Akhirnya, menjadi jelas bagi kita bahwa hidup ini harus kita jalani semata-mata untuk mengabdi kepada Allah SWT (QS 51: 56) yang salah satunya terwujud dalam bentuk melakukan kebaikan dan kemanfaatan. Dan masing-masing orang harus berusaha melakukan kebaikan sebanyak mungkin sebagai perwujudan kehidupan yang baik di dunia dan ini pula yang akan menjadi bekal bagi manusia dalam menjalani kehidupannya di akhirat kelak. Sahabat, marilah memulai menjadi manusia yang bermanfaat dimulai dari lingkungan sekitar kita, dan semoga itulah kesuksesan yang sebenarnya.

Wallahu a’lam


Semoga bermanfaat. Jazakumullah Khair




Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Di Tanggapi