Senin, 21 Juni 2010

Kitalah Simbol Dakwah Itu

Kalau kita mengikat diri dengan gaya yang berbeda, kalau kita berusaha menyelesaikan semua urusan dan tanggung jawab kita dengan sempurna, kalau kita pada akhirnya tegas menolak segala bentuk kebathilan yang ditawarkan manusia, kalau kita teguh dan tegas dengan segala macam bentuk prinsip yang Rasululloh ajarkan, semua itu bukan semata-mata karena kita sebagai seorang muslim yang berusaha taat. Tetapi juga dan terutama karena kita adalah simbol keimanan tersebut.


Jangan paksa orang mengenal kita dengan interaksi yang panjang. Jangan paksa orang mengkhususkan waktu untuk kita. Jangan paksa orang membaca karakter dan tulisan kita. Jangan paksa orang untuk tekun mendengar kata-kata kita. Karena mereka sudah mempunyai segudang kesibukan dan tanggung jawab. Karena persepsi mereka sudah terpola dengan lingkungan. Karena bukan kebutuhan mereka mengenal kita. Kitalah yang membutuhkan mereka.

Selalu, dalam sebuah peristiwa besar hanya sedikit orang yang menggerakkannya. Merekalah pelaku sejarah. Merekalah yang sadar akan skenario cerita. Merekalah yang mampu melihat akhir dari sebuah proses. Maka merekalah yang memutarbalikkan biduk kehidupan. Dan kita adalah bagian mereka.

Kita berbeda bukan karena kita lebih mulia. Kita berbeda bukan karena kita lebih utama. Kita berbeda karena perbedaan tersebut adalah pilihan, dan kita telah memilih. Kita memilih untuk bersama keimanan. Kita memilih untuk berhimpun dalam ketaatan. Kita memilih untuk bergerak dalam aturan yang sudah di gariskan. Kita memilih Islam untuk kehidupan.

Inilah pilihan yang telah kita proklamirkan menjelang kelahiran. Ketika Allah SWT mengangkat perjanjian dengan kita, “Apakah Aku ini adalah Rabb kalian ?”, dan kita pun berikrar, “ Ya… Engkau adalah Rabb kami”. Kita membentangkan peta kehidupan. Sepenuh hati menerima ketetapan Allah dan Rasulullah, kemudian melantunkan senandung …

Allah Tujuan kami

Muhammad Tauladan kami

Al Qur’an Petunjuk kami

Jihad Jalan hidup kami

Dan Syahid di Jalan Allah, Cita tertingi kami



Maka sejak itulah kita berbeda. Sejak itulah kita tumbuhkan cinta dan perhatian. Sejak itulah kita hidupkan hati dengan kepekaannya. Sejak itulah kita pupuk kerinduan akan ketaatan. Sejak itulah kita memendam keinginan besar, mengajak sebanyak mungkin orang untuk bersama dalam ketaatan. Sejak itulah … Kita adalah apa yang menjadi nilai diri kita.

Imam Syahid Hasan Al Banna menegaskan kepada kita semua, :

” Wahai Ikhwan al Mujahiddin, saya ingin kita benar-benar memahami dimanakah kedudukan kita di tengah-tengah penduduk bumi zaman ini ? dimanakah posisi dakwah kita di antara dakwah yang ada ? Jamah apakah jamaah kita ini ? Dan untuk tujuan apakah Allah menghimpun, menyatukan hati kita, dan pandangan kita, serta menampilkan fikrah kita di saat dunia di landa situasi krisis dan merindukan kedamaian dan keselamatan ?

Ingatlah baik-baik wahai Ikhwan !

Kita adalah Ghurobba, Orang yang dianggap asing, yang mengadakan perbaikan di tengah-tengah kerusakan manusia. Kita adalah kekuatan baru yang dikehendaki oleh Allah untuk membedakan yang Haq dan yang Bathil disaat pembeda diantara keduanya telah kabur.. kita adalah da’i-da’i Islam, pewaris Risalah Al Qur’an. Penghubung antara langit dan bumi, pewaris Rasulullah Muhammad saw dan para khalifah dari generasi shahabat.

Dengan inilah dakwah kita lebih unggul daripada dakwah-dakwah yang lain, dan tujuan kita lebih mulia daripada tujuan yang lain. Kita bersandar pada tiang yang tegar dan berpegang pada tali yang kokoh yang tidak mungkin putus. Kita telah mengambil cahaya di saat manusia dalam kegelapan, tersesat, dan menyimpang dari jalan kebenaran”.

Tidak satupun diantara kita yang bermaksud memburu kesenangan duniawi dibawah naungan bendera dakwah. Kita mengorbankan jiwa dan harta tidak lain hanya bersandar kepada Allah dengan mengharap pertolongan dan pahala dariNya. Kita meyakini dan pahala dariNya. Kita meyakini sepenuh hati, “Cukuplah Allah sebagai pelindung dan cukuplah Allah sebagai penolong”. (QS. 4: 45)

Marilah kembali kita sadari semua itu. Biarlah keletihan, himpitan kehidupan, godaan kesenangan, mengalir keluar bersama desah nafas kesadaran kita akan kemuliaan tawaran yang Allah sediakan. Marilah menjemput semangat yang pernah berkobar, jika kini ia mulai melemah. Marilah bergegas meraih komitmen keimanan, jika kini ia terasa hilang. Sungguh, kafilah ini terus bergerak, tidak menunggu dan tidak terburu-buru.

Hari-hari kita selalu menjadi hari-hari pembuktian. Waktu-waktu kita selalu menjadi waktu-waktu pendeklamasian. Sikap hidup dan perilaku kita selalu menjadi pembenaran atas seluruh komitmen nilai, kata-kata yang terlantunkan, dan pemikiran yang tertuliskan.

Jika ideologi lain, pergerakan nilai yang lain, kekuatan dan keyakinan yang lain, memiliki simbol dengan lambang, bendera, dan warna-warni tertentu, maka kita adalah simbol itu sendiri. Setiap kader dakwah adalah simbol dakwah itu sendiri. Kitalah lambang, kitalah bendera, kitalah warna-warni, atas seluruh nilai yang kita serukan.

Kita tidak hanya kaya kata-kata, tidak hanya pandai berretorika, tidak hanya pandai menghujat keburukan, tidak hanya menyalahkan kebobrokandan semua bentuk pembeda atas kelalaian, tidak amanah, dan kesombongan. Kitalah pelaku sejarah. Kitalah amal, kitalah ishlah-perbaikan, kitalah amanah, dan kitalah kesopanan dan kasih sayang . inilah yang harus keluar dari setiap diri kita, setiap diri yang berusaha bergabung ke dalam barisan panjang kafilah pejuang.

Jika ideologi lain, pergerakan nilai lain, kekuatan dan keyakinan yang lain, menyapa ummat hanya pada saat-saat mereka membutuhkannya. Maka kita menyapa ummat sebanyak waktu yang kita miliki. Kita tidak mengenal ummat sebagai alat tujuan kita. Kebahagiaan mereka dalam ketaatan adalah kebahagiaan pergerakan kita. Itulah tujuan kita, “Sampai tidak ada lagi fitnah, dan semua ketaatan hanya milik Allah semata”.

Inilah jalan panjang perjuangan yang selalu kita perbaharui setiap saat. Yang hidup dan berkembang dalam diri kita. Yang mengarahkan emosi, kemauan, dan semangat hidup kita. Menjadi simbol-simbol kebangkitan, sembari menyerukan dan memperjuangkannya.

Sejak hari ini, hendaklah setiap ruh pejuang menyedarinya. Menjadikannya cermin terhadap kelemahan diri, kekerdilan hati, dan miskinnya ruh. Mengoreksi kelemahan, ketidakberdayaan, dan perasaan cepat puas. Mengevaluasi pengakuan sebagai bagian dari barisan pejuang. Untuk selanjutnya bangkit dan mengukir pembuktian. Semoga Allah melapangkan antara hati kita dengan komitmen ini, melapangkan komitmen tersebut dengan amal kita. untuk selanjutnya berkenan menjawab dan mengabulkan permohonan dan senandung perjuangan kita.

Jadi… inilah diri kita. Dimana tutur kata, sikap dan perilakunya adalah simbol dakwah yang diperjuangkan. Masyarakat dan ummat ini sedang menanti, kapankah kiranya akan hadir jiwa-jiwa yang jujur atas perkataan, sikap dan perbuatannya. Tinggallah kita, berusaha secepatnya hadir di tengah mereka, menjawab kerinduan dan pengharapannya.

llahu’alam…



Al Izzah edisi Maret 2004

Reaksi:

1 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Di Tanggapi