Sabtu, 05 Juni 2010

Maaf Bunda,,aku pergi (sebuah catatan seorang anak)

dari blog tetangga
http://ngerumpi.com/baca/2010/01/16/maaf-bunda-aku-pergi-sebuah-catatan-seorang-anak.html


Sabtu, 16 Jan '10 09:28

Tubuhku tak berhenti berputar. Dan aku tau aku membuatmu sangat tidak nyaman. Diantara kesibukanmu itu, kau harus menahan rasa yang campur aduk itu. Tapi kau tak memarahiku. Kau malah mengelusku. Maaf..

Kau mulai banyak berbincang denganku. Aku senang. Belum lagi alunan bacaan kitapmu, membuatku sangat nyaman disini. Kau mengajakku mengenal yang katamu Tuhan. Kau selalu mendoakan aku. Kau sangat menghargai kehadiranku. Rasanya ingin sekali aku segera melihatmu. Menyentuh tangan yang selalu mengelusku ini. Kau sangat menyayangiku, buktinya kau berjanji akan makan banyak dan bergizi walau aku tau itu bohong. Karena kau tak pernah bisa makan banyak, ditambah aku yang membuatmu harus mengeluarkan makanan yang masuk ketubuhmu itu. Akupun berjanji tidak akan nakal disini.

Sepertinya kau tak enak hati ya. Aku merasakannya disini. Kenapa? Maukan kau berbagi denganku. Ceritakanlah. Karena saat kau tak enak hati, akupun jadi ingin bergejolak. Ingin berontak. Tapi kau tak membaginya denganku. Aku sedih. Apa aku melakukan kesalahan? Tapi apa? Adakah sesuatu yang membuatmu marah? Biarkan aku tau semua, apa yang mengganggumu. Kau tetap tak menjawab. Malah tiba-tiba aku berguncang. Pasti kau menangis kan? Sudah jangan menangis, kau membuatku berguncang. Aku tak akan memaksamu bercerita lagi, tapi hentikan dulu tangismu.

Aku terkejut. Aku sangat merasa tak enak akhir-akhir ini. Kenapa ya. Kau kan selalu merawatku dengan baik. Tak mungkin aku kenapa-kenapa. Apalagi dengan doa yang selalu kau ucapkan pada Tuhanmu itu. Semakin lama aku makin merasa tak enak disini. Sepertinya kau memasukan barang-barang yang tidak aku kenal. Apa yang kau makan itu? Tubuhku serasa panas seperti terbakar. Tolong hentikan. Aku tidak kuat. Tapi tanganmu mengelusku. Katamu kau sedang sakit, ehmm apa yah kau menyebut penyakit itu, sulit ku ingat. Apa tidak ada cara lain selain memasukan barang-barang itu ke tubuhmu? Apa kau tak beritahu mereka ada aku disini? Kau memintaku bersabar. Baiklah,aku memaafkan mereka kali ini, karena kau yang meminta. Tapi makin lama barang-barang itu makin menyakitiku. Aku berusaha beritahu kau. Kau minta aku bertahan. Baiklah, aku akan bertahan walau aku makin melemah. Semoga kau cepat sembuh dari penyakit itu, biar barang-barang itu tidak perlu lagi mengenaiku.

Tiba-tiba aku mulai merasakan sakit yang amat sangat, aku menangis dan menggeliat keras. Aku sudah tidak bisa menahan lagi. Aku tidak kuat. Tubuhku mulai meluruh,sakit sekali. Kaupun tidak kalah menggeliat menahan sakit. Aaarrggh.. maaf, aku tidak kuasa lagi bertahan.

Kali ini aku yang mengucap doa pada Tuhanmu itu, doa yang biasa kau ucapkan untukku tiap saat. Aku ingin aku dan kau baik-baik saja. Tapi sepertinya Tuhanmu malah mengajakku pergi. Aku diminta memilih. Aku memilih meninggalkanmu disitu. Mungkin akan jauh lebih baik untuk kita. Biar aku tunggu kau disana. Aku akan baik-baik saja. Jangan takut, walau aku tak pernah sempat melihatmu tapi aku pasti mengenalimu.
Aku pamit. Maaf tak sempat menyentuh tanganmu. Tak sempat melihat wajahmu. Maaf..

Tulisan ini khusus dibuat untuk saudara perempuanku, Bunda.
Love u too..my Sista

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Di Tanggapi