Minggu, 08 November 2009

Catatan Kost Seorang Ikhwan


Pagi itu, seperti halnya pagi-pagi di akhir musim kemarau. Cerah, tanpa awan. Mataharipun dengan leluasa menghamburkan cahayanya. Dan burung-burung yang hinggap di pohon sawo kecik belakang kost masih asyik bercengkerama. Namun, ada satu sosok yang justru terdiam khusyuk dalam dengkurannya.

“ Akhi, sudah jam delapan. Antum gak ngajar hari ini ?”, saat kubuka pintu kamarnya segera saja sinar matahari mendahuluiku untuk hinggap disetiap sudut ruang tertutup tiga kali dua setengah meter ini dan menyapa seonggok jasad yang mendengkur . Aku berdiri di depan pintu.
“ Argh…tutup pintunya, silau..!!” runtuknya kesal. Aku hanya memandangnya dengan sebongkah rasa kecewa. Untuk yang kesekian kali.

Bukan maksudku untuk mendzolimi dengan merebut mimpi indahnya selepas subuh. Hanya sekedar mengingatkan, bahwa ada banyak hal yang bisa dikerjakannya selepas subuh daripada sekedar berdiam diri didalam kamar dan berlanjut merajut mimpi yang terputus tadi malam (baik sengaja maupun tidak sengaja). Tilawatil Qur’an, Dzikir harian, membaca buku yang tergeletak begitu saja setelah ia beli di pameran 1 bulan yang lalu, berolah raga ringan, membereskan kamar yang berantakan, mencuci baju-baju kotor yang masih saja sering dipakainya, mencuci piring dan gelas yang semalam di pakai untuk makan, menyapu halaman kost yang penuh dengan daun-daun tua, menyiram tanaman yang kekeringan, menyemir sepatu untuk persiapan mengajar, menyeterika baju-baju lusuh yang entah pernah dicuci kapan, melap motornya yang di selimuti debu-debu musim kemarau, atau hal-hal lain yang bisa membuat hidup ini benar-benar menjadi hidup sampai ia berangkat beraktivitas rutin.

Ketika sebuah pertanyaan ku ajukan, ia jawab semaunya.
“ Kenapa sih Akh, antum tidur (atau mungkin tertidur) ba’da subuh ?”.
“ Ngantuk...capek...lemes...pusing...stress...” entah berapa lagi alasan yang di keluarkan.

Memang tak perlu aku jelaskan lagi apa manfaat sholat subuh berjamaah di masjid, beraktivitas selepas subuh, ia tak perlu itu,. Ia sudah paham betul bahwa rejeki Alloh di limpahkan di pagi hari. Bahkan mengerti betul pepatah jawa bahwa kalau tidak bersegera beraktivitas maka rejekinya akan di patok ayam.

Alasan logis coba ia sampaikan, semalam ia nglembur. Entah nglembur apa tadi malam. Yang jelas bukan nglembur mengerjakan tugas, belajar untuk persiapan mengajar, mengkoreksi ulangan, mempersiapkan soal-soal, atau yang sejenisnya. Yang aku tahu adalah ia berada serius di depan laptopnya, dengan memegang stick game dan sesekali berteriak “ Goool...!!!”

Dan parahnya, alasan itu tidak ia keluarkan hanya di pagi hari, hampir di setiap waktu ketika wajahnya kelihatan kusut masai. Bahkan selepas sholat. Capek...stress...pusing...mumet...

Ya sudahlah, ia juga manusia sebagaimana aku juga terkadang pernah mengalami yang namanya rasa malas. Aku juga pernah dan mungkin sering merasakan kondisi kurang bersemangat. Dan mungkin hampir semua diantara kita pernah merasakan hal ini. Sebuah hal yang tidak bisa disalahkan, bahwa yang namanya keimanan itu naik dan turun sesuai sabda Nabi saw bahwa keimanan naik ditandai dengan meningkatnya ibadah dan menurunnya iman dicirikan dengan kemaksiatan yang kita lakukan. Ya, kemaksiatan yang kadang menjadikan kita lemah, malas, suntuk, capek, de el el...

Tapi apa sebenarnya yang terjadi pada diri kita ketika setelah beribadahpun masih kering jiwa kita? Selepas sholatpun justru capek dan lelah yang kita dapatkan? Selepas tilawah justru rasa kantuk yang sangat amat menghinggap di pelupuk mata ?

Bisa jadi, kekeringan jiwa ini terjadi karena lunturnya kesadaran kita tentang hakikat hidup dan kehidupan itu sendiri. Bahkan Rasululloh saw pernah bersabda dalam salah satu hadistnya, tentang niat dan keikhlasan dalam beribadah. Ya, niat dan keikhlasan inilah yang seharusnya menjadi satu hal yang pokok dalam hidup dan kehidupan ini.

Bisa jadi, terkadang kita merasa aktivitas ibadah kita tidak lebih dari sekedar mengugurkan kewajiban saja. Sholat fardhu di masjid, shoum sunnah mingguan, Dzikir harian, tilawatil Quran, Qiyamul Lail dan amal yaumi yang lain, semua itu dilakukan hanya karena memenuhi tuntutan pemenuhan wajifah yaumiyah yang akan di mutabaah setiap pekan. (Astaghfirullah, jadi malu ^-^`)

Bisa juga, bukan karena beban harus melaporkan kegiatan ibadah kita dalam pengajian rutin atau liqoat. Bukan karena itu. Namun, tidak jarang diantara kita karena sudah menganggap aktivitas ibadah tersebut adalah rutinitas, sehingga membuat kita lalai dari hakikat ibadah kita yang (pernah) kita pahami, akhirnya semua menjadi kosong, sholat tidak membawa dampak positif dalam hidup, tilawah hanya sekedar membaca, puasa sekedar menahan lapar dan dahaga. Akhirnya semua aktivitas tidak lagi memberi dampak positif terhadap diri. Bahkan tidak jarang yang berakhir dengan kefuturan bahkan berhenti dari amal-amal ibadahnya.

Ada seorang teman yang pernah mengeluh, kadang merasa butuh yang namanya “refreshing”, penyegaran jiwa. Penyegaran jiwa ini adalah sesuatu yang penting untuk motivasi kita dalam ibadah, tapi menurutku istilah penyegaran adalah membuka kembali kitab kitab aqidah, tazkiyatun nafs dan fadhilah ibadah, mengkaji kembali alasan kita beribadah dan apa yang kita cari sesungguhnya.

Aku pernah dengar tentang seorang rekan kita yang aktifis dakwah yang dulu sangat heroik dalam perjuangan dakwahnya di kampus, namun ketika selepas kampus hampir sama sekali berubah. 180 derajat. Mengapa saudara kita bisa merasakan hal demikian? menurut beliau semua diakibatkan kurang ikhlasnya hati dalam mejalani dakwah dan ibadah walaupun dulu ia pernah paham hakikat ibadah dan dakwah. Sikap heroiknya semata-mata karena lingkungannya bersama dengan teman-teman ikhwah yang lain. Namun disaat ia sendirian, ibadah dan perjuangan dakwahnya mulai kehilangan ruh’nya, akhirnya jiwa menjadi kosong dan mudah di bisiki oleh syeitan. Hmm...domba yang sendirian akan lebih mudah di terkam serigala.

Sahabat sekalian, sekalian semoga Allah senantiasa menjaga hari kita, dan tentunya kita juga harus terus berupaya untuk menguatkan maknawiyah kita dengan menghadiri majelis dzikir dan ilmu. Dan jangan lupa mari kita lakukan muhasabah untuk memastikan kita senantiasa berada dalam jalur yang tepat (^-^).

Ketika tilawatil Qur’an, sempatkan juga kita membaca dan mentaddaburi terjemahannya, sehingga saat tilawah kita benar-benar merasa bahwa Alloh sedang berbicara dengan kita, entah tentang kabar gembira, syurga, cerita masa lalu, berita peringatan, neraka dan siksanya dan lain sebagainya. Ketika wudhu, kita rasakan benar-benar tengah membersihkan segala dosa dari kemaksiatan yang dilakukan oleh setiap jengkal tubuh kita. Saat sholat, yakinkan diri kita bahwa Alloh ada di hadapan kita, dan sedang memandangi ’persembahan’ ketaatan kita dan juga jangan malas membuka kitab-kitab sirah nabawi untuk memompa semangat dakwah dan perjuangan kita, mungkin cukuplah belajar dari perjuangan para nabi dan rosul ditambah keihlasan para sahabat, sebagai bekalan kita menjalani hidup. Untuk menghantarkan kita pada keridhoan Allah SWT. Amiin ya Robb. Wallahu alam...

NB : Untuk saudaraku di Kost, afwan jiddan jika merasa tersinggung.
Kewajibanku sebagai seorang sauadara selagi masih punya kesempatan dan semangat untuk saling mengingatkan.
Kapan ya bisa saling membangunkan untuk sholat malam ?
Kapan ya bisa saling mengingatkan untuk sahur setiap senin dan kamis ?
Kapan ya bisa kembali menghidupkan amal-amal islami dalam kost kita ?
hehehe... Piss...!!

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Di Tanggapi