Jumat, 16 Januari 2009

Palestina Darah Daging Kita



Rubrik: Taujihat Tgl: 1/9/2001

Masih terbayang jelas dibenak kita rekaman peristiwa pembantaian seorang bocah Palestina bernama Muhammad Ad-Darrah. Meski ia telah sembunyi diketiak ayahnya yang berlindung dibalik batu besar, seorang tentara Yahudi laknatullah tetap saja memberondong bocah dan orang tua itu dengan peluru tajam hingga sang bocah syahid. Ketika kamera mengabadikan tragedi kemanusiaan itu ditayangkan ditelevisi, banyak orang yang menyaksikannya mengutuk dan dibuat geram. Akan tetapi, sesungguhnya peristiwa tersebut bukanlah satu-satunya peristiwa pembantaian anak-anak Palestina, ada ratusan peristiwa serupa telah terjadi sebelumnya, akan tetapi sedikit saja yang dapat direkam oleh kamera sehingga dapat disaksikan oleh banyak mata diseluruh penjuru dunia. Dan saat ini ketika hampir semua mata tertuju pada layar kaca sampai detik ini yang menampilkan berita-berita Palestina, baru kita tersadar dan tergugah untuk peduli terhadap nasib saudara-saudara kita di Palestina.

Masalah Palestina memang semakin genting. Rencana Zionis Israel menguasai kota Baitul Maqdis agar dapat menghancurkan Masjidil Aqsha dan membangun Haikal diatasnya semakin jelas terlihat. Kekuatan Zionis kembali melakukan operasi pembunuhan para pemimpin perlawanan Islam Palestina. Diantara yang menjadi sasaran adalah dua tokoh terkemuka Hamas yaitu as-syahid Jamal Salim dan as-syahid Jamal Mansur. Para Zionis itu juga membunuh ulama dan wartawan muslim yang tetap berjuang di Palestina dan ratusan penduduk sipil yang tak berdosa ikut mereka korbankan hanya demi ambisinya menguasai bumi suci umat Islam itu. Para ekstrimis Yahudi juga berkeras meletakkan batu pertama pondasi pembangunan Haikal yang telah disetujui pemerintah Zionis. Berbagai lembaga milik orang Palestina di kota suci Baitul Maqdis juga ditutup.

Untuk mempertahankan Masjidil Aqsha dan kemuliaan ummat, rakyat Palestina selama ini telah melakukan semua yang dapat mereka kerjakan. Pemuda, orang tua, ibu-ibu dan anak-anak bersatu-padu menentang penjajahan dengan berbagai cara : membentuk pasukan jihad bersenjata dan pasukan berani mati, menyiapkan bom syahid, intifadhah anak-anak yang senatiasa menghujani serdadu Zionis dengan lemparan batu, demontrasi penentangan oleh kaum wanita, bahkan para ibu siap menjadi tameng bila terjadi penangkapan-penangkapan. Mereka telah mengorbankan semuanya, ribuan syuhada’ telah gugur, pemukiman mereka rata dengan tanah, penduduk kota dideportasi dan anggota keluarga tercerai-berai.

Sementara itu apa yang telah dilakukan umat Islam untuk membela saudara-saudara kita di Palestine? Kita seolah tidak ambil peduli dan mengandalkan penyelesaian Palestina kepada PBB, meski berkali-kali perjanjian damai yang isinya nyata-nyata menguntungkan Yahudi dan antek-anteknya telah ditandatangani, selalu saja berakhir dengan pengkhianatan. Masihkah kita menyerahkan urusan Palestina kepada orang lain? Akankah kita rela bangsa Palestina berjuang sendirian? Apakah kita rela melepaskan bagian tubuh kita? Bukankah umat Islam itu satu bangunan yang saling menyangga dan satu tubuh yang ikut merasakan kepedihan anggota tubuh yang lain?! Al-Qur’an dalam banyak ayat menyeru kaum muslimin tidak berpangku tangan melihat penderitaan saudaranya. Diantaranya apa yang tersebut dalam surat An-Nisa’ berikut: "Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan membela orang-orang yang lemah baik dari kaum laki-laki, wanita ataupun anak-anak yang semuanya berdo’a: ‘Wahai Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini yang dzalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau’." (QS. 4:75)

Ayat tersebut jelas-jelas mengecam sikap diam kita saat melihat penderitaan dan penindasan yang dialami sesamannya. Allah sesungguhnya mampu menyelamatkan mereka, namun Allah ingin menguji kita, menguji rasa kemanusiaan dan persaudaraan kita, Allah ingin menguji keimanan kita.

Dalam ayat lain bukan hanya mengecam, Allah bahkan mengancam orang-orang yang tak mau mengulurkan pertolongan dengan adzab yang pedih. Tak seorangpun menghendaki datangnya azab.

Karenanya sudah selayaknya kita melakukan sesuatu untuk saudara-saudara kita di Palestina sebagai wujud kepedulian dan cinta kasih kita kepada mereka. Kita pun harus percaya pada kekuatan kita sendiri dan tidak menyerahkan penyelesaian urusan umat kepada kekuatan lain yang jelas-jelas tidak pernah berpihak kepada kepentingan umat. Kita tak ingin sejarah mencatat kita sebagai orang yang tunduk kepada kezhaliman dan kehinaan.

Apa yang harus kita lakukan?

Pertama, meyakinkan diri kita, keluarga dan orang-orang terdekat kita bahwa Palestina adalah bagian dari tubuh dan darah daging kita yang bila dilukai ikut merasakan kepedihannya dan mau peduli dengan mengobatinya. Kedua, membentuk opini yang benar tentang jihad palestina dan ikut melakukan tekanan kepada Israel dan para pendukungnya melalui media massa. Ketiga, sisihkan sebagian dana kita untuk Tabungan Dunia Islam dan menyerahkannya setiap akhir bulan kepada lembaga-lembaga yang menyalurkan dana tersebut.

Palestina darah daging kita, bagian tubuh kita. Sebagaimana kita peduli masalah Aceh, Ambon, Poso dan Halmahera, sudah selayaknya kita juga peduli kepada nasib dan perjuangan rakyat Palestina.

1 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Di Tanggapi