Sabtu, 13 Desember 2008

5 HARI ITU _ episode 3

Rabu, 3 Desember 2008

Deru suara pompa air tua tersendat-sendat mencoba memaksa dinamonya memutar menyedot air untuk naik dari perut bumi Ciganjur. Kebisingan itu menyadarkan tidur panjangku. Aku lupa menyetel alarm HP. Ketika kupandangi dengan mata yang masih samar-samar rupanya sudah hampir pukul 5 pagi. Segera tersadar aku bangkit dari kasur busa penginapan ini. Kulihat akh Sandy juga masih terlelap. Kubangunkan beliau dengan setengah berbisik agar tidak terbangun kaget. Biasanya ada tipe orang yang cukup dibisiki atau disentuh saja sudah tersadar tapi ada juga tipe orang yang dibangunkan bahkan dengan Megaphone masih terlelap dengan mimpi indahnya.

“Akh Sandy, bangun. Subuh...” Setelah akh Sandy terbangun, aku ambil pasta dan sikat gigi serta pencuci wajah agar lebih segar. Beberapa kamar ada yang masih tertutup. Mungkin masih tidur, mungkin sudah dimushola. Beberapa kamar ada yang juga baru bangun penghuninya. Selesai menyegarkan rongga mulut dan wajah, kuambil wudhu dan bersegera bersiap menuju ruangan yang dipakai untuk sholat.


Sesampainya disana rupanya sudah selesai sholat berjamaah. Aku menunggu sebentar teman-teman yang masih diPenginapan untuk berjamaah. Kenapa lama sekali ? setelah menunggu 10 menit ada satu peserta yang datang dan langsung kupersilahkan untuk bersama sholat subuh berjamaah. Selesai sholat sejenak aku berdzikir sebagaimana yang lainpun khusyuk berdzikir. Bahkan ada yang saking khusyuknya berbunyi “...Zzzz....zzzz....” (tidak perlu sebut nama ya..hehehe... nanti ndak khusyuk lagi...)


Kabut masih menyisakan selimut putihnya diatas rimbun dedaunan. Danau kecilpun masih terlihat remang-remang. Aku segera kembali kepenginapan selesai berdzikir. Bersiap-siap untuk menyegarkan badan dengan olahraga. Beberapa orang sudah siap dengan pakaian senam. Pagi ini memang ada agenda Senam Nusantara, entah bentuknya seperti apa. Bikin penasaran. Karena jujur saja, aku sudah begitu lama tidak melakukan SKJ (terakhir ketika aku duduk dibangku SMA). Jadi kangen juga sih.

Barisan rapi yang dikomandoi oleh kakang harudin bersiap untuk pemanasan. Sambil menyiapkan tape dan soundsystem, panitia kulihat sibuk menelpon seseorang. Mungkin pemandu senam Nusantaranya. Tak berapa lama setelah pemanasan, datang seorang dengan pakaian senam lengkap. Celana training, sepatu olahraga, dan kaos senam. Sejenak beliau sibuk menyeting laptop untuk membuka file senamnya. Kemudian menyapa kami yang telah berbaris rapi bagai anak Taman Kanak-kanak yang siap diajak bermain.

Aku lupa nama pemandu senamnya. Diawal ketika sound mulai berbunyi, aku yakin senam ini begitu berenergi. Lagu-lagu yang ada didalam senam nusantara diambil dari beberapa lagu daerah diseluruh Indonesia. Ada yang dari Bali, Jawa Tengah, Ambon, Papua, Palembang, Aceh, dll. Pantas saja kalau dinamakan senam nusantara. Karena memang belum pada tahu senam itu, banyak kejadian lucu dan unik. Sebagian besar peserta salah mengikuti gerakan yang dipandu oleh pemandu. Maklum saja, baru sekali sehingga banyak yang bingung. Tapi justru menambah semangat untuk senam. Apalagi diakhir senam, ada gerakan yang unik. Gerakan mirip tepuk yang biasa dibawakan anak-anak kecil, gerakan saling memijit, dan gerakan kereta-keretaan. Pokoknya unik bin ajaib.

Selesai senam, menjadi waktu bebas bagi peserta sampai pukul 8. ada sebagian peserta putra yang bermain footsal didaerah lapangan tenis. Ada juga yang memilih nyebur dikolam renang. Bahkan ada yang hanya sebagai penonton saja. Kalau akhwatnya hanya jalan-jalan memutari kawasan Griya Alam Ciganjur. Melihat peternakan angsa, melihat penangkaran Rusa tutul, melihat burung-burung yang berada dikandang yang mirip Doom, melihat danau. Aku lebih memilih berenang. Karena pakaian renang memang sudah kupersiapkan dari Solo. Soalnya dah lama gak renang.

Biasanya aku lebih nyaman renang di Umbul Pengging daerah Boyolali, karena disana kita bisa lebih bisa bebas memakai pakaian. Kalau dikolam renang umum, kita harus melepas kaos maupun celana selutut kita. Memang sih, aurat seorang laki-laki itu dari pusar hingga lutut, tapi bagiku ketika memperlihatkan badan atasku bagaikan memperlihatkan auratku seluruhnya. Rasanya malu. Tapi prinsip orang khan beda-beda. Asal tidak menyalahi syar’inya saja. Buka-bukaan seenaknya. Betul tidak ??

Rupanya teman-teman yang tadi habis footsal segera bergabung nyebur dikolam renang. Kecuali beberapa ikhwan yang lain. Kalau Akh Yadi bilang , “ ane gak bawa baju ganti banyak akh”, hehe...maklum, beliau orangnya simple, sehingga ketika bepergianpun sesimple mungkin. Beda denganku, kalau aku orangnya terlalu teliti, jadi terlalu detail ketika melakukan perjalanan. Mulai dari pakaian,perlengkapan mandi,perlengkapan acara, bahkan hal yang paling kecil sekalipun. Dengan syarat, masih muat tasnya. (Betul nggak akh yadi ?hehe...).

Selesai riyadoh, kami segera bergantian mandi. Ada juga yang memilih untuk sarapan dulu. Karena sarapan sudah tersaji sejak jam 06.30 tadi. Seperti biasa aku dan akh yadi sarapan bersama, ngobrol tentang banyak hal. Kemudian satu persatu peserta yang lainpun ikut bergabung menghangatkan suasana obrolan. Pagi itu aku, Akh Yadi, Akh Ridho (dari Aceh), dan Akh Toni (dari Cimahi) duduk dimeja bundar mengobrolkan karakteristik daerah masing-masing. Saat itu ada perbincangan unik yang dimulai dari pertanyaan akh Ridho (kalau gak salah).

“ Akh, akhwat Jawa itu lembut lembut ya..??” saat itu aku hanya tersenyum, memangnya “lelembut” ?. Yadi juga ikut tersenyum. Padahal dia itu asli orang Melayu, Kepulauan Riau. Tapi kalau ada yang tahu nama lengkapnya mungkin tidak mengira kalau beliau itu orang Melayu. Nama lengkapnya Fitriyadi setiawan (nama yang Jawa banget khan??).

Maksud akh Ridho (nama lengkap Teuku Muhammad Ridho Al Auwal) adalah akhwat Jawa (“Jawa” disini diwakili oleh Solo) lembut dalam hal tata krama, etika, dan gaya bicaranya. Tapi kalau aku melihat sekarang, orang solo asli sudah mulai luntur ke-Solo-annya. Karena Budaya Solo yang terkesan Agung itu dipengaruhi dari dalam tembok keraton Solo. Dan sekarang, fungsi dan kedudukan keraton Solo sendiri sepertinya kurang memberi efek yang kuat terhadap kultur budaya solo itu sendiri. Kalau bahasa “Kromo Ingghil” yang digunakan oleh masyarakat sekitar hanya muncul ketika acara-acara resmi dan formal saja. Seperti Khitanan, Nikahan, dan Pertemuan formal lainnya. Namun ada banyak hal yang patut diAcungi jempol. Bahwa kultur kesopanan orang solo masih bisa diandalkan. Hanya saja beberapa oknum mengotori kesopanan itu dengan hal-hal yang menjadi sampah masyarakat.

Kalau daerahku sendiri, di Tegal sudah jauh dari budaya Solo. Maklum saja, jarak geografis kota dan kabupaten Tegal yang jauh dari pusat kekuasaan kerajaan Surakarta. Tegal lebih tepat sebagai Wilayah Pertemuan Antara Budaya Tradisional Solo dengan Budaya Modern Jakarta. Sehingga kalau kita berkunjung ke Kota atau Kabupaten Tegal akan menemukan sebuah Corak kultur khas dan unik yang berbeda dari Solo dan berbeda juga dari Jakarta. Karena memang sebuah percampuran kultur. Aku sendiri juga bingung, tradisi yang biasa ada dimasyarakat Tegal entah darimana asalnya. Padahal Tegal merupakan sebuah Kota dan Kabupaten yang mempunyai potensi besar untuk dikembangkan.

Bahasa Tegal yang terkenal itu sendiri merupakan bahasa percampuran. Bahasa yang lebih dikenal sebagai “bahasa ngapak-ngapak” ini justru menjadi icon sebagai orang yang “Ndesani”. Memang tidak disalahkan. Karena banyak orang Tegal yang membuka Usaha diKota-kota besar. WARTEG (Warung Tegal) dimana dikelola oleh orang orang Tegal yang kebanyakan dari desa. Sehingga muncul stigma dimasyarakat Indonesia bahwa bahasa Tegal adalah “bahasa Orang Desa”.

Tapi kalau dipikir-pikir, orang tegal tidak kalah jauh dengan Kota-kota besar lainnya. Aku justru bangga. Dan suatu saat jika Allah mengijinkan, akan ku harumkan Nama “Tegal” dimata orang-orang Indonesia dan Masyarakat Dunia. Amiiinn...

Kok jadi ngelantur panjang gini. Kembali ke persoalan perbincangan 4 orang tadi. Akh Toni juga ikut menanggapi masalah “Akhwat Jawa”. Bahkan akh Riswanto yang ikut bergabung juga ikut menanggapi, katanya,

“Akhwat jawa itu banyak diCari ikhwan loh akh...” semua orang disitu tersenyum renyah. Emang apaan akh, “dicari?”

“Coba saja tanya para ikhwan yang sedang proses, hampir semuanya menuliskan kriteria calon akhwatnya adalah “Orang Jawa”...”lanjut akh Riswanto yang berasal dari Bumi Laskar Pelangi (Bumi Belitong).

Aku jadi tersandung, eh tersanjung. Bangga juga nih jadi orang jawa. Hehe...

Kemudian akh Ridho menceritakan sedikit karakteristik orang Melayu, khususnya orang Aceh. Kata beliau, para perempuan Aceh adalah sosok perempuan yang tegar. Orang yang keras. Tapi ada satu kekurangan orang aceh secara umum. Para lelaki Aceh jarang sekali bekerja keras. Sebagian lebih memilih menghabiskan hari duduk-duduk diWarung Kopi yang memang banyak berdiri di Bumi Serambi Makkah itu. Aku jadi berpikir juga, kenapa bisa demikian ya???. Beliau kembali melanjutkan. Hal ini memang tergantung dari pola berpikir masyarakat aceh yang sebagian besar hidup dari melaut. Mereka hidup hanya untuk mencari makan. Sehingga ketika hasil tangkapan laut habis, barulah ia akan kembali melaut. Waduh, mudah-mudahan yang diceritakan akh Ridho ini hanya terjadi disegelintir orang saja. Karena aku juga melihat masyarakat Indonesia pada umumnya demikian. Masyarakat yang konsumtif. Lalu, bagaimana Indonesia bisa bangkit dari Keterpurukan ???

Tugas siapa ini ?? Tugas kita semua tentunya...!!!

INDONESIA....Harapan Itu Masih Ada...!!!

Haripun mulai menjelang. Mentari perlahan mengusir sisa-sisa pagi yang masih manja bergelayut diujung rimbunnya dedaunan. Danau yang tadi tertutup selimut putih, kini berangsur menyeruakkan air kecoklatan. Beberapa Rusa tutul mengendap memungut rumput hijau yang tersiram embun sisa semalam. Kami bergegas bersiap diri untuk mengikuti materi pada pagi hari ini.

Kami telah duduk rapi di ruang materi. Seperti kemarin, barisan putra duduk disebelah kiri. Karena disana ada Gong kecil yang sesekali dibunyikan sebagi “sebuah Keisengan” untuk mencairkan suasana. Pak B.S Wibowo,S.KM, MARS dari TRUSCO Jakarta telah bersiap didepan forum.

“ Bismillahirrohmanirohiim....Robbi Zidni Ilman Wal Zuqni Fahman...”, Dengan lirih kubaca harapan untuk dimudahkan Ilmu pada hari ini.

Pak Bowo, begitu beliau mengenalkan diri. Kemudian menyampaikan materi yang beliau ampu. Slide-slide yang beliau bawakan memperlihatkan kehebatan negara luar dalam hal kemajuan tekhnologinya. Kereta api yang mempunyai kecepatan hampir 500KM/Jam, kemudian membandingkan kereta api Indonesia yang hanya mempunyai kecepatan 120 KM/Jam. Kalau dipikir-pikir “Iri” juga ya melihat kemajuan negara lain. Seperti melihat hijaunya halaman rumah tetangga sebelah. Padahal dalam hal sumber daya alam, kita ini merupakan Negara Bersumber Daya Alam terbesar juga. Hanya saja kita ini terlalu lemah dalam hal pengelolaannya. Sehingga mau tidak mau kita harus mengakui kebodohan dan kelemahan kita ini.

Lalu, sampai kapan kita harus terus begini ?

Kalau akh Yadi bilang, “kita menjadi pengemis di Rumah sendiri”. Seperti yang beliau ceritakan di Kampung Halaman beliau. (aku lupa nama kampungmu, Yad). Yadi cerita, kalau sebagian besar masyarakat KEPRI hidup dari hasil laut. Namun yang sangat mengenaskan adalah masyarakat tidak sanggup makan ikan yang diambil dari lautnya sendiri. Karena harga ikan yang berkualitas internasional lebih mahal dibandingkan ikan laut biasanya. Padahal ikan itu diambil dari lautnya sendiri. Hanya saja karena pengaruh dari pasar Internasional, masyarakat tidak mampu membeli ikan tersebut diPasar karena harganya yang melebihi penghasilan.

Trenyuh juga sih. Tapi bukan kemudian hanya sekedar diTrenyuhi saja. Menjadi tugas kita yang ada disini untuk tampil memberikan solusi pemecahan permasalahan bangsa ini. Menjadi Problem solver, bukan malah menjadi problem maker. Bahkan para penyeru kebenaran pun terkadang salah juga dalam memahami permasalahan bangsa ini. Kesalahan yang seringkali menjadikan para da’i pun bisa terjatuh didalamnya. Yang pertama, memandang permasalahan umat dengan pandangan yang pesimis. Dan yang kedua, menjadikan standart kecukupan pada beberapa orang sebagai standart dalam masalah penghidupan untuk semua orang.

Bahkan permasalahan umat juga seharusnya menjadi urusan negara. Pemerintah harus memberikan jaminan ketenangan kepada setiap penduduknya. Baik jaminan penghidupan yang layak, sistem ekonomi yang terkendali, pelayanan umum yang bermasyarakat, atmosfir politik yang sehat dan lain sebagainya.

Pak Bowo dalam menyampaikan materi aku rasakan terlalu monoton, dengan nada suara yang monoton pula. Sehingga beberapa peserta terlihat merasa bosan. Bisa dilihat dari reaksi ketika pak Bowo bertanya. Banyak yang kurang semangat. Tapi kekakuan itu tetap saja dapat dicairkan oleh peserta-peserta yang “GILA”. Gila kreatifitas, gila ilmu, gila beneran...hehe....

Setelah Coffe Break materi Pak Bowo, dilanjut materi Pak Indra Kusumah,S.Psi. beliau mengampu materi Public Speaking. Gaya penyampaian beliau sedikit lebih “MUDA” dibanding materi awal tadi. Ada beberapa ice breaking yang dilakukan. Bahkan peserta semakin “GILA” menanggapinya. Materi dimulai dari menyanyikan “AKU BISA” nya AFI Kids. Aku sendiri baru tahu lagu ini. Tapi karena kebiasaanku menyenandungkan nasyid dan mengarang alunan nada, aku dengan mudah mengikuti irama yang dibawakan.

“Aku bisa..aku pasti bisa....” begitu bersemangatnya teman-teman peserta. Tanpa sadar aku melirik ke jajaran akhwat. Seulas senyum terlukis dibibir. Lucu juga ya kalau orang-orang dewasa nyanyi. Hehe....

Seperti biasa, banyolan-banyolanpun kembali meramaikan materi. Baik itu dengan simulasi speaking didepan forum maupun simulasi membuat ice breaking. Ada beberapa ice breaking yang bisa dipakai kalau teman-teman mau mengisi acara training atau ceramah biar tidak membosankan. Beberapa diantaranya :

Trainer berkata :” Are You Ready...?”, kemudian peserta serempak menjawab “ Yeessss...!!!”.
1. Trainer Berkata : “Hallo..??”, peserta menjawab :” Hai...!!!”, atau sebaliknya...
2. Biar tidak jenuh duduk, trainer memerintah :” Stand up, please..!!”, peserta berdiri sambil serempak menjawab :”Yess...Sir!!”
3. “Sit Down, Please..!!”, peserta serempak menjawab :”Thank you, sir..!!”

Ada banyak sekali ice breaking yang bisa dipakai. Bahkan guru pelajaran juga bisa menggunakan ini jika siswa didiknya terlihat lesu dan tidak bersemangat. Materi publicspeaking selesai, kemudian peserta kembali kepenginapan untuk persiapan sholat Dhuhur jamak Ashar. Kemudian dilanjut makan siang (makan lagi...makan lagi....).

Seperti biasa, makan siang kami bertempat di Meja Bundar. Tentunya dengan membahas sebuah tema yang menarik untuk diobrolkan. Siang itu aku agak lupa apa yang kami obrolkan. Lebih banyak bercerita tentang kehidupan pribadi masing masing peserta yang gabung diMeja Bundar.

Beberapa peserta yang sudah menikah menceritakan kehidupan pernikahannya. Baik ketika persiapan berproses, persiapan mengkhitbah, ketika berkunjung kerumah calon mertua, ketika akad nikah, ketika menjalani hari-hari awal pernikahan, ketika menjalani kehidupan berumah tangga, manis pahitnya berkeluarga, bagaimana mengatasi gejolak-gejolak yang muncul dalam bahtera rumah tangga, bahkan bagaimana ketika akan menjadi seorang ayah. Hatiku semakin malu. Ketika sampi usiaku yang kata Ibuku sudah pantas untuk menimang seorang anak, belum juga mau meminang seorang wanita.

“ Emangnya proses menikahmu itu maunya seperti apa sih, Don?” sebuah pertanyaan yang meluncur bibir seorang ibu ketika aku membantunya meracik bumbu sayuran sop diMeja dapur suatu siang dirumah.

“Ibu ngerti kamu itu tipe orang yang tidak pacaran, tapi apa ya bisa dapat jodoh kalau begitu?”, aku hanya tersenyum ini kesempatanku untuk menjelaskan kepada ibuku mengenai proses sebuah pernikahan dalam Islam yang Sesuai Syar’i.

“Bu, Islam melarang umatnya mendekati Zina. Maka dari itu, pacaran yang biasanya dilakukan oleh orang-orang yang katanya untuk tujuan mencari pasangan yang cocok justru akan mendekatkan mereka ke pintu Zina. Karena kita tidak tahu seberapa kuat kita mampu menahan hasrat ketika berduaan ketika bersama pacarnya. Buktinya, dulu Ibu sama Bapak juga tidak lama kenal sudah langsung dinikahkan to ??”, begitu jelasku hati-hati.

“Lha, terus caranya biar tahu calon itu cocok gimana, Don?”, Ibu bertanya lagi sambil menggoreng tempe.

“Jodoh itu khan urusan Alloh, Bu. Kita tinggal ikhtiar dan tawwakal aja. Jadi kalau diPartainya Doni itu, ada proses mengenal calon pasangan kita. Namanya “Ta’aruf”. Ta’aruf itu bisa dengan berbagai cara. Ada yang mencari tahu melalui Orang terdekatnya mengenai kehidupannya sehari-hari sehingga lebih “Valid”. Kalau pacaran khan biasanya penuh dengan kebohongan. Yang cewek cerita bohong, yang cowok nyiapkan jawaban bohong juga, ada juga ta’aruf yang melalui Guru Ngajinya, ada juga yang langsung bertemu dengan ditemani Muhrimnya untuk saling mengenal kepribadiannya. Intinya, ta’aruf itu untuk mengenal bagaimana kepribadian sang Calon. Kalau sudah ta’aruf kemudian kita sholat Istoqhoroh, meminta petunjuk kepada Alloh agar diberikan yang terbaik. Bisa saja setelah ta’aruf kemudian kita istiqhoroh dan hasilnya nggak yakin sama yang kita ta’arufi, kita bisa saja tidak melanjutkan proses ta’aruf ini. Jadi tidak ada paksaan dalam proses ta’aruf seperti yang Ibu sampaikan pas Pernikahannya Mba Etik yang diProses oleh Guru Ngajinya”, lanjutku. Mudah mudahan ibuku mengerti dengan bahasa yang kugunakan.

“Oh githu, trus kamu juga nanti dijodohkan sama guru ngaji kamu?”, tanya ibu lagi.

“Ya, kalau Ibu punya Calon yang solehah, nggak papa. Hehe....Khan tadi sudah Doni jelaskan, Bu”.

“Kalau nggak cocok gimana, Don”, tanya Ibu lagi.

“ Yang namanya kehidupan Rumah tangga itu khan bukan masalah cocok tidak cocoknya tho, Bu. Tapi bagaimana kita sejak awal meniatkan tujuan pernikahan. Kalau menikah hanya sekedar memenuhi kebutuhan Biologis saja, kalau sudah nggak sreg dengan Istri lalu Istri diCerai atau selingkuh. Khan yang kasihan Istrinya juga ? Dalam Islam, ada tujuan yang lebih baik, Bu. Selain tujuan memperbanyak keturunan manusia, juga bagaimana dari keluarga itu membina diri membentuk sebuah masyarakat yang juga Islami. Karena dari sebuah keluargalah kita bisa melahirkan orang-orang yang bisa memperbaiki masyarakatnya sendiri. Didalam Islam juga mengajarkan Hak dan Kewajiban masing-masing anggota keluarga. Lelaki sebagai seorang suami dan Bapak, yang wanita juga mempunyai hak dan kewajiban sebagai seorang istri maupun ibu bagi anak-anaknya. Sang anak pun punya hak dan kewajiban. Ketika setiap anggota melaksanakan hak dan kewajibannya, insya Alloh keluarga itu akan berkah. Makanya Bu, Doni saat ini juga sedang belajar bagaimana memperbaiki diri lalu jika sudah menikah akan memperbaiki keluarga. Syukur-syukur bisa menjadi keluarga yang diTeladani oleh tetangga dan masyarakat”. Sepertinya Ibuku waktu itu nggak mudheng-mudheng amat. Lebih asyik menggoreng tempe daripada mendengarkan ocehanku. Hehe....

Akh Irfan, akh Ade, akh Jhon, dan lainnya yang sudah menikah memberikan pelajaran tambahan bagiku untuk menjalani episode kehidupanku jika sudah berkeluarga nantinya. Syukron jazzakumulloh ya akhi...

Obrolan siang itu dibawah rindangnya pepohonan nan hijau harus usai karena waktunya kembali mengikuti materi siang ini. Aku berpikir, siang-siang begini enaknya memang tidur karena sudah terlalu kekenyangan. Namun ketika Pak Buyung Ristiyono menyampaikan Relationship, menjadikan suasana siang yang ngantuk, capek, kenyang, ect jadi hidup lagi. Malah ke”GILA”an teman teman menjadikan “Hidup Jadi Lebih Hidup”.

Materi diawali dari nonton balapan antara Siput, Capung, Lalat, Lebah dan Kepik Merah. Kami menjagokan masing-masing hewan tersebut. Dan yang menang tentu saja sang siput. Karena ia begitu cerdik mengkoordinasikan teman-temannya yang memang mirip untuk ikut perlombaan. Kalau orang jawa bilang “Alon alon Tapi Kelakon”. Cerita ini sebenarnya aku dapatkan ketika kelas tiga SD. Balapan antara kancil dengan keong mas.

Memang didunia ini kita tidak bisa hidup sendiri. Kita hidup bersama-sama manusia yang lain. Kita bukan Tarzan yang hidup sendiri dihutan maka dari itu, kita harus membangun sebuah hubungan agar dalam kehidupan ini kita semakin berarti.

Pak Buyung banyak melakukan Icebreaking. Sehingga kami benar-benar tidak mempunyai kesempatan untuk mengantuk atau tidak konsentrasi. Satu pelajaran aku dapatkan lagi disini. Bagaimana cara menguasai forum. Mudah-mudahan berguna untukku saat mengisi training. (Matur nuwun, pak Buyung...)

Untuk menguji sejauh mana para peserta mengenal teman-temannya, maka pak Buyung meminta kami untuk menuliskan nama, nomor telephon, asal daerah dan informasi sedetailnya minimal 8 orang. Yang paling lengkap aku tuliskan hanya Yadi. Fitriyadi Setiawan. Karena memang selama ini aku lebih banyak ngobrol dengannya. Sementara yang lain hanya aku tuliskan nama lengkap, asal daerah dan beberapa nomor telephone. Jadi pelajaran juga sih, kalau selama tiga hari ini ternyata aku belum mengenal banyak peserta. Dan ini aku tanamkan dalam diri, bahwa selama 5 hari ini aku harus mengenal semua peserta ikhwan. Walaupun sekedar nama dan asal daerahnya saja.

Salah satu Ice breaking tentang relationship adalah permainan “I Love You”. Setiap orang mencari pasangannya. Kemudian menepuk pundak sahabatnya sambil mengucapkan “I Like You”, “I Trust You”, “I Love You”. Saat itu aku mendapat pasangan akh Yadi.

Bagi sebagian orang yang belum saling mengenal, mungkin untuk mengucapkan kata-kata itu terasa berat dan sulit dari dalam hatinya bahkan merasa terpaksa. Tapi bagiku, ketika hati sudah terbuka untuk bersahabat maka hal itu begitu mudah dan tulus dari dasar hati. Yang menjadi pelajaran disini adalah kita jarang sekali menyampaikan perasaan kita kepada saudara kita atau bahkan orang yang paling dekat dengan kita yang selama ini membantu dan membersamai kita.

Misalnya saja, seorang suami yang sudah berkeluarga lama, mungkin terasa kaku jika harus kembali mengucapkan “I Love You, Darling” karena dianggap sebagai sebuah nostalgia masa muda belaka. Padahal menurut Rasulullah, kata-kata yang lembut yang berasal dari ungkapan perasaan akan memperkuat jalinan cinta pasangannya.

Bahkan ketika kita sebagai seorang muslim mencintai saudara muslim kita yang lain mempunyai hak untuk menyampaikan kecintaan kita kepadanya. Seperti yang Rasul sabdakan dalam riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi :

idza ahabba ahadukum akhoohu falyuhbirhu...apabila salah seorang diantara kamu mencintai saudaranya, maka hendaklah ia memberitahukannya”

“Ya Akhi, ana uhibukka fillah. Doakan ana tetap istiqomah menjalani hari-hari dalam dakwah”, aku teringat pada kata-kata akhir sebuah SMS dari saudaraku yang telah berpisah jauh. Karena dulu begitu dekatnya persaudaraan kami, walau belum sampai pada taraf Itsar.

Bicara tentang Cinta, mungkin akan panjang juga ya. Tapi yang perlu dipertegas disini adalah CINTA Kita ini karena apa ?? CINTA hadir karena sebab, dan ketika sebab itu hilang maka CINTA pun akan memudar.

Tapi jujur saja, selama pelatihan disini, aku merasakan CINTA yang unik kepada saudara-saudara seperjuangan yang berdakwah dilahan Pelajar. Sebuah CINTA yang menghadirkan kekuatan untuk tetap bertahan ditengah berbagai tuntutan. Sebuah CINTA yang meluluhlantakan kelemahan diri dalam berjuang. Sebuah CINTA yang membakar semua keangkuhan akan dunia.

Teringat pada hadist Rasulullah yang diriwayatkan oleh Muslim : ”Sesungguhnya Allah ta’ala berfirman pada hari kiamat : Dimanakah orang-orang yang saling mencintai karena kemuliaan-Ku. Hari ini Aku menaungi mereka di dalam naungan –Ku pada hari tidak ada naungan kecuali naungan-Ku”. Subhanallah....indah nian.

Usai materi publicspeaking yang lebih mirip dauroh mahabbah (Pelatihan CINTA) ini kami break sebentar sambil menyantap snack yang telah tersedia diMeja makan. Tak lama kemudian kami kembali keruangan. Dan rupanya para akhwat telah menduduki posisi ikhwan. Oh, rupanya para akhwat mau gantian mukul Gong ya...hehehe....

Didepan sudah hadir seorang wanita paruh baya (mungkin sekitar usia 35 tahun) yang kemudian memperkenalkan dirinya sebagai “Ibu Rahmi Dahnan,S.Psi” seorang psikolog yang menggantikan Ibu Elly. Beliau bergelut diYayasan Kita dan Buah Hati.

“Ayo dong pukul Gongnya” seorang peserta ikhwan sudah memulai ke”GILA”an. Karena memang materi yang akan disampaikan ini lagi-lagi terkait tentang “PORNOGRAFI”. Materi yang bagi sebagian peserta adalah materi yang baru. Bahkan karena terlalu asyik dengan kegilaan teman-teman, aku sempat bingung kurang konsentrasi waktu Bu Rahmi menodongkan Microfon didepan wajahku,

“Sudah pernah nonton film porno???”, aku bengong nggak tahu tadi Bu Rahmi nanya apa. Dengan wajah tanpa Dosa kujawab saja seperti anak TK njawab dengan polosnya...

“Belooom...” sambil mlongo tentunya...aktingku yang mirip orang “O’on” ini justru melukiskan senyum lucu dibibir teman-teman.

Materi yang disampaikan Bu Rahmi sempat membuat kami bergidik juga. Dari hasil penelitian di Jakarta, anak seusia SD sudah sangat mahir membuka Situs Porno. Bahkan ketika ada sebuah penyuluhan di SD, ada pertanyaan yang membuat hati trenyuh akan nasib generasi bangsa ini. Ada beberapa pertanyaan yang tidak seharusnya ditanyakan oleh anak seusia SD. Seperti,

“ Bagaimana memasukkan penis dengan baik dan benar??”

“ Berapa kali seminggu seharusnya melakukan seks??”

“ Boleh isep m***k gak, pak??”

“ Paling enak tempat ngeseks dimana??”

Pertanyaan itu ditanyakan ketika Yayasan Kita dan Buah Hati melakukan penyuluhan kepada siswa SD diJakarta. Kita tidak tahu bagaimana kondisi anak-anak kita yang berada diDaerah-daerah terpencil. Dengan begini, usia akil baligh anak anak jaman sekarang semakin muda. Ada yang usia SD sudah melakukan Onani. Usia SD sudah menstruasi. Padahal dijaman usia saya SD, hal-hal semacam itu sangat jauuuh dari pikiran.

Lalu kalau ditanya siapa biang keladinya ??

Aku pernah baca sebuah artikel yang menganggap bahwa pornografi bukanlah biang keladi semua kebobrokan mental bangsa ini. tapi kalau dipikir-pikir, bermula dari pornografi yang tersebar luas dengan berbagai media penyebaran justru menjadi kambing hitam pertama yang memberikan pengaruh terhadap pendidikan yang salah terkait seksualitas anak-anak dan remaja.

Barangkali bagi sebagian orang bahwa mempertontonkan aurat wanita tidak menjadi masalah. Namun, bagi anak-anak yang sedang mencari jati dirinya membuat mereka akan semakin tertantang untuk melihat yang lebih jauh lagi. Misalnya mencari gambar gambar bugil, bahkan film-film porno. Apalagi mereka yang sedang mengalami masa puber.

Materi yang disampaikan Bu Rahmi bagaikan sebuah cambuk agar kami selaku orang-orang muda yang peduli terhadap perkembangan remaja lebih giat lagi mengarahkan pengetahuan kepada para remaja didaerah masing-masing. Saking serunya acara, tanpa terasa adzan maghrib telah terdengar. Mengobati hati kami yang sejak tadi terkoyak koyak akan sebuah fakta dimasyarakat kita yang semakin jauh dari nilai-nilai agama dan moral.

Maghrib jamak Isya berjamah begitu akrab. Beberapa dari kami terpekur dalam dzikir panjang dan dalam. Menghayati beberapa episode hari ini yang telah dilalui. Menghayati permasalahan-permasalahan bangsa yang begitu kompleks. Menghayati tantangan yang dihadapi para generasi harapan bangsa yang dihadang kebobrokan moral.

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau melakukan sebuah kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang yang ingkar padaMu...”

Doa panjang yang mengakhiri waktu maghrib. Kami bersegera turun ke lantai 1 untuk mengambil jatah makan malam. Lalu seperti biasa kami memposisikan diri dikursi meja bundar untuk kembali mengulang cerita-cerita sebelumnya.

Malam itu aku, yadi, herman (dari Medan, ngakunya sih keturunan orang Magelang), lalu Sandyan (Palembang). Kami membicarakan pengelolaan dakwah sekolah di masing-masing daerah. Aku dan Yadi kompak ngompori teman-teman daerah untuk mengikuti jejak konsep Solo dan Malang. Kita emang kompak, sampai-sampai kami berdua sepakat untuk mengusulkan rekomendasi setelah acara ini agar daerah-daerah bisa mengikuti jejak Solo dan Malang. Hehehe...Narsis habis euy...!!!

Malam menjelang, peserta dibagi menjadi dua forum. Forum yang pertama adalah pembahasan model penanggulangan bahaya pornografi ditataran pelajar sekolah menengah. Sedangkan forum yang kedua terkait dengan kelembagaan.

Forum pertama segera selesai karena model-model tersebut telah diFGDkan malam sebelumnya. Sehingga tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mempresentasikannya. Sedangkan forum kedua berjalan hingga larut. Hampir pukul 00.30 baru selesai pelaporan dan pembahasan kelembagaan.

Dan hari ini pun berakhir...berganti hari yang baru....besok masih harus Outbond.

Ahhhhhhhhhhh........................................

Mudah-mudahan Alloh memberikan mimpi yang indah malam ini.......

Amiiinnnnnn..........................
bismikkaAllahumma ahya wa ammuut...


Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Di Tanggapi