Selasa, 30 Desember 2008

Jejak Yang Tertinggal

Saat masih aktif mendaki gunung, saya senang meninggalkan jejak berupa tulisan, "Aku Pernah Nongkrong Disini", menancapkan bendera atau apa pun untuk memberitahu kepada pendaki sesudah saya bahwa saya pernah singgah di tempat itu sebelumnya. Atau sekiranya saya kembali ke gunung itu ingin sekali saya mencari jejak yang dulu saya tinggalkan, senanglah saya mengetahui tanda itu masih ada. Pun jika sudah hilang saya pun bergegas membuat tanda atau jejak baru.

Tidak hanya di puncak atau perjalanan mendaki, bahkan dinding kereta, bis dan kapal laut yang saya tumpangi pun saya sempatkan untuk sekadar mencoretkan nama saya, bahwa saya pernah menumpang angkutan itu. Saya pun pernah berniat untuk menulis nama saya di dinding pesawat kalau saja tak sempat dipelototi seorang pramugari. Bukannya saya mempunyai kebiasaan corat-coret di sembarang tempat, niatnya cuma ingin meninggalkan bekas bahwa saya pernah hadir di tempat itu. Kadang saya sering berangan-angan suatu saat anak cucu saya pergi ke suatu tempat mendapatkan nama saya masih terukir jelas di atas batu atau dinding angkutan umum.

Beberapa tahun lalu, adik saya yang paling bungsu masuk SMA tempat saya dulu menghabiskan tiga tahun berputih abu-abu. "Tolong sekali-kali lihat ke dinding sebelah utara toilet pria ya dik, masih ada nama abang nggak disituh?" pesan saya di hari pertama ia sekolah. Si cantik bungsu cuma nyengir, "Lihat saja sendiri". Memang tidaklah mungkin nama saya masih ada di dinding toilet, toh jarak antara saya lulus dengan adik saya masuk ke sekolah itu lumayan jauh, hampir sepuluh tahun. Entah sudah dicat ulang, atau ada yang mencoretnya dan menggantinya dengan namanya.

Anda juga pernah melakukannya bukan? Tapi sadarkah kita bahwa tanpa harus menuliskan nama, atau menandai suatu tempat dengan bendera, setiap kita memang telah dan sedang terus menerus meninggalkan bekas di setiap waktu dan tempat yang kita lalui. Di mana pun saya singgah, sesungguhnya saya akan meninggalkan bekas dengan kata, tingkah dan perbuatan saya. Yang semestinya saya lakukan adalah meyakinkan bahwa bekas dan jejak yang saya tinggalkan adalah bekas kebaikan, jejak kearifan. Bukan sebaliknya.

Saya ingat, dulu pernah berkata-kata keras di suatu kesempatan, tentu saya akan teramat malu untuk kembali ke tempat itu karena bekas yang saya tinggalkan adalah keburukan. Saya juga pernah berbuat memalukan di satu tempat, saya pasti akan selalu menangis mengingatnya, dan bekas itu masih sangat jelas membayang di pelupuk mata ini. Seketika bibir ini pun tersenyum, hati berbunga mengingat prestasi yang pernah saya lukiskan di sekolah menengah pertama. Atau dimana pun saya pernah meninggalkan jejak kebaikan. Hanya sebagai pengingat, bahwa di tempat itu saya bisa berbuat baik, semestinya di lain tempat dan waktu pun saya bisa melakukannya lebih baik, dan lebih banyak kebaikan.

Masalahnya kemudian, sadarkah kita bahwa setiap langkah kita, kapan pun dan dimana pun senantiasa meninggalkan jejak dan bekas yang teramat jelas? Lalu kenapa kita masih senang meninggalkan bekas yang kemudian orang akan mengenal dan mengenang kita bukan dari kebaikan-kebaikan yang pernah kita lakukan?

Saya terus mengingat satu kejadian di kelas satu sekolah menengah pertama ketika tak sengaja saya mematahkan salah satu alat olahraga milik sekolah. Dua tahun lalu ketika bertemu kembali dengan guru tersebut, "O ya bapak ingat, kamu yang dulu mematahkan tongkat lembing sekolah kan?" Ooh...

Reaksi:

1 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Di Tanggapi