Kamis, 18 Desember 2008

5 HARI ITU _ Episode 5

Jumat, 5 Desember 2008



Pagi telah menjelang. Beberapa ikhwan masih terpekur dalam dzikirnya. Dan beberapa lagi entah sedang apa. Yang jelas ada alunan halus yang terdengar merdu dan berirama. “Zzzzz....zzzz....zzz”. Hehehe.....


Pagi ini tidak ada acara. Hari terakhir pelatihan selama 5 hari ini. Beberapa peserta masih meanjutkan mimpinya diatas ranjang berselimut putih dipenginapan setelah sholat subuh. Sekitar pukul 6.30 baru terlihat kamar-kamar yang terbuka. Tidak ada yang berolahraga. Paling hanya beberapa peserta yang jalan-jalan berkeliling menikmati keindahan kawasan Griya Alam Ciganjur.


Ada sesuatu yang menyesakkan dadaku. Hari ini hari terakhir. Yang berarti kemungkinan aku tidak lagi bertemu dengan saudara-saudara seperjuangan dari propinsi lain. Ada rasa yang hilang. Baru aku pahami apa yang Yadi katakan kemarin,


“Besok sudah hari terakhir ya..”. aku merasakan seolah ada sebuah beban yang berat untuk dirasakan. Hanya 5 hari yang ternyata memberikan efek bagaikan 5 tahun. Memang sebuah pertemuan pasti akan ada perpisahan.

Pagi itu tidak banyak aktifitas yang kami lakukan, hanya beberapa sibuk mencari dokumen-dokumen selama acara. Baik bertukar file foto, file program lembaga daerah lain, dsb. Bagi peserta sepertiku yang tidak bawa kamera digital maupun laptop, cukup dengan membawa flashdisk sudah cukup untuk meminta file-file foto maupun file penting lainnya.


Sarapan pagi kurasakan sebagai sarapan bersama yang terakhir. Aku lupa tema apa yang kami obrolkan pagi itu. Yang jelas suasana perpisahan sudah mulai terasa. Beberapa ikhwan yang sudah menikah segera menelpon para uminya mengabarkan kepulangan. Sementara beberapa ikhwan yang masih lajang sibuk memperbincangkan cara pulang mereka. Beberapa stasiun kereta eksekutif dan agen tiket pesawat ketika dihubungi panitia hampir semuanya memberikan sebuah jawaban yang sama.


“Maaf, tiket untuk hari sabtu sampai senin sudah habis”, memang pekan ini ada libur panjang menjelang Hari Raya Idul Adha besok senin tanggal 8 Desember 2008.


“ Antum jadinya gimana, Yad?”, tanyaku pada Yadi saat sarapan terakhir.


“ Belum tahu, Akh Cahyo dan 2 akhwat dari Surabaya langsung pulang nanti jam 10.00 pakai Kereta. Mungkin ane ikut bareng yang dari JATENG. Antum sendiri sudah dapat ?”.


“ Aku sih gampang, Yad. Pulangku hari selasa. Rencana mau mampir dulu di Rumah Mba didaerah Lenteng Agung Jakarta Selatan. Hari ahad mau mampir ke Saudara sepupu di daerah Depok, terus mau menghabiskan Hari Ied’nya di Pondok Pesantren tempat temanku ngajar. Didaerah Gunung Salak Kabupaten Bogor. Bener Akh, Antum bareng yang dari JATENG saja akh, sekalian ngancani akh Hasan “, jelasku sambil menyantap sarapan. Kulihat beberapa rusa tutul sudah mulai keluar dari kandangnya, memunguti rerumputan yang terhampar bagai permadani hijau.


“ Oh, ya Yad. Di daerah Malang tempat-tempat yang menarik untuk dikunjungi daerah mana saja ?”. aku mencoba memberikan tema untuk obrolan pagi ini.


“ Ya, paling daerah Batu. Antum sudah pernah kesana ?”, jawabnya singkat sambil mengunyah makanan.


“ Belum, akh. Rencana tahun baru aku ngantar Mba sepupu keMalang. Mau Legalisir sekaligus reuni dengan teman-temannya di UNIBRAW. Sekalian mau jalan-jalan. Kalau antum tidak keberatan, aku nginap di Kostmu saja ya. Paling 2 malam. Soalnya Mba mau nginap di Rumah temannya yang putri”.


“ Boleh saja Akh”, jawabnya dengan senyum tulus.


Selesai sarapan, kami bersiap-siap untuk mengikuti acara arahan dari pihak panitia terkait kelanjutan follow up dari pelatihan ini. Acara dipandu oleh Pak Budhi dari KEMEGPORA. Setelah itu acara dilanjut dengan acara penutupan yang langsung di tutup dari pihak KEMENEGPORA. Pak Menteri tidak bisa datang, sehingga acara penutupan terlihat tidak terlalu formal. Bahkan lebih banyak dibumbui dengan banyolan-banyolan dari peserta ikhwan.


Penyampai Kesan dan Pesan dari perwakilan Aceh, akh Ridho dan akhwatnya Kak Rita dari Medan. Sementara pembaca Doa Penutup dari Riau Daratan, Akh Helmi.


Saat doa penutupan dibacakan, ada rasa yang mengalir didalam jiwa. Rasa kebersamaan yang sebentar lagi akan meredup sejalan dengan berakhirnya acara pelatihan ini.



Seusai penutupan, kami saling bersalaman dan berpelukan. Saling memaafkan dan memberikan semangat dan doa, semoga tetap istiqomah dalam menjalankan amanah dakwah di kalangan Pelajar.


Acara penutupan selesai pukul 11.30. Mepet sekali mencari masjid untuk sholat Jumat. Akhirnya kami melaksanakan sholat jumat sendiri. Yang menjadi khotib adalah Akh Helmi. Isi khotbah begitu menyentuh. Cerita tentang kehidupan seorang sahabat bernama Mush’ab bin Umair. Sangat sesuai dengan kondisi kami saat ini. Seorang pemuda yang didelegasikan dari daerah-daerah untuk menimba ilmu yang kemudian harus di aplikasikan di daerah masing-masing. Beliau menyampaikan khotbah dengan nada yang pelan namun mendalam.


Cerita tentang sorang pemuda dari kalangan Quraishy yang gaya kehidupannya sangat bergelimangan harta, jabatan kekuasaan dan kemewahan. Dari pakaiannya yang dipakai terbuat dari kain yang berkelas. Ketika berjalan, keharumannya sudah tersiar sebelum ia datang bahkan setelah ia meninggalkannya. Wajahnya yang tampan rupawan, dan senantiasa menjaga kebersihan. Seorang pemuda yang penuh dengan jiwa dan semangat kepemudaan. Sehingga ia menjadi buah bibir sebagai bintang idaman para gadis-gadis dizamannya.


Sampai suatu saat Mus’ab bin Umair ini mendengar berita yang tersiar luas dikalangan kaum Quraisy mengenai Muhammad Al Amin. Dari berita-berita yang tersiar dimasyarakat, membuat pemuda yang mempunyai otak yang cerdas dan kritis ini penasaran, hingga pada suatu senja didorong oleh rasa keingintahuannya akhirnya ia pergi ke rumah Arqom bin Abil Arqom, di bukit Shafa. Ditempat itu Rasulullah saw sering berkumpul dengan para sahabatnya, tempat mengajarkan ayat-ayat Al Quran dan membawa para pengikutnya shalat beribadat kepada Allah Yang Maha Akbar. Disana pula terhindar dari gangguan gerombolah Quraisy dan ancaman-ancamannya.


Sejenak Mush’ab duduk diantara majelis, ayat-ayat Al Qur’an mulai mengalir dari kalbu Rasulullah bergema melalui kedua bibirnya dan sampai ketelinga, meresap di hati para peserta majelis. Disenja itu pula menjadi saksi keterpesonaan Mush’ab bin Umair kepada ajaran yang disampaikan Rasulullah saw. Saat Rasulullah mengulurkan tangannya yang penuh dengan berkah dan kasih sayang dan mengurut dada pemuda yang sedang panas bergejolak, hingga tiba-tiba menjadi sebuah lubuk hati yang tenang dan damai, tak obah lagi bagai lautan yang teduh dan dalam. Pemuda yang telah mengenal Islam dan Iman sebelumnya dari kabar-kabar yang tersiar itu semakin berlipat ganda ilmu dan hikmahnya dari ukuran usianya yang masih belia.


Ketika Mush’ab bin Umair menganut Islam, tidak ada suatu kekuatanpun yang ditakuti dan dikhawatirkannya selain Ibunya sendiri, Khunas binti Malik. Seorang yang berkepribadian kuat yang pendiriannya tak dapat ditawar atau diganggu gugat sehingga menjadi sosok wanita yang disegani bahkan ditakuti. Mush’ab pun segera berpikir keras dan mengambil keputusan untuk menyembunyikan keislamannya sampai terjadi sesuatu yang dikehendaki Allah. Mush’ab senantiasa bolak-balik ke rumah Arqom menghadiri majelis Rasulullah.


Sampai suatu ketika, seseorang bernama Usman bin Thalhah membongkar gerak-gerik yang selama ini berusaha untuk disembunyikan Mush’ab ketika dilihatnya ia memasuki rumah Arqom dengan sembunyi-sembunyi dan pernah memergokinya sholat seperti sholatnya Muhammad saw.


Berita keislaman Mush’ab sampai ketelinga Ibundanya dan keluarga. Mush’ab berdiri dihadapan Ibunda dan keluarganya, serta para pembesar Mekkah yang berkumpul di rumahnya. Sesaat, ketika amarah Ibundanya memuncak maka dengan hati yang yakin dan pasti dibacakannya ayat-ayat Al Quran yang pernah disampaikan Rasulullah untuk mencuci hati nurani mereka, mengisinya dengan hikmah dan kemuliaan, kejujuran dan ketakwaan.


Ketika sang Bunda hendak membungkam mulut puteranya dengan tamparan yang keras, tiba-tiba tangan sang Bunda terkulai lemas demi melihat cahaya yang membuat wajah yang telah berseri cemerlang itu kian berwibawa dan patut diindahkan menimbulkan suatu ketenangan yang mendorong dihentikannya dorongan untuk melukai. Sampai kemudian sang Bunda mengambil sebuah keputusan untuk mengurung Mush’ab bin Umar di tempat yang jauh terpencil dalam kurungan.


Saat para Muslimin hijrah ke Habsyi untuk mencari perlindungan dari gangguan dan ancaman kaum Quraisy, Mush’ab dengan kecerdikannya mengelabui para penjaga dan ibundanya. Iapun bisa lolos dari kurungan dan menyusul saudara-saudara seiman untuk mencari perlindungan diwilayah Habsyi. Selama itu pula Mush’ab merasakan segala cobaan dan ujian yang dialami bersama dengan para muslimin, sehingga menguatkan kepribadiannya sebagai seorang muslim yang tangguh, bukan lagi seorang anak orang kaya yang manja dengan segala kesenangan dan kemewahan.


Saat ia tampil didalam majelis Rasulullah, beberapa orang menundukkan kepala dan memejamkan mata, sementara beberapa orang yang menatapnya dengan mata yang mulai membasah. Belum hilang ingatan kaum muslimin akan sosok Mush’ab sebelum ia masuk Islam, ketika memakai pakaian tak ubahnya seperti kembang di taman, berwarna warni dan menghamburkan wewangian. Namun sekarang yang berada dihadapannya adalah sosok Mush’ab dengan jubah usang yang bertambal-tambal.


Kondisinya berbeda 180 derajat ketika ia memutuskan untuk mengimanai Allah dan Rasul Muhammad saw serta berjihad dijalan keimanan. Rasulullah memandangnya dengan pandangan yang penuh arti, disertai cinta kasih dan syukur dalam hati, pada kedua bibirnya tersungging senyuman mulia, seraya bersabda :


“ Dahulu saya melihat Mush’ab ini tak ada yang mengimbangi dalam memperoleh kesenangan dari orang tuanya, kemudian ditinggalkannya semua itu demi cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya”.


Segala timpaan cobaan dan ujian telah membentuk kokohnya pendirian Mush’ab. Bahkan ketika ia kembali ke Mekkah dan bertemu dengan ibunya. Sang Bunda hendak mengurungnya kembali, namun karena kegigihan sang Anak dalam mempertahankan keimanannya membuat sang Bunda memilih sebuah keputusan yang besar. Memutuskan hubungan kekeluargaan.


Saat perpisahan itu menggambarkan kepada kita kegigihan luar biasa dalam kekafiran pihak Ibu, sebaliknya kebulatan tekad yang lebih besar dalam mempertahankan keimanan dari pihak anak. Ketika sang bunda mengusirnya dari rumah sambil berkata :


“Pergilah sesuka hatimu ! Aku bukan IBUmu lagi...!!!”,


Mush’ab segera menghampiri Ibunda dengan menangis sambil berkata.


“ Wahai Bunda, Telah nanda sampaikan sebuah nasihat kepada ibunda tentang sebuah kebenaran Islam. Dan nanda menaruh kasihan kepada Bunda. Karena itu saksikanlah bahwa tiada Tuhan melainkan Allah, dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya”. Mendengar itu sang bunda naik pitam dan menyahut,


“ Demi bintang !! sekali-kali aku tidak akan masuk kedalam agamamu itu. Otakku bisa jadi rusak, dan buah pikiranku takkan diindahkan orang lagi”.


Demikian Mush’ab meninggalkan kemewahan dan kesenangan yang dialaminya selama itu, dan memilih hidup miskin dan sengsara. Pemuda ganteng dan perlente itu, kini telah menjadi seorang melarat dengan pakaiannya yang kasar dan usang, sehari makan dan beberapa hari menderita lapar.


Tetapi jiwanya yang telah dihiasi dengan ‘Aqidah suci dan cemerlang berkat celupan cahaya hidayah Illahi, telah merubah dirinya menjadi sosok manusia lain, yaitu manusia yang dihormati, penuh wibawa dan disegani.


Sampai suatu saat, Rasulullah memikulkan sebuah amanah yang akan menjadi awal pertanda diterima atau tidaknya ajaran suci Illahi ini di Tanah Yasrib. Yang sekarang dikenal sebagai Madinnah al Munawwaroh. Sebenarnya dikalangan para sahabat, ada yang masih banyak yang lebih tua, lebih berpengaruh dan lebih dekat hubungan kekerabatannya dengan Rasulullah saw daripada Mush’ab. Namun Rasulullah memilihnya karena karunia Allah yang diturunkan kepada Mush’ab berupa pikiran yang cerdas dan budi pekerti yang luhur. Dengan sifat zuhud, kejujuran dan kesungguhan hati, ia berhasil melunakkan dan menawan hati penduduk Madinnah hingga mereka berduyun-duyun masuk Islam. Kaum Muslim Madinah semakin bertambah banyak selepas bai’at di bukit ‘Aqobah yang awalnya tidak lebih dari 12 orang kaum muslimin.


Dengan tindakannya yang tepat dan bijaksana, Mush’ab bin Umair telah membuktikan bahwa pilihan Rasulullah saw atas dirinya itu memang tepat. Ia memahami tugas dengan sepenuhnya, hingga tak terlanjur melampaui batas yang telah ditetapkan. Ia sadar bahwa tugasnya adalah menyeru kepada Allah, menyampaikan kabar gembira lahirnya suatu Agama yang mengajak manusia mencapai hidayah Allah, membimbing mereka ke jalan yang lurus. Akhlaknya mengikui pola hidup Rasulullah yang diimaninya, yang mengemban kewajiban hanya menyampaikan belaka.


Di Madinah Mush’ab tinggal sebagai tamu di rumah As’ad bin Zararah. Dengan didampingi oleh As’ad, ia pergi mengunjungi kabilah-kabilah, rumah-rumah dan tempat-tempat pertemua, untuk membacakan ayat-ayat Kitab Suci dari Allah, menyampaikan kalimatullah “ bahwa Allah Tuhan Maha Esa” secara hati-hati.


Pernah ia menghadapi beberapa peristiwa yang mengancam keselamatan diri serta sahabatnya, yang nyaris celaka kalau tidak karena kecerdasan akal dan kebesaran jiwanya.


Seperti dalam sebuah episode kehidupannya saat menyampaikan dakwah kepada kaum dari suku kabilah Abdul Asyhal di Madinah, Mush’ab ditodong oleh Usaid bin Hudlair sang kepala kabilah. Mush’ab tetap menampakkan air muka yang tenang dan berwibawa ketika Usaid menggertaknya,


“ Apa maksud kalian datang ke kampung kami ini, apakah hendak membodohi rakyat kecil kami ? tinggalkan segera tempat ini, jika tidak ingin segera nyawa kalian melayang..!!!”


Seperti samudera yang tenang dan dalam, laksana cahaya yang memancar dari rembulan purnama, terpancar ketulusan dari dalam hati Mush’ab untuk menanggapi gertakkan sang kepala kabilah.


“ Mengapa Anda tidak duduk sebentar, dan mendengarkan dulu ? seandainya Anda nanti menyukainya, silahkan Anda menerimanya. Namun sebaliknya, jika Anda tidak menerimanya, kami akan menghentikan apa yang tidak Anda sukai itu...”. Kalimat yang disampaikan Mush’ab bukanlah gertakan balik, namun hanyalah permohonan kepada hati sang kepala kabilah untuk sekedar mendengarkan terlebih dahulu, bukan yang lain. Jika ia menyukainya, maka ia akan membiarkan Mush’ab melanjutkan. Namun jika tidak, maka Mush’ab berjanji akan meninggalkan kampung dan masyarakat mereka untuk mencari tempat dan masyarakat yang lainnya, dengan tidak merugikan ataupun tidak dirugikan oleh orang lain.


Dengan kalimat yang tidak mengancam itulah kemudian Usaid sang kepala kabilah menjatuhkan lembing yang tadi diarahkan kepada Mush’ab kemudian duduk mendengarkan Mush’ab membacakan ayat-ayat Al Qur’an dan menguraikan dakwah yang dibawa oleh Muhammad bin Abdullah saw. Maka, dada Usaid pun mulai terbuka dan bercahaya, beralun berirama mengikuti naik turunnya suara serta meresapi keindahannya. Dan belum selesai Mush’ab menyelesaikan dakwahnya, Usaid pun berseru kepadanya,


“ Alangkah indah dan benarnya apa yang engkau ucapkan...!! apakah yang harus dilakukan orang yang hendak memasuki Agama ini ?”


Maka sebagai jawabannya, dengan mengagungkan Asma Allah, Mush’ab berujar “ Hendaklah ia mensucikan diri, pakaian dan badannya, serta bersaksi bahwa tiada Tuhan yang Haq diibadahi melainkan Allah dan bahwa Muhammad itu utusan Allah...”


Maka tak berapa lama Usaid kembali dengan badan dan pakaian yang bersih dan mengucapkan syahadat. Keislaman Usaid disusul dengan keislaman yang lain seperti Sa’ad bin Mu’adz dan Sa’ad bin ‘Ubadah. Dengan masuknya para kepala suku kabilah, maka menyusul para anggota kabilah yang lain.


Episode kehidupan Mush’ab bin Umair selesai dalam sebuah peperangan besar antara kaum Muslimin dengan Kaum Kafir Quraisy. Dalam sebuah perang di bukit Uhud yang kemudiah dikenal dengan perang Uhud. Dalam perang tersebut, Rasulullah kembali mengamanahkan kepada Mush’ab sebuah amanah besar. Yaitu memimpin peperangan dengan membawa bendera panji muslimin.


Peperangan berkobar berkecamuk dengan sengitnya, sampai kemudian pasukan Kafir Quraisy mundur dari medan laga. Kaum Muslimin menguasai medan pertempuran, semetara kaum kafir Quraisy tunggang langgang meninggalkan segala macam perlengkapan perang yang kemudian menjadi ghonimah perang. Dalam peperangan ini Allah berkehendak memberikan sebuah pelajaran yang sangat berharga yang akan menjadi sebuah peringatan bagi kaum muslimin di sepanjang jaman.


Pasukan panah yang sedianya diperintahkan Rasulullah untuk tetap menjaga benteng pertahanan diatas bukit terlena dengan ghonimah yang ditinggalkan pasukan musuh. Sehingga kesempatan itu diambil alih oleh pihak musuh untuk menyerang dari belakang oleh pasukan kafir Quraisy yang dipimpin oleh Kholid bin Walid saat masih jahiliyah.


Dengan tidak terduga pasukan berkuda Quraisy menyerbu kaum Muslimin dari puncak bukit, lalu tombak dan pedangpun berdentang kembali bagaikan mengamuk, membantai kaum muslimin yang tengah kacau balau. Melihat barisan kaum Muslimin yang porak poranda, musuhpun mengarahkan serangan langsung ke arah Rasulullah dengan maksud menghantamnya.


Ush’ab bin Umair menyadari gentingnya peristiwa ini. Maka, diacungkannya bendera panji Islam setinggi-tingginya, dan bagaikan auman singa ia bertakbir sekeras-kerasnya, lalu maju ke muka, melompat, mengelak, berputar dan menerkam. Tujuannya untuk menarik perhatian musuh kepadanya dan melupakan Rasulullah saw. Dengan demikian dirinya pribadi bagaikan membentuk barisan tentara yang membentengi arah menuju Rasulullah saw.


Sungguh, walaupun seorang diri, tetapi Mush’ab bertempur laksana pasukan tentara besar. Sebelah tangannya memegang bendera panji bagaikan tameng kesaktian, sedang yang sebelahnya lagi menebaskan pedang dengan matanya yang tajam. Tetapi musuh kian bertambah banyak, mereka hendak menyeberang dengan menginjak-injak tubuhnya untuk mencapai Rasulullah. Dengan gigihnya Mush’ab berusaha untuk tetap bertahan mengalihkan perhatian musuh. Kegigihannya diceritakan oleh Ibnu Sa’ad yang mengatakan “ diceritakan kepada kami oleh Ibrahim bin Muhammad bin Syurahbil al ‘ Abdari dari bapaknya, ia berkata :


“ Mush’ab bin Umair adalah pembawa bendera di Perang Uhud. Tatkala barisan kaum Muslimin pecah, Mush’ab bertahan pada kedudukannya. Datanglah seorang musuh berkuda, Ibnu Qumaiah namanya, lalu menebas tangannya hingga putus, sementara Mush’ab mengucapkan : “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, yang sebelumnya telah didahului oleh beberapa rasul”. Maka dipegangnya bendera dengan tangan kirinya sambil membungkuk melindunginya. Musuhpun menebas tangan kirinya itu hingga putus pula. Mush’ab membungkuk kea rah bendera, lalu dengan kedua pangkal lengan meraihnya ke dada sambil mengucapkan : “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, yang sebelumnya telah didahului oleh beberapa rasul”. Lalu orang berkuda itu menyerangnya ketiga kali dengan tombak, dan menusukkannya hingga tombak itupun patah. Mush’ab pun gugur dan bendera jatuh”.


Gugurlah Mush’ab sebagai bintang dan mahkota para syuhada. Keberanian yang luar biasa mengarungi kancah pengorbanan dan keimanan. Setelah pertempuran usai, ditemukanlah jasad pahlawan ulung yang syahid itu terbaring dengan wajah menelungkup ke tanah digenangi merah darahnya yang mulia. Dan seolah-olah tubuh yang telah kaku itu masih takut menyaksikan bila Rasulullah ditimpa bencana, maka disembunyikannya wajahnya agar tidak melihat peristiwa yang dikhawatirkan dan ditakutinya itu. Atau mungkin juga ia merasa malu karena telah gugur sebelum hatinya tenteram memperoleh kepastian akan keselamatan Rasulullah yang di Cintainya, dan sebelum ia selesai menunaikan tugasnya dalam membela dan mempertahankan Rasulullah sampai berhasil.


Saat pasukan Rasulullah sedang mengumpulkan jasad-jasad para syuhada. Sampailah pada jasad Mush’ab kemudian bercucuran dengan deras air matanya. Dan berkata Khabbah ibnul ‘Urrat :


“ Kami hijrah di jalan Allah bersama Rasulullah saw. Dengan mengharap keridhaan-Nya, hingga pastilah sudah pahala disisi Allah. Di antara kami ada yang telah berlalu sebelum menikmati pahalanya di dunia ini sedikit pun juga. Di antaranya ialah Mush’ab bin Umair yang gugur di Medan Uhud. Tak sehelai pun kain untuk menutupnya selain sehelai Burdah. Andaikan ditaruh di atas kepalanya, terbukalah kedua belah kakinya. Sebaliknya, bila ditutupkan ke kakinya, terbukalah kepalanya. Maka sabda Rasulullah saw : “ Tutupkanlah ke bagian kepalanya, dan kakinya tutupilah dengan rumput idzkhir..!!”.


Rasulullah mengarahkan pandangannya ke medan laga. Jasad pamannya yang dikoyak-koyak oleh kaum kafir Quraisy membentuk luka yang amat dalam hingga bercucurlah air mata Rasulullah saw. Jasad-jasad para sahabat yang dicintainya, para kawan-kawannya, yang masing-masing mereka baginya merupakan panji-panji ketulusan, kesucian dan cahaya. Kemudian sesaat Rasulullah berdiri didekat jasad Mush’ab bin Umair dengan pandangan mata yang pendek bagai menyelubunginya dengan kesetiaan dan kasih sayang, dibacakan ayat :


“ Diantara orang-orang Mu’min terdapat pahlawan-pahlawan yang telah menepati janjinya dengan Allah….” ( QS. Al Ahzab : 23)


Kemudian dengan memandangi burdah yang digunakan untuk kain kafannya, seraya bersabda :


“ Ketika di Mekkah dulu, tak seorangpun aku lihat yang lebih halus pakaiannya dan lebih rapi rambutnya daripadamu. Tetapi sekarang ini, dengan rambutmu yang kusut masai, hanya dibalut selehai burdah.”


Setelah melayangkan pandang, pandangannya sayu kearah medan serta para syuhada kawan-kawan Mush’ab yang tergeletak di atas medan laga, Rasulullah berseru:


“ Sungguh, Rasulullah akan menjadi saksi nanti di hari Qiyamat, bahwa kalian yang meninggal semua adalah syuhada di sisi Allah”, kemudian berpaling kearah sahabat yang masih hidup, sabdanya :


“ Hai Manusia ! berziarahlah dan berkunjunglah kepada mereka, serta ucapkanlah salam ! Demi Allah yang menguasai jiwaku, tak seorang Muslim pun sampai hari Qiamat yang memberi salam kepada mereka, pasti mereka akan membalasnya.”


Beberapa dari jamaah jum’at sesenggukan menangis mendalami siroh sahabat tersebut. Kutbah keduapun disampaikan. Kami mengamini doa yang dibacakan Khotib. Entah kenapa, beberapa bulir bening mengalir dari sudut mataku membasahi pipi. Aku merasa belum pantas untuk bias disebut sebagai pemuda yang bias diandalkan dan sebagai harapan bangsa. Bagaimana mungkin aku bisa mngubah dunia jika untuk mengubah diriku menjadi lebih baik saja masih terlalu sulit. Sesekali aku seka hidung yang sejak tadi basah oleh air mata.


Bulir-bulir itu tetap mengalir saat kami berdiri untuk takbiratul ihrom, memperdengarkan Al Fatihah dan Surat Pilihan. Lalu dalam sujud terakhir, sang Imam memperpanjang sujud yang menambah suasana semakin khusyuk. Dan sesenggukan para peserta semakin terdengar jelas.


Sholat Jumat selesai, kemudian dilanjut menjamak qoshor sholat ashar. Saat itu aku tidak ingat, namun yang pasti aku begitu khusyuk membaca Do’a Robithoh. Agar Allah senantiasa mengikatkan hati kami dalam keimanan di Jalan-Nya.


“ Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah berkumpul untuk mencurahkan kecintaan hanya kepada-Mu, bertemu untuk saling taat kepada-Mu, bersatu padu dalam rangka menyerukan kebenaran di Jalan-Mu, dan berjanji setia untuk membela Syari’at-Mu, maka kuatkanlah ikatan pertaliannya. Ya Allah, abadikanlah kasih sayangnya, tunjukkanlah jalannya, dan penuhilah dengan Cahay-Mu yang tidak akan pernah redup, lapangkanlah dadanya dengan limpahan iman dan keindahan tawakal kepada-Mu, hidupkanlah dengan makrifah-Mu, dan matikanlah dalam keadaan Syahid di Jalan-Mu. Sesungguhnya Engkau sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. Amiin....”


Setelah kutangkupkan kedua tanganku, ku rangkul Akh Yadi yang duduk bersila di samping kiriku.


“ Antum pulang nanti saja, sekalian nemani ane diperjalanan”,


Aku hanya tersenyum. Karena sebuah harap yang tak perlu untuk ku jawab. Cukuplah hati yang berkata ‘ ana uhibbukka fillah, akhi’...

Reaksi:

1 komentar:

akhirnya bisa read more juga nih... :o

Posting Komentar

Silahkan Di Tanggapi