Kamis, 28 Oktober 2010

Hujan Hapus Bayangmu

Dhuhur telah lengser dari singgasana langit, sementara di langit barat Ashar segera menggantikan kekuasaannya. Di satu sudut kamar, selembar kertas warna biru masih tersimpan rapi dalam sarung plastik bening. Kertas dengan dua buah nama yang tercetak timbul di sampul depannya. Dengan gambar dua ekor merpati yang membawa pita memadu membentuk hati. Sementara di ujung sudut mata seorang gadis, ada bening mengalir bak anak sungai, membasahi bantal merah jambu berbentuk hati yang ia dekap. Seakan pada istana jiwanya terdapat sumber gempa sebesar 8 skala richter. Meluluh-lantakkan bangunan hati dengan segala puing-puing yang menyangga jiwa.

“ Dek, undangan tadi aku titipkan Dek Sari. Afwan, ndak sempat mampir ke rumah, masih harus ngurus persiapan gedung dan sound system”, sebuah pesan singkat yang muncul pada layar hpnya seakan menjadi pemicu gempa susulan yang semakin memperparah keadaan. Menimbulkan gelombang tsunamu dalam samudera jiwanya. Bergejolak, memecah tebing-tebing keimanan.

Dia, lelaki yang tiga tahun silam mengantarkannya mengenal jalan tuhan. Yang bersabar meladeni segala pertanyaan-pertanyaan mendalam tentang Islam. Sampai pada satu batas waktu akhirnya ia memantapkan hati untuk mengenakan selembar kain untuk menutupi rambut dan sebagian tubuh. Waktu tiga tahun kebersamaan yang berbalut kata seindah ukhuwah. Dan sentuhan-sentuhan hangat persaudaraan. Bagai kakak dan adik. Bahkan ia berharap lebih, menempatkannya pada posisi tertinggi di singgasana hati.

“Ada apa denganku...?”, gadis berkerudung biru itu meruntuki dirinya sendiri. Meremas kuat bantal merah jambu.

“Jelas-jelas aku bukan siapa-siapa. Ia tak pernah memintaku untuk menunggu. Tak pernah memaksaku menyimpan harap. Tak pernah sekalipun...!! Tak pernah..!! “

“ Lalu ada apa denganku ? Ya Robb...“, Lirih batin membongkar bendungan pada genangan mata. Semakin deras alirannya. Wanita, dengan segala kelemahan hatinya. Semakin tenggelam dalam banjir yang semakin dalam

“ Ini semua salahnya...!! ia telah menebar harapan. Senyumannya, sapaannya, perhatiannya.Ini semua salahnya...!! ”, bantal merah jambu berbentuk hati menjadi korban, bulu lembut yang melapisinya kini basah oleh air mata.

Kepala mungil berbalut kain biru itu tersungkur, kembali gempa dasyat menerpa.

**

“Hai, Mas Andri kan..?”, satu suara memanggil seorang pemuda dengan jas mahasiswa warna biru tua yang sejurus menggeser posisi berdirinya. Menghadap penuh pada gadis berwajah mungil yang berbaur di antara ratusan wajah-wajah baru yang bertebaran, Wajah-wajah yang kini menyandang gelar mahasiswa. Kedua alisnya tertaut naik, seakan dalam benaknya mencoba berusaha keras membongkar seluruh laci lemari memori.

“Mas Andri jangan pura-pura lupa deh...Aku Arni, Mas. Adik kelas Mas Andri, dulu ikut PMR, kelas 1-B”. Gadis itu segera membantu mengambilkan satu berkas dalam memori tersebut. Pemuda yang di panggil Andri itu tersenyum lebar.

“Owh iya, Mas sempat pangling. Keterima di fakultas apa ?”, sapanya ramah. Senyumnya merekah. Wajahnya cerah.

“Wah, mas Andri bener-bener sudah jadi orang sibuk nih, sampe lupa sama adik kelas sendiri. Aku keterima di Fakultas SOSPOL, Mas. Jurusan Sosiologi”,

“Alhamdulillah, Selamat ya”, Andri menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Arni mengngguk dengan senyum yang semakin mengembang.

“Oh iya. Arni sudah dapat Kost-kostan..? kalau belum, saya punya temen yang bisa membantu mencarikan kost-kostan”, masih dengan senyum itu. Senyum yang dulu menjadikannya sebagai idola bagi para remaja putri penghuni sekolahnya. Bukan hanya senyum, namun keramahannya yang tak juga berubah.

“Belum, Mas. Sementara ini aku ikut Pakdhe.Tapi ternyata lumayan jauh juga dari kampus. Pengin nyari kost aja, biar dekat kampus.”

“Oke, bentar ya, saya panggilkan teman.”, pemuda itu berlalu, angin mencuri-curi tempat diantara belahan rambut. Memainkan setiap helai rambut hitamnya. Kemudian Andri kembali bersama seorang mahasiswi dengan kerudung lebar.

“Assalamu’alaikum...Dewi”, mahasiswi berwajah ramah itu mengulurkan tangannya, disambut erat oleh Arni.

“Arni”, senyumnya kembali mengembang.

“Dek Arni belum dapat kost-kostan ya...?”

“Belum, Mbak”,

“Kebetulan nih, Mbak bersama teman-teman punya kontrakan, dan masih ada kamar kosong. Insya Allah kondusif buat belajar. Aman, fasilitas memadai walaupun sederhana. Dan dekat dengan kampus. Apalagi kampusnya Dek Arni, paling 10 menit jalan santai bisa nyampai.”

“Wah boleh tuh, Mbak. Nggak keberatan lihat-lihat dulu khan Mbak..?”

“Dengan senang hati, Dek Arni. Nanti setelah semua urusan registrasi selesai, Dek Arni langsung ke Stand UKKI saja ya, itu di sana”, Dewi melayangkan telunjuknya ke arah gerombolan mahasiswi-mahasiswi yang berpenampilan tidak jauh berbeda dengan Dewi.“

“Maaf, Dek Arni, saya harus mengurus yang lain dulu. Dek Arni sama Mbak Dewi dulu ya.”, pemuda itu menyela obrolan mereka.

“Ya, Mas. Terima kasih banyak.oh iya,minta No HPnya Mas Andri siapa tahu nanti Arni butuh bantuan Mas Andri.”

“Sebentar”, Andri mengeluarkan dompetnya, mengambil secarik kartu nama. kemudian segera berpindah di tangan Arni.

“Assalamu’alaikum...”, Andri menangkupan dua tangan di dada, kemudian berlalu dari dua wanita yang kembali akrab dalam perkenalannya.

**

“Iya, Mbak. Dulu Mas Andri itu jadi idola di sekolah. Coba deh bayangkan, Mbak. Siapa yang gak bakal jatuh hati sama Mas Andri. Udah cakep, baik hati, ramah, aktif organisasi, OSIS, Pramuka, PMR, Karawitan, Taekwondo, Club Sains, pokoknya di sekolah tuh dulu cuma satu makhluk itu yang jadi inceran cewek-cewek. Belum lagi nih Mbak, Senyumnya itu loh... kagak nahaaann...”, Arni heboh di lingkungan barunya saat berkumpul mempersiapkan perlengkapan Ospek untuk besok.

“Ssst.. Ihh Dek Arni ini, jangan buka masa lalu orang lain ahh.. Itu namanya Ghibbah.”, Dewi mencubit kecil lengan Arni .

“ Yee... kalau ngomongin kebaikan khan bukan Ghibbah, Mbak. Apalagi Mas Andri itu, dari dulu dia sekolah memang gak suka macem-macem, Mbak. Pokoknya beda jauh deh sama cowok-cowok jaman itu.”

“Iya..iya... sudah ah... pembahasannya kok jadi sampai ke Andri githu. Sudah ah, nih di kerjain tugas Ospeknya. Mbak mau nyiapin materi presentasi besok pagi.”, Dewi kembali ke depan layar komputernya.

“Oce deh mbaakk...”, Arni mencubit pipi “bakpao”nya, Dewi membalas gbalik. Mencubit kecil pinggang Arni. Arni mencoba mengelak, kemudian tertawa lebar. Arni serasa sudah pernah mengenal lama. Akrab. Bagaikan kakak dengan adiknya. Ia merasa nyaman. Merasa di terima di lingkungan yang “asing” bagi dirinya.

**

“ Begini, Ustadz. Saya ingin menanyakan, apa yang di maksud seseorang mencintai karena Allah?”, Sebuah suara dari mahasiswa yang duduk dekat dinding sebelah kiri membuka session pertanyaan pada kajian kelas jurusan Sosiologi. Arni yang duduk di depan begitu antusias mengikuti kajian yang selama ini jarang ia ikuti. Karena ia berpandangan yang namanya pengajian adalah hal yang membosankan. Sekedar duduk, dan mendengarkan pak kyai yang berceramah monoton dan bahasa urakan. Namun entah kenapa, di kajian kelas yang di adakan oleh Program studinya ini, Arni begitu bersemangat. Tentunya bukan hanya karena konsep kajian yang menarik, tapi juga mungkin karena ustadz yang mengisi kajiannya. Mas Andri.

“Terima kasih. Sebuah pertanyaan yang sangat bagus. Tapi jangan panggil saya Ustadz, ilmu saya kurang mumpuni untuk layak di panggil ustadz. Panggil Mas saja. Bismillah. Menjawab pertanyaan dari saudaraku. Pengertian cinta karena Allah adalah mencintai seseorang lantaran ketaatannya kepada Allah Azza wa Jalla, atau cinta di jalan Allah. Memang harus dibedakan mana yang mencintai pasangan jenisnya karena Allah Azza wa Jalla dan mana yang sekedar cinta karena ketertarikan kepada pasangan jenis saja, dan keduanya jelas berbeda. Hal itu dapat dilihat dari motif dasar dia mencintainya. Apakah dasarnya adalah agama dan keshalihannya ataukah tidak ?”, Mas Andri memberi jeda waktu kepada peserta untuk menyerap kata-katanya. Mengedarkan pandangan ke setiap ruangan. Tidak lama, hanya sekian detik. kemudian dia melanjutkan.

“ Biasanya seseorang mencintai kepada pasangan jenis, karena memang orang itu suka atau tertarik pada pasangan jenisnya saja, karena kecantikan dan ketampanan, atau hal lain yang menarik baginya. Dan tidak didasarkan cinta karena Allah Tabaraka wa Ta’ala.
Oleh karena itu sebaiknya kita semua kembali melihat diri kita masing-masing, apakah sifat cinta karena Allah Azza wa Jalla telah ada dalam diri kita ataukah belum? Kalau sudah bersyukurlah dan mintalah kepada Allah agar tetap istiqomah, dan kalau belum marilah kita perbaiki iman dan Islam kita sehingga bisa tumbuh sifat tersebut dalam diri kita.

“Dan perlu kita ketahui, kalau seandainya seseorang itu benar-benar cintanya karena Allah, maka pasti ia akan berusaha berjalan sesuai dengan syari’at agama Allah, dan tidak akan melanggar ketentuan-ketentuan dan larangan-larangan dari Allah Tabaraka wa Ta’ala. Sebagaimana Abu Dzar pernah berkata: “Wahai Rasulullah, bagaimana jika ada seseorang yang mencintai suatu kaum tapi tidak mampu beramal seperti mereka? Rasulullah saw. bersabda, “Engkau wahai Abu Dzar, akan bersama siapa saja yang engkau cintai.” Abu Dzar berkata; maka aku berkata, “Sungguh, aku mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Abu Dzar mengulanginya satu atau dua kali”. Di riwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Hibban. Jadi, barang siapa diantara kita apabila mencintai seseorang karena Allah, karena kebaikan-kebaikan yang ada pada seseorang yang di cintainya, maka ia pun akan berusaha menjadi seperti yang di cintainya. Berusa menjadi sholeh, berusaha menjadi baik. Semuanya di niatkan karena Allah. Wallahu a’lam.”, Kalimat itu menyisakan kebingungan di benak beberapa peserta kajian. Suatu konsep yang baru menurut mereka. Karena selama ini mereka memahami yang namanya mencintai adalah selayaknya dua pasang sejoli, lelaki dan perempuan. Hanya sebatas itu.

“Maaf, Ustadz, eh Mas. Mau tanya, ketika ada rasa yang timbul kepada lawan jenis, kita tertarik karena merasa cocok, kemudian kita jatuh cinta, apakah di perbolehkan dalam Islam, Mas ?”, Arni memberanikan diri untuk bertanya. Karena jujur saja, ia masih bingung dengan konsep baru yang ia terima mengenai cinta. Tidak seperti yang ia pahami selama ini.

“Baik, terima kasih. Bismillah. Rasa cinta adalah sebuah fitrah yang di anugerahkan Allah kepada kita. Rasa cinta itu hadir tanpa di duga, mengalir begitu saja. Sebagaimana jerawat, tumbuh tanpa kita minta. Sekecil apapun jerawat itu muncul, ia akan menjadi begitu meresahkan. Begitu juga cinta. Sekecil apapun perasaan itu tumbuh, akan menghabiskan segala potensi diri kita. Baik itu perasaannya dan waktunya. Sesungguhnya cinta hadir karena sebuah sebab, namun ketika sebab itu menghilang maka cintapun akan perlahan memudar.” Kembali Mas Andri memberi waktu jeda, memberi kesempatan untuk di cerna.

“Salah satu contoh, seorang lelaki mencintai seorang wanita karena kecantikannya. Cantik merupakan sebab, maka ketika kecantikan itu memudar karena suatu sebab, tua, kecelkaan dan sebaginya, bisa jadi rasa cinta pun akan menghilang. Namun ketika seorang lelaki mencintai seorang wanita karena kesolehannya, ketaatannya menjalankan perintah-perintah Allah maka itu yang lebih layak. Tapi dengan catatan, tidak hanya sampai di situ saja. Masih ada aturan-aturan dalam hal ini adalah mengenai Hak. Ya, hak kita untuk mencintai seorang hamba jangan sampai mengalahkan hak Allah untuk lebih di cintai. Dalam sebuah hadits Muadz bin Anas Al-Jahni bahwa Rasulullah saw. bersabda: Siapa saja yang memberi karena Allah, menolak karena Allah, mencintai karena Allah, membenci karena Allah, dan menikah karena Allah, maka berarti ia telah sempurna imannya. Diriwayatkan oleh AL Hakim.Wallahu ‘alam”,

Kembali Mas Andri mengakhiri jawabannya. Mengambang. Bisa jadi agar orang-orang yang sudah berstatus mahasiswa ini dapat mencernanya sendiri. Arni terlihat mengangguk-anguk, tanda memahami. Namun dalam hati ia masih bingung dengan penjelasan tersebut. Ia pun berjanji akan mencoba menghubungi Mas Andri untuk lebih banyak bertanya mengenai masalah-masalah agama. Sejak ia tinggal di Wisma Mawar bersama Mbak Dewi, ia berjanji ingin memperbaiki hidupnya. Ia butuh proses. Ia butuh bantuan.

............ Bersambung

Reaksi:

4 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Di Tanggapi